
Di sebuah cafe terlihat dua orang pemuda tengah membahas sesuatu. Kedua pemuda itu tampak serius.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Tanpa menjawab pertanyaan dari pemuda yang ada di hadapannya. Pemuda itu mengeluarkan dua foto. Kemudian dua foto tersebut diperlihatkan kepada pemuda itu.
"Ini kau lihat dua foto gadis ini. Kau temui gadis ini," ucap pemuda itu dengan menunjuk foto sebelah kanan. "Setelah itu kau fitnah gadis yang difoto ini." pemuda itu menunjuk ke foto sebelah kiri. "Kau katakan bahwa gadis ini tengah mendekatiku dan menggodaku."
Mengerti akan perkataan dari pemuda yang menunjukkan dua foto gadis itu. Pemuda tersebut langsung bersuara.
"Jadi maksud kamu ingin gadis ini mencari masalah atau menyerang gadis yang ini?" tanya pemuda itu dengan menunjuk kedua foto itu secara bergantian.
"Iya." pemuda itu menjawab.
"Baiklah."
"Ini bayaran pertamamu. Jika rencana berjalan lancar. Kau akan tambahkan bayarannya."
"Santai saja. Aku tak masalah. Jika pun kau tak membayarnya. Aku juga tidak akan menagihnya. Kau itu temanku. Selama ini kau sudah banyak membantuku. Anggap saja ini bantuan pertamaku untukmu."
"Terima kasih."
"Ada lagi?"
"Untuk saat ini... Eemmm! Tidak!"
"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu. Besok di sekolah akan ada berita heboh. Kau tunggu saja."
"Aku akan menunggunya."
Setelah itu, pemuda itu pun pergi meninggalkan pemuda yang satunya. Pemuda itu masih setia duduk di kursinya.
"Sebentar lagi aku akan lepas dari perempuan murahan itu," gumam pemuda itu.
***
Kimberly dan keempat sahabatnya berada di lapangan. Mereka duduk di sebuah bangku tembok di bawah pohon.
Baik Kimberly maupun keempat sahabatnya saling mengobrol dan melemparkan candaan.
Rere, Santy, Sinthia dan Catharine sama sekali tidak membahas keseharian mereka dengan para kekasih mereka masing-masing. Bagaimana pun mereka tidak ingin membuat Kimberly bersedih. Bahkan mereka juga tidak menanyakan kedekatan Kimberly dengan Arlo Fernandes.
Ketika Kimberly dan keempat sahabatnya tengah tertawa bahagia, tiba-tiba datang Gracia dan teman-temannya. Gracia datang dengan wajah marahnya.
"Kimberly!" teriak Gracia.
Mendengar teriakan Gracia. Kimberly, keempat sahabatnya menolehkan wajahnya melihat kearah Gracia dan keenam teman-temannya. Bukan hanya Kimberly dan keempat sahabatnya. Beberapa murid yang juga berada di lapangan
"Kenapa? Kangen sama aku ya," ucap dan tanya Kimberly dengan wajah mengejeknya.
"Ikut gue!" bentak Gracia.
Kimberly membelalakkan kedua matanya ketika mendengar perkataan dan juga bentakkan dari Gracia.
"Hei, memang kamu siapa? Enak aja merintah-merintah," ucap Kimberly.
Mendengar perkataan Kimberly dan penolakan dari Kimberly membuat Gracia makin marah.
"Berani lo sama gue, hah!" bentak Gracia lagi.
"Memang situ siapa? Ngapain juga aku harus takut sama situ yang bukan siapa di sekolah ini," jawab Kimberly.
Mendengar setiap perkataan dan jawaban yang diberikan oleh Kimberly membuat Rere, Santy, Sinthia dan Catharine tersenyum. Begitu juga murid-murid yang ada di lapangan itu.
"Banyak omong lo."
Gracia langsung menarik tangan Kimberly dengan kuat sehingga membuat Kimberly tertarik dari duduknya.
"Yak! Gracia apa yang kau lakukan!" teriak Catharine.
"Diam lo!" bentak Gracia.
Gracia menarik kuat tangan Kimberly dan membawanya untuk meninggalkan lapangan. Namun dengan kuatnya Kimberly menarik tangan dari pegangan tangan Gracia.
SREETT!
Kimberly berhasil melepaskan tangannya dan tatapan matanya menahan menatap Gracia.
"Berani ngelawan lo ya!"
"Sejak kapan aku takut sama kamu. Kamu itu hanya anak baru disini. Jadi sadar diri. Jangan belagu jadi orang."
"Dasar perempuan murahan. Beraninya lo dekatin Tommy. Lo lupa kalau Tommy itu milik gue. Tommy itu kekasih gue. Tapi lo masih dekatin dia!" bentak Gracia.
"Bhahahahahaha."
Rere, Santy, Sinthia dan Catharine seketika tertawa keras mendengar perkataan dari Gracia.
"Hello, Gracia! Apa lo gak salah bicara, hah?" tanya Santy.
"Apa gak kebalik tuh?" tanya Rere.
"Sejak lo masuk ke sekolah ini. Dan kebetulan sahabat gue Kimberly izin karena sakit, lo tebar pesona di sekolah ini. Setiap hari lo dekatin Tommy. Lo bahkan godain Tommy," ucap Catharine.
"Jadi dengan kata lain lo yang perempuan murahan itu. Bukan Kimberly. Lo yang udah ngerebut Tommy dari Kimberly. Jika pun Kimberly masih dekatin Tommy. Itu sah-sah aja. Lagiankan apa yang dilakukan Kimberly hanya untuk merebut miliknya lagi." Rere menambahkan.
Mendengar perkataan demi perkataan dari keempat sahabat Kimberly membuat Gracia benar-benar marah.
"Rere, Catharine, Santy, Sinthia. Sudahlah. Jangan diteruskan.
Disaat Kimberly ingin pergi. Gracia menyekal tangan Kimberly. Dan detik kemudian...
PLAAKKK!
"Kimberly!" teriak Rere, Catharine, Santy, Sinthia.
Gracia memberikan tamparan keras di wajah Kimberly sehingga membuat wajah Kimberly memerah karena bekas tamparannya.
PLAAKKK!
Tiba-tiba Tommy datang dan langsung memberikan tamparan yang lebih keras di wajah Gracia sehingga mengakibatkan sudut bibir Gracia berdarah.
"Tommy," ucap Rere, Catharine, Santy, Sinthia.
"Tommy," lirih Gracia sembari memegang wajahnya.
Sementara Kimberly menatap tajam Gracia. Dirinya tidak terima ditampar oleh Gracia hanya karena laki-laki.
Diluar dugaan. Tiba-tiba Tommy mencekik leher Gracia dengan kuat sehingga membuat Gracia kesakitan.
"Tommy!" teriak Andhika yang datang bersama Billy dan para sahabatnya. Andhika mendekat Tommy.
"Berani sekali lo nampar Kimberly. Kau pikir kau itu siapa, hah! Kamu itu tidak lebih dari perempuan murahan yang datang dalam kehidupanku dan Kimberly. Dan kemudian merusak hubungan kami berdua. Aku sudah cukup sabar selama tiga hari ini akan sikapmu itu. Aku sudah mengabulkan semua keinginanmu. Aku mutusin Kimberly dan memilih jadi kekasihmu. Tapi apa yang aku dapatkan, hah! Justru kamu ingkar janji. Kamu menyakiti Kimberly!" teriak Tommy.
Mendengar perkataan dan teriakan Tommy membuat Kimberly, Andhika, Rere, Catharine, Santy, Sinthia, Billy, Triny, Aryan dan para sahabatnya terkejut.
BRUUKK!
Tommy mendorong kuat tubuh Gracia hingga tersungkur di lapangan.
"Kamu benar-benar perempuan menjijikkan, perempuan hina dan perempuan tak tahu malu Gracia! Kau mengancamku akan menyakiti Kimberly. Bahkan kau berniat ingin membunuh Kimberly jika aku tidak mengabulkan keinginanmu untuk menjadi kekasihmu. Aku rela memutuskan hubunganku dengan Kimberly. Aku memperkenalkan dirimu sebagai kekaksihku didepan Kimberly dan juga didepan sahabat-sahabatku sehingga aku dimusuhi oleh salah satu sahabat terbaikku. Itu semua aku lakukan hanya untuk melindungi perempuan yang paling aku cintai dari perempuan ular sepertimu!" teriak Tommy. Dan jangan lupa air matanya yang sudah jatuh membasahi wajah tampannya.
Mereka semua terkejut mendengar perkataan demi perkataan yang keluar dari mulut Tommy. Sekarang semuanya tahu alasan Tommy yang tiba-tiba mutusin hubungannya dengan Kimberly. Mereka semua ikut menangis ketika melihat Tommy yang sudah menangis, terutama Billy.
"Tommy. Kamu harus kuat. Kamu sudah melakukan hal yang benar," ucap Andhika yang berusaha menenangkan sepupunya.
"Aku mencintai Kimberly, Andhika! Aku melakukan semua ini hanya untuk melindunginya," ucap Tommy dengan suara lirihnya.
"Aku tahu. Aku sangat tahu siapa kamu yang sebenarnya. Kamu bukanlah laki-laki brengsek. Kamu adalah laki-laki yang sangat baik," hibur Andhika.
Sementara Kimberly. Kimberly sudah berlinang air ketika mengetahui kebenaran tentang Tommy yang tiba-tiba mutusin hubungan dengannya.
Tommy melangkahkan kakinya menghampiri Kimberly yang saat ini dalam keadaan menangis. Lagi-lagi dirinya membuat Kimberly menangis.
"Kim," lirih Tommy.
Tangannya hendak menyentuh pipi Kimberly dan mengusap air matanya, namun Kimberly melangkah mundur.
Melihat Kimberly yang menolak untuk disentuh oleh Tommy membuat mereka semua terkejut dan menatap iba keduanya.
"Aku benci kamu Tommy. Aku benci kamu. Aku tidak mau bertemu kamu lagi."
Setelah mengatakan itu, Kimberly pun pergi meninggalkan Tommy dan yang lainnya dan diikuti oleh Triny, keempat sahabatnya dan para sahabatnya Triny.
Melihat kepergian Kimberly seketika tubuh Tommy jatuh merosok di tanah.
BRUUKKK!
"Tommy!" teriak Andhika, Billy dan sahabat-sahabatnya. Mereka semua menghampiri Tommy.
"Hiks... Kim... Maafkan aku," isak Tommy.
GREP!
BIlly memeluk tubuh Tommy dan memberikan ketenangan kepadanya.
"Maafkan aku yang telah membuat Kimberly menangis," ucap Tommy di dalam pelukan Billy.
"Kamu tidak salah. Kamu tidak salah Tommy. Aku juga salah disini. Seharusnya aku peka dan menyadari perubahan sikap kamu yang tiba-tiba mutusin hubungan dengan Kimberly. Seharusnya aku tidak langsung marah-marah sama kamu dan musuhin kamu."
"Tapi tetap saja aku yang salah. Sekali pun kamu menyadari akan sikapku. Jika aku tidak menceritakan apapun padamu. Baik kamu dan yang lainnya pasti akan tetap beranggapan aku ini laki-laki brengsek."
Billy melepaskan pelukannya dan menatap wajah Tommy.
"Sudahlah. Lupakan saja. Sekarang pikirkan bagaimana cara menjelaskankan semua secara detail kepada Kimberly. Buat Kimberly mau mendengar penjelasan dari kamu. Ambil hatinya kembali," ucap Billy.
"Dan soal tadi. Kamu jangan ambil hati. Mungkin tadi Kimberly syok ketika mendengar kebenarannya," ucap Andhika.
"Lebih baik kita kembali ke kelas." Billy dan Andhika membantu Tommy untuk berdiri.
Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan lapangan untuk kembali ke kelas.