
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Namun pada dasarnya siswa yang terlalu amat santai untuk sekolah dia malah sengaja memperlambat laju motornya. Melewati beberapa jalan yang arahnya memang jauh dari sekolah.
Aryan membelokkan stang motornya ke kanan saat berada di pertigaan. Seiring dengan lambat laju motornya yang menembus perempatan. Aryan di hadapankan dengan seorang gadis yang tiba-tiba menyeberang jalan tidak melihat sisi kanan dan kiri sehingga membuat Aryan mengerem mendadak.
Bunyi ban dan aspal yang bergesekan membuat gadis itu sontak teriak dengan kedua tangan menutupi bagian wajahnya.
Aryan mendesis pelan. Dia membuka helm kemudian menyugar rambutnya ke belakang membuat rambut hitam legamnya jatuh dan acak-acakan tidak beraturan.
"Lo bisa minggir nggak?!" ucap Aryan kesal.
Gadis itu mulai menurunkan kedua tangannya pelan. Tatapannya langsung terpaku pada paras tampan Aryan.
"Mimpi apa aku semalem ketemu sama pangeran ganteng. Oh, Tuhan!"
"Woi, minggir!"
Gadis itu langsung tersadar dari lamunannya mendengar suara galak Aryan membuat kata-kata yang barusan gadis itu ucapan di dalam hati ingin dia tarik kembali.
Gadis itu mencebikkan bibirnya kesal . Bukannya minta maaf malah marah-marah.
"Kamu kalau naik motor itu hati-hati dong!" ucap gadis itu.
Mata Aryan melebar sempurna. Demi Raka yang sok ganteng suka tebar pesona padahal sudah punya pacar Aryan yakin bahwa bukan dia yang salah. Tapi gadis sialan di depannya yang tiba-tiba menyebrang tidak melihat sisi kanan dan kiri.
"Kenapa lo nyalahin gue, hah?! Lo yang jalan nggak lihat-lihat. Dasar bodoh! Sudah jelas salah. Malah nyalahin orang lain!"
"Galak banget sih," cibir gadis itu pelan.
Gadis itu menatap Aryan tepat di manik matanya.
"Kamu yang salah! Cowok harus ngalah dong sama cewek!"
"Udah salah nyolot lagi!" sentak Aryan dan langsung turun dari motornya.
Melihat Aryan yang turun dari motornya membuat gadis itu gelagapan. Di tambah lagi saat langkah kaki Aryan menghampirinya.
Spontan gadis itu berjalan mundur. Deiring dengan Aryan yang terus melangkah maju.
"Eh! Eh! Kamu mau ngapain?! Jangan macam -macam ya!"
Aryan seketika tersenyum miring. "Dasar. Baru segini aja udah takut! Cemen Lo," batin Aryan.
Aryan terus berjalan maju membuat gadis itu makin gelagapan dengan pandangan takut yang terus menoleh ke belakang.
"Berhenti nggak?! Aku teriak nih," kata gadis itu sembari mengacungkan tangannya ke atas.
"Teriak aja. Nggak akan ada yang denger kali!"
Perasaan takut menggerogoti gadis itu. Saat kakinya sudah tidak bisa berjalan mundur dengan punggung yang tiba-tiba menyentuh tembok.
Gadis itu menoleh ke belakang, lalu mengumpat pelan. Kini tubuhnya sudah tidak bisa bergerak lagi. Matanya menatap tajam Aryan yang berjalan makin dekat dengannya.
"Hei, berhenti nggak? Jangan macam-macam aku bisa lapor polisi loh!" kata gadis itu semakin histeris melihat Aryan sudah berjarak dua langkah di depannya.
Aryan menaikan satu alisnya. Sementara mulutnya berusaha diam agar tawanya tidak menyembur keluar. "Mana ada polisi di jalan sepi gini. Bodoh kali dia ya," batin Aryan.
"Laporin aja gue nggak takut." Aryan berucap dengan tatapan matanya menatap gadis di hadapannya. "Lo nggak tahu aja kalau gue punya dua orang kakak polisi," batin Aryan.
Aryan menatap tepat di manik mata gadis itu. Keduanya sudah berhadapan dengan kedua tangan Aryan berada di sisi kanan kiri kepala gadis itu.
Sesaat gadis itu diam. Menyelami paras tampan Aryan dari dekat. "Astaga tampannya," batin gadis itu.
Mata Aryan menatap ke bawah. Tepat di dada sebelah kanan gadis itu yang tertempel badge namanya.
"Prisca Girado."
Seketika Aryan berjengit kaget saat Prisca menarik rambutnya dengan tiba-tiba.
"Lihat apa kamu, hah?! Dasar nggak sopan."
Aryan meringis. Tangannya menangkup tanga kecil Prisca lalu berusaha melepaskan tarikan di rambutnya.
Walau sedikit susah karena tarikannya terlalu kuat.
"Lo!" ucap Aryan tertekan dengan tatapan matanya yang tajam.
Melihat tatapan Aryan yang berubah tajam membuat nyali Prisca menciut. Tatapan dingin nan datar serta tajam itu hadir dengan tiba-tiba tanpa Prisca sadari.
Aryan menghembuskan nafasnya pelan. Memejamkan matanya sejenak sembari melepaskan tangan Prisca.
Aryan membuang mukanya ke arah samping. "Jangan main-main sama gue," ucap Aryan datar.
"Ke-kenapa?"
Prisca merutuk dalam hati. Tangannya menepuk bibirnya pelan saat melihat Aryan masih membuang muka ke arah samping.
Aryan mengalihkan tatapannya lagi. Kini manik matanya terkunci dengan manik mata milik Prisca.
Aryan memandang Prisca lamat-lamat tanpa kedip membuat gadis di depannya diam mematung dengan jantung berdetak lebih cepat.
Cekrek!
Aryan menjauh dari Prisca. Begitu pun Prisca yang langsung berjalan ke samping beberapa langkah.
"Kalo mau bercinta liat-liat tempat saudara Aryan dan saudari Prisca! Untung sepi."
Aryan menatap tajam gadis yang tengah sibuk dengan ponselnya sembari menggerutu tidak jelas.
Aryan tahu gadis itu tengah melihat potret dirinya dan Prisca yang barusan gadis itu tangkap.
"Hapus foto itu!"
Aryan berjalan mendekat kearah gadis yang sudah mengambil fotonya bersama Prisca.
Sherina mendongak. Menaikan dagunya menantang Aryan.
"BIG NO!" ponselnya dia letakan kembali di saku rok nya.
" Enak aja lo nyuruh nyuruh gue hapus. Lumayan kan aib. Ternyata wakil OSIS gini kelakuannya? Ck! Sherina menggeleng pelan membuat Aryan geram di tempatnya.
"Hapus sekarang! Jangan macam-macam sama gue!"
"Mau banget gue macam-macamin." tantang Sherina.
"Lo....."
"Stop! Stop! Kalo berantem jangan disini dong. Prisca membuka suara Tatapannya menatap tidak suka pada Sherina.
"Hapus foto tadi. Itu nggak seperti apa yang kamu pikirin," ucap Prisca.
"Emang lo tahu gue mikir apa?" tanya Sherina.
"Iya juga ya. Aish!" Prisca menggaruk kepalanya.
"Ya, nggak gitu juga. Pokoknya hapus aja.
"Nggak akan."
Mendengar jawaban dan juga penolakan dari Sherina membuat Aryan menggeram marah.
Aryan mencengkeram kuat tangan Sherina sehingga membuat Sherina meringis. "Hapus foto itu," ucap Aryan dengan penuh penekanan dan tatapan matanya yang tajam.
"Aw, Aryan. Ini sakit. Lepaskan," ucap Sherina.
"Hapus foto itu, baru gue lepaskan tangan lo," jawab Aryan.
"Ya, sudah. Biasa aja kali. Nggak usah segitunya sampai nggak mau lepasin tangan gue."
"Nggak usah banyak omong lo. Gue tahu siapa lo. Sekali pun gue lepasin tangan lo. Lo bakal makin ngelunjak. Ini ucapan gue yang terakhir. Hapus foto itu." Aryan berbicara dengan menatap tajam Sherina.
"Kalau gue nggak mau. Terus lo mau apa?" tanya Sherina dengan wajah menantang.
Aryan seketika tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar pertanyaan menantang dari Sherina.
"Lo nantangin gue?" tanya Aryan.
"Menurut lo?"
"Baiklah, kalau itu mau lo."
Aryan mengambil ponselnya. Setelah ponselnya sudah ada di tangannya. Aryan mencari nama tangan kanannya yaitu Damar.
Setelah mendapatkan nama kontak Damar. Aryan pun langsung menghubungi Damar. Dan dia tidak lupa meloadspeaker panggilan tersebut agar Sherina bisa mendengarnya.
"Hallo, tuan Aryan.
"Hallo, Damar. Aku butuh bantuanmu."
"Apa itu, tuan?"
"Aku mau kau mencari tahu latar belakang keluarga dari temanku yang bernama Sherina Muntaz. Fotonya nanti aku kirim."
Sherina yang mendengar suara laki-laki di seberang telepon milik Aryan seketika terkejut. Keterkejutannya makin bertambah ketika mendengar perkataan dari Aryan.
"Baiklah. Lalu apa yang harus aku lakukan jika berhasil mengetahui latar belakang dari teman tuan Aryan itu?"
"Bermain-mainlah dengan mereka dengan cara menghancurkan usaha yang mereka punya secara berlahan-lahan."
"Baik, tuan! Aku akan lakukan dengan baik."
"Terima kasih, Damar!"
"Sama-sama, tuan!"
Setelah mengatakan itu, Aryan mematikan panggilannya. Dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
Aryan menatap wajah takut Sherina. "Terserah lo. Mau lo hapus foto gue bersama Prisca atau tidak. Gue nggak urus hal itu lagi."
Setelah itu, Aryan pergi meninggalkan Sherina dan juga Prisca untuk menuju ke sekolah. Jika dirinya lama-lama bersama dua gadis menyebalkan itu akan membuat dirinya tidak bisa mengontrol emosinya.