
Kimberly masih berada di hotel. Saat ini dia sedang bersiap-siap untuk meninggalkan hotel tersebut untuk pulang ke kediaman keluarga Fidelyo. Setelah semuanya siap, Kimberly pun keluar dari dalam kamarnya.
Kimberly melangkahkan kakinya menuju pintu utama hotel.
***
Di pagi hari kediaman Alexander tampak terlihat ramai. Semuanya telah berkumpul di meja makan.
"Apa Papi masih mencari Kimberly?" tanya Tommy.
"Iya, sayang. Bahkan Papi meminta para anak buah Papi untuk terus mencari keberadaan Kimberly."
"Sudah! Hentikan saja!" Tommy berseru.
Mendengar seruan dari Tommy membuat Andrean langsung melihat kearah putra keempatnya itu. Begitu juga dengan Lusiana, Arka, Sovia, Salsa dan Tama.
"Kenapa begitu?" tanya Arka.
"Kimberly sekarang ini ada di kota Berlin. Lebih tepatnya di hotel," jawab Tommy.
"Siapa yang beritahu kamu?" tanya Sovia.
"Billy. Dan Billy tahu dari Risma. Billy mengatakan padaku setelah mendapatkan telepon dari Bunda Clarita dan juga Triny. Risma langsung melacak keberadaan Kimberly. Risma memiliki kemampuan melacak seseorang. Tapi kemampuan Risma itu masih sedikit. Risma hanya bisa melacak seseorang yang dicari jika orang tersebut berada di kota yang sama dengan dia. Ketika Risam mulai mencari Kimberly, sinyal menunjukkan bahwa Kimberly memang berada di kota yang sama dengan dia. Setelah mendapatkan kabar keberadaan Kimberly. Risma langsung menghubungi keluarga di Hamburg lengkap dengan video keberadaan Kimberly."
"Risma juga bilang setelah dua hari Kimberly di hotel. Kimberly akan pulang ke kediaman keluarga Fidelyo."
"Bagaimana keadaan Kimberly ketika Risma berhasil menemukannya?" tanya Lusiana.
"Kimberly baik-baik saja Mami."
"Ach, syukurlah. Mami senang mendengarnya."
***
Kimberly sudah sampai dimana kediaman utama anggota keluarga Fidelyo. Saat ini Kimberly tengah berjalan kaki menuju kediaman tersebut sembari memandangi indah alam di sekitarnya.
Kimberly bisa saja menggunakan taksi untuk mengantarnya sampai di kediaman utama keluarga Fidelyo, namun Kimberly tidak melakukanya. Kimberly memilih untuk berjalan kaki.
Kimberly terus melangkahkan kakinya menyusuri jalanan untuk menuju kediaman keluarga utama Fidelyo dengan tatapan matanya menatap lurus ke depan. Dan sesekali Kimberly melihat ke sekitarnya.
"Aish!" seketika Kimberly berhenti bersamaan dengan dirinya berdecak kesal. "Aku lupa jalannya. Ini lurus apa belok kiri?"
Ketika Kimberly yang berhenti. Tak jauh dari Kimberly berdiri terlihat sebuah warung yang menjadi pusat perbelanjaan bagi warga disana setiap pagi. Dan ada beberapa warga juga disana. Baik laki-laki maupun perempuan. Mereka semua melihat kearah Kimberly yang tampak bingung.
"Eh, lihat gadis itu!" seru seorang gadis yang usianya diatas Kimberly tiga tahun sembari menunjuk kearah Kimberly.
"Sepertinya gadis itu kebingungan."
"Iya benar. Coba lihatlah bagaimana dia melihat kearah jalan. Sesekali dia menunjuk kearah jalan lurus dan jalan kearah kanan."
"Pasti gadis itu baru aja sampai disini. Dan gadis itu mungkin ingin ke rumah kerabatnya."
"Iya, mungkin!" seru mereka bersamaan.
"Ya, sudah! Kita bantu gadis itu. Kasihan dia."
Setelah itu, salah satu warga perempuan langsung memanggil Kimberly.
"Hei, nona!"
Disisi lain Kimberly yang tadinya tampak kebingungan seketika terkejut mendengar suara seseorang. Kemudian Kimberly melihat ke samping kanannya terlihat sebuah warung dan beberapa orang disana. Kimberly juga melihat beberapa gadis melambaikan tangannya bermaksud memintanya untuk kesana.
Detik kemudian..
Kimberly pun melangkahkan kakinya menghampiri warung tersebut dengan wajah yang masih tampak bingung.
"Nama nona siapa? Dan kalau boleh tahu nona mau kemana? Dari tadi bibi perhatikan kalau Nona seperti kebingungan," ucap dan tidak sipemilik warung tersebut.
"Nama saya Kimberly. Saya mau ke rumah Oma Hilda. Saya lupa jalannya," jawab Kimberly.
"Oh, ke rumahnya Nyonya besar Hilda!" seru beberapa gadis yang duduk bersama Kimberly.
"Maaf, kalau saya boleh tahu. Nona Kimberly siapanya Nyonya besar Hidla?" tanya seorang gadis.
Kimberly tersenyum. "Saya cucunya. Ach, lebih tepatnya ibu saya adalah keponakannya Oma Hilda," jawab Kimberly.
Mendengar jawaban dari Kimberly yang mengatakan bahwa dirinya adalah cucu dari Nyonya besar Hilda. Dan juga ibunya adalah keponakannya Nyonya besar Hilda membuat mereka terkejut.
Pemilik warung tersebut seketika keluar dari dalam warungnya untuk menghampiri Kimberly. Wanita paruh baya itu pernah mendengar cerita dari Hilda tentang keluarganya.
"Berarti kamu cucu kandung dari mendiang Nyonya besar Huliyah?"
"Iya, Bi!"
"Dan ibu kamu adalah putri pertama dari Nyonya besar Huliyah?"
"Iya."
Kimberly seketika melihat wajah wanita paruh baya itu dengan tatapan bingung. Di dalam hatinya, Kimberly berkata dari mana bibi ini mengetahuinya.
Wanita itu tersenyum melihat wajah bingung Kimberly. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka tersenyum ketika melihat wajah Kimberly yang menurut mereka benar-benar lucu ketika sedang bingung.
"Nyonya besar Hilda pernah bercerita bahwa beliau memiliki dua saudara perempuan. Dan kedua-duanya adalah kakaknya. Beliau juga bercerita bahwa kakak perempuan pertamanya itu memiliki empat orang anak. Dua perempuan dan dua laki-laki."
Mendengar ucapan sekaligus cerita dan jawaban dari sang pemilik warung membuat Kimberly tersenyum.
"Kalau Bibi boleh tahu. Nona Kimberly anak dari anak mendiang Nyonya besar Huliyah yang ke berapa?"
"Pertama, Bibi! Nashita Fidelyo."
"Wah! Ternyata Nona Kimberly adalah putri bungsu dari Nyonya Nashita yang dermawan itu?!" pemilik warung tersebut bahagia bisa bertemu dengan putri bungsu dari Nashita.
Kimberly kembali dibuat bingung dengan perkataan dari sang pemilik warung.
Semua warga disini sudah sangat hafal dan kenal dengan keempat anak-anak dari mendiang Huliyah karena keempat anak-anaknya Huliyah sering mengunjungi kediaman untuk Fidelyo di Mitte, Berlin. Setiap kedatangan keempat anak-anaknya Huliyah ke Berlin, keempatnya selalu memberikan bantuan kepada warga yang kurang mampu dan juga memberikan bantuan berupa biaya sekolah untuk anak-anak di desa Mitte, Berlin.
"Dari mana Bibi tahu jika aku adalah putri bungsu Mommy ku?"
"Sifat kamu itu sama persis dengan ibu kamu itu. Ibu kamu itu suka bercerita. Dan ibu kamu menceritakan banyak hal, termasuk keluarga kecilnya. Ketika ibu kamu itu bercerita, terlihat raut bahagia di wajahnya. Ibu kamu juga mengatakan bahwa dia sangat menyayangi semua anak-anaknya."
Seketika Kimberly menundukkan kepalanya ketika mendengar ucapan serta cerita dari sang pemilik warung. Dan detik kemudian, air matanya mengalir begitu saja.
Melihat Kimberly yang tiba-tiba menangis membuat mereka semua terkejut. Mereka berpikir apakah mereka salah bicara sehingga membuat Kimberly menangis.
"Nona," panggil wanita itu.
"Bisa antarkan saya pulang ke rumah Fidelyo. Saya sudah lelah. Saya ingin segera sampai disana."
Mendengar ucapan serta permohonan dari Kimberly membuat mereka mengurungkan niatnya untuk bertanya. Mereka tidak tega melihat wajah sedih Kimberly.
"Kami akan mengantarkan nona kesana!" seru tiga orang gadis tersebut.
Setelah mengatakan itu, baik Kimberly maupun tiga gadis tersebut langsung berdiri dari duduknya. Kemudian mereka pun pergi meninggalkan warung untuk menuju rumah keluarga Fidelyo.
"Pasti Nona Kimberly lagi ada masalah dengan keluarganya di Hamburg. Makanya dia kemari!" seru seorang pemuda.
"Bisa jadi."
"Sudah.. Sudah! Kita tidak usah ikut campur. Itu masalah dan urusan nona Kimberly dan keluarganya serta keluarga Fidelyo. Kita hanya orang luar," tegur sipemilik warung.