
Kimberly saat ini berada di ruang tengah. Dirinya ditemani banyak cemilan di atas meja. Dan tak lupa beberapa botol susu pisang kesukaannya. Dirinya saat ini tengah sibuk bermain Game di ponselnya. Game yang dimainkan Kimberly tidak membuat banyak gerakan tangannya sehingga aman.
Di rumah yang besar dan mewah itu Kimberly hanya ditemani oleh pelayan yang merangkap sebagai pengasuhnya ketika di rumah dan beberapa pelayan lain. Serta beberapa para penjaga yang berjaga-jaga di depan rumahnya.
Sementara untuk Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan masih berada di tempat kerja masing-masing. Mereka akan pulang paling lambat sekitar pukul 12 siang.
Bibi Luna yang saat ini tengah sibuk di dapur. Sesekali wanita itu mengecek majikannya yang berada di ruang tengah. Bibi Luna mendapatkan mandat dari Nashita untuk selalu memantau keadaan dan keberadaan Kimberly. Jika terjadi sesuatu terhadap Kimberly, Bibi Luna diminta untuk segera menghubungi dirinya atau yang lainnya.
Bukan hanya Bibi Luna saja yang diberikan mandat untuk menjaga dan mengawasi Kimberly selama anggota keluarganya tidak di rumah. Harris selaku sopir pribadi Fathir Aldama turut diberikan mandat oleh Fathir untuk menjaga Kimberly. Jik sewaktu-waktu rasa sakit di bahu kanan Kimberly kambuh dan diharuskan dibawa ke rumah sakit, maka Harris lah yang bertanggung jawab untuk membawa Kimberly ke rumah sakit bersama Bibi Luna.
Ketika Kimberly tengah asyik dengan Game di ponselnya, tiba-tiba ada sebuah notifikasi WhatsApp dari salah satu sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan Rere sang makhluk jahil.
Kimberly langsung keluar dari permainan Game nya dan masuk ke aplikasi WhatsApp. Setelah itu, Kimberly membuka pesan dari Rere sahabatnya.
Rere mengirimkan sebuah video akan kejadian di kantin sekolah dimana dua murid perempuan tiba-tiba memeluk tubuh Tommy dan Andhika.
"Cari mati nih orang," ucap Kimberly ketika melihat melihat dan mendengar apa yang dilakukan dan diucapkan oleh dua murid perempuan itu di hadapan Tommy dan Andhika.
Setelah selesai melihat video tersebut, Kimberly keluar dari Aplikasi WhatsApp tersebut.
Dan detik kemudian, terukir senyum evil di bibirnya. Kimberly mendapatkan sebuah ide cemerlang.
Kimberly membuka aplikasi kontak. Setelah itu, Kimberly mencari nama kontak seseorang.
Setelah mendapatkannya, Kimberly pun langsung menghubungi nomor kontak tersebut.
***
Tommy berada di lapangan basket. Begitu juga dengan Andhika sepupunya dan semua sahabat-sahabatnya termasuk Billy.
Tommy memutuskan menuju lapangan basket karena dirinya benar-benar tidak fokus untuk mengikuti pelajaran.
Melihat Tommy yang menuju lapangan basket. Andhika serta yang lainnya memutuskan menyusul Tommy.
Kini mereka tengah duduk tidur-tiduran di tengah lapangan basket. Dan membiarkan beberapa bola basket berserakan dimana-mana.
Setelah satu jam mereka bermain basket. Mereka memutuskan membaringkan tubuhnya di tengah-tengah lapangan.
"Gila!"
"Sialan!"
Tommy dan Andhika berucap bersamaan dengan tatapan matanya menatap keatas langit-langit.
Mendengar perkataan kompak dari Tommy dan Andhika membuat sahabat-sahabatnya langsung melihat kearah keduanya.
Billy bangun dari tidurnya dan diikuti oleh yang lainnya. Baik Billy maupun Henry, Lionel, Satya, Mirza, Andry, Ivan dan Nathan melihat kearah Tommy dan Andhika.
"Masih mikirin dua kuntilanak itu?" tanya Lionel dengan matanya menatap kearah Tommy dan Andhika.
Mendengar pertanyaan dari Lionel. Tommy dan Andhika langsung memiringkan kepalanya melihat ke samping dimana para sahabatnya telah duduk dengan tatapan matanya menatap kearah dirinya.
"Ngapain juga mikirin dua makhluk tak jelas itu," ucap Ivan.
"Nggak penting kali, pungkas Mirza.
"Siapa yang sedang mikirin mereka?"
"Najis gue mikirin tuh cewek."
Tommy dan Andhika berucap bersamaan sembari bangun dari tidurnya.
"Gue hanya bingung saja. Dari mana mereka tahu kalau gue dan Tommy sekolah disini," ucap Andhika.
"Dan lebih herannya lagi. Bisa-bisanya mereka mengklaim gue dan Andhika sebagai kekasihnya," ucap Tommy.
Mendengar perkataan dari Tommy dan Andhika membuat Billy dan yang lainnya menatap keduanya dengan banyak pertanyaan di kepalanya.
"Coba deh diingat-ingat lagi. Siapa tahu kalian berdua pernah bertemu dengan kedua gadis itu?" tanya Billy.
Tommy dan Andhika saling lirik lalu kembali menatap wajah sahabat-sahabatnya secara bergantian.
Tommy dan Andhika berusaha mengingat akan pertemuan mereka dengan Molly dan Sheela.
Detik kemudian, terukir senyuman di sudut bibirnya ketika telah mengingat pertemuannya dengan Molly dan Sheela.
Melihat senyuman di sudut bibirnya Tommy dan Andhika membuat Billy, Henry, Lionel, Satya, Mirza, Andry, Ivan dan Nathan meyakini bahwa Tommy dan Andhika sudah mengingat pertemuannya dengan Molly dan Sheela.
"Sudah ingat sekarang?" tanya Billy dan Mirza bersamaan.
Tommy dan Andhika tersenyum sebagai jawaban atas pertanyaan dari Billy dan Mirza.
Ketika Tommy hendak membuka mulut untuk mulai bercerita, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan panggilan masuk.
Tommy langsung merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Setelah ponselnya ada di tangannya, Tommy melihat nama pujaan hatinya tertera di layar ponselnya. Seketika terukir senyuman manis di bibir Tommy.
Melihat senyuman manis di bibir Tommy, mereka pun sudah bisa menebak bahwa gadis pujaan hatinya yang menghubunginya.
Tidak ingin membuat sang pujaan hati terlalu lama menunggu. Tommy segera menjawab panggilan tersebut.
"Hallo sayangku, cintaku, pujaan hatiku, belahan jiwaku, calon istriku."
Mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Tommy membuat Andhika, Billy, Henry, Lionel, Satya, Mirza, Andry, Ivan dan Nathan melotot tak percaya. Di dalam hati mereka berkata 'sejak kapan seorang Tommy berubah menjadi seorang ahli percintaan'.
"Ih, najis gue!" ejek Nathan.
"Mau muntah gue," ucap Andry.
"Terlalu banyak nonton drama. Beginilah jadinya," ucap Mirza.
Mendengar perkataan dari Nathan, Andry dan Mirza. Tommy seketika memberikan tatapan mautnya.
"Hallo sayangku. Ada apa? Udah kangen ya?" tanya Tommy.
"Kamu selingkuh ya?"
Deg..
Tommy seketika terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Kimberly yang menyebut dirinya selingkuh.
Melihat perubahan wajah Tommy membuat Andhika, Billy, Henry, Lionel, Satya, Mirza, Andry, Ivan dan Nathan meyakini sesuatu bahwa Kimberly di seberang telepon mengatakan atau bertanya sesuatu kepada Tommy.
"Selingkuh? Apa maksud kamu Kim?"
Mendengar perkataan sekaligus pertanyaan dari Tommy untuk Kimberly membuat Andhika, Billy, Henry, Lionel, Satya, Mirza, Andry, Ivan dan Nathan sudah bisa menebak arah pembicaraan Kimberly dan Tommy.
"Tidak usah pura-pura bodoh, Tommy Alexander! Aku sudah tahu apa yang terjadi di kantin sekolah! Kamu dipeluk sama seorang gadis. Yang lebih parahnya lagi, kamu hanya diam dan tidak bertindak!"
Seketika kedua mata Tommy membelalakkan sempurna ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly. Dirinya tidak menyangka jika Kimberly langsung tahu masalah tersebut.
"Sial! Siapa yang sudah ngasih tahu Kimberly?" gumam Tommy yang didengar oleh Kimberly di seberang telepon.
Andhika, Billy, Henry, Lionel, Satya, Mirza, Andry, Ivan dan Nathan tersenyum geli melihat wajah syok Tommy ketika ketahuan oleh Kimberly.
"Tommy Alexander!" teriak Kimberly di seberang telepon.
"Ach, iya! Aku masih disini sayangku!" Tommy berucap tanpa sadar.
"Hahahaha!"
Seketika tawa Andhika, Billy, Henry, Lionel, Satya, Mirza, Andry, Ivan dan Nathan pecah ketika mendengar jawaban dari Tommy disertai dengan suara gugupnya.
Mendengar tawa keras dari sepupu dan sahabat-sahabatnya membuat Tommy mendengus kesal.
"Jawab pertanyaanku yang tadi. Kamu selingkuh ya? Kenapa gadis itu meluk kamu? Kenapa kamu diam aja? Kenapa kamu nggak nolak atau marah? Kenapa...?"
"Kim, Stop! Kamu nanyanya satu-satu dong. Pertanyaan kamu terlalu banyak. Yang mana dulu?" ucap dan tanya Tommy.
Andhika, Billy, Henry, Lionel, Satya, Mirza, Andry, Ivan dan Nathan tersenyum geli melihat wajah lelah dan pasrah Tommy ketika diserang banyak pertanyaan dari Kimberly.
Tanpa disadari oleh Tommy. Kimberly di seberang telepon sudah mati-matian menahan tawanya ketika mendengar suara Tommy ketika berbicara dengannya di telepon.
"Pokoknya aku nggak peduli. Pulang sekolah nanti kamu harus langsung ke rumah aku. Sampai di rumah aku. Kamu harus langsung cerita. Semuanya! Tidak boleh kurang satu kata pun!"
Setelah mengatakan itu, Kimberly tanpa berperikemanusiaan dan berperiperasaan langsung mematikan panggilannya secara sepihak.
Tommy seketika syok ketika Kimberly yang mematikan panggilannya secara sepihak dengan tatapan matanya menatap layar ponselnya yang sudah menghitam.
"Hahahaha."
Andhika, Billy, Henry, Lionel, Satya, Mirza, Andry, Ivan dan Nathan tertawa melihat wajah syok Tommy.
"Bau-bau pertengkaran nih," ucap Andry.
"Bau-bau kebucinan dari seorang Tommy," ucap Ivan.
"Diam kalian berdua!" teriak Tommy dengan menatap kesal kearah Andry dan Ivan.
"Hahahahaha." Andry dan Ivan tertawa keras.