THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kesakitan Kimberly



Prisca sudah resmi menjalin hubungan persahabatan dengan Kimberly dan keempat sahabatnya. Dia benar-benar bahagia karena Kimberly dan keempat sahabatnya langsung menerima dirinya menjadi bagian penting keduanya.


Kini Kimberly, Rere, Santy, Sinthia, Catherine dan Prisca sudah duduk di kursinya sembari menunggu pesanannya datang.


Untuk Aryan dan para sahabatnya berada di ruang latihan latihan Basket bersama dengan empat orang gadis. Untuk Billy, Tommy dan Triny beserta berada di rooftop. Mereka memilih bermalas-malasan disana. Sementara Risma berada di kelasnya.


"Terima kasih ya sudah mau menerimaku menjadi sahabat kalian. Aku akan berusaha menjadi sahabat terbaik kalian," ucap Prisca.


Mendengar perkataan dari Prisca. Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine hanya tersenyum. Mereka juga tidak mengharapkan Prisca untuk melakukan hal-hal yang membuat mereka senang. Yang mereka inginkan adalah mengalir seperti apa adanya.


Setelah menunggu beberapa menit. Akhirnya pesanan mereka pun datang. Melihat pesanan mereka sudah ada di atas meja membuat perut ketiganya semakin lapar.


Kimberly, Rere, Santy, Sinthia, Catherine dan Prisca saling memberikan tatapan, kemudian mereka tersenyum. Lalu mereka kembali menatap makanan mereka masing-masing.


"Waktunya makan!" seru Kimberly, Rere, Santy, Sinthia, Catherine dan Prisca bersamaan.


Disisi lain di tempat yang sama. Terlihat delapan orang gadis tersenyum bahagia melihat bagaimana antusiasnya Kimberly yang menikmati makan siangnya.


Beberapa detik kemudian...


Kimberly merasakan pusing di kepalanya. Lalu beralih sesak di bagian dadanya. Bukan itu saja, tiba-tiba Kimberly tiba-tiba terbatuk-batuk dan berakhir memuntahkan sesuatu dalam mulutnya.


"Uhuuk! Hueek!"


"Kim!" teriak Kimberly, Rere, Santy, Sinthia, Catherine dan Prisca ketika melihat kondisi Kimberly.


Semua penghuni kantin juga ikut terkejut melihat Kimberly yang tiba-tiba terbatuk-batuk dan muntah. Bahkan yang membuat mereka lebih terkejut lagi adalah muntahnya Kimberly mengeluarkan darah.


"Kim, lo kenapa?" tanya Catherine yang seketika menangis.


"Ke-kenapa jadi gini?" tanya Sinthia yang juga menangis melihat kondisi Kimberly.


"Kim... Hiks," isak Santy dan Rere.


Prisca menatap kearah makanan yang dimakan oleh Kimberly. Prisca berpikir bahwa Kimberly menjadi seperti ini karena setelah memakan beberapa suap nasi goreng dan meminum beberapa sedot jus pokatnya.


"Kim," isak tangis Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.


Sementara kedelapan gadis yang tadinya tersenyum bahagia ketika melihat Kimberly yang berhasil memakan umpannya juga ikut terkejut. Mereka tidak menyangka jika reaksi alerginya Kimberly seperti itu.


"Ka-kakak Billy, ka-kakak Triny, Ar-aryan, To-tommy." Kimberly berucap lirih dan terbata-bata.


Rere, Santy, Sinthia dan Catherine yang mendengar ucapan lirih dan terbata-batanya Kimberly seketika mengerti.


Catherine menatap kearah Santy dan Prisca.


"Santy, Prisca. Kalian berdua jagain Kimberly sebentar. Jangan tinggalkan dia. Aku, Rere dan Sinthia akan mencari Billy, Triny, Risma dan Aryan."


Setelah itu Rere, Sinthia dan Catherine langsung berlari untuk mencari keberadaan Billy, Triny, Risma, Aryan dan Tommy.


^^^


"Sherina, gue benar-benar minta maaf sama lo. Saat itu gue... Gue benar-benar tidak bisa menahan emosi gue. Gue langsung kalap ketika melihat foto gue sama Prisca tersebar di media sosial."


"Dan kenapa gue langsung nyari lo dan marah-marahin lo? Bahkan gue berani nampar lo. Itu dikarenakan lo sendiri yang bilang ke gue kalau lo bakal nyebarin foto itu ke orang-orang. Alasan itulah kenapa gue jadi semarah itu sama lo."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Aryan membuat Sherina hanya diam tanpa berkomentar. Namun di hati kecilnya Sherina. Dia tidak marah apalagi membenci Aryan.


Sherina juga sadar bahwa dia juga salah disini. Pertama, jika dia tidak mengambil foto Aryan dan Prisca. Mungkin kejadian seperti ini tidak terjadi. Kedua, jika saat itu dia tidak mengancam Aryan, walau cuma sekedar candaan. Kemungkinan juga Aryan tidak akan marah besar padanya.


Tapi dibalik itu semua. Sherina dapat memetik hikmahnya. Dia bisa dekat dengan Aryan. Dan dia juga tahu sifat asli dari teman sekelasnya yang bernama Cherry.


"Sherina, jangan diam saja. Jawab pertanyaanku. Kamu mau memaafkan kesalahan karena sudah menamparmu?"


"Sherina," ucap Riana, Alea dan Talla.


Riana, Talla dan Alea juga berharap Sherina mau memaafkan kesalahan Aryan. Ketiganya tahu bahwa Aryan terpaksa melakukan hal tersebut.


Disaat Sherina ingin membuka mulutnya hendak memberikan maaf kepada Aryan. Tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka dengan paksa serta suara teriakan seseorang.


"Aryan!"


Mereka melihat seorang murid perempuan berlari menghampiri mereka semua.


"Rere!" seru Aryan, Lian, Dylan, Raka, Jerry dan Evan bersamaan.


"Aryan, lo harus ikut gue!"


"Nggak bisa. Urusan gue sama Sherina belum selesai. Dan ini penting!" tolak Aryan.


"Mana yang lebih penting? Urusan lo sama Sherina atau urusan lo sama adik sepupu lo Kimberly?"


Mendengar pertanyaan dari Rere. Di tambah dengan ekspresi wajah Rere yang tak baik-baik saja membuat Aryan seketika merasakan ketakutan.


"Jelas lebih penting adik sepupu gue. Katakan kepada gue. Ada apa? Kenapa dengan Kimberly?" tanya Aryan.


"Gue nggak tahu apa yang terjadi sama Kimberly. Kimberly tiba-tiba batuk lalu muntah. Dan lebih terkejutnya lagi. Kimberly muntah darah."


Mendengar jawaban dari Rere membuat Aryan terkejut. Begitu juga dengan Lian, Dylan, Raka, Jerry dan Evan.


"Sekarang dimana Kimberly?!"


"Dia di kantin bersama Prisca dan Santy. Aku meminta mereka berdua untuk jagain dia. Sementara aku, Catherine dan Sinthia mencari Billy, Triny, Risma dan Tommy."


Aryan langsung berlari menuju kantin bersama Rere dan disusul oleh kelima sahabatnya.


Melihat ketakutan di wajah Aryan membuat Sherina dan ketiga sahabatnya menjadi penasaran. Mereka pun memutuskan untuk menyusul Aryan dan yang lainnya ke kantin.


^^^


"Permisi!" seru Sinthia di kelasnya Risma.


Semua penghuni kelas termasuk Risma langsung melihat kearah pintu.


"Sinthia!"


"Kak, ikut gue ke kantin! Kimberly butuh kakak!"


Mendengar ucapan dan melihat wajah panik Sinthia seketika Risma berdiri dari duduknya. Dirinya langsung berlari menuju arah pintu.


Setelah itu, Risma dan Sinthia langsung berlari menuju kantin.


^^^


BRAK..


Pintu rooftop dibuka paksa oleh Catherine. Setelah itu, Catherine langsung masuk ke dalam dengan nafas terengah-engah.


Sementara Tommy, Triny, Billy dan para sahabatnya terkejut ketika melihat kedatangan Catherine. Bahkan mereka juga menatap tak tega melihat kondisi Catherine yang terengah-engah.


"Bil," ucap Catherine yang nafasnya masih belum kembali normal seratus persen.


Billy langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Catherine. Tangannya mengusap keringat di kening putih Catherine.


"Ada apa?"


"Itu Kimberly!"


Mendengar nama Kimberly disebut membuat Tommy, Triny dan yang lainnya langsung berdiri dan mendekati Billy dan Catherine.


"Cat, kenapa dengan Kimberly?" tanya Triny.


"Kimberly... Kimberly muntah darah di kantin. Dia butuh kalian," ucap Catherine yang seketika menangis.


"Apa?!" teriak Billy, Triny, Tommy dan semuanya.


Setelah itu, mereka semua pergi meninggalkan rooftop untuk menuju kantin.


^^^


"Kimberly, lo kenapa? Apa yang terjadi sama lo?" Santy menangis melihat kondisi Kimberly saat ini.


Wajah Kimberly saat ini pucat. Bahkan Kimberly juga kesulitan bernafas.


"Ka-kakak Billy, ka-kakak Triny, To-tommy!" Kimberly berucap lirih.


"Kimberly!" teriak Aryan, Billy, Tommy, Triny, Risma ketika memasuki area kantin.


Aryan, Billy, Tommy, Triny, Risma berlari menghampiri adik sepupunya/kekasihnya yang saat ini berada di pelukan Santy.


Billy mengambil alih tubuh Kimberly. Air matanya berlomba-lomba mengalir membasahi wajah tampannya. Begitu juga dengan Tommy, Aryan, Triny, Risma dan yang lainnya.


Kedelapan gadis jahat yang sejak tadi memperhatikan kondisi Kimberly menatap penasaran akan sikap Aryan, Billy, Tommy, Triny, Risma terhadap Kimberly. Terutama terhadap Billy, Aryan dan Tommy. Termasuk Prisca.


"Kim, ini kakak. Kamu bisa dengar kakak? Disini juga ada Aryan, Triny, Risma dan Tommy."


Deg..


Mendengar perkataan dari Billy membuat kedelapan gadis yang sejak tadi memperhatikan Kimberly termasuk Prisca terkejut.


"Apa? Jadi... Jadi Billy, Aryan dan Kimberly itu....."


Kedelapan gadis itu dan Prisca menatap tak percaya apa yang mereka lihat dan mereka dengar.


"Ka-kakak Billy, ka-kakak Triny, Ar-aryan To-tommy, ka-kakak Risma!"


"Iya. Ini kakak, sayang!"


"Iya, Kim! Kita semua disini!" jawab Tommy, Aryan, Triny dan Risma.


"Sa-sakit."


"Apanya yang sakit? Katakan pada kakak." Billy sudah menangis melihat kondisi Kimberly saat ini.


"Kim, katakan pada kita. Apa yang sakit, hum?" tanya Triny yang menangis melihat kondisi adik sepupu sembari tangannya mengusap lembut kepala Kimberly.


"Katakan Kim," ucap Aryan dan Risma bersamaan. Keduanya sudah dalam keadaan menangis melihat kondisi Kimberly.


Billy memberikan kecupan sayang bertubi-tubi di kening adik sepupunya itu. Dadanya merasakan sesak ketika melihat adik sepupunya itu kesakitan.


"Kim... Hiks," isak Rere, Santy, Sinthia, dan Catherine.


"To-tommy, peluk!"


Mendengar permintaan dari Kimberly. Tommy langsung mengambil alih tubuh Kimberly dari Billy kemudian membawanya ke pelukannya.


"Tommy."


"Iya, ini aku. Ada apa, hum?"


"Aku... Aku... nggak bisa na-fas. Se-sak."


Tes..


Air mata Tommy jatuh membasahi wajah tampannya ketika mendengar keluhan dari Kimberly. Hatinya benar-benar sakit.


"Tommy, buruan bawa Kimberly ke rumah sakit!" teriak Andhika.


Mendengar teriakkan dari Andhika. Tommy langsung menggendong tubuh kekasihnya itu.


Setelah itu, Tommy membawa tubuh kekasihnya itu buru-buru meninggalkan kantin untuk menuju rumah sakit. Disusul oleh Billy, Aryan, Triny, Risma. Dan keempat sahabatnya Kimberly.


"Kalian pergilah ke rumah sakit. Tommy, Triny, Aryan dan Risma pasti butuh kalian. Sementara gue dan Mirza tetap disini," ucap Ivan.


"Baiklah!"


Setelah itu, mereka semua pun pergi menyusul Billy, Aryan, Triny, Risma dan Tommy. Dan menyisakan Ivan, Mirza dan Prisca.


Ivan dan Mirza melihat kearah Prisca yang saat ini tengah menatap makanan dan minuman milik Kimberly.


"Prisca," panggil Ivan.


Tanpa melihat kearah Mirza dan Ivan. Prisca berucap. "Ini makanan dan minuman Kimberly. Setelah beberapa suapan dan beberapa sedotan makanan dan minuman ini masuk ke dalam perut Kimberly. Tiba-tiba Kimberly batuk-batuk dan muntah darah."


Ivan dan Mirza melihat kearah makanan dan minuman milik Kimberly. Tanpa pikir panjang lagi, Mirza mengambil makanan dan minuman itu dan berniat untuk mengeceknya. Dia membawa makanan dan minuman milik Kimberly ke ruang laboratorium.


"Aku akan mengeceknya di laboratorium, sekarang!"


Setelah itu, Mirza dibantu oleh Ivan membawa makanan dan minuman milik Kimberly ke ruang laboratorium.