THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Hukuman Pertama



Ke esokkan harinya di hari senin dimana kelasnya Kimberly mengalami kesialan. Bagaimana tidak sial? Di pagi yang begitu ceria Kimberly dan teman-teman harus berjuang dan berperang dengan soal-soal matematika sehingga membuat otak mereka semua pusing tujuh keliling.


Tapi tidak dengan Kimberly dan keempat sahabatnya. Mereka begitu menyukai pelajaran matematika karena itu pelajaran favorit mereka.


Sementara teman-teman sekelasnya termasuk para musuh mereka harus memutar otak dan menggunakan sedikit jurus-jurus andalan mereka untuk bisa mengerjakan soal-soal matematika tersebut.


Beberapa menit kemudian, Kimberly berdiri dari duduknya dan melangkah ke meja guru tersebut dengan membawa kertas jawabannya dan disusul dengan keempat sahabatnya.


Melihat Kimberly dan keempat sahabatnya yang telah selesai mengerjakan soal-soalnya membuat Talitha dan teman-temannya, Syafina dan teman-temannya serta murid-murid lainnya menatap dengan wajah terkejut.


Bagaimana tidak terkejut? Waktu yang diberikan oleh guru matematika itu adalah selama 1 jam. Sementara Kimberly dan keempat sahabatnya mengerjakan soal-soal matematika itu hanya membutuhkan waktu selama 20 menit. Dan itupun tidak sampai setengah jam.


"Sialan. Sudah selesai saja mereka," batin Syafina.


"Hebat banget tuh mereka. Waktu masih panjang. Dan mereka semua sudah selesai," batin Talitha.


"Apa jangan-jangan mereka pake contekan lagi?" batin Enzi.


"Palingan mereka pake jimat. Maka mereka cepat selesai," batin Selena.


"Bu guru. Apa ibu tidak curiga dengan Kimberly dan keempat sahabatnya?" tanya Vanesha tiba-tiba.


"Apa maksud kamu Vanesha?" tanya guru itu balik.


"Maksud Vanesha itu adalah bagaimana kalau Kimberly dan keempat sahabatnya itu nyontek Bu! Atau bisa saja mereka sudah memiliki jawabannya. Kemudian mereka tinggal menyalin saja!" seru Aruna.


"Benar tuh Bu!" seru Jennie.


"Saya juga sependapat dengan Aruna, Bu guru!" seru Brenda dan diangguki oleh Aurel, Kiara, Talitha, Jennie, Enzi dan Syafina.


Sementara Kimberly dan keempat sahabatnya hanya tersenyum di sudut bibir mereka ketika mendengar tuduhan dari para musuh-musuhnya.


"Bu guru!" seru Catharine sembari mengangkat tangannya.


"Iya, Catharine. Ada apa?"


"Ibu boleh saja percaya dengan mulut sampah mereka. Dan boleh juga mencurigai kami. Atau sebaliknya. Terserah pada Ibu. Bagaimana kalau kita adakan permainan?" ucap dan tanya Catharine sembari memberikan sedikit pelajaran untuk para musuh-musuhnya.


"Apa permainannya Catharine?" tanya guru itu.


"Gampang Bu. Sekarang ibu berikan kami soal-soal baru. Dan kami akan mengerjakan soal-soal itu diwaktu yang tersisa. Dan setelah itu. Ibu langsung memberikan penilaian terhadap jawaban-jawaban kami itu dihari ini juga agar para sampah itu tahu bahwa kami murni mengerjakan dengan otak kami bukan hasil contekkan atau mendapatkan jawaban dari orang lain." Catharine menatap wajah guru tersebut sembari memberikan kata hinaan untuk para musuh-musuhnya.


Sementara Kimberly, Rere, Santy dan Sinthia tersenyum meremehkan kearah para musuh-musuhnya.


"Baiklah," jawab guru tersebut.


"Dan satu lagi Bu guru!" seru Rere.


"Apa itu Rere?" tanya guru itu.


"Jika semua jawaban kami benar. Dan kami real menjawab soal-soal matematika itu. Maka para sampah itu harus mendapatkan hukuman karena telah menuduh kami main curang!" Rere menatap sinis kearah kelompok Talitha dan kelompok Syafina.


"Dan izinkan kami yang memberikan hukumannya," sela Santy.


"Baik. Ibu izinkan kalian memberikan hukuman untuk mereka yang sudah menuduh kalian."


Kimberly dan keempat sahabatnya tersenyum menatap kelompok Talitha dan kelompok Syafina.


Guru itu pun langsung memberikan soal-soal baru kepada Kimberly dan keempat sahabatnya. Setelah mendapatkan soal-soal baru dari guru tersebut, Kimberly maupun keempat sahabatnya melihat kearah jam dinding yang ada di depan kelasnya.


"Tersisa 30 menit lagi," batin Kimberly dan keempat sahabatnya. Kimberly dan keempat sahabatnya langsung mengerjakannya soal-soal tersebut.


"Ini Bu. Silahkan langsung diperiksa dan beritahu kepada mereka tentang nilainya!" seru Kimberly.


"Kami menunggu, Bu!" seru Sinthia.


"Dan untuk kalian semua. Waktu tinggal 10 menit lagi. Jadi selesai tidak selesai harus dikumpulkan!" seru guru tersebut.


Setelah mengatakan itu, guru tersebut memeriksa jawaban dari kelima muridnya. Dan tak butuh lama.


Guru itu pun sudah selesai memeriksa jawaban dari kelima muridnya itu. Dan hasilnya sangat memuaskan. Nilai diatas rata-rata.


Dan bertepatan guru itu selesai memeriksa jawaban dari kelima muridnya itu. Bertepatan juga waktu ujian selesai. Dan murid-murid semuanya mengumpulkan jawabannya.


"Baiklah anak-anak. Seperti yang telah disepakati antara ibu dengan Kimberly dan keempat sahabatnya. Mereka telah membuktikan kepada ibu bahwa mereka murni mengerjakan soal-soal matematika tersebut hasil dari otak mereka sendiri tanpa ada contekkan sama sekali seperti yang dituduhkan oleh Talitha, Syafina dan teman-temannya. Maka dari itu ibu berikan izin kepada Kimberly dan keempat sahabatnya untuk memberikan hukuman kepada Talitha dan Syafina berserta teman-temannya. Tujuannya agar lain kali bisa berpikir sebelum menuduh."


Mendengar perkataan dari guru matematika tersebut membuat Kimberly dan keempat sahabatnya tersenyum bahagia. Mereka tidak sabaran untuk melihat para musuh-musuhnya menjadi babu satu hari penuh.


"Silahkan Kimberly. Hukuman apa yang akan kalian berikan kepada Talitha, Syafina dan teman-temannya?" tanya guru itu.


"Bu guru. Kami ingin mereka menjadi babu kami selama satu hari penuh!" seru Sinthia.


"Sekarang pukul 12 siang. Berarti hukuman dimulai hari ini sampai pukul 12 siang besok!" seru Santy.


"Jadi kami mau kelompoknya Talitha dan kelompoknya Syafina harus mematuhi apa yang kami suruh," ucap Rere.


"Jika mereka melanggar. Maka hukumannya bertambah satu hari lagi," sahut Catharine.


"Ibu tenang saja. Hukumannya gak berat-berat kok. Bagaimana pun kami ini masih punya hati yang baik," ucap Kimberly.


"Baiklah, ibu izinkan. Hukuman akan berakhir besok pukul 12 siang. Dan untuk kalian. Silahkan jalani hukuman itu dengan baik. Jangan sampai kalian mendapatkan tambahan hukumannya."


"Baik Bu!" seru kelompok Talitha dan kelompok Syafina.


"Yess," batin Kimberly dan keempat sahabatnya.


^^^


Kimberly dan keempat sahabatnya sudah berada di Kantin. Ini adalah jam istirahat yang kedua. Di kantin itu juga ada Billy, Aryan, Triny dan para sahabatnya.


Baik Billy, Triny, Aryan, Andhika, Tommy serta para sahabatnya menatap bingung Kimberly dan keempat sahabatnya. Mereka sedari tadi memperhatikan kelimanya senyam senyum sembari tatapan matanya menatap kearah Talitha, Syafina dan teman-temannya.


Billy, Triny, Aryan, Andhika, Tommy serta para sahabatnya saling lirik satu sama lainnya. Bahkan kadang-kadang mereka mengangkat kedua bahunya bertanda bahwa mereka benar-benar bingung dan juga penasaran akan sikap Kimberly dan keempat sahabatnya siang ini.


"Kim..." ucapan Triny terhenti ketika jari telunjuk Kimberly menempel di bibirnya menandakan agar Triny berhenti bertanya. Dan mau tidak mau, Triny pun pasrah.


Dan beberapa menit kemudian, Talitha, Syafina dan teman-temannya datang dengan membawa beberapa makanan dan minuman ke meja Kimberly dan keempat sahabatnya.


Setelah itu, baik Talitha dan teman-temannya maupun Syafina dan teman-temannya menghidangkan makanan dan minuman tersebut tepat dimana Kimberly dan keempat sahabatnya duduk. Dengan kata lain makanan dan minuman itu diletakkan di depan Kimberly dan keempat sahabatnya.


Selesai menghidangkan makanan dan minuman itu. Talitha, Syafina serta teman-temannya kembali ke meja mereka. Mereka juga ingin makan karena mereka semua sudah sangat lapar. Di dalam hati mereka semua sudah mengumpati Kimberly dan keempat sahabatnya.


Setelah kepergian para musuh-musuhnya seketika tawa Kimberly dan keempat sahabatnya pecah.


"Hahahaha." mereka tertawa sembari bertos ria bersama.


Sementara Billy, Triny, Aryan, Andhika, Tommy serta para sahabatnya masih dibuat bingung akan tingkah Kimberly dan keempat sahabatnya itu. Bahkan mereka juga menatap aneh Talitha, Syafina dan teman-temannya yang tiba-tiba membawakan makanan dan minuman untuk Kimberly dan keempat sahabatnya. Bahkan mereka juga langsung menghidangkan makanan dan minuman itu tepat di hadapan Kimberly dan keempat sahabatnya.


Lain halnya dengan Talitha, Syafina dan teman-temannya. Mereka menatap tajam kearah Kimberly dan keempat sahabatnya.


"Sialan. Awas kalian," batin mereka.