
Mobil yang dikendarai oleh Tommy dan di dalamnya ada Kimberly dan Riana telah sampai di depan sebuah rumah. Rumah itu adalah rumah keluarga besar dari pihak ibu kandungnya Riana.
Kimberly pada akhirnya satu mobil dengan Tommy dikarenakan bujuk rayu serta pelukan dan ciuman di pipinya yang diberikan oleh Tommy sehingga membuat Kimberly luluh.
Untuk mobil milik Kimberly dibawa pulang oleh Aryan karena kebetulan Aryan berangkat sekolah tadi pagi dijemput oleh sahabatnya Dylan.
Tommy, Kimberly keluar dari dalam mobil. Begitu juga dengan Riana. Setelah itu, mereka berjalan mendekati gerbang rumah milik keluarga ibu kandung Riana.
"Nona Riana," sapa security yang datang membuka pintu gerbang.
Ada dua security yang berjaga. Satu security membukakan pintu gerbang untuk Riana. Sementara security satunya sudah berlari masuk ke dalam rumah untuk memberitahu kedatangan Riana.
^^^
Di dalam rumah terlihat beberapa orang berkumpul di ruang tengah. Mereka saat ini tengah merindukan salah satu anggota keluarganya yaitu cucu perempuan/adik perempuan/ keponakan perempuan yang jarang mereka temui.
"Ibu merindukan Riana," ucap seorang wanita paruh baya yang berstatus sebagai nenek.
"Bukan ibu saja yang merindukan Riana. Kamu juga merindukan Riana," ucap salah satu sepupu laki-laki Riana.
"Sejak Ambar meninggal. Dan sejak Ramoz menikah lagi. Sejak itulah kita tidak pernah bertemu dengan Riana. Terakhir kita bertemu Riana satu tahun yang lalu ketika acara ulang tahun Riana." Andrew berucap dengan suara lirihnya. Dirinya benar-benar merindukan keponakan dari adik perempuan kesayangannya.
Ketika mereka tengah memikirkan dan merindukan Riana, tiba-tiba security datang.
"Maaf nyonya besar, tuan, nyonya!"
Mereka semua langsung melihat kearah security itu.
"Iya, ada apa Lee?" tanya Dinmar selaku putra pertama.
"Diluar ada nona muda Riana."
Mendengar security itu menyebut nama Riana. Seketika mereka semua tersenyum bahagia.
"Benarkah cucuku ada diluar?"
"Benar Nyonya besar."
Setelah itu, mereka semua beranjak dari duduknya dan langsung berlari keluar rumah untuk menemui kesayangannya.
^^^
Saat ini Riana bersama Kimberly dan Tommy sudah berada di perkarangan luas keluarga Tandem.
"Apa kamu nggak mau masuk ke dalam?" tanya Kimberly yang menatap Riana yang sama sekali tidak berani untuk menemui anggota keluarga dari ibunya.
"Aku... Aku takut...." Riana menundukkan kepalanya.
"Takut," ulang Kimberly dan Tommy.
"Takut kenapa?" tanya Tommy.
"Takut mereka tidak menerimaku. Takut mereka kecewa padaku karena aku tidak pernah mengunjungi mereka dan juga tidak pernah menghubungi mereka," jawab Riana.
Mendengar jawaban dari Riana membuat Kimberly dan Tommy paham.
Puk!
Kimberly menepuk pelan bahu Riana sehingga membuat Riana mendongakkan kepalanya menatap wajah Kimberly.
"Kamu belum masuk ke dalam dan belum menemui mereka, kenapa kamu bisa punya pikiran seperti itu. Kita nggak ada yang tahu apa yang terjadi. Bisa saja anggota keluarga dari ibu kamu selama ini begitu merindukan kamu," ucap Kimberly dengan memberikan keyakinan kepada Riana.
"Kamu tidak tahu apa yang dirasakan dan dialami oleh keluarga ibu kamu. Begitu juga dengan mereka yang tidak mengetahui kehidupan kamu selama ini. Kamu berpikir jika keluarga ibu kamu tidak mau menerima kamu. Tapi bagaimana jika keluarga ibu kamu merindukan kamu selama ini?" Tommy ikut meyakini Riana bahwa ketakutannya itu tidak akan terjadi.
Ketika Tommy dan Kimberly sedang memberikan keyakinan kepada Riana, tiba-tiba terdengar suara yang begitu Riana rindukan memanggil namanya.
"Riana!"
Riana seketika langsung melihat keasal suara. Begitu juga dengan Kimberly dan Tommy.
Riana seketika menangis ketika melihat wajah sang nenek yang berlari kearah dirinya. Begitu juga dengan anggota keluarga Tandem lainnya.
"Riana," panggil wanita paruh baya itu lagi.
Grep!
Wanita paruh baya itu langsung memeluk tubuh Riana dengan erat.
"Nenek merindukan kamu sayang."
"Hiks... Nenek... Hiks," seketika isak tangis Riana pecah di pelukan sang nenek.
Wanita paruh baya itu melepaskan pelukannya lalu menatap wajah cucunya yang dia rindukan satu tahun ini. Tangannya terangkat untuk menghapus air mata cucunya dan mengusap-usap lembut pipinya. Dan tak lupa wanita paruh baya itu memberikan ciuman di keningnya.
"Riana," panggil dua orang sekaligus.
Riana langsung melihat kearah dua orang itu.
"Om, Tante!"
"Sini peluk Tante."
Riana langsung menghambur ke dalam pelukan Om dan Tantenya secara bergantian.
Sementara Kimberly dan Tommy yang melihat sambutan yang hangat dari keluarga ibu kandung Riana terhadap Riana tersenyum bahagia.
Setelah puas memeluk sang nenek, Paman dan Bibinya dan juga para kakak-kakak sepupunya. Riana menatap kearah Kimberly dan Tommy. Kemudian Riana memperkenalkan keduanya kepada anggota keluarga Tandem.
"Nenek, Om, Tante! Kenalkan ini kak Kimberly dan ini kak Tommy. Mereka kakak kelas aku."
Anggota keluarga Tandem melihat kearah Kimberly dan Tommy. Mereka semua tersenyum tulus menatap Kimberly dan Tommy.
"Sepertinya aku pernah bertemu dengan kamu! Tapi dimana ya!" seru kakak sepupu perempuan Riana kepada Kimberly.
Kakak sepupu perempuan Riana berpikir sejenak. Dirinya berusaha mengingat dimana dirinya bertemu dengan Kimberly.
Dan detik kemudian...
"Aku ingat! Kamu Kimberly Aldama, putri bungsu dari Fathir Aldama dan Nashita Fidelyo. Dan adik perempuan kesayangan dari CEO terkenal yaitu Jason Aldama, Uggy Aldama, Enda Aldama dan Riyan Aldama!"
Mendengar ucapan demi ucapan dari kakak sepupu perempuan Riana membuat anggota keluarga Tandem terkejut. Mereka semua tidak menyangka jika dipertemukan dengan putri bungsu dari Fathir Aldama yang selama ini disembunyikan identitasnya.
"Ranny, kamu tahu dari mana bahwa nak Kimberly ini adalah putri bungsunya tuan Fathir Aldama?" tanya sang ayah.
"Aku mengetahui saat menghadiri acara ulang tahun sekaligus acara pertunangan salah satu anak dari keluarga Carian."
Mendengar jawaban dari kakak sepupu perempuan Riana membuat Kimberly seketika teringat akan kejadian di acara tersebut dimana identitas terbongkar.
"Terima kasih nak Kimberly dan nak Tommy sudah mengantar Riana kesini," ucap Nenek Riana lembut.
"Sama-sama nyonya," jawab Kimberly dan Tommy bersamaan.
"Jangan panggil Nyonya. Panggil Nenek saja."
Kimberly dan Tommy menganggukkan kepalanya sembari memberikan senyumannya.
Kimberly menatap wajah Riana. "Riana, ada baiknya kamu ceritakan kehidupan kamu selama ini kepada nenek, om dan tante kamu. Setidaknya dengan kamu bercerita, mereka bisa menjaga dan melindungi kamu."
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat nenek, Paman dan Bibi Riana seketika menatap wajah Riana. Mereka menatap Riana dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Riana," panggil sang Paman.
Pria itu bermaksud untuk menanyakan tentang perkataan Kimberly yang ditujukan kepada Riana. Pria itu ingin mengetahui apa yang terjadi kepada Riana, namun perkataan dihentikan oleh seruan Kimberly.
"Maaf semuanya!"
Semua anggota keluarga Tandem termasuk Riana melihat kearah Kimberly.
"Aku dan Tommy pamit dulu. Aku minta kepada kalian semua bicaralah baik-baik dengan Riana. Riana sangat membutuhkan kalian. Riana butuh tempat berbagi cerita. Dan tempat itu adalah kalian anggota keluarganya."
Setelah mengatakan itu, Kimberly dan Tommy pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Tandem.
***
Di kediaman Fathir Aldama semua sudah berkumpul di ruang tengah. Ada Fathir, Nashita dan keempat putranya yaitu Jason, Uggy, Enda dan Riyan.
Sejam yang lalu Aryan datang dengan membawa mobil Kimberly. Awalnya Fathir, Nashita dan keempat putranya berpikir bahwa kesayangannya dalam keadaan tak baik-baik saja sehingga membuat Aryan yang mengendarai mobil tersebut.
Namun dugaan mereka salah karena hanya Aryan saja yang keluar dari dalam mobil Kimberly. Sementara pemilik mobil tidak ada.
Aryan sudah menceritakan kepada Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan tentang dirinya yang membawa mobil Kimberly pulang.
Mendengar cerita dari Aryan membuat mereka semua menghelat nafas lega karena kesayangannya baik-baik saja.
Setelah selesai makan siang bersama Daddy, Mommy dan ketiga kakak sepupunya. Aryan pun pamit pulang dengan diantar sopir pribadi Riyan.
"Ini sudah pukul 3 sore. Kenapa Kimberly belum pulang juga?" tanya Nashita.
Mendengar pertanyaan dari istrinya/ibunya membuat Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan tersenyum.
"Mommy kayak nggak pernah muda aja. Siapa tahu sekarang ini Kimberly dan Tommy sedang pergi jalan-jalan berduaan. Kencan gitu," sahut Riyan.
"Ditambah lagi Kimberly jarang keluar rumah. Apalagi pergi jalan-jalan," ucap Uggy.
"Kimberly akan pergi jalan-jalan jika Rere, Santy, Sinthia dan Catherine yang mengajaknya terlebih dahulu sebagai pancingan. Jika bukan ulah mereka, Kimberly tidak akan mau keluar rumah." Enda ikut bersuara karena dirinya tahu sifat adik perempuannya itu.
"Dikarenakan mereka pergi berdua dengan alasan mengantarkan adik kelasnya. Tommy pun tidak membuang kesempatan itu. Tommy pasti ngajak Kimberly jalan-jalan dulu sebelum pulang," ucap Jason.
"Hm!" Uggy, Enda dan Riyan berdehem disertai anggukkan kepala menyetujui perkataan dari kakaknya.
Sementara Nashita seketika cemberut ketika mendengar ucapan demi ucapan dari keempat putranya mengenai putri bungsunya.
Fathir tersenyum melihat wajah cemberut istrinya lalu Fathir menarik tubuh istrinya dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Tenang saja sayang. Princess kesayangan kita akan baik-baik saja bersama Tommy. Tommy pasti akan menjaga dan melindungi Princess kesayangan kita," ucap Fathir.
"Iya, aku percaya Tommy bakal melindungi princess kesayangan kita. Hanya saja aku sudah tidak sabar melihat princess kesayangan kita itu pulang sekolah sembari berteriak memasuki rumah. Rumah ini seketika hidup ketika mendengar teriakannya."
Fathir kembali tersenyum mendengar perkataan dari istrinya. Begitu juga dengan keempat putranya.
"Sabar. Mungkin sebentar lagi mereka pulang," ucap Fathir.