THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kembali Ceria



Kimberly sudah berada di rumah. Nashita, Fathir dan keempat putranya mengizinkan Kimberly pulang karena Kimberly tidak ingin dirawat di rumah sakit. Kimberly ingin dirawat di rumah saja.


Kimberly mengatakan itu sembari menangis di hadapan kedua orang tuanya dan keempat kakaknya.


Melihat wajah memohon serta air mata Kimberly membuat Nashita, Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan menjadi tidak tega. Dan pada akhirnya mereka pun mengizinkan Kimberly pulang ke rumah.


Saat ini di kediaman Fathir Aldama tampak ramai dimana semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah.  Sementara Kimberly berada di kamarnya.


"Jason, Uggy!" Fathir memanggil kedua putra sulungnya.


Jason dan Uggy langsung melihat kearah ayahnya secara bersamaan.


"Iya, Dad!"


"Dimana bajingan itu sekarang?"


"Di markasku," jawab Uggy.


"Kenapa kamu nggak langsung habisi saja nyawanya? Bagaimana pun kelakuannya itu sudah melewati batas. Bajingan itu berniat ingin melecehkan Kimberly." Ardian berucap dengan wajah marahnya.


Sampai detik ini, Ardian adik pertama Fathir masih menyimpan amarah akan kelakuan bejat Anshell terhadap keponakannya. Begitu juga dengan para paman Kimberly yang lain. Mereka sama seperti Ardian.


"Hukuman mati untuk orang yang sudah melakukan hal keji terhadap perempuan itu terlalu ringan, Pa! Seperti yang dikatakan kak Jason padaku. Hukuman yang lebih pantas untuk laki-laki itu adalah penyiksaan."


Mendengar perkataan dari Uggy membuat mereka semua menganggukkan kepala tanda setuju. Hukuman mati terlalu ringan untuk orang yang tidak bisa menghormati perempuan.


"Langkah apa yang akan kita lakukan setelah ini kak Jason, kak Uggy?" tanya Billy.


"Kita tidak akan melakukan apapun. Kita hanya menunggu," jawab Jason.


Mendengar jawaban dari Jason membuat Billy menatap bingung Jason. Begitu juga dengan yang lainnya.


Jason yang ditatap oleh semua orang seketika tersenyum.


"Kita menunggu keluarga Adrian yang bertindak duluan. Apa yang akan dilakukan oleh keluarga itu ketika mendengar kabar dari putra bejatnya itu," ucap Jason.


"Jika keluarga tersebut bertindak sebagai orang tua yang bijak dan tidak membela putranya. Kita cukup memberikan hukuman penjara untuk putranya. Jika keluarga itu marah dan menuntut balas, maka kita......."


Perkataan Jason terpotong karena Arziki langsung memotongnya. "Kita akan menghancurkan keluarga itu."


Mendengar perkataan dari Arziki, seketika Jason tersenyum. "Iya! Itulah yang kita lakukan kepada mereka. Kita akan buat mereka semua mendekam dalam penjara."


"Oh iya, Rafassya! Bagaimana kabar dari sopir pribadinya Valen? Apa dia sudah mau mengaku?" tanya Fathir kepada adik iparnya.


"Belum, kak Fathir. Laki-laki itu masih bungkam," jawab Rafassya.


Mendengar pertanyaan dari sang kakak tertua dengan adik iparnya membuat Ardian selaku saudara kedua menatap bingung keduanya.


"Kak Fathir, Rafassya. Ada apa? Apa ada masalah yang tidak aku ketahui? Kenapa dengan keponakanku Valen?"


Mereka semua melihat kearah Ardian termasuk Fathir. Dapat mereka lihat dari tatapan matanya mengisyaratkan keinginan tahuan.


"Katakan padaku kak Fathir. Ada apa dengan Valen?"


"Masalah Valen sama seperti masalah yang menimpa Kimberly."


Mendengar jawaban dari sang kakak membuat Ardian terkejut. Begitu juga dengan Aira dan keempat anak-anaknya yaitu Adhitama, Jovita, Arziki dan Fauzan.


"Terus bagaimana perkembangannya, Pi?" tanya Adhitama kepada Rafassya.


"Sampai detik ini kita belum mengetahui siapa di belakang sopir pribadinya Valen itu. Laki-laki itu masih bungkam, walau sudah beribu kali mendapatkan penyiksaan." Pasya yang menjawab pertanyaan dari Adhitama.


"Apa sopir pribadinya Valen masih memiliki keluarga. Jika dia masih memiliki keluarga. Kita bisa menggunakan keluarganya!" seru Jovita tiba-tiba.


Mendengar seruan dari Jovita. Para ayah seketika langsung memberikan tatapan satu sama lainnya. Dan setelah itu, mereka melihat kearah Jovita. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Sepertinya laki-laki itu masih memiliki orang tua yaitu ibunya dan satu adik perempuan. Kalau tidak salah adik perempuannya itu seusia dengan Kimberly," sahut Fathan.


Seketika terukir senyuman di sudut bibir Pasya, Fathan dan Aryan ketika mendengar ucapan dari Jovita.


"Ide yang bagus," sahut Pasya.


"Kenapa aku tidak kepikiran kesana ya?" tanya Fathan pada dirinya.


Mendengar perkataan sekaligus pertanyaan dari Fathan membuat semuanya tersenyum.


"Karena kau itu bodoh." Jovita menjawab pertanyaan dari Fathan dengan sangat kejam.


Mendengar perkataan kejam dari sepupunya membuat Fathan mendengus kesal.


"Iya, iya! Terima kasih pujiannya saudari Jovita," ucap Fathan dengan nada kesalnya.


"Sama-sama, saudara Fathan!" Jovita membalas perkataan dari Fathan.


"Hahahaha."


Seketika semuanya tertawa ketika mendengar ucapan dan balasan dari Fathan dan Jovita.


***


Keesokan paginya semua anggota keluarga telah berkumpul di meja makan lengkap dengan Kimberly.


Baik Nashita, Fathir, Jason, Uggy, Enda, Riyan maupun Ardian, Aira, Adhitama, Jovita, Arziki dan Fauzan tersenyum bahagia melihat Kimberly yang sudah kembali segar dan semangat seperti biasa. Mereka sama sekali tidak melihat rasa takut atau trauma dari tatapan mata Kimberly.


Ardian dan anggota keluarganya menginap di kediaman Fathir Aldama untuk dua minggu ke depan. Setelah itu, mereka akan kembali pulang ke Australia, karena mereka tinggal disana.


"Bagaimana tidurnya sayang?" tanya Fathir.


"Nyenyak Dad," jawab Kimberly.


Fathir langsung tersenyum mendengar jawaban dari putrinya. Begitu juga dengan Nashita, Jason, Uggy, Enda Riyan dan yang lainnya.


"Kakak Jason," panggil Kimberly kepada kakak tertuanya.


"Ada apa, hum?" jawab Jason lembut.


"Nanti pulang sekolah Rere, Santy, Sinthia dan Catherine akan datang kesini. Eemmm... Itu...!" Kimberly tersenyum bak anak kecil menatap kakak laki-lakinya itu.


"Mau minjam kartu kredit kakak, begitu?" Jason langsung mengerti maksud dari perkataan dan senyuman adiknya itu.


"Hehehehe. Iya! Boleh?" ucap dan tanya Kimberly.


Jason tersenyum mendengar kekehan dan senyuman manis adiknya itu. "Tentu boleh."


"Kakak Jason yang terbaik," puji Kimberly.


"Oh iya, kakak hampir lupa kasih tahu kamu!" seru Jason menatap wajah cantik adik perempuannya.


"Apa kak?" tanya Kimberly.


"Kak Rica minta maaf sama kakak karena saat kamu masuk rumah sakit,  dia nggak bisa datang. Dia coba hubungi kamu. Dia hubungi kakak dan meminta kakak ngasih tahu kamu."


Kimberly tersenyum. "Nggak apa-apa, kak! Aku mengerti. Pasti saat aku di rumah sakit kak Rica tengah sibuk di perusahaannya. Secara kan sejak pulang dari Amerika, kak Rica sudah diberikan wewenang penuh di perusahaan utama oleh ayahnya. Bahkan perusahaan itu sudah resmi menjadi milik kak Rica."


Mendengar jawaban bijak dari Kimberly membuat Jason tersenyum bahagia dan juga bangga. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.


"Dan aku juga yakin ketika kak Rica selesai dengan urusannya di perusahaan. Kak Rica ingin sekali ke rumah sakit, tapi tetap nggak bisa. Pekerjaannya itu selalu mengejar kak Rica seolah-olah kak Rica nggak boleh istirahat."


"Pemikiran yang dewasa. Daddy bangga sama kamu."


"Kan aku belajar dari Daddy. Nggak semua yang kita inginkan dan kita harapkan akan langsung terkabul. Kita hanya manusia biasa yang hanya bisa berencana, tapi yang menentukan semuanya hanya Tuhan."


Lagi-lagi mereka semua tersenyum bangga akan perkataan bijak dari Kimberly. Dan mereka semua membenarkan apa yang dikatakan oleh Kimberly barusan.