
Beberapa detik kemudian...
Sebuah video berputar di layar laptop milik kepala sekolah itu.
Tommy langsung memutar laptop itu dan mengarahkannya kearah para orang tua dari Molly dan Sheela serta kelima teman-teman sekelasnya kekasihnya.
"Ini, kalian lihatlah video ini. Setelah ini. Bersiap-siaplah kalian menerima pembalasan dariku, dari Billy dan dari sepupuku Andhika."
Mereka semua menatap kearah layar laptop itu. Di dalam layar laptop itu terlebih sebuah video yang berisi adegan demi adegan dimana Molly, Sheela, Syafina dan kelima teman-temannya selalu mengganggu Kimberly.
Dan video terakhir terlihat dimana Molly begitu marah terhadap Kimberly sehingga gadis itu meminta kelima teman-teman yang sekelas dengan Kimberly untuk menyerang Kimberly dan keempat sahabatnya dari arah belakang.
Molly dan Sheela memberikan kode kepada Syafina dan keempat teman-temannya.
Mendapatkan kode dari Molly dan Sheela membuat Syafina dan keempat teman-temannya langsung mengerti.
Dan detik kemudian...
Baik Molly, Sheela maupun Syafina dan keempat teman-temannya langsung menyerang Kimberly dan keempat sahabatnya secara bersamaan.
Namun siapa disangka, di dalam video itu terlihat Kimberly yang sadar langsung memberikan tendangan terlebih dahulu kepada Molly, Sheela, Syafina dan keempat teman-temannya sehingga berakhir mereka semua yang mendapatkan tendangan gratis dari Kimberly.
Baik kepala sekolah maupun para orang tua dari Molly, Sheela, Syafina dan keempat teman-temannya sontak terkejut ketika melihat video tersebut.
Billy, Tommy dan Andhika menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di ruang tersebut.
"Sudah lihat bukan?! Siapa manusia yang paling menjijikkan di sekolah ini?! Siapa manusia yang tidak tahu diri?! Siapa manusia yang kelakuannya menjijikkan?! Siapa manusia yang keluarganya sama sekali tidak becus mendidik anak-anaknya?! Kalian atau Paman dan Bibiku?! Anak-anak kalian atau adik perempuanku?!" bentak Billy.
"Dan anda nyonya!" seru Tommy sembari menunjuk kearah ibunya Molly. "Jangan pernah anda menghina kekasih saya. Kekasih saya itu wanita baik-baik. Dia tidak pernah merebut saya dari gadis mana pun, apalagi dari putri anda itu. Saya tidak memiliki hubungan apapun dengan putri anda. Bahkan saya tidak kenal dengan putri anda. Saya bisa bertemu dengan putri anda itu hanya kemanusiaan saja. Saya dan sepupu saya Andhika tak sengaja melihat putri anda bersama sahabatnya dilukai oleh beberapa laki-laki. Melihat kejadian itu saya dan sepupu saya memutuskan menolong putri anda dan sahabatnya itu. Lalu kemudian membawa mereka ke rumah sakit."
Tommy berbicara dengan penuh penekanan dengan tatapan matanya yang menatap tajam kearah ibunya Molly.
Tommy berbicara dengan menatap tajam para orang tua dari Molly, Sheela, Syafina dan teman-teman sekelasnya Kimberly. Begitu juga dengan Andhika dan Billy.
Andhika dan Billy lebih menatap tajam kearah para orang tua tersebut. Mereka benar-benar marah akan sikap egois mereka.
"Kenapa ya rata-rata sifat manusia itu kebanyakan memandang rendah orang lain, selalu menyalahkan orang tuanya ketika melihat anaknya melakukan kesalahan, bersikap kasar bahkan menghina anak orang lain demi membela anak sendiri." Andhika berucap dengan ketus dan kejam.
"Satu hal yang harus kalian ingat Paman, Bibi! Kedua orang tuaku serta Paman dan Bibiku tidak pernah mendidikku dan adik perempuanku untuk menjadi anak-anak yang jahat. Kalau aku dan adik perempuanku sampai menyakiti teman kami, itu dikarenakan mereka lah yang terlebih dahulu mengusik kami. Bahkan kami sudah bersikap baik dan juga sabar setiap kami diusik dan diganggu." Billy berucap tak kalah ketus dan kejam seperti Andhika.
"Semua orang itu memiliki batas kesabarannya. Jadi, jika terus menerus diusik dan diganggu. Pada akhirnya orang itu akan memberikan perlawanan." Tommy ikut bersuara. Tatapan matanya menatap nyalang kearah kedua orang tuanya Molly dan Sheela.
"Hari ini aku selaku kakak sepupu dari Kimberly memaafkan kesalahan kalian karena sudah menghina adik perempuanku serta Paman dan Bibiku. Hari ini aku juga memaafkan kesalahan anak-anak kalian. Jika anak-anak kalian masih saja mengganggu dan mencari masalah dengan adik perempuanku, maka aku tidak akan tinggal diam. Masalah tersebut akan aku laporkan kepada kedua orang tuaku dan juga kepada Paman dan Bibiku agar kalian berhadapan langsung dengan mereka. Kalian belum tahu siapa kami yang sebenarnya."
Tommy menatap kearah kepala sekolah sembari berkata, "Tolong berikan surat peringatan untuk orang-orang yang sudah mencari masalah dengan adik perempuanku. Dan ingat! Keponakan dari wakil kepala sekolah sebagai dalang disini. Bapak juga harus menegur keponakan dari wakil kepala sekolah itu." Andhika berucap dengan penuh penekanan dan intimidasi.
Yah! Syafina adalah keponakan dari wakil kepala sekolah, maka kenapa Syafina selalu bangga dan berani membuat onar di lingkungan sekolah.
Kepala sekolah itu langsung menganggukkan kepalanya ketika mendengar perkataan dari Andhika.
"Baiklah. Kalian tenang saja. Saya tidak membela yang salah. Justru sebaliknya," jawab Kepala Sekolah itu.
"Bagus kalau begitu. Saya senang mendengarnya," sahut Andhika.
Setelah selesai dengan urusannya. Billy, Tommy, Andhika dan sahabat-sahabatnya yang lain langsung pergi meninggalkan ruang kepala sekolah.
Setelah kepergian Billy, Tommy, Andhika dan para sahabatnya. Kepala sekolah itu menatap satu persatu wajah para orang tua dari Molly, Sheela, Syafina dan teman-temannya.
"Saya harap tuan-tuan dan nyonya-nyonya tidak mencari masalah lagi dengan Kimberly, Billy, Tommy, Andhika dan para sahabatnya. Dan tolong nasehati anak-anak kalian. Kalian sudah lihat sendiri dalam video itu bahwa anak-anak kalian termasuk keponakan dari wakil kepala sekolah yang terlebih dahulu mencari masalah dengan Kimberly. Jadi, masalahnya selesai sampai disini. Saya harap hal ini tidak terulang lagi."
Mendengar perkataan dari kepala sekolah itu dua pasang suami istri itu tidak terima. Mereka adalah kedua orang tuanya Molly dan Sheela.
Alasannya mereka tidak terima adalah Kimberly bebas dari hukuman. Sementara anak-anak mereka terbaring di rumah sakit.
"Tidak bisa begini, Pak! Anak kami terbaring di rumah sakit. Sedangkan anak sialan itu justru bebas dari hukuman!" bentak ayah Molly.
"Jika kalian tidak terima keputusan saya. Silahkan kalian sendiri yang menyelesaikan masalah ini dengan keluarga dari murid saya itu. Saya akan memberikan alamat rumahnya dan kalian bisa mendatangi alamat itu. Tapi ketika kalian sudah bertemu dengan keluarga dari murid saya itu, saya harap kalian tidak menyesalinya."
Kepala sekolah itu menuliskan alamat lengkap kediaman keluarga Aldama. Setelah selesai, kepala sekolah itu langsung memberikan kertas itu kepada salah satu pria paruh baya yang ada di hadapannya.
"Jika sudah tidak ada lagi dibicarakan. Saya ada pekerjaan yang harus diselesaikan," ucap kepala sekolah itu.
Mendengar ucapan dari kepala sekolah itu, para orang tua dari Molly, Sheela, Syafina dan teman-teman sekelasnya Kimberly langsung berdiri dari duduknya dan melangkah meninggalkan ruang kepala sekolah.
***
Di kediaman Fathir Aldama dimana Nashita saat ini tengah sibuk di dapur. Nashita tengah menyiapkan makan siang untuk suami dan kelima putra dan putrinya.
Ada enam menu makanan yang Nashita masak hari ini dan dua menu makanan kesukaan putrinya yaitu ayam goreng dan spaghetti. Putrinya paling doyan dua menu itu.
Ketika Nashita tengah fokus dengan pekerjaannya, tiba-tiba dia dikejutkan dengan kepulangan suaminya.
"Sayang, aku pulang!"
Fathir Aldama memang pulang disaat makan siang. Kadang Fathir akan kembali lagi ke kantornya. Kadang Fathir memutuskan untuk tidak kembali. Tergantung moodnya.
Mendengar teriakkan dari suaminya membuat Nashita hanya bisa mengelus dada.
"Tidak ayahnya, tidak putrinya. Sama saja kelakuannya. Setiap masuk ke dalam rumah pasti teriak-teriak," gerutu Nashita.
Fathir melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Sesampainya di sana, Fathir langsung menghempaskan tubuhnya di sofa lalu menyenderkan kepalanya di punggung sofa.
"Sayang, kau dimana?!"
"Aku di dapur! Apa kau mau dibuatkan teh hangat sembari menunggu makan siangnya selesai dimasak?!"
"Boleh sayang. Buatkan yang paling enak ya!"
"Sesuai permintaan suamiku tercinta!"
Mendengar perkataan dari istrinya seketika Fathir tersenyum bahagia. Hatinya menghangat ketika mendengar perkataan tulus istrinya.
Setelah mendapatkan jawaban dari istrinya. Fathir melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Dia ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum menikmati waktu santainya bersama dengan sang istri sembari menunggu kepulangan para kesayangannya yaitu kelima putra dan putrinya.