THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Niatnya Ingin Memberikan Pelajaran Justru Berakhir Tragis



Kimberly saat ini sedang sendirian di lapangan sekolah. Sembari menunggu keempat sahabatnya, Kimberly bermain dengan ponselnya.


Ketika Kimberly tengah asyik dengan dunianya, tiba-tiba datang seseorang orang yang mengganggu. Orang itu adalah Marco.


Marco hanya datang sendiri tanpa membawa teman-temannya. Kimberly yang menyadari kedatangan Marco hanya cuek dan acuh. Kimberly lebih memilih fokus dengan ponselnya.


Marco sudah duduk manis di samping Kimberly. Dirinya terus menatap wajah cantik Kimberly. Ntah apa yang membuat Marco suka sekali mengganggu Kimberly. Setiap ada waktu senggang dan kosong. Marco selalu berusaha untuk mencari Kimberly.


"Hei," sapa Marco.


Sementara Kimberly sama sekali tidak membalas sapaan dari Marco. Kimberly tetap fokus pada ponselnya. Bahkan Kimberly tertawa ketika melihat apa yang ada di dalam ponselnya itu.


"Sialan nih cewek. Gue diangguri gitu aja," batin Marco.


Marco menatap kearah ponsel milik Kimberly. Beberapa detik kemudian, Marco mengambil paksa ponsel tersebut.


Setelah mendapatkan ponsel milik Kimberly, Marco langsung berdiri menjauh dari Kimberly.


"Yak. Kak Marco! Kembalikan ponselku!" teriak Kimberly sambil berusaha meraih ponsel di tangan Marco.


Marco sama sekali tidak mengindahkan teriakan dari Kimberly. Marco terus berusaha menggagalkan rencana Kimberly untuk merebut ponselnya.


"Lo ingin ponsel lo balikkan?" tanya Marco menatap penuh arti Kimberly.


"Kembalikan ponselku itu, monyet!" umpat Kimberly.


"Sialan. Gue dikatain m*nyet. Parah nih cewek," batin Marco.


"Kalau lo mau ponsel lo balik. Ada syaratnya." Marco menatap wajah cantik Kimberly.


"Alah. Gak usah banyak gaya dech. Buruan balikin ponsel gue!" teriak Kimberly.


"Keras kepala banget lo, hah!" teriak Marco.


"Bodo!" teriak Kimberly.


"Apa susahnya ngabulin syarat dari gue," sahut Marco.


"Memangnya situ siapa? Aku gak kenal sama orang belagu kayak lo," jawab Kimberly.


Melihat Kimberly yang kekeh dengan pendiriannya membuat Marco memutar otaknya.


Marco berlahan mendekat kearah Kimberly sembari menyodorkan ponsel milik Kimberly kearah si pemilik. Ketika Marco sudah berdiri di hadapan Kimberly. Dan ketika Kimberly ingin meraih ponselnya, tiba-tiba tanpa diduga Marco langsung mengecup pipi Kimberly.


Mendapatkan kecupan di pipinya, seketika Kimberly terkejut. Matanya membulat dan kedua tangannya mengepal kuat.


Kimberly menatap tajam kearah Marco. Ketika Kimberly ingin mengeluarkan amarahnya, tiba-tiba Marco sudah terlebih dahulu marayunya. Marco berharap jika Kimberly akan luluh dengan rayuan mautnya.


Awalnya rayuan pertamanya berhasil. Kimberly sepertinya menunjukkan reaksi baik seperti Kimberly yang tersenyum dan tangannya bermain-main di wajah tampan Marco. Dan hal itu sukses membuat Marco bahagia.


Namun, tanpa disadari oleh Marco. Kimberly sudah mempersiapkan sesuatu yang menarik untuk Marco.


Kimberly mendekatkan tubuhnya ke tubuh Marco sehingga tubuh keduanya saling berdempetan. Dan beberapa detik kemudian...


DUUAAGGHH!


"Aaakkkhhh!" teriak Marco memegang pusaka berharganya sembari melompat-lompat kesakitan.


Kimberly memberikan tendangan tepat kearah pusaka berharga milik Marco. Tendangan Kimberly tak main-main kuatnya.


"Makan tuh. Emang enak. Lo pikir gue cewek apaan," ucap Kimberly kesal.


"Brengs*k! Ini yang kedua kalinya gue ditendang tepat dipusaka gue. Kalau sampai gue dapat tendangan untuk yang ketiga kalinya. Bisa mati beneran gue," batin Marco.


Marco terpaksa pergi meninggalkan Kimberly. Dirinya memilih untuk mengalah saat ini. Dan dirinya bersumpah untuk membalas perlakuan Kimberly suatu saat nanti. Serta membuat Kimberly bertekuk lutut kepadanya.


Melihat kepergian Marco. Kimberly kembali menduduki pantatnya di tempat dimana dirinya duduk tadi. Dan setelah itu, Kimberly kembali sibuk dengan ponselnya.


Ketika Kimberly tengah asyik dengan dunianya, tiba-tiba Kimberly merasakan sesuatu yang basah dan juga dingin di kepalanya.


Kimberly mendongakkan kepalanya dan melihat Kakak kelasnya Ishana bersama keempat sahabatnya telah berdiri di hadapannya dengan tatapan mata yang tajam melihatnya. Zora dan Nattaya menyiram kepala Kimberly dengan jus sehingga membuat rambut Kimberly lengket.


"Hahahaha." Ishana dan keempat sahabatnya tertawa.


"Rasakan itu wanita murah*n," ejek Zora.


"Dan ini untuk kau yang sudah berani-beraninya menggoda kekasihku," ucap Ishana menambahkan sembari memecahkan telur di atas kepala Kimberly.


"Apa kalian sudah selesai?" tanya Kimberly.


"Itu baru sebagian dari kami," jawab Dira.


"Jika kau masih berani mengganggu pacar-pacar kami dan berani melawan kami. Kau akan tahu akibatnya," ujar Alice.


"Dan kau akan mendapatkan lebih dari pada hari ini," sahut Ishana menatap nyalang Kimberly.


Melihat keributan di tengah-tengah lapangan membuat para murid-murid lain ikut menyaksikan. Bahkan mereka mengeluarkan ponselnya masing-masing dan mengabadikan setiap kejadian yang mereka lihat.


Kimberly berdiri dari duduknya, lalu berjalan mendekati Ishana. Kimberly menatap penuh amarah Ishana.


SREEKKK!


Kimberly mencekik leher Ishana dengan kuat sehingga membuat Ishana kesulitan bernafas. Melihat Kimberly yang tiba-tiba mencekik leher Ishana membuat Dira, Alice, Nattaya dan Zora ketakutan.


"Apa yang kau lakukan, hah?! Lepaskan Ishana!" bentak Dira.


"Apa kau ingin membunuhnya?!" bentak Nattaya.


Namun, Kimberly masih tidak mempedulikan teriakan dan bentakkan dari Dira dan Nattaya. Justru Kimberly makin menguatkan cekikan di leher Ishana.


"Le-pas-kan aku," Ishana berbicara terbata-bata. Dirinya saat ini benar-benar tidak bisa bernafas dengan baik.


"Kau pikir aku takut dengan perempuan menjijikkan sepertimu, hah! Aku Kimberly Aldama tidak pernah takut denganmu atau pun dengan para sampahmu itu. Jangan kau pikir kalau aku ini sama seperti murid-murid yang lainnya jika dibully maka dia akan diam saja. Jawabannya tentu saja tidak. Seorang Kimberly akan langsung membalas orang-orang yang sudah berani mengusik hidupnya."


Kimberly menatap marah Ishana. Dan tangannya makin mencekik kuat leher Ishana. Dirinya tidak peduli jika Ishana mati hari ini ditangannya. Sementara wajah Ishana sudah membiru kehabisan oksigen.


"Yak, Kimberly! Lepaskan Ishana. Apa kau ingin membunuhnya, hah!" bentak Nattaya.


Nattaya dan Zora ingin membantu Ishana dengan cara menyerang Kimberly. Namun dengan lihai dan gerakan serentak Kimberly langsung memberikan tendangan dan pukulan keras tepat di perut Nattaya dan wajah Zora sehingga membuat keduanya berteriak kesakitan.


Tubuh Nattaya tersungkur di tanah. Sementara tubuh Zora terhuyung ke belakang dengan darah keluar dari sudut bibirnya.


Melihat ketiga temannya yang tak berdaya. Alice dan Dira memilih mundur. Keduanya tampak ketakutan ketika melihat kemarahan Kimberly saat ini.


"Kau sudah salah bermain-main denganku nona. Jika kau mencari masalah denganku, itu sama saja kau cari mati. Aku sudah cukup sabar ketika kau menyuruh orang untuk mencuri paper bag milikku ketika di mall saat itu. Aku juga sudah berusaha sabar ketika kau mengakui barang milikku itu adalah milikmu. Padahal sebenarnya jam tangan itu adalah milikku yang seharusnya aku hadiahkan untuk kakakku. Tapi aku sudah tidak mempermasalahkan hal itu. aku sudah melupakannya. Namun sayangnya kau justru masih saja mencari masalah denganku."


Kimberly berbicara dengan tatapan matanya yang begitu tajam. Dirinya benar-benar muak dan juga lelah selalu diganggu oleh para kakak-kakak kelasnya. Belum lagi teman sekelasnya. Ditambah lagi lima murid baru. Apa tidak bisa satu atau dua hari saja Kimberly bebas dari para pengganggu.


"Kimberly, kami mohon. Lepaskan Ishana. Jika kau tidak melepaskan Ishana. Ishana bisa mati," ucap Dira yang berusaha membujuk Kimberly.


Kimberly tidak mempedulikan perkataan dari Dira. Dipikiran Kimberly saat ini adalah bagaimana caranya untuk menyingkirkan perempuan busuk seperti Ishana agar dirinya tidak diganggu lagi.


"Akkhh!" teriak Ishana disertai air mata Ishana saat merasakan cekikan di leher makin kuat.


Mendengar teriakan dari Ishana membuat semua murid-murid yang saat ini sedang menonton sembari merekam kejadian tersebut bergidik ngeri. Mereka semua tidak menyangka jika Kimberly akan berubah menjadi sosok yang sangat kejam.


"Kimberly!" teriak Billy, Triny dan Aryan yang berlari menghampiri Kimberly.


Para murid-murid, Dira dan Alice akhirnya bisa bernafas lega ketika melihat kedatangan Billy, Triny dan Aryan.


Semenjak kejadian dimana ada beberapa orang yang datang ingin bertemu dengan Kimberly dalam keadaan marah-marah dan membuat keributan. Dari situlah mereka semua tahu bahwa Kimberly adalah adik sepupunya dari Billy, Triny dan Aryan.


"Kim. Aku mohon lepaskan Ishana, oke!"


Billy berusaha berbicara lembut kepada Kimberly karena Billy tahu bahwa saat ini yang dihadapi olehnya saat ini bukanlah Kimberly melainkan sosok lain dalam diri Kimberly.


"Kim, aku mohon. Lepaskan Ishana. Pikirkan Mommy dan Daddy di rumah. Mereka pasti akan sedih melihatmu seperti ini." Triny juga ikut membujuk Kimberly.


"Iya, Kim. Lepaskan Ishana ya," ucap Aryan menambahkan.


Aryan menyentuh tangan Kimberly yang ada di leher Ishana. Begitu juga dengan Billy. Mereka berharap sosok yang ada di dalam diri Kimberly mau melepaskan cekikannya.


Berlahan Kimberly melepaskan cekikannya dari leher Ishana. Melihat hal itu, Billy, Triny dan Aryan tersenyum bahagia. Triny membelai rambut belakang Kimberly.


"Bawa teman kalian dari sini!" bentak Triny.


"Lain kali jangan mencari masalah lagi dengan Kimberly jika kalian masih ingin hidup!" teriak Aryan.


Kimberly melihat kearah Billy dan seketika air mata Kimberly jatuh membasahi wajah cantiknya. Billy yang melihat Kimberly yang menangis langsung memeluknya.


"Hiks... Hiks," isak Kimberly di pelukan Billy.


"Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja, oke!"