
Arlo saat ini duduk di samping ranjang Kimberly. Matanya menatap sedih Kimberly. Melihat Kimberly seakan-akan Arlo melihat adik perempuannya yang telah tiada.
"Kakak Arlo kenapa ada di negara ini?" tanya Kimberly.
Mendengar pertanyaan dari Kimberly membuat Arlo tersenyum lalu tangannya mengacak-acak rambutnya gemas.
"Kenapa? Nggak senang? Okelah! Kalau begitu kakak pergi aja dari sini," sahut Arlo dan langsung berdiri dari duduknya, kemudian melangkah menuju pintu.
"Eh, kak!" Kimberly langsung menahan tangan Arlo agar kakaknya itu tidak pergi.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Arlo. Dirinya berhasil menjahili Kimberly.
Sementara Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan tersenyum bahagia ketika melihat interaksi antara Kimberly dan Arlo. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
Arlo membalikkan badannya dengan matanya menatap wajah cantik Kimberly.
"Ada apa? Dan kenapa pegang-pegang?" tanya Arlo.
Kimberly langsung melepaskan pegangan tangannya di tangan Arlo. Kemudian Kimberly membuang wajahnya lurus ke depan.
"Udah pergi sana. Kalau perlu nggak usah balik sekalian," ucap Kimberly dengan bibir sudah manyun.
Mendengar jawaban sekaligus balasan dari Kimberly membuat Arlo seketika membelalakkan matanya tak percaya. Dirinya yang awalnya berniat menjahili Kimberly kini justru berbalik padanya. Kimberly membalas menjahili dirinya.
Arlo menduduki kembali pantatnya di kursi sembari tangannya mengusap-usap punggung tangan Kimberly.
"Hei, cantik! Jangan ngambek dong. Kan kakak kamu yang super tampan ini cuma bercanda doang. Nggak serius. Pleasee! Lihat kakak dong!" Arlo berucap lembut sembari memperlihatkan wajah super sedihnya.
Kimberly mempoutkan bibirnya, kemudian Kimberly mengalihkan wajahnya ke samping guna untuk melihat wajah Arlo.
Seketika Kimberly terkejut ketika melihat wajah sedih Arlo. Dan seketika membuat Kimberly merasa bersalah.
"Kakak Arlo," lirih Kimberly.
Mendengar nada lirih Kimberly membuat Arlo tersenyum gemas sehingga membuat tangannya langsung mengacak-acak kembali rambut Kimberly.
"Aku rindu kakak Arlo."
"Kakak juga rindu kamu. Selama kakak di Amerika. Kakak selalu mikirin kamu. Bahkan kakak nggak makan tujuh hari tujuh malam hanya karena mikirin kamu, adik kelinci kakak yang cantik!"
"Hahahahaha!"
Seketika tawa Rere, Santy, Sinthia dan Catherine pecah ketika mendengar perkataan Arlo yang terakhir. Mereka membenarkan bahwa sahabat mereka itu jelmaan kelinci sehingga membuat semua penghuni terkejut.
Mendengar tawa keras dari keempat sahabatnya membuat Kimberly menatap horor keempatnya.
"Dasar Rere kudisan, Santy kerempeng, Sinthia kecebong busuk, Catherine bau busuk!" ucap Kimberly dengan kejamnya.
"Hahahaha!"
Kini Triny dan para sahabatnya, Risma, Aryan dan para sahabatnya, Billy dan para sahabatnya tertawa keras ketika mendengar ucapan kejam dari Kimberly.
"Kata-kata yang bagus Kim," sahut Risma.
Rere, Santy, Sinthia dan Catherine seketika mempoutkan bibirnya dengan tatapan matanya menatap kesal Kimberly.
"Udah, jangan ngambek! Ntar hilang cantiknya," ucap Lionel sembari mengusap lembut pipi Santy.
"Apapun gelar dan ejekan dari Kimberly. Kamu tetap bebebku yang paling cantik," ucap Satya kepada Sinthia.
Ketika Henry hendak menghibur sang kekasih yaitu Rere. Kimberly sudah terlebih dulu menghentikannya.
"Jangan pamer kemesraan kalian disini. Ini rumah sakit bukan tempat menggombal atau pun tempat adu kemesraan. Jika ingin mesra-mesraan, sewa kamar hotel sana!" ucap Kimberly dengan suara keras.
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Lionel, Henry dan Satya seketika membelalakkan matanya. Mereka tidak menyangka jika Kimberly akan mengatakan tentang sewa hotel.
Sementara yang lainnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar perkataan dari Kimberly dan melihat wajah syok Henry, Lionel dan Satya.
"Kak Arlo," panggil Kimberly dengan tatapan matanya menatap wajah Arlo.
Mendengar panggilan dari Kimberly membuat Arlo tersenyum. Kemudian tangannya mengusap lembut kepala Kimberly.
"Ada apa? Apa ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Arlo.
"Boleh?" tanya Kimberly balik.
"Tentu. Asal nggak nanya yang macam-macam," jawab Arlo.
"Nggak macam-macam kok. Hanya dua macam saja," jawab Kimberly sembari memperlihatkan senyuman manisnya.
"Kamu itu kenapa gemasin sekali sih," ucap Arlo sembari mencubit pelan hidung mancung Kimberly.
"Kak Arlo jangan terlalu lama berdekatan dan ngobrol sama si anak kelinci! Ntar pawang marah loh!" seru Rere tiba-tiba.
Mendengar seruan dari Rere membuat Arlo langsung menatap kearah Rere. Dan setelah itu, Arlo melihat ke sekelilingnya untuk mencari si pawang adik kelincinya.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Arlo ketika tidak menemukan si pawang tersebut. Kemudian Arlo menatap wajah Rere.
"Untuk saat ini kakak bebas dekatin dan ngobrol sama anak kelinci ini karena si pawangnya lagi tidak ada," ucap Arlo.
Setelah mengatakan itu, Arlo kembali menatap wajah cantik Kimberly. Namun seketika dirinya terkejut ketika melihat wajah masam dan tatapan mata Kimberly.
"Hehehehe. Jangan marah ya. Tadi kakak kelepasan," ucap Arlo sembari mengangkat dua jarinya yang membentuk huruf V.
"Mana ada orang yang kelepasan sampai berulang kali," sahut Kimberly kesal.
"Oke, Oke! Sekarang kamu mau nanya apa sama kakak, hum?"
"Soal kakak ada di negara ini. Bukannya kakak akhir bulan ini balik kesini."
Deg..
Mendengar perkataan terakhir dari Kimberly membuat Arlo terkejut. Arlo menatap wajah cantik Kimberly, tepatnya manik coklat Kimberly.
"Kamu tahu dari mana kalau kakak akan pulang akhir bulan ini ke negara ini?" tanya Arlo.
Seketika Kimberly tersadar akan pertanyaan barusan. Namun karena sudah terlanjur, Kimberly pun melanjutkannya.
"Maaf sebelumnya kak. Bukan aku mau ikut campur dalam urusan pribadi kakak. Aku tahu tentang kepulangan kakak ke negara ini dari...."
Seketika Kimberly mengalihkan pandangannya menatap lurus ke depan. Dirinya sedikit berat menyebutkan kedua orang tuanya Arlo.
Arlo yang melihat keterdiaman Kimberly dan tidak melanjutkan perkataannya itu membuat Arlo langsung tahu arah perkataan Kimberly tersebut.
"Apa mereka menemui kamu?" tanya Arlo.
Seketika Kimberly membelalakkan matanya ketika mendengar pertanyaan dari Arlo.
Kimberly langsung melihat kearah Arlo yang kini tengah menatap dirinya.
"Kak Arlo," ucap Kimberly.
"Apa mereka menemui kamu?" tanya Arlo lagi.
"Iya."
"Mereka bicara apa saja sama kamu?"
"Kak," lirih Kimberly.
Mendengar suara lirih dari Kimberly seketika Arlo sadar. Tidak seharusnya dirinya seperti ini terhadap Kimberly.
"Maafkan kakak, Kim!"
Kimberly menggenggam tangan Arlo untuk sekedar menyalurkan rasa sayangnya.
"Kak, aku tahu rasa sakit dan kecewa kakak terhadap mereka. Tapi bagaimana pun mereka orang tua kandung kakak. Ingat kak! Kak Arlo sudah kehilangan satu kali yaitu adik perempuan kakak. Jangan sampai kakak kehilangan untuk yang kedua kalinya. Setidaknya berikan kesempatan mereka untuk menjadi orang tua yang baik untuk kakak. Aku nggak minta kakak untuk langsung menerima dan memaafkan mereka."
"Apa yang dikatakan Kimberly itu benar, nak Arlo!"
Fathir seketika berdiri dari duduknya lalu masuk ke dalam obrolan putrinya dan Arlo. Diikuti oleh Nashita sang istri. Keduanya melangkah mendekati ranjang Kimberly.
"Tidak ada salahnya memberikan kesempatan untuk kedua orang tua kamu sayang. Mereka berhak mendapatkan kesempatan kedua itu dari kamu," ucap Nashita sembari membelai lembut kepala Arlo.
Arlo hanya diam ketika mendengar ucapan dari Kimberly, Fathir dan Nashita. Dirinya tidak tahu harus mengambil keputusan apa. Hatinya saat ini masih terkunci untuk kedua orang tuanya.
"Om tahu apa yang saat ini tengah kamu pikirkan. Berlahan-lahan saja. Tidak usah dipaksakan," ucap Fathir lembut dengan tangannya mengusap lembut bahu Arlo.
"Tante berharap kamu mau memberikan kesempatan untuk kedua orang tua kamu. Jangan terlalu lama menyimpan dendam terhadap orang tua kamu sendiri. Itu tidak baik. Setidaknya lakukanlah demi adik perempuanmu yang sudah tiada," ucap Nashita.
Nashita menarik tubuh Arlo lalu membawanya ke dalam pelukannya. Nashita tahu bahwa Arlo sangat membutuhkan pelukan dari ibunya.
Mendapatkan pelukan dari ibu dari adik angkatnya membuat tangis Arlo pecah. Dirinya benar-benar sangat merindukan pelukan kedua orang tuanya.
"Hiks... Hiks... Hiks," isak tangis Arlo.