
Kimberly saat ini berada di kamarnya. Dirinya tengah bersiap-siap untuk pergi ke acara reuni SMP nya.
Kimberly memakai dress pita Esmeralda warna merah. Panjang dress di bawa lutut. Dipadu padankan dengan sepatu dan dompet berwarna peach. Dirinya terlihat cantik dan anggun mengenakan dress tersebut.
Setelah selesai, Kimberly pun langsung keluar meninggalkan kamarnya. Kimberly melangkah dengan begitu anggun.
Ketika sampai di bawah. Kedua orang tuanya dan keempat kakaknya menatapnya dengan penuh kagum.
Nashita melangkah mendekati putrinya. Dirinya benar-benar bahagia saat ini.
"Astaga, sayang!" seru Nashita ketika menatap putrinya.
"Gak cantik ya?" tanya Kimberly dengan mempoutkan bibirnya.
Nashita tersenyum mendengar pertanyaan dari putrinya. Begitu juga dengan Fathir dan keempat kakaknya.
"Kamu cantik sayang. Sangaaaaattt... Cantik. Mommy seperti ini karena Mommy pangling lihat kecantikan kamu. Kecantikan Mommy kalah sama kamu."
"Ih, Mommy. Mommy yang paling cantik dari pada aku. Kalau Mommy jelek. Daddy gak bakal mau sama Mommy."
"Siapa bilang. Jelek atau pun cantik. Daddy tetap cinta sama Mommy kamu."
"Terima kasih sayangku," ucap Nashita.
"Sama-sama sayangku," jawab Fathir.
"Mulai dech," sahut Jason, Uggy, Enda dan Riyan.
Detik kemudian...
"Hahahahahaha."
Mereka semua pun tertawa.
"Kamu pergi sama siapa Kim?" tanya Riyan.
"Rere, Santy, Sinthia dan Catharine datang jemput aku. Jadi aku nyebengnya sama Sinthia.
"Mereka bawa mobil sendiri-sendiri?" tanya Enda.
"Iya," jawab Kimberly.
"Lebih baik kamu juga bawa mobil sendiri. Kamu punya empat mobil. Dari keempat mobil itu hanya satu yang belum kamu pake sama sekali. Ditambah lagi mobil itu hanya kamu yang punya. Sementara orang-orang diluar sana belum memilikinya. Yang mampu membeli mobil itu hanya orang-orang kaya tertentu saja. Tidak semua orang kaya mampu membelinya." Jason berucap dengan menatap wajah cantik adiknya.
"Apa yang dikatakan Kak Jason benar. Jika kamu memakai mobil itu. Maka orang-orang akan menatap mobil kamu itu dengan mata yang lebar. Apalagi mantan-mantan teman-teman SMP kamu itu." Uggy berucap.
"Teman-teman SMP kamu itu lebih percaya omongan Clara. Jadi kamu bisa bungkam mulut mereka semua dengan kamu membawa mobil itu," ucap Enda.
"Baiklah. Aku akan membawa mobil sendiri. Aku akan bawa mobil itu," sahut Kimberly.
Mendengar jawaban dari adiknya membuat Jason, Uggy, Enda dan Riyan tersenyum
***
Di Das Stadt Hotel Iserlohn terlihat begitu ramai para undangan yang hadir dalam acara pertunangan dari salah satu orang yang terkaya di dunia dan di Jerman yaitu keluarga besar Carian. Diacara pertunangan itu juga akan diadakan acara reunian SMP dari putri bungsunya yaitu Agnes Carian.
Beberapa menit yang lalu. Acara tukar cincin dari kedua pasangan telah selesai dilakukan. Kini para tamu undangan sedang menikmati hidangan yang sudah tersedia di atas meja.
Saat ini adalah acara kedua yaitu acara reuni SMP yang dari putri bungsu keluarga Carian.
"Apa kau yakin Nes jika Kimberly dan keempat sahabatnya akan datang?" tanya Barbara.
"Aku sangat yakin. Si miskin itu akan datang bersama para kawanan miskinnya," jawab Agnes dengan wajah sombongnya.
Ketika Agnes dan teman-temannya sedang membicarakan Kimberly dan keempat sahabatnya, tiba-tiba mereka dikejutkan suara keributan dari luar.
Mendengar suara keributan dari luar. Semua para tamu undangan bersorak heboh ketika melihat kedatangan lima mobil mewah. Dan salah satunya adalah mobil yang menjadi incaran para orang kaya.
Melihat semua tamu undangan keluar untuk melihat keributan di luar. Agnes dan teman-temannya pun ikut keluar untuk melihatnya.
"Siapa mereka?"
"Wah, mobil mereka mewah banget!"
"Itu tuh mobil warna gold. Mobil incaran para orang-orang kaya."
Mereka semua menatap takjub lima mobil yang kini sudah terparkir rapi di posisi masing-masing. Dan mereka semua penasaran siapa dari pemilik mobil-mobil itu.
Si pemilik lima mobil itu pun keluar dari dalam mobil secara bersamaan. Ketika melihat kelima gadis cantik keluar dari dalan mobil itu membuat semua mata menatap takjub dan kagum akan kecantikan kelima gadis itu. Tapi tidak dengan Agnes dan teman-temannya. Mereka menatap tak percaya kearah kelima gadis cantik yang baru keluar dari dalam mobil tersebut.
"Kimberly, Santy, Sinthia, Catharine, Rere." Agnes dan teman-temannya berucap secara bersamaan ketika melihat dengan wajah syoknya.
Menyadari jika sedang ditatap. Kimberly dan keempat sahabatnya hanya bersikap acuh, dingin dan cuek. Mereka tetap melangkah menuju ke dalam hotel.
Setelah beberapa menit terjadi kehebohan akan kedatangan Kimberly dan keempat sahabatnya. Kini semuanya sudah kembali ke dalam hotel. Dan kembali melanjutkan acaranya.
"Wah, Kim! Aku gak nyangka jika penampilan kamu malam ini keren." Dalila berbicara dengan nada mengejek.
"Terima kasih," jawab Kimberly yang memperlihatkan senyumannya.
"Kalau aku boleh tahu. Mobil siapa yang kamu dan keempat sahabat kamu pinjam?" tanya Agnes dengan menatap jijik Kimberly dan keempat sahabatnya.
"Hah!"
Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catharine saling lirik, lalu mereka pun tertawa.
"Hahahahahaha."
"Apa kata kamu? Minjam? Hei, nona Agnes Carian. Gak ada istilah minjam dalam kamus seorang Kimberly. Mobil itu milik gue," jawab Kimberly menatap Agnes dan mantan teman SMP nya itu.
Mendengar jawaban dari Kimberly membuat Agnes, Barbara, Dalila, Arinda menatap tak suka Kimberly.
"Apa kau yakin itu mobil kami, hum?" ejek Agnes.
"Yakinlah. Mobil itukan hadiah ulang tahunku dari ayahku. Sementara kalian... Eemmmm... Kemungkinan... Gak jadi ach."
Kimberly langsung menyambar gelas yang berisi sirup merah dan setelah itu, Kimberly langsung meneguk habis minum itu.
"Maaf aku haus," sahut Kimberly.
Melihat kelakuan Kimberly membuat Agnes dan teman-temannya geram. Sementara Rere, Santy, Sinthia dan Catharine tersenyum mengejek ketika melihat wajah kesal Agnes dan mantan teman SMP nya itu.
Rere, Santy, Sinthia dan Catharin juga ikut mengambil minuman. Bahkan mereka juga mulai mencicipi semua hidangan yang ada.
"Oh iya. Pimpinan kalian mana? Kenapa tidak datang? Tanya Sinthia.
"Apa kalian masih berhubungan dengan dia?" tanya Rere.
"Seharusnya dia ada disini dan menyambut ketika kami datang," ucap Santy.
"Ach, pimpinan kalian itu benar-benar payah," ejek Sinthia.
Mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari keempat sahabatnya Kimberly membuat mantan teman SMP Kimberly menggeram marah.
"Ngapain kalian menanyakan Clara. Kalian gak punya urusan dengan Clara!" bentak Arinda.
"Yeeeyy! Siapa juga yang mau berurusan dengan si pengkhianat itu," jawab Santy.
"Gak level kali ya," ucap Rere.
"Level kita-kita ini jauh beda dengan si pengkhianat itu," ujar Sinthia.
"Bahkan dibandingkan dengan kami. Si pengkhianat itu gak ada apa-apanya," ucap Catharine.
Mendengar ucapan demi ucapan dari sahabat-sahabat Kimberly lagi-lagi membuat Agnes dan yang lainnya marah. Sementara Kimberly tersenyum puas melihat kemarahan di wajah mantan teman SMP nya itu.
"Sudahlah. Gak baik ngibahin teman sendiri. Bagaimana pun si pengkhianat itu teman kita. Sesama teman bukan selalu rukun ya." Kimberly berbicara lembut tapi penuh arti.
Rere merangkul Kimberly. "Kamu terlalu baik jadi manusia Kimberly. Kalau aku jadi kamu. Sipengkhianat itu sudah kucemburkan ke comberan," ucap Rere.
"Kamu itu memang gak tahu diri ya Kimberly. Udah numpang di rumah keluarganya Clara. Kamu dapat semua fasilitas mewah semua itu juga dari pemberian keluarga Clara. Bahkan keluarga kamu juga numpang hidup dengan keluarga Clara! Mana terima kasih kamu terhadap Clara!" bentak Agnes.
"Setidaknya kamu bantulah Clara disaat keluarganya sedang hancur," ucap Dalila.
Mendengar perkataan dari Agnes dan Dalila. Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catharin tersenyum meremehkan.
"Masih percaya saja ucapan dari perempuan murahan itu, hum!" sindir Catharine.
"Jelaslah kami percaya dengan Clara. Selama ini kan memang terbukti kalau Clara itu berasal dari keluarga kaya raya. Keluarga Clara itu berada diposisi dua di dunia dan Jerman." Arinda berucap penuh semangat.
"Sementara Kimberly hanya berasal dari keluarga tak tahu diri dan tak tahu terima kasih," ejek Barbara.
"Sekali miskin tetaplah miskin." Dalila berucap dengan suara keras.
Sementara Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catharin hanya diam dan terus mengikuti permainan dari mantan teman SMP nya itu.
"Hello, jika kita-kita ini miskin. Terus mobil-mobil yang barusan kita pake buat dateng kesini itu apa coba, hah?!" tanya Rere.
"Bahkan mobil-mobil kita itu lebih bagus dan lebih mahal dibandingkan mobil-mobil milik kalian!" Sinthia berbicara dengan nada keras.
Mendengar teriakan dari Sinthia dan Dalila membuat semua orang-orang yang ada di dalam hotel itu melihat kearah Kimberly, Rere, Santy, Sinthia, Catharin, Agnes dan yang lainnya. Termasuk keluarga Agnes.
Melihat keributan di tempat dimana putri bungsunya berada. Ibunya Agnes pun menghampiri putrinya itu.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?"
"Mami."
"Tante."
Ibunya Agnes melihat kearah Kimberly. Dan seketika wajah ibunya Agnes berubah jadi tak mengenakan.
"Oh kamu! Kamu Kimberly kan? Gadis yang berasal dari keluarga miskin yang menumpang hidup di keluarga Andres. Bahkan anggota keluarga kamu juga ikut tinggal disana!" bentak ibunya Agnes.
Mendengar perkataan dan bentakkan dari ibunya Agnes membuat Rere, Santy, Sinthia dan Catharin marah. Mereka menatap tajam ibunya Agnes.
"Tante. Kimberly barusan menampar Agnes. Apa tante akan diam saja?" Arinda memanas-manasi keadaan.
Ibunya Agnes melihat kearah putrinya. "Sayang. Apa itu benar? Apa gadis sialan ini menamparmu? Katakan pada Mami."
"Iya, Mi! Kimberly tadi nampar aku. Padahal aku tadi nanyanya baik-baik. Tapi gak tahunya Kimberly marah dan langsung nampar aku."
Mendengar jawaban dari putrinya membuat ibunya Agnes marah. Ibunya Agnes menatap nyalang Kimberly.
"Berani sekali kamu menampar putriku. Aku saja ibunya belum pernah sekali pun menamparnya!" bentak ibunya Agnes.
"Hahahaha." Kimberly tertawa. "Pantas saja kelakuan putri anda tidak mencerminkan seperti manusia. Ternyata didikan orang tuanya seperti ini. Tidak becus!" sahut Kimberly dengan tersenyum di sudut bibirnya.
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat ibunya Agnes marah besar.
"Berani sekali kamu berbicara seperti itu padaku, hah!" bentak ibunya Agnes, lalu tangannya terangkat hendak menampar wajah Kimberly.
SREETTT!
Kimberly dengan cepat menangkap tangan ibunya Agnes sehingga membuat ibunya Agnes meringis di pergelangan tangannya.
"Seperti yang anda katakan barusan bahwa anda tidak pernah menampar putri anda. Begitu juga denganku. Dari aku lahir hingga detik ini. Kedua orang tuaku belum pernah main tangan terhadapku. Bahkan menamparku saja belum pernah. Sementara anda yang bukan siapa-siapa saya mau menampar saya? Enak saja. Jangan coba-coba menampar saya atau saya akan buat anda dan seluruh keluarga besar anda termasuk keluarga dari suami anda dapat masalah."
Setelah mengatakan itu, Kimberly menghempaskan tangan ibunya Agnes dengan kasar.
Sementara ibunya Agnes, Agnes dan yang lainnya terkejut akan tindakan dan ucapan dari Kimberly.