
Keesokkan paginya dimana anggota keluarga Fidelyo telah berkumpul di meja makan. Mereka akan melaksanakan sarapan pagi bersama.
"Bagaimana tidurmu, sayang?" tanya Hilda kepada Kimberly.
"Nyenya Oma!"
"Apa kegiatan kamu pagi ini, hum?" tanya Tantri menatap tersenyum kearah keponakannya.
"Eemm.. Aku ingin jalan-jalan. Udah lama aku nggak kesini kan. Jadi mumpung disini, aku ingin menghabiskan waktu untuk jalan-jalan."
Mendengar jawaban serta senyuman di bibirnya Kimberly membuat Tantri, Indira, Hilda, Vicky serta yang lainnya juga ikut tersenyum. Seolah-olah tak ada masalah sama sekali dalam diri Kimberly, padahal jelas-jelas Kimberly memiliki masalah ketika datang kesini.
"Semoga harimu menyenangkan sayang," ucap Indira.
"Hm!"
***
Kediaman Fathir Aldama tampak ramai dimana semua anggota keluarga berkumpul disana. Mereka saat ini tengah melaksanakan sarapan pagi bersama.
Sarapan pagi kali ini tampak bahagia dimana semuanya telah mendapatkan kabar tentang keberadaan kesayangannya. Bahkan keadaan kesayangannya itu baik-baik saja.
"Jason, Uggy!" panggi Fathir kepada kedua putra sulungnya itu.
"Iya, Dad!" Jason dan Uggy menjawab bersamaan.
"Lebih baik kalian selesai balas dendam kalian terhadap orang-orang yang sudah menipu kalian. Jangan dibiarkan terlalu lama," ucap Fathir.
"Papi setuju apa yang dikatakan oleh Daddy kalian. Selesaikan dendam kalian kepada orang yang sudah berlaku curang kepada kalian biar nantinya kalian bisa sedikit lega. Apa kalian tidak ingin bertemu dengan adik perempuan kalian. Terutama kamu Uggy!"
Mendengar ucapan dari Ayah dan Pamannya membuat Jason dan Uggy seketika tersenyum. Di dalam hati mereka masing-masing memang sudah merencanakan untuk membalas orang-orang yang sudah berlaku curang padanya.
"Aku sudah menyiapkan kejutan besar untuk orang yang sudah bermain curang denganku. Dan hari ini aku akan melakukannya," sahut Uggy.
"Hm!" Jason berdehem sembari menganggukkan kepalanya.
Semuanya tersenyum ketika mendengar jawaban dari Jason dan Uggy. Dan mereka semua sudah tahu balasan apa yang akan diberikan oleh keduanya.
Ketika mereka semua sedang menikmati sarapan paginya sembari membahas balas dendam Jason dan Uggy, tiba-tiba ponsel milik Nashita berbunyi menandakan panggilan masuk.
Nashita yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya di saku roknya.
Setelah ponselnya sudah berada di tangannya, tatapan matanya melihat nama 'Tantri' di layar ponselnya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Nashita langsung menjawab panggilan dari adik sepupunya itu dengan senyuman mengembang di bibirnya.
"Hallo, Tantri!"
Mendengar Nashita menyebut nama Tantri membuat mereka semua meyakini bahwa Tantri memberikan kabar terbaru mengenai Kimberly.
"Apa kabar kak?"
"Kabar baik Tantri. Kamu dan keluarga lainnya di Berlin, bagaimana?"
"Sama seperti kakak. Aku dan keluarga lainnya juga baik-baik saja. Aku menghubungi kakak hanya ingin memberitahu tentang putri kesayangan kakak."
"Bagaimana dengan putriku, Tantri? Apa dia sudah di rumah bersama keluarga lainnya?"
"Sesuai yang dikatakan oleh anak buahnya Jacob bahwa Kimberly akan pulang ke rumah keluarga Fidelyo setelah dua hari menginap di Hotel Mami. Dan sekarang Kimberly sudah bersama denganku dan yang lainnya."
"Ach, syukurlah. Kakak senang mendengarnya. Kakak benar-benar mengkhawatirkan Kimberly ketika tidak mendapatkan kabar atau tidak bisa menghubunginya sama sekali."
"Mom, loundspeaker panggilannya!" pinta Uggy.
Nashita tersenyum kemudian tangannya menekan mode loundspeaker agar putra keduanya itu dan semuanya bisa mendengar apa yang disampaikan oleh Tantri.
"Iya, Uggy. Ada apa, hum? Apa kau ingin mengetahui bagaimana kabar adikmu yang keras kepala itu?"
Mendengar ucapan dari Tantri membuat semuanya tersenyum.
"Bagaimana kabar adikku, Tante? Dia baik-baik saja kan? Ketika dia sampai di rumah. Adikku tidak terluka sedikit pun kan Tante?" tanya Uggy.
Fathir, Nashita dan semuanya tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Uggy. Mereka tahu bagaimana khawatirnya Uggy terhadap adik perempuannya. Begitu juga dengan Tantri di seberang telepon. Tantri juga sangat tahu bagaimana besarnya rasa sayang Uggy terhadap Kimberly. Begitu juga dengan Jason, Enda dan Riyan.
"Kamu mau bibi berbohong atau jujur, hum?"
"Aish!"
Uggy seketika berdecak kesal akan pertanyaan yang dilontarkan oleh sang Bibi.
"Tante, aku serius. Dan ini bukannya waktu untuk main tebak-tebakan!"
"Hahahahahaha." seketika terdengar tawa keras dari Tantri di seberang telepon. "Baiklah.. Baiklah! Maafkan Tante sayang. Kimberly baik-baik saja. Bahkan sampai detik ini."
Seketika Uggy tersenyum mendengar jawaban dari Tantenya itu. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Terus, Kimberly nya mana Tante? Apa dia bersama Tante sekarang?"
"Kalau Kimberly bersama Tante sekarang, maka Tante tidak akan bisa menghubungi Mommy kamu dan berbicara dengan kamu sekarang ini," ledek Tantri.
"Lah, kenapa begitu?"
"Kamu lupa bahwa adik kamu itu marah sama kamu sehingga dia pergi meninggalkan rumah. Kalau Kimberly disini bersama Bibi, maka yang ada adik kamu itu bakal rebut paksa ponselnya Tante lalu berakhir dia akan langsung mematikannya."
Mendengar ucapan demi ucapan dari sang Bibi membuat Uggy seketika menghela nafas pasrahnya.
"Kamu tidak perlu khawatir akan adikmu. Dia aman dan akan selalu baik-baik saja selama disini. Kalau kamu mau kesini, datanglah. Tante tidak akan memberitahu Kimberly akan kedatangan kamu kesini."
"Tapi Tante...."
"Tante mengerti sayang. Kimberly sudah cerita semuanya sama Tante dan sama semuanya. Ketika Kimberly selesai bercerita, Mami Indira bertanya kepada Kimberly apakah adikmu itu benci sama kamu? Dan jawaban adik kamu itu adalah bahwa dia tidak membenci kamu. Dia hanya kecewa sama kamu yang tidak mau mendengarkan permintaannya."
"Jadi Tante mohon sama kamu. Kamu jangan berpikir buruk tentang adik kamu yang mana adik kamu itu sangat benci kamu. Itu tidak benar sayang. Adik kamu itu begitu menyayangi kamu."
"Baiklah, Tante. Terima kasih informasi atas adik perempuanku. Aku titip Kimberly sama Tante dan keluarga lainnya."
"Tante akan jaga adik perempuan kamu itu dengan sangat baik seperti Tante menjaga kedua anak perempuan Tante."
"Tantri," panggil Nashita.
"Iya, kak!"
"Kakak titip Kimberly. Kemungkinan setelah semua pekerjaan disini selesai, kita akan ke Berlin."
"Wah, benarkah! Aku tunggu. Aku akan memasak makanan kesukaan kak Nashita, kak Fathir serta yang lainnya jika nanti datang."
"Terima kasih Tantri!
"Baiklah kak. Aku tutup teleponnya. Aku menelpon kakak saat ini secara sembunyi-sembunyi. Kimberly sekarang ada di kamarnya sedang bersiap-siap mau jalan-jalan katanya. Kalau putri kakak itu tahu aku sedang berbicara dengan kakak. Yang ada nantinya putri kakak itu menuduhku memberitahu kakak bahwa dia ada disini, walau nyatanya memang seperti itu!"
Nashita tersenyum ketika mendengar ucapan dari Tantri. Begitu juga dengan Fathir dan anggota keluarga lainnya.
"Baiklah... Baiklah!"
Tutt.. Tutt...
Setelah mendapatkan persetujuan dari sang kakak. Tantri pun langsung mematikan panggilannya.