
Kimberly dan keempat sahabatnya sudah berada di kantin. Mereka memesan beberapa makanan dan minuman. Dan kini mereka sedang menikmati makan siang mereka.
Ketika mereka sedang menikmati makan siangnya, tiba-tiba Triny, Aryan dan para sahabatnya datang.
"Hei," sapa Danela.
"Hai juga Kak Danela. Hai semua," sapa Kimberly dan keempat sahabatnya.
"Boleh kita duduk disini?" tanya Lian.
"Tidak. Noh disana duduknya," sahut Kimberly sembari fokus dengan jus alpokat kesukaannya. Namun jari telunjuknya menunjuk kearah bangku paling pojokan.
Lian dan lainnya melihat kearah tunjuk Kimberly. Seketika mereka membelalakkan matanya saat melihat tempat duduk yang ditunjuk oleh Kimberly sangat jauh dari tempat duduk Kimberly dan keempat sahabatnya.
"Tega amat kamu dek," ujar Aryan.
"Bodo," jawab Kimberly.
Baik sahabat-sahabat Triny, Sahabat-sahabat Billy maupun sahabat-sahabatnya Aryan mereka sangat senang bisa berkumpul bareng dengan Kimberly dan keempat sahabatnya. Menurut mereka semua. Kimberly dan keempat sahabatnya itu lucu dan asyik. Apalagi saat sedang membully orang-orang yang sok berlagak kaya raja dan ratu sekolah. Itu sudah menjadi makanan sehari-hari mereka.
Ketika melihat Kimberly yang asyik menyeruput jus kesukaannya, Aryan, Triny dan sahabat-sahabatnya sudah duduk anteng di bangku dan berhadapan dengan Kimberly dan keempat sahabatnya.
Kimberly yang menyadari hal itu seketika melirik dengan wajah kesal, lalu kembali pada jusnya. Sementara mereka hanya tersenyum gemas melihat wajah kesal Kimberly.
"Wah, seger bener!" seru Henry yang datang bersama para sahabatnya.
Henry, Billy, Tommy, Lionel dan Satya mengambil jus milik pasangan mereka masing-masing dan langsung menyeruput habis jus-jus tersebut tanpa sisa.
Sementara Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catharine menatap tajam Henry, Billy, Tommy, Lionel dan Satya.
"Yak, Tommy! Itu kan jus ku. Kenapa dihabiskan?"Kimberly menatap kesal Tommy.
"Idih. Pelitnya. Apa salahnya sih berbagi dengan pacar sendiri," ucap Tommy menggoda Kimberly.
"Apaan sih! Memangnya sejak kapan kita pacaran? Dekat belum tentu pacaran kali. Lagian situkan belum nembak juga," jawab Kimberly.
"Jadi lo ingin Tommy nembak lo Kim?" tanya Rere.
"Ya gak gitu juga. Yang ingin jadi pacar aku harus melewati tes dulu," ucap Kimberly
"Yaelah, Kim. Masa masalah ginian harus pake tes segala," ujar Andry.
"Ini masalah hati kali," jawab Kimberly.
Kimberly menundukkan kepalanya dan menatap ke bawah. "Aku tidak ingin terluka untuk yang kedua kalinya," ucap Kimberly pelan.
Kimberly berucap pelan. Namun masih bisa didengar oleh mereka semua. Mereka yang mendengar ucapan dari Kimberly menjadi tidak tega.
Billy memeluk tubuh Kimberly dan mengusap-ngusap lembut punggungnya.
"Semuanya akan baik-baik saja, oke! Tidak ada yang perlu kamu takuti. Jika kamu nanti resmi pacaran sama Tommy dan Tommy berani nyakitin kamu. Maka aku orang pertama yang bakal buat wajahnya babak belut." Billy berusaha memberikan semangat kepada Kimberly.
Kimberly yang mendengar perkataan Billy sedikit cengo langsung melepaskan pelukan Billy, lalu menatap wajah Billy.
Kimberly menatap wajah Billy dengan kening yang mengerut. Mereka yang melihat Kimberly yang menatap wajah Billy juga ikut melihat kearah Billy.
Kimberly mengarahkan jari telunjuknya kearah Billy. "Tadi kamu bilang apa tadi Bill? Kalau Tommy nyakitin aku kamu akan apa tadi?"
"Aku akan buat wajahnya babak belut," jawab Billy.
TAK!
"Mana ada babak belut. Yang benar itu babak belur, bodoh!" ucap Kimberly dengan kejamnya.
"Hahahahaha." mereka semua tertawa ketita mendengar perkataan kejam dari Kimberly untuk Billy.
TAK!
Billy memberikan satu jitakan tepat di kening Kimberly. Sementara korban jitakkan mendengus kesal. Mereka yang melihat kembali tersenyum melihat wajah manyun dan imut Kimberly, terutama Tommy. Pemuda itu makin memiliki perasaan lebih terhadap Kimberly.
***
Semenjak kejadian dimana mereka mendatangi sekolah Kimberly empat hari yang lalu demi untuk memberikan pembalasan kepada Kimberly berujung membuat mereka kehilangan banyak pengusaha-pengusaha ternama. Tidak ada yang mau bekerja sama dengan Perusahaan milik mereka. Semuanya pergi meninggalkan Perusahaan mereka. Tentu semuanya berawal dari kemarahan dua keluarga yaitu keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo.
Kini Perusahaan milik kedua keluarga ini terancam bangkrut. Dan tidak ada yang mau bekerja sama dengan mereka.
Apa yang dialami oleh keluarga Archard dan keluarga Adolfa. Itu pula yang dialami oleh keluarga dari Clara Amalia. Bahkan keluarga Clara Amalia mendapatkan dua kali lipat kemarahan dari keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo karena Clara lah yang menjadi dalang atau otak atas apa yang dilakukan oleh keluarga Archard dan keluarga Adolfa.
Keluarga besar Clara Amalia mendapatkan hinaan dan makian dari masyarakat atas perbuatan Clara. Para masyarakat Jerman telah menonton video dimana Clara Amalia dan seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Adrialana Archard telah bersikap semena-mena terhadap Kimberly Aldama di depan umum. Bahkan keduanya dengan kejinya menghina Kimberly.
Para masyarakat Jerman mendapatkan dua video. Satu video Kimberly yang dihina dan ditampar di tempat umum. Dan video yang satunya lagi adalah video tentang perilaku buruk Clara selama ini hingga berakhir Clara yang menjebak Kimberly dengan laki-laki lain di sebuah hotel dengan tujuan untuk menghancurkan hubungan asmara Kimberly dengan Antoni.
"Ini semua salah kamu Lana. Kalau dari awal kamu mengatakan yang sebenarnya bahwa kamu dan Clara lah yang mulai mencari masalah dengan putri kesayangan keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo. Aku sebagai suamimu tidak akan melakukan hal ini!" bentak Charles Archard kepada istrinya.
"Aku mengaku salah Charles. Sejujurnya aku juga tidak ada niatan sama sekali untuk membawa masalah ini dengan kalian. Aku sadar saat itu bahwa memang aku yang salah. Ini semua bujukan Clara. Dia berulang kali membahas masalah itu dan berulang kali menyuruhku untuk memberitahu kalian. Dan masalah kejadian di depan mini market itu juga Clara yang mulai duluan." Lana berbicara dengan wajah bersalahnya. Lana menangis ketika menatap suaminya.
Baik keluarga Archard maupun keluarga Adolfa. Kedua keluarga ini hampir sama dengan keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo. Jika ada yang menyakiti salah satu anggota keluarganya, maka mereka akan membalas orang-orang itu. Hanya saja mereka tidak mencari bukti terlebih dahulu sebelum melakukan pembalasan.
Sementara untuk keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo selalu menggunakan akal sehat untuk membalas orang-orang yang telah mengusik anggota keluarganya. Dibilang kejam mereka tidak kejam sebenarnya. Hanya saja mereka tidak akan tinggal diam jika anggota keluarganya diusik. Dan sebelum mereka membalas orang-orang tersebut. Mereka sudah memiliki bukti sehingga tidak akan menjadi bumerang untuk mereka.
"Sekarang kalian baru sadar atas tindakan bodoh kalian itu!" seru seseorang yang melangkah memasuki ruang tengah.
Mereka yang mendengar suara seseorang yang sangat mereka hafal langsung mengalihkan pandangannya untuk melihat kearah orang tersebut.
"Antoni!" seru mereka semua.
Ya. orang itu adalah Antoni. Antoni kembali pulang ke rumah orang tuanya setelah mengetahui permasalahan anggota keluarganya.
Kini Antoni sudah duduk di sofa dan berhadapan dengan anggota keluarganya. Baik Antoni maupun anggota keluarganya saling memberikan tatapan. Bukan tatapan amarah melainkan tatapan kerinduan.
"Aku benar-benar kecewa dan malu apa yang sudah kalian lakukan terhadap Kimberly. Teganya kalian menyerang Kimberly di sekolahnya. Dimana akal sehat kalian?!" bentak Antoni.
Antoni menatap kearah ibunya. Antoni benar-benar kecewa dengan ibunya. "Dan untuk Mami. Kenapa Mami melakukan ini, Mi? Kenapa Mami tega mempermalukan Kimberly di depan umum?"
"Asal Mami tahu saja. Alasan aku pergi dari rumah dan membatalkan perjodohanku dengan Clara itu karena aku sudah mengetahui tentang semuanya, termasuk tentang Clara. Clara yang sudah merusak hubunganku dengan Kimberly. Clara tidak suka melihat aku bersama Kimberly. Makanya Clara melakakuan segala cara untuk membuat aku menjauh dari Kimberly. Dan rencananya wanita murah*n itu berhasil." Antoni berbicara dengan nada yang benar-benar marah.
"Kalian sudah melihat video tentang kelakuan Clara selama ini kan?"tanya Antoni dengan menatap anggota keluarganya.
"Iya. Kami sudah lihat," jawab sang paman. adik dari ayahnya.
"Disini aku juga salah. Ketika aku melihat video Kimberly bersama laki-laki lain di hotel. Aku langsung marah dan melampiaskan dengan pergi ke club. Aku mabuk-mabuk disana. Bahkan aku juga main perempuan. Dan Kimberly datang ke club ingin bertemu denganku. Tapi aku justru bersikap kasar padanya. Aku memakinya dan juga menghinanya. Dari situlah hubunganku berakhir. Dan setelah kejadian itu aku dan Kimberly tidak pernah bertemu lagi. Sehingga aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Clara."
"Lalu sejak kapan kau mengetahui kelakuan busuk wanita murah*n itu?" tanya sang Paman. Kakak laki-laki ibunya.
"Satu minggu acara pernikahanku dengan Clara. Aku mendapatkan kiriman video dari seseorang. Kiriman video itu berisi ketika Kimberly diculik lalu dibawa ke sebuah hotel.
Setelah Kimberly berada di dalam kamar hotel. Di dalam kamar hotel itu ada sekitar tiga perempuan dan satu laki-laki. Laki-laki itu berbaring di samping Kimberly yang tak sadarkan diri dengan selimut menutupi tubuhnya seakan-akan mereka telah melakukan hubungan suami istri. Laki-laki memainkan tangannya di wajah Kimberly. Dan yang merekamnya adalah Clara."
"Baik Clara maupun teman-temannya tidak sadar bahwa di kamar hotel itu telah terpasang kamera pengintai. Jadi apa yang mereka lakukan di kamar hotel itu dengan Kimberly sudah terekam. Dan lebih parahnya lagi adalah hotel tersebut adalah milik keluarga Aldama. Dan yang mengirimkan video itu kepadaku tak lain adalah musuh bebuyutanku selama ini. Dia bekerja disana."
"Saat pertama kali bertemu dengan Kimberly. Kimberly itu beda sekali dengan perempuan-perempuan lainnya. Seperti yang sudah kalian ketahui bahwa Kimberly itu adalah putri kesayangan dari keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo. Dua keluarga terpandang dan paling berpengaruh di Jerman. Tapi ketika bertemu denganku Kimberly tidak terlihat seperti anak yang berasal dari keluarga berada. Justru Kimberly memperlihatkan sisi sederhananya. Kimberly ingin berbaur dengan semuanya tanpa pandang bulu. Disitulah aku tertarik dan menyukai Kimberly."
Setelah mendengar cerita dari Antoni tentang Kimberly membuat mereka semua benar-benar menyesal. Mereka terlalu bodoh karena bertindak terlalu jauh sehingga membuat mereka semua hancur.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Nak? Apapun akan Mami lakukan agar Kimberly dan keluarganya mau memaafkan Mami."
"Ya, sayang! Papi juga akan melakukan apapun agar Kimberly dan keluarganya mau memaafkan kita."
"Paman juga Antoni," sela sang Paman.
"Kami semua akan melakukan apapun agar Kimberly dan keluarganya mau memaafkan kita semua."
Melihat kesungguhan anggota keluarganya membuat Antoni menjadi tidak tega. Sebenarnya bukan Antoni tidak mau membantu keluarganya. Hanya saja Antoni terlalu malu untuk menampakkan wajahnya di depan Kimberly. Ditambah lagi kini Kimberly selalu dijaga oleh ketiga Kakak sepupunya selama berada di luar rumah.
"Antoni," panggil Lana.
"Baiklah. Aku akan bantu. Tapi aku tidak janji jika bantuanku ini gagal," jawab Antoni.
"Kami mengerti!" seru Lana, Charles dan anggota keluarga lainnya.