THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kebahagiaan Kimberly



Kimberly berada di kamarnya. Setelah selesai makan malam, Kimberly langsung masuk ke kamarnya. Sementara kedua orang tuanya dan keempat kakak-kakaknya berada di ruang tengah.


Kimberly sedang duduk cantik dengan ponsel di tangannya. Kini Kimberly sedang memikirkan hukuman kedua untuk kelompok Talitha dan kelompok Syafina.


Setelah beberapa menit memikirkan ide untuk memberikan hukuman kedua untuk kelompok Talitha dan kelompok Syafina. Kimberly mendapatkan ide cemerlang untuk kedua musuhnya itu.


Kimberly membuka aplikasi WhatsApp. Setelah itu Kimberly mengirim sebuah pesan berupa siaran baru kepada Talitha, Syafina dan teman-temannya.


Dalam pesan itu, Kimberly meminta mereka untuk datang ke rumah Rere, Santy, Sinthia dan Catharine untuk mengambil barang-barangnya yang ketinggalan di sana. Bukan ketinggalan. Lebih tepatnya ini sudah mereka rencanakan ketika pulang sekolah tadi.


Baik Kimberly maupun keempat sahabatnya sengaja memberikan masing-masing barang-barang mereka. Seperti Kimberly memberikan barang-barang berharganya kepada keempat sahabatnya. Begitu juga dengan keempat sahabatnya. Mereka juga memberikan barang-barang mereka kepada Kimberly. Setelah itu, mereka akan menyuruh Talitha, Syafina dan teman-temannya untuk mengambil barang-barang tersebut.


Setelah menandai nama-nama para musuh-musuhnya. Kimberly pun mulai menulis pesan.


TO : Kimberly.


[TOLONG JEMPUT BARANG-BARANGKU DI RUMAH RERE, SANTY, SINTHIA, CATHARINE. DALAM WAKTU SATU JAM BARANG-BARANG ITU SAMPAI DI RUMAHKU.]


DARI : Talitha dan teman-temannya.


[Ogah. Jemput sana sendiri.]


[Emangnya kami ini apanya kamu?]


[Situ punya kakikan? Pergia aja sendiri!]


[Udah malam. Gua mau tidur.]


[Bodo amat.]


DARI : Syafina dan teman-temannya.


[Situ siapa nyuruh-nyuruh kita?]


[Ogah ya!]


[Aku mau tidur. Ngantuk.]


[Lo aja yang pergi. Kenapa nyuruh-nyuruh gue.]


[Sorry ya. Gak ada waktu.]


TO : Kimberly.


[Ooh.. jadi niatnya mau ingkari perjanjian yang sudah dibuat, hum? Mau lari dari hukuman? Atau memang niat hukumannya ditambah?]


DARI : Talitha, Syafina dan teman-temannya.


[Sial*n!]


[Sial*n!]


[Brengs*k lo. Awas, lo.]


[Dasar gila!]


[Niat banget lo ya.]


[Lo gak tahu ini udah jam berapa, hah?!]


[Ini udah malem.]


[Gue gak dibolehin keluar.]


[Brengs*k lo, Kim.]


[Gue boleh gak kemana-mana.]


Kimberly yang mendapatkan balasan dari para musuh-musuhnya yang semuanya menuliskan kata-kata amarah, umpatan dan juga penolakkan. Tapi bukan Kimberly namanya jika tidak bisa membuat mereka nurut apa yang diinginkannya.


TO : Kimberly.


Setelah menuliskan pesan tersebut. Kimberly pun mematikan ponselnya agar para musuh-musuhnya tidak bisa mengirim atau menghubunginya. Kimberly sangat yakin jika Talitha, Syafina dan teman-temannya pasti akan menghubunginya dan marah-marah padanya.


Tidak jauh beda dengan Kimberly. Keempat sahabatnya juga melakukan hal yang sama kepada Talitha, Syafina dan teman-temannya. Rere, Santy, Sinthia dan Catharine juga meminta mereka untuk mengambil barang-barang mereka di rumah para sahabatnya. Dan mereka juga memberikan ancaman sama seperti ancaman Kimberly jika mereka tidak melakukan apa yang merek inginkan.


Setelah mereka mengirim pesan kepada Talitha, Syafina dan teman-temannya. Baik Kimberly maupun keempat sahabatnya merasakan kebahagiaan tersendiri dalam diri mereka masing-masing. Bagi mereka, kapan lagi menjadi RATU sehari yang memiliki sepuluh pelayan yang setia?


^^^


Ke esokkan paginya. Baik Kimberly maupun keempat sahabatnya bangun dengan senyuman yang mengembang di bibir mereka masing-masing.


Bagaimana tidak bahagia? Hukuman kedua yang mereka berikan kepada para musuh-musuhnya berhasil dilaksanakan. Tepat pukul 9 malam. Baik Talitha, Syafina maupun teman-temannya akhirnya melakukan apa yang diperintahkan oleh Kimberly dan keempat sahabatnya itu.


Talitha, Syafina dan teman-temannya harus bolak balik dari rumah mereka, ke rumah Kimberly lalu pergi ke Rere, Santy, Sinthia dan Catharine hanya untuk menjemput dan mengantar barang-barang milik Kimberly dan keempat sahabatnya sehingga berakhir mereka selesai sampai pukul 11 malam.


Kini Kimberly dan juga keluarganya sudah berada di meja makan. Tanpa Kimberly sadari bahwa kedua orang tuanya dan keempat kakak-kakaknya sedari tadi memperhatikan dirinya yang tak berhenti tersenyum. Mereka semua menatap heran Kimberly.


Jason tiba-tiba mengusap lembut wajah adik perempuannya itu sehingga membuat adiknya itu terkejut. Dan setelah sadar. Kimberly menatap wajah kedua orang tuanya dan keempat kakak-kakaknya itu dengan tatapan malunya.


"Hehehehe." Kimberly hanya cengengesan.


"Ada apa, hum? Sepertinya putrinya Daddy sedang bahagia!"


"Mau berbagi kebahagiaannya bersama kita," ucap Nashita.


"Eemm! Aku memang lagi bahagia, Mom!"


"Kasih tahu dong!" seru Jason, Uggy, Enda dan Riyan kompak.


"Kasih tahu gak ya." Kimberly menggoda keempat kakak-kakaknya.


"Ayolah! Apa itu?" Riyan sudah tidak sabaran.


"Gini Kak, Mom, Dad. Kan kemarin ada ulangan matematika. Aku, Rere, Santy, Sinthia dan Catharine terlebih dahulu selesai. Padahal waktunya masih panjang. Tiba-tiba aja Talitha, Syafina dan teman-temannya pake nuduh kita lagi."


"Mereka nuduh apa sama kamu?" tanya Enda.


"Mereka bilang kalau aku dan sahabat-sahabat aku itu nyontek. Dan lebih parahnya lagi mereka menuduh kami mendapatkan jawaban dari orang lain, lalu tinggal nyalin aja di kertas jawaban. Ya, seperti jimat gitu! Kan kita gak terima."


"Terus apa yang kamu lakukan untuk membuktikan hal itu Kim?" tanya Riyan.


"Catharine tiba-tiba nyaranin sama bu guru buat ngasih soal lagi kekita. Dan kita ngerjainnya dengan waktu yang tersisa. Nah... jika jawaban kami benar dan terbukti tidak nyontek atau buat jimat. Maka kami akan memberikan hukuman kepada Talitha, Syafina dan teman-temannya. Kabar baiknya, bu guru justru memihak kekita Mom, Dad, Kak!"


"Hukuman pertamanya mereka jadi pelayan kami kemarin ketika jam istirahat kedua. Dan hukuman keduanya tadi malam. Aku, Rere, Santy, Sinthia dan Catharine meminta Talitha, Syafina dan teman-temannya untuk mengambil barang-barang kami, lalu mengantarnya ke rumah kami masing-masing. Kemarin sebelum pulang sekolah. Aku, Rere, Santy, Sinthia dan Catharine saling memberikan barang-barang kami."


"Jadi maksud kamu. Kamu memberikan barang-barang kamu kepada keempat sahabat kamu. Begitu juga dengan sahabat kamu dengan memberikan barang-barangnya ke kamu dan ke yang lainnya. Setelah itu, baik kamu dan keempat sahabat kamu itu nyuruh musuh-musuh kamu itu untuk menjemput dan mengantarkan barang-barang itu ke rumah kamu dan juga ke rumah sahabat-sahabat kamu. Begitu?" Uggy kembali mengulangi apa yang dijelaskan oleh adiknya.


"Hm." Kimberly berdehem sambil menganggukkan kepalanya.


Mereka yang melihat dan mendengar hanya tersenyum gemas. Mereka tidak menyangka jika Kimberly dan keempat sahabatnya memiliki ide licik seperti itu.


"Pantesan saja tadi malam sekitar pukul 9. Ada sepuluh orang yang datang ke rumah sambil menenteng beberapa barang. Ternyata itu ulah kamu dan sahabat-sahabat kamu, hum?" ucap dan tanya Nashita.


Kimberly hanya tersenyum sebagai jawabannya sembari memasukkan satu potong nugget ayam ke mulutnya. Mereka yang melihatnya lagi-lagi tersenyum gemas.


"Sebenarnya aku gak mau lakuin hal itu. Tapi mereka sendiri yang minta. Coba saja mereka gak nuduh aku dan sahabat-sahabatku. Maka aku dan sahabat-sahabatku gak akan lakuin itu." Kimberly berbicara sambil mengunyah nugget di mulutnya.


"Astaga, sayang! Itu ditelan dulu nuggetnya. Nanti keselek loh," tegur Nashita. Kimberly hanya tersenyum.


Setelah beberapa menit, mereka pun selesai dengan sarapan paginya. Dan Kimberly yang tiba-tiba sifat manjanya kumat.


Kimberly merengek kepada Jason untuk mengantarnya ke sekolah. Pagi ini Kimberly lagi males bawa mobil. Nanti pulangnya, Kimberly akan meminta salah satu saudara sepupu mengantarnya pulang.


Jason yang melihat sifat manja adik perempuannya dan juga keinginan adiknya langsung mengabulkannya. Siapa yang bisa menolak keinginan adiknya itu ketika sifat manjanya keluar.