THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Jawaban Asal Kimberly



Tommy, Billy, Andhika dan sahabat-sahabatnya saat ini berada di lapangan basket yang ada diluar. Mereka saat ini tengah bermain basket untuk menghilangkan rasa jenuh karena sudah dua jam guru matematika tidak datang.


Baik Tommy, Billy, Andhika maupun sahabat-sahabatnya sama-sama hebat dalam bermain basket. Kelincahan mereka berlari sembari menggiring bola dan juga cara mengoper bola kepada tim kawan sampai memasukkan bola ke dalam keranjang sungguh luar biasa.


Disaat Tommy ingin mengoper bola kepada Nathan, tiba-tiba bola tersebut jatuh ke lantai. Tommy seketika melihat kearah lain dimana gadisnya tengah bersama laki-laki lain.


Melihat Tommy yang tiba-tiba terdiam di tempat dengan tatapan menatap kearah lain membuat Billy, Andhika serta yang lainnya melihat kearah tatapan mata Tommy.


"Eh, itukan Azka. Dia anak IPS!" seru Ivan.


"Ngapain dia bersama Kimberly?" tanya Mirza.


Mereka terus memperhatikan Azka yang saat ini bersama dengan Kimberly. Tommy ingin menyusul kekasihnya itu, namun dicegah oleh Billy dan Andhika.


^^^


"Ngapain lo. Sana pergi!" usir Kimberly dengan mendorong dada Azka.


"Nggak usah pake dorong-dorongan segala. Lagian sekolah ini bukan punya lo juga. Jangan sok berkuasa," ucap Azka.


"Gue dorong lo buat jauh-jauh dari gue bukan mau sok-sokan di sekolah ini. Dan satu lagi, gue nggak pernah bilang kalau sekolah ini punya gue. Tapi gue bakal kasih tahu lo bahwa ayah gue adalah donatur terbesar di sekolah ini. So! Status anak pemilik sekolah sama anak donatur sekolah lebih tinggi anak donatur sekolah.


"Dimana-mana itu, yang namanya yayasan tempat para anak-anak sekolah pasti mendapatkan bantuan dari luar. Nggak ada sekolah yang berdiri sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Apa jadinya sebuah sekolah jika tidak dapat bantuan dari luar?"


Setelah mengatakan itu, Kimberly menjauh dari Azka lalu dirinya kembali fokus bersama Game nya di ponselnya.


Sementara Azka menatap Kimberly dengan tatapan kesal dan juga kagum. Selama ini tidak ada seorang gadis pun yang berani melawan setiap perkataannya. Ini adalah untuk pertama kalinya seorang Azka mendapatkan perlawanan dari seorang gadis.


Azka terus menatap kearah Kimberly, terutama pada wajah Kimberly. Dia kemudian tersenyum.


"Ternyata lo cantik juga," batin Azka yang masih menatap wajah Kimberly yang saat ini fokus pada game nya.


Tiba-tiba Tommy, Billy, Andhika dan sahabat-sahabatnya datang dengan Tommy yang langsung menarik kerah seragam Azka sehingga membuat Azka yang tadinya sedang duduk sembari menatap wajah cantik Kimberly tertarik berdiri.


Setelah itu, Tommy mendorong kuat tubuh Azka sehingga terhuyung ke belakang. Tommy memberikan tatapan mematikannya terhadap Azka.


"Kembali ke kelas lo! Ngapain lo disini. Jangan coba-coba lo gangguin cewek gue!" bentak Tommy.


Sementara Kimberly seketika terkejut ketika mendengar keributan didekat dirinya. Dirinya sebenarnya tahu jika Azka sejak tadi menatap dirinya, namun Kimberly hanya cuek dan mengabaikan Azka. Dia lebih fokus pada permainan game nya.


Sebelum pergi Azka menatap kearah Kimberly dengan mengedipkan matanya kearah Kimberly sehingga membuat Kimberly membelalakkan matanya.


Setelah itu, Kimberly mengangkat kedua bahunya seolah-olah dirinya geli melihat apa yang dilakukan oleh Azka padanya.


Melihat reaksi Kimberly membuat Billy, Tommy, Andhika dan sahabat-sahabatnya tersenyum terutama Billy, kakak sepupunya itu.


Billy sangat tahu seperti apa sifat Kimberly. Kimberly tidak pernah bergaul atau pun dekat dengan laki-laki manapun, kecuali jika laki-laki itu teman sekelasnya.


Kimberly hanya memiliki empat sahabatnya yaitu Rere, Santy, Sinthia dan Catherine. Kimberly tidak memiliki sahabat laki-laki atau teman laki-laki.


Tommy belahan membelai kepala Kimberly sehingga membuat Kimberly menatap dirinya. Seketika Tommy tersenyum ketika melihat tatapan mata Kimberly menatap dirinya.


"Jangan dekat-dekat sama laki-laki nggak jelas itu," ucap Tommy.


"Siapa?" tanya Kimberly.


"Yang tadi yang duduk di samping kamu," jawab Tommy.


"Yang mana? Aku nggak tahu. Yang aku tahu bahwa aku sejak tadi fokus menatap layar ponselku. Aku nggak lihat kemana-mana," jawab Kimberly jujur dengan apa yang dia lakukan sejak tadi.


Sementara Tommy seketika diam dengan tatapan matanya menatap wajah cantik kekasihnya itu.


"Apa yang dikatakan sama Kimberly itu ada benarnya juga Tommy!" seru Andry.


"Secara kan Kimberly memang fokus menatap layar ponselnya tanpa melirik kemana-mana," ucap Lionel.


"Kalau lo mau mendapatkan jawaban yang puas. Lo harus kasih pernyataan yang jelas, salah satunya sebutkan namanya," bisik Billy di telinga Tommy.


"Aish! Diam lo," kesal Tommy.


"Hahahaha." Billy tertawa. Begitu juga dengan yang lainnya.


Tommy masih menatap wajah cantik kekasihnya itu. "Pokoknya kamu nggak boleh dekat-dekat dengan cowok manapun," perintah Tommy.


"Terus kalau aku mau dekat-dekat sama keempat kakak laki-laki aku, bagaimana?" tanya Kimberly dengan menatap wajah Tommy dengan bibir melengkung ke bawah.


"Nah, loh! Tommy, lo harus tanggung jawab tuh. Sebentar lagi mau nangis tuh Kimberly," ucap Satya mengompori keadaan.


Tommy mengusap lembut pipi putih Kimberly. "Hei, bukan begitu maksudnya. Maksud aku itu, kamu nggak boleh dekat-dekat sama cowok lain yang nggak ada hubungannya dengan kamu alias orang asing."


Mendengar perkataan lembut dari Tommy seketika membuat Kimberly memperlihatkan senyuman termanis di hadapan Tommy.


Melihat senyuman manis yang diberikan oleh Kimberly membuat hati Tommy semakin cinta terhadap Kimberly.


"Kamu kok sendiri. Mana Rere, Santy, Sinthia dan Catherine?" tanya Billy.


"Mana aku tahu. Hilang kalian. Atau lagi sama cowok baru mereka kali," ucap Kimberly asal.


"Hhhmmmm... Kimberly!" Billy, Lionel, Satya dan Henry menggeram sembari menyebut namanya.


"Hehehehe." seketika Kimberly terkekeh melihat wajah kesal Billy, Satya, Henry dan Lionel. "Rere, Santy, Sinthia dan Catherine pergi ke kantin beli minuman."


"Kok kamu nggak ikut? tanya Andhika.


"Nih." Kimberly menjawab sembari menunjukkan ponselnya kearah Andhika.


Seketika mereka paham atas jawabannya Kimberly yang sembari menunjukkan ponselnya. Kimberly tengah fokus bermain Game sehingga dia tidak ikut bersama sahabat-sahabatnya ke kantin.


"Sebentar lagi mereka juga kembali. Mereka cuma beli minuman doang. Mana tega mereka ninggalin aku sendiri disini," ucap Kimberly.


"Jika misalnya mereka benar-benar ninggalin kamu, bagaimana?" tanya Ivan.


"Gue gorok mereka semua," jawab Kimberly asal.


"Yah, jangan gitu dong! Kalau lo gorok mereka semua. Kita-kita sedih dong," ucap Satya.


"Bodo. Emangnya gue pikirin," jawab Kimberly.


"Kalau lo gorok mereka. Terus lo bagaimana?" tanya Nathan.


"Cari sahabat baru. Dan kalian juga bisa cari kekasih baru."


Ketika Mirza hendak melayang pertanyaan kepada Kimberly. Andhika sudah terlebih dulu menyela.


"Mending kalian berhenti memberikan pertanyaan berandai-andai kepada Kimberly. Kalian nggak dengar bagaimana Kimberly menjawab dengan santai pertanyaan dari kalian semua!"


Mendengar seruan dari Andhika membuat Nathan, Ivan, Andry, Mirza, Lionel, Henry, Satya memutuskan untuk menghentikan memberikan pertanyaan berandai-andai kepada Kimberly.


Sementara Kimberly seketika tersenyum manis menatap wajah pasrah para sahabatnya dari Billy dan Tommy.