THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Amarah Tama



"Kau pikir aku mau menikah denganmu? Kau nikahi saja kakekku. Dia kan yang menawarkan perjodohan bodoh ini jadi kau harusnya meminta tanggung jawab dari si tua itu," ucap Lora sengit.


Kali ini laki-laki itulah yang menatap tajam Lora.


"Aku tidak menyangka bahwa kau itu seorang artis yang seperti ini. Bagaimana jika para paparazzi tahu bahwa sifat kau yang sebenarnya itu seperti ini? Dan satu lagi, aku pria normal. Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk menikahi kakekmu itu. Dasar gila!"


"Kau mau mencoba mengancamku? Lakukan saja sesukamu, aku tidak perduli. Lagipula para paparazzi juga sudah tahu bagaimana kelakuanku selama ini."


Lora tidak berbohong tentang ini, Lora bukanlah artis bermuka dua yang manis dibdepan dan busuk dinbelakang. Tidak! Lora tidak seperti itu. Dia benar-benar menunjukan sifat aslinya dimana pun bahkan di depan paparazzi sekalipun. Bagi Lora, dia tidak akan berbuat kasar jika orang-orang dibsekitarnya tidak kurang ajar di depannya, seperti laki-laki ini.


"Benarkah? Kalau begitu aku harus mencari cara lain untuk mengancammu dan membuatmu mau menikah denganku."


"Hey! kau ini laki-laki macam apa! Kau tidak punya harga diri mengemis seperti ini padaku?"


"Aku tidak perduli. Sudah kukatakan aku hanya ingin menikah denganmu."


Yangan Lora mengepal menahan rasa jengkelnya melihat kelakukan laki-laki dinhadapannya ini.


"Kau itu bukan ingin menikahiku, tapi kau ingin menikahi popularitasku. Benar begitu Nikko Alehan?"


Seketika laki-laki di depan Lora sedikit terkejut begitu mendengar ucapan Lora dan beberapa saat kemudian sudut bibir tertarik ke atas membuat sebuah seringai.


"Ternyata kau pintar juga, tapi aku tidak perduli dengan ucapanmu dan terserah apa yang kau katakan aku akan tetap menikahimu."


"Laki-laki brengsek!" batin Lora.


Lora bisa saja menampar laki-laki ini sekarang, tapi itu melukai harga dirinya dan tentu saja semakin membuang-buang waktunya.


"Terserah kau ingin bicara apa. Aku pun juga tidak akan perduli dengan apapun yang kau katakan. Dan sepertinya aku benar-benar harus pergi karena bicara denganmu benar-benar membuang waktuku."


Lora segera beranjak dari tempat duduknya dan berniat pergi dari tempat itu sebelum laki-laki bernama Nikko Alehan itu menahan tangannya.


"Kau ingin kemana? Kita harus membicarakan soal pernikahan kita."


"Siapa yang ingin menikah dengan siapa sialan!" Lora membentak laki-laki tampan yang sialnya begitu menjengkelkan bagi Lora.


"Tentu saja kau."


Lora mendesis dan menyentakkan tangan laki-laki itu dengan kasar.


"Dengar, aku benar-benar tidak punya waktu hanya untuk meladeni ucapan gilamu. Saat ini kekasihku sedang menungguku dan aku tidak ingin membuatnya menunggu lebih lama lagi hanya untuk mengurusi orang tidak berguna sepertimu."


Untuk kali ini biarkan Lora berbohong. Dia benar-benar ingin lepas dari laki-laki berbisa seperti Nikko ini dan kebohongan dia memiliki kekasih adalah salah satu alasan yang tepat.


"Alasan klasik. Cari alasan lain biar aku mempercayaimu. Kau pikir aku bodoh dapat mempercayaimu begitu saja, hah?! Jika memang kekasihmu sedang berada disini. Suruh dia masuk maka aku akan melepaskanmu dan membatalkan perjodohan ini."


Sialan! Sialan! Sialan!


***


[Gwinnett High School]


Tama mengerjakan tugas Matematika karena tugas bahasa Inggrisnya telah selesai. Sedangkan untuk Samuel kebalikannya. Samuel mengerjakannya tugas bahasa Inggris. Untuk tugas matematika sudah selesai.


Ketika Tama dan Samuel tengah fokus mengerjakan tugas-tugasnya, tiba-tiba Viviana datang mengganggu Tama.


"Tama," panggil Viviana lalu langsung duduk di samping Tama. Kemudian menyenderkan kepalanya di bahu Tama.


"Apa-apaan lo! Minggir!" bentak Tama dengan mendorong kuat tubuh Viviana hingga tubuh Viviana terhuyung ke samping.


"Aish! Kenapa lo kasar banget sih sama gue," ucap Viviana.


"Makanya menjauh lo dari gue kalau lo nggak mau dikasari. Jadilah cewek baik-baik. Dan jangan jadi cewek murahan yang selalu nempel sama cowok yang sama sekali nggak suka sama lo!" bentak Tama lagi.


Samuel yang sejak tadi diam pun bersuara. Dirinya juga marah akan sikap Viviana yang selalu mengganggu Tama. Apalagi sekarang ini Tama ingin menyelesaikan tugas-tugas sebelum waktunya habis, namun justru Viviana datang mengganggu.


"Mending lo pergi dari sini, Viviana! Lo nggak lihat Tama lagi sibuk dengan tugas-tugasnya. Dan tugas-tugas itu harus dikumpulkan hari ini. Jika lo disini. Lo hanya membuat Tama akan membuat Tama memperlambat tugas-tugasnya itu," ucap Samuel.


Mendengar perkataan dari Samuel membuat Viviana langsung melihat ke atas meja. Dan benar, terlihat beberapa buku di hadapan Tama.


"Apa tugas kamu banyak? Aku bantu ya," ucap Viviana.


"Tidak perlu. Gue bisa sendiri." Tama menjawab perkataan Viviana dengan tatapan matanya menatap buku-buku itu sembari tangannya menulis sesuatu di atas kertas putih.


"Udah nggak apa-apa. Sini biarkan aku yang ngerjain tugas kamu. Kamu duduk santai saja sambil beristirahat sejenak," ucap Viviana sambil menarik buku tulis Tama.


"Gue bilang nggak perlu. Gue bisa sendiri." Tama merebut kembali buku tulisnya itu.


Dikarenakan keras kepalanya Viviana sehingga membuat satu helai kertas bukunya itu robek seketika akibat ditarik oleh Viviana.


Melihat kertas bukunya robek, apalagi kertas itu sudah berisi beberapa jawaban yang ditulis oleh Tama membuat Tama seketika menggeram marah.


Brak..


Tama menggebrak meja dengan keras bersamaan dengan Tama berdiri dari duduknya sehingga membuat penghuni perpustakaan lainnya terkejut. Termasuk Viviana.


"Tama, aku...." gugup Viviana.


Plak..


"Aakkhhh!" teriak Viviana merasakan sakit di pipinya akibat tamparan tak main-main dari Tama.


"Dasar perempuan sialan. Lo memang manusia yang nggak bisa diomongin baik-baik ya! Gue udah sabar sejak tadi dan bahkan dengan lembut meminta sama lo untuk pergi dari sini. Bahkan sepupu gue juga ikut nasehatin lo, tapi tetap saja lo masih saja pada pendirian lo!" bentak Tama.


Tama benar-benar marah akan sifat keras kepala dan susah diatur Viviana. Tatapan matanya menatap tajam kearah Viviana.


"Dan lo lihat sekarang! Gue harus ngulang dari awal semua tugas-tugas gue yang seharusnya sudah selesai!" bentak Tama menunjuk wajah Viviana dengan penuh emosi.


Mendengar ucapan kasar dan bentakan dari Tama membuat Viviana seketika menangis. Sementara para penghuni perpustakaan juga tidak menyalahkan atas sikap kasar dari Tama. Mereka semua tahu bahwa Viviana yang keras kepala dan tak tahu malu selalu mengejar-ngejar dan mengganggu Tama. Bahkan Samuel yang selalu menasehatinya justru dibalas dengan kata-kata kasar.