
Clara saat ini bersama Talitha di kursi teras. Clara sama sekali tidak mempersilakan Talitha untuk masuk ke dalam rumah.
"Ada keperluan apa kau kemari?" tanya Clara dengan menatap wajah Talitha.
Mendengar pertanyaan dari Clara membuat Talitha tersenyum. Talitha berpikir bahwa Clara tidak pernah berubah selalu ketus jika berbicara.
"Aku ingin mengajakmu bekerja sama," jawab Talitha.
"Kerja sama?" tanya Clara balik.
"Iya," balas Talitha sembari menganggukkan kepalanya. "Kerja sama ini akan menguntungkan kita berdua, termasuk dirimu." Talitha berbicara dengan menatap wajah Clara.
"Kerja sama dalam hal apa?" tanya Clara.
Talitha tersenyum mendengar pertanyaan dari Clara. "Menghancurkan Kimberly. Aku ingin merebut Tommy dan membuat Kimberly menderita."
Mendengar perkataan dari Talitha membuat Clara menatap intens Talitha. "Sudah aku duga. Kau tidak akan pernah berubah sekali pun sudah merasakan masuk penjara," batin Clara.
"Apa keuntungan yang aku dapatkan jika aku membantumu?" tanya Clara.
"Seperti biasanya. Bukankah kau sangat membenci Kimberly. Jadi kau bisa bermain-main dengan Kimberly dengan cara menyiksanya. Sementara aku bisa bersenang-senang dengan Tommy. Aku akan menjadikan Tommy milikku selamanya." Talitha berbicara dengan wajah kentara bahagia dan semangatnya.
"Keuntungan yang tidak adil untukku. Aku yang bekerja, tapi kau yang mendapatkan hasilnya yang memuaskan. Bagaimana bisa begitu." Clara langsung mengajukan ketidaksukaannya atas ide Talitha.
Mendengar perkataan dari Clara membuat Talitha terkejut. Dia tidak menyangka jika Clara akan langsung melayangkan ketidaksukaannya terhadap idenya barusan.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau memiliki cara untuk menghancurkan Kimberly. Setidaknya bantu aku mendapatkan Tommy," ucap dan tanya Talitha.
Clara menatap wajah Talitha yang terlihat memohon kepadanya. Clara tersenyum di dalam hatinya ketika telah mendapatkan sebuah ide licik.
"Aku akan membantumu untuk mendapatkan Tommy. Tapi dengan satu syarat," ucap Clara.
"Apa syaratnya?" tanya Talitha.
"Selama aku membantumu untuk mendapatkan Tommy. Aku minta padamu untuk mematuhi semua perkataanku. Jika aku belum mengizinkanmu, maka kau jangan berbuat hal-hal diluar rencanaku," ujar Clara.
"Jika kau berhasil mendapatkan Tommy. Kau jangan melakukan apapun kepada Tommy. Kau pasti mengerti apa yang aku bicarakan," ucap Clara dengan menatap wajah Talitha.
"Iya. Aku mengerti. Aku tidak boleh melakukan hal yang sama seperti dulu," jawab Talitha.
Clara tersenyum. "Gadis pintar. Ingat, Talitha! Kau datang kemari meminta bantuanku. Jadi kau harus patuh akan segala perintahku. Jangan coba-coba kau menusukku dari belakang setelah nanti kau mendapatkan Tommy. Kau tahu siapa aku bukan. Jika kau mengkhianatiku, maka kau akan tahu akibatnya. Aku tahu siapa kau dan aku juga tahu tentang keluargamu. Kalau kau ingin aman, maka patuhi perintahku dan ikuti semua rencanaku."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Clara membuat Talitha benar-benar ketakutan. Talitha sangat tahu sifat dan karakter asli dari Clara. Clara tidak pernah main-main dengan setiap perkataannya. Setiap apa yang dikatakan oleh Clara akan langsung terbukti.
"Baik, aku mengerti! Aku tidak akan mengkhianatimu. Aku akan mengikuti semua rencanamu," sahut Talitha.
"Berikan nomor ponselmu. Aku akan mengabarimu ketika aku sudah memulai rencana pertama," ucap Clara.
Mendengar perkataan dari Clara. Seketika terukir senyuman di bibir Talitha. Dia langsung memberikan memberikan nomornya kepada Clara.
"Baiklah. Sekarang, silahkan kau pergi dari sini. Aku ingin menemui seseorang," usir Clara.
"Memangnya kau ingin menemui siapa?" tanya Talitha.
"Bukan urusanmu," jawab Clara.
"Ach, baiklah!"
Setelah mengatakan itu, Talitha beranjak dari duduknya, lalu pergi meninggalkan Clara yang masih duduk di kursi teras.
Sedangkan Clara menatap dengan tersenyum menyeringai kepergian Talitha.
***
Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam akhirnya Kimberly sampai juga di rumahnya.
Setelah selesai memarkirkan mobilnya di garasi, Kimberly langsung masuk ke dalam rumah dan langsung bertemu dengan keempat kakak kesayangannya di sofa ruang tengah.
"Halo, semua. Kimberly yang cantik melebihi selena melebihi segalanya datang. Ini red carpetnya mana?" teriak Kimberly ketika memasuki pintu utama mansion.
"Lama-lama nih gendang telinga benar-benar rusak jika setiap hari mendengar teriakkan dari anak kelinci itu," sahut Uggy.
Kimberly yang tidak terima disamain dengan anak kelinci langsung berjalan kearah keempat kakaknya. Setelah berdiri di belakang kakak keduanya itu, Kimberly kemudian mendekati wajahnya ke telinga Uggy.
Dan detik kemudian..
"Kakak Uggy nyebelin!" teriak Kimberly.
"Sshh!" Uggy seketika mengusap-usap telinganya akibat teriakan Kimberly di telinga.
Uggy seketika memberikan tatapan tajamnya kearah Kimberly, namun balas tak kalah tajam dari Kimberly.
"Dasar adik laknat," ucap Uggy kesal.
Bruukkk..
Kimberly menjatuhkan tubuhnya tepat di samping kakak tertuanya. Lalu kemudian menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak.
Jason seketika tersenyum melihat sifat adiknya yang manja padanya, lalu tangannya mengusap lembut kepalanya penuh sayang.
"Kakak, lapar!"
"Kamu makan apa, hum? Kakak delivery, mau?"
"Boleh."
"Mau pesan apa?"
"Eemm... ayam goreng, spaghetti sama pizza ya."
Jason tersenyum ketika mendengar nama makanan yang disebutkan oleh Kimberly. Apalagi ketika melihat wajah bahagianya membuat Jason bahagia. Begitu juga dengan Uggy, Enda dan Riyan.
Setelah itu, Jason pun langsung melakukan pemesanan menu makanan yang sudah disebutkan oleh adik perempuannya.
"Sambil menunggu pesanannya datang. Lebih baik kamu ke kamar bersih-bersih," ucap Uggy.
"Baik, kak!"
Uggy seketika tersenyum melihat adik perempuannya yang langsung menuruti perkataan dari dirinya. Dirinya benar-benar bahagia melihat sifat Patuh adik perempuannya itu.
***
Di sebuah kamar terlihat seorang pemuda tampan yang sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Pemuda itu adalah Azka.
Azka saat ini tengah memikirkan Kimberly, gadis yang sudah mencuri hatinya sejak dirinya diberikan tumpangan. Lebih tepatnya dia yang langsung masuk ke dalam mobil Kimberly sebelum mendapatkan izin dari sang pemilik mobil.
"Kimberly, lo akan menjadi milik gue. Gue akan merebut lo dari Tommy. Bagaimana pun caranya, lo harus menjadi milik gue. Dan gue nggak akan biarkan lo berduaan dengan Tommy. Selama di sekolah, gue bakal buat lo menjauh dari Tommy."
Azka tersenyum di sudut bibirnya ketika mengucapkan kata-kata itu. Dirinya benar-benar sudah terobsesi terhadap Kimberly dan ingin memilikinya, sekali pun dia tahu bahwa Kimberly sudah memiliki kekasih.
Azka tidak peduli semua itu. Yang dia pedulikan adalah Kimberly harus menjadi miliknya. Apapun akan dia lakukan untuk mendapatkan Kimberly, sekali pun menjadi pembunuh dia akan lakukan.
"Kimberly! Tunggu aku, sayang! Sebentar lagi lo akan menjadi milik gue. Selamanya!"
Ketika Azka sedang memikirkan Kimberly dan juga rencana untuk mendapatkan Kimberly, terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
Tok.. Tok..
Tok..
"Tuan, makan siangnya sudah siap!"
"Iya, gue akan segera keluar!"
Setelah mengatakan itu, Azka pun langsung beranjak dari duduknya dan memutuskan pergi meninggalkan kamarnya untuk menuju ruang makan. Dia tidak ingin membuat kedua orang tuanya dan satu kakak laki-lakinya menunggunya terlalu lama di ruang makan.