
"Mom, makan dulu ya! Mommy sejak tadi pagi belum makan," bujuk Enda pada ibunya.
Nashita langsung menggelengkan kepalanya menolak suapan dari putra ketiganya.
Saat ini Nashita dan Enda berada di ruang tengah bersama dengan anggota keluarga lainnya. Mereka semua berkumpul untuk membahas rencana selanjutnya untuk mencari Kimberly. Mereka semua belum berhasil menemukan titik keberadaan Kimberly.
"Bagaimana bisa Mommy makan, Enda! Adikmu belum ditemukan keberadaannya. Mommy benar-benar mengkhawatirkan adikmu itu."
"Iya, aku tahu. Bukan hanya Mommy saja yang mengkhawatirkan Kimberly. Aku, Daddy, kak Jason, kak Uggy, Riyan dan anggota keluarga lainnya juga mengkhawatirkan Kimberly. Tapi bagaimana pun Mommy harus tetap makan." Enda masih berusaha untuk terus membujuk ibunya. Dirinya tidak ingin sakit ibunya bertambah parah.
Melihat usaha Enda membujuk ibunya untuk makan dan melihat Nashita yang tetap keras kepala tidak ingin makan membuat Fathir dan semuanya menatap Nashita khawatir.
Uggy seketika berdiri dari duduknya. Dirinya benar-benar sakit ketika melihat ibunya yang tidak semangat untuk makan. Yang ada di pikiran ibunya itu adalah adik perempuannya.
Setelah itu, Uggy pergi begitu saja setelah meraih kunci mobilnya yang tergantung di dinding dekat meja hiasan.
"Uggy!" panggil Jason.
Namun Uggy tidak menghiraukan panggilan dari kakak tertuanya itu. Yang ada di pikirannya saat ini adalah adiknya. Jika adiknya ditemukan dan berhasil dibawa pulang, maka ibunya akan mau makan.
Jason berdiri dari duduknya lalu melihat kearah adiknya yang melangkah menuju ruang tamu dengan tatapan penuh amarah. Dan hal itu bisa dilihat oleh anggota keluarganya.
"Berhenti Uggy!" teriak Jason menggema di ruang tengah.
Sementara Uggy masih terus melangkah menuju ruang tamu. Pikirannya saat ini benar-benar kalut dan juga kusut. Dia tidak bisa lagi berpikir positif. Adiknya belum ditemukan. Sekarang ibunya dalam keadaan tak baik-baik saja. Semua itu karena kebodohannya.
"Jika kamu tidak berhenti, maka jangan pernah lagi kamu anggap kakak sebagai kakak kamu!"
Seketika langkah kaki Uggy terhenti ketika mendengar ucapan sekaligus ancaman dari kakaknya itu.
Semuanya berdiri termasuk Nashita. Mereka diam dengan tatapan matanya menatap kearah Jason dan Uggy.
Uggy seketika membalikkan badannya. Dan tanpa diminta air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Kakak tidak mengerti perasaanku! Kimberly pergi dari rumah, itu semua karena kebodohanku. Mommy sakit dan Mommy tidak mau makan, itu juga karena aku. Jika saat itu aku mau mendengarkan kata-katanya Kimberly, maka hal ini tidak akan terjadi. Kimberly masih disini bersama kita dan Mommy tidak akan sakit!" teriak Uggy.
"Siapa bilang kakak tidak mengerti perasaan kamu? Kakak adalah orang pertama yang mengerti akan perasaan kamu, Uggy! Asal kamu tahu. Disini kakak yang paling terpukul akan permasalahan kamu dengan Kimberly. Kakak adalah saudara tertua disini, tapi kakak gagal melindungi kalian. Kakak gagal menemukan Kimberly. Kakak gagal membuatmu tidak lagi menyalahkan atas apa yang terjadi antara kamu dan Kimberly. Kakak gagal menjaga Mommy sehingga Mommy jatuh sakit. Kakak gagal, Uggy! Kakak gagal!" Jason berucap dengan nada bergetarnya. Dan jangan lupa, air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya.
"Hiks...," terdengar isakan dari bibir Uggy.
Mereka semua menangis melihat kondisi Uggy saat ini. Mereka tahu dua hari ini Uggy dalam keadaan tak baik-baik saja.
Nashita seketika berdiri dari duduknya. Kemudian kakinya melangkah mendekati putra keduanya itu. Jika putra keduanya itu menyalahkan dirinya sendiri atas perginya putrinya dan atas dirinya yang tidak ingin makan. Kini dirinya juga menyalahkan diri sendiri atas kondisi putra keduanya itu.
Grep..
Nashita langsung memeluk tubuh putra keduanya itu ketika sudah berdiri di hadapan putranya itu.
"Maafkan Mommy, sayang! Seharusnya Mommy tidak bersikap seperti ini. Seharusnya Mommy tidak menyiksa diri Mommy dengan tidak mau makan. Maafkan Mommy sayang."
Mendengar ucapan dan permintaan maaf dari ibunya membuat Uggy menangis terisak. Uggy memeluk ibunya dengan erat dan seketika tangis pun pecah.
"Maafkan aku, Mom! Aku kakak dan putra yang jahat. Aku telah jahat terhadap adik perempuanku. Dan aku telah jahat sama Mommy. Gara-gara aku Mommy jatuh sakit. Sakitnya Mommy karena kepikiran Kimberly."
"Tidak sayang. Seharusnya Mommy yang minta maaf padamu. Dengan Mommy seperti ini, itu sama saja Mommy menyakiti kamu padahal kamu sudah cukup sedikit atas perginya adik kamu."
Berlahan Nashita melepaskan pelukannya. Setelah terlepas, Nashita menatap wajah basah putranya itu. Kemudian Nashita mengangkat tangannya guna untuk menghapus air mata putranya tersebut.
"Jangan diulangi lagi, Mom! Apapun yang terjadi Mommy harus makan, walau hanya sedikit."
"Baiklah. Mommy janji. Sekarang kita kembali bergabung sama yang lainnya.
Setelah mengatakan itu, Nashita menggandeng tangan putranya dan membawa putranya itu kembali ke ruang tengah.
"Sekarang Mommy makan ya," ucap Uggy.
"Baiklah, sayang."
Ting..
Ting..
Ting..
Di dalam Grup WhatsApp tersebut semua anggota keluarga melihat sebuah kiriman video. Dan dengan kompaknya mereka mengklik video tersebut untuk melihat adegan apa yang ada di dalam video tersebut.
Beberapa detik kemudian...
"Kimberly!" seru semua anggota keluarga ketika melihat wajah Kimberly di dalam video itu.
"Sepertinya Kimberly sekarang lagi ada di hotel," ucap Fathan.
"Dan itu adalah Hotel milik Oma Hilda," sahut Ricky.
"Berarti Kimberly berada di Berlin sekarang!" seru Barra.
"Aku akan hubungi Risma dan menanyakan masalah video ini," sahut Billy.
"Di loundspeaker panggilannya Billy," pinta Fathir.
"Baik, Dad!"
Setelah itu, Billy pun menghubungi Risma. Dan Billy tak lupa menloudspeaker panggilannya itu.
Beberapa detik kemudian..
"Hallo, Billy."
"Apa benar Kimberly di hotelnya Oma Hilda?"
"Iya. Aku berhasil melacak keberadaannya. Setelah berhasil menemukan keberadaan Kimberly. Kak Jacob menyuruh dua anggotanya untuk menyamar jadi karyawan hotel agar bisa bertemu dengan Kimberly. Sebagai buktinya, video yang aku kirim ke grup tersebut."
"Kenapa tidak langsung temui Kimberly dan ajak dia pulang ke rumah?" tanya Triny.
"Lo nggak melupakan tabiatnya Kimberly seperti apa jika sudah marah. Apalagi kalau dia sampai kecewa. Kimberly itu susah untuk dijinakkin jika sudah kecewa dengan orang-orang yang telah menyakitinya. Apalagi yang nyakitin dia itu adalah orang-orang yang dia sayangi. Maka dari itu aku menyarankan anggota keluarga disini untuk tidak menemui Kimberly langsun ke hotel itu."
"Jika kita disini langsung menemui Kimberly, maka bisa dipastikan Kimberly akan pergi makin jauh lagi. Dan itu akan membuat kita akan makin kesulitan menemukannya. Untung Kimberly masih punya akal sehat dengan pergi ke Berlin. Jika adik kancil kamu itu punya otak sedikit gila, dia pasti akan pergi jauh meninggalkan negara Jerman. Dan jika itu terjadi, maka kita semua akan ikut gila."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Risma membuat mereka semua menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Apa anggota kakak Jacob itu ada mengatakan sesuatu sama lo, kakak lo dan anggota keluarga lainnya setelah berhasil bertemu dengan Kimberly?"
"Ach, iya! Aku lupa memberitahu kalian. Kimberly akan pulang ke rumah setelah dua hari menginap di hotel Oma Hilda."
"Benarkah itu sayang?" tanya Nashita.
"Benar, Mom!"
"Syukurlah!" seru semuanya.
"Tapi kalau boleh aku kasih saran."
"Apa itu sayang?" tanya Fathir.
"Jika kalian ingin ke Berlin. Lebih baik kalian datang di hari keempat saja. Biarkan Kimberly istirahat dulu. Setidaknya memberikan waktu Kimberly untuk menenangkan pikirannya."
Mendengar ucapan sekaligus saran dari Risma membuat semua anggota keluarga langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka juga ingin Kimberly dalam kondisi baik-baik saja.
"Baiklah sayang. Daddy terima saran kamu."
"Terima kasih, Dad!"
"Mommy titip anak nakal itu sama kamu dan anggota keluarga lainnya."
"Mommy tenang saja. Anak Mommy yang keras kepala itu akan aman disini."
Mereka semua tersenyum ketika mendengar ucapan sekaligus balasan dari Risma.
"Ya, sudah kalau begitu. Aku tutup teleponnya."
"Baik sayang!"
Tutt.. Tutt..
Seketika terukir senyuman manis di bibir mereka semua ketika mendapatkan kabar tentang kesayangannya. Mereka semua bahagia bahwa kesayangannya baik-baik saja.