THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Balasan Dari Uggy



Seperti yang sudah dibicarakan ketika sarapan pagi dimana Jason dan Uggy harus segera menyelesaikan urusan terhadap orang yang sudah berlaku curang padanya.


Jason dan Uggy saat ini berada di perusahaannya masing-masing. Keduanya tampak mengerjakan sesuatu yaitu mengecek beberapa berkas yang harus ditandatangani dan berkas mengenai data keuangan perusahaan.


^^^


[Perusahaan GG'Al Corp]


Uggy saat ini sedang fokus mengecek satu persatu berkas yang menumpuk di atas meja. Dia mengecek semua berkas-berkas tersebut dengan penuh semangat. Bukan berarti hari-hari sebelumnya Uggy tidak semangat. Justru Uggy selalu bersemangat ketika berada di kantornya.


Semangat Uggy hari ini adalah karena dia ingin pergi ke Mitte, Berlin untuk bertemu dengan adik perempuannya. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan adik kesayangannya itu.


Ketika Uggy sedang fokus dengan pekerjaannya, tiba-tiba pintu ruang kerjanya dibuka oleh seseorang.


Cklek..


"Bos!"


Uggy seketika menghentikan pekerjaannya. Kemudian tatapan matanya beralih menatap kearah pemuda yang kini telah berdiri di hadapannya.


"Ada apa Deryl?"


"Bajingan itu datang, Bos!"


Mendengar jawaban dari Deryl membuat Uggy langsung tersenyum. Dia tahu bajingan yang dimaksud oleh Deryl barusan.


"Biarkan saja dia masuk. Aku ingin melihat apa yang akan dia lakukan setelah mengetahui perubahan miliknya itu sudah menjadi milikku sekarang."


"Baik, Bos!"


Setelah itu, Deryl membisikkan kepada asisten Uggy yang berada diluar yang tengah menahan orang tersebut.


Asisten tersebut menganggukkan kepalanya lalu melepaskan orang itu untuk menemui atasannya.


Setelah melihat orang itu masuk ke dalam ruang kerja atasannya, asisten tersebut begitu juga dengan Deryl juga ikut masuk ke dalam ruangan atasannya itu.


"Hallo, Ragil Prasetyo!" sapa Uggy dengan tersenyum manis menatap kearah Ragil dengan posisi duduknya bersandar di punggung kursi kebesarannya.


Mendengar sapaan dari teman satu sekolahnya itu membuat Ragil mengepal kuat kedua tangannya di bawah meja kerja Uggy dengan tatapan matanya yang tajam.


"Ada apa, hum?" tanya Uggy dengan nada santainya.


"Kenapa kau tega melakukan hal keji itu padaku, Uggy? Apa kesalahanku padamu?" tanya Ragil.


"Memang aku melakukan apa padamu? Kenapa kau bertanya seperti itu?"


Bukannya jawaban yang diberikan, melainkan pertanyaan yang diberikan oleh Uggy kepada Ragil.


"Jangan pura-pura tidak mengerti Uggy! Aku sudah tahu. Ini adalah ulahmu. Kau membayar orang untuk mecamar sebagai seorang CEO. Bahkan kau juga yang sudah menyewa sebuah gedung untuk kau jadikan perusahaan. Setelah itu, kau menyuruh orang itu untuk mendatangi perusahaanku tujuannya untuk bertemu denganku untuk melakukan kerjasama. Dan bodohnya aku menyetujui kontrak kerjasama tersebut." Ragil berucap dengan penuh amarah dan dendam tatapan matanya yang tajam.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Ragil membuat Uggy tersenyum di sudut bibirnya. Ini yang dia inginkan ketika melihat musuh-musuhnya dalam keadaan masih karena telah ditipu.


"Aku tidak bermaksud untuk bermain curang. Aku melakukan hal ini hanya semata-mata mengikuti caramu ketika mengajukan berkas kerjasama padaku," sahut Uggy dengan tersenyum menatap wajah marah Ragil.


"Apa maksudmu, Uggy?!"


"Deryl!"


"Iya, Bos!"


"Tunjukan video yang kau dapatkan itu padanya."


"Baik, Bos!"


Deryl pun mengeluarkan ponsel miliknya dari saku celananya. Kemudian menyetel sebuah video yang tersimpan di galeri yang ada di ponselnya.


Beberapa detik kemudian, video itu pun berjalan. Dan Deryl memperlihatkan video tersebut kearah Ragil.


"Kau lihatlah video itu agar kau mengetahui letak kesalahanmu padaku," ucap Uggy.


Ragil melihat ke layar ponsel milik Deryl. Disana terlihat adegan demi adegan dirinya yang tengah membahas kerjasama dengan dua temannya di sebuah cafe.


Deg..


Seketika Ragil membeku ditempat ketika melihat video tersebut. Dirinya tidak menyangka jika kebusukannya terbongkar di hadapan Uggy.


Sementara Uggy seketika tersenyum di sudut bibirnya ketika melihat wajah terkejut dan wajah tegang Ragil ketika melihat videonya sendiri.


"Bagaimana? Sudah tahukan sekarang siapa yang terlebih dahulu berlaku curang dalam mengajukan berkas kerjasama, hum?" tanya Uggy.


"Kesalahanmu bukan hanya satu, Ragil Prasetyo! Kesalahanmu itu ada dua. Pertama, kau berani menipuku dengan memberikan berkas kerjasama palsu padaku. Kedua, kau sudah membuatku membentak adik perempuanku demi menjaga perasaanmu ketika adikku melarangku untuk menandatangani berkas tersebut. Asal kau tahu Ragil. Dari adikku kecil sampai dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, aku Uggy Aldama tidak pernah sekali pun memarahinya dan membentaknya. Aku tidak pernah melakukan dua hal itu kepada adik perempuanku."


Uggy berucap dengan penuh amarah. Bahkan tatapan matanya menatap begitu tajam kearah Ragil.


"Gara-gara aku terlalu menjaga perasaanmu sehingga aku kelepasan membentak adikku. Adikku marah besar padaku. Tanpa aku dan keluargaku ketahui, adikku pergi meninggalkan rumah dan sampai detik ini aku dan keluargaku tidak tahu dia ada dimana. Itu semua kesalahanmu, Ragil!" bentak Uggy.


"Dan sekarang kau datang kesini dan marah-marah padaku karena aku sudah membohongimu. Dasar egois!"


Uggy seketika berdiri dari duduknya. Dia membungkukkan badannya untuk menatap lebih dekat lagi wajah terkejut Ragil.


"Kau sudah kalah. Perusahaanmu sudah menjadi milikku. Menyerahlah sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kemungkinan besar aku akan membuatmu hancur dengan kehilangan semuanya. Begitu juga dengan semua anggota keluargamu. Dikarenakan aku masih memiliki hati yang baik, aku hanya merebut perusahaan milikmu. Dan aku tidak menyentuh milik keluargamu. Jadi, jangan melakukan hal bodoh lainnya sehingga bisa merugikan dirimu sendiri dan keluargamu."


"Sekarang, pergilah dari sini. Aku masih banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan!"


Ragil menatap tajam kearah Uggy. Dia benar-benar tidak terima perusahaan yang dia bangun menjadi milik Uggy begitu saja.


Setelah puas menatap wajah Uggy. Ragil pun memutuskan untuk pergi meninggalkan ruang kerja Uggy dengan perasaan amarah.