
Perempuan itu seketika terkejut dan syok ketika mendengar ucapan dari perempuan yang ada di hadapannya itu. Dia tidak menyangka jika perempuan yang berdiri di hadapannya itu sembari menatap dirinya akan mengatakan hal itu.
Bukan hanya perempuan itu saja yang terkejut, melainkan semua karyawan dan karyawati tersebut juga terkejut dan syok.
Melihat keterkejutan perempuan yang mengaku dirinya, Kimberly tersenyum puas.
"Kenapa diam? Takut ketahuan bahwa kau bukanlah putri asli dari tuan Fathir Aldama," ejek Kimberly.
"Siapa yang takut! Aku tidak takut!" bentak perempuan itu.
"Kalau tidak takut. Hubungi tuan Fathir sekarang. Jika kau benar-benar putri dari tuan Fathir Aldama, maka kau akan langsung melakukan panggilan video call."
Seketika wajah perempuan yang mengaku putri Fathir Aldama itu pucat ketika perempuan yang ada di hadapannya itu kembali menantangnya.
Sementara para karyawan dan karyawati yang melihat dan mendengar setiap perkataan dari Kimberly seketika langsung menaruh curiga akan perempuan yang mengaku sebagai putri dari tuan Fathir Aldama.
"Nona Kimberly, jika nona benar-benar putri dari tuan Fathir Aldama. Maka nona akan langsung menghubungi tuan Fathir. Jika nona tidak berani atau takut. Sudah dipastikan bahwa Nono bukan putri tuan Fathir Aldama yang asli!" seru salah satu karyawan perempuan.
Ketika perempuan yang mengaku sebagai putri dari Fathir Aldama hendak menjawab perkataan dari salah satu karyawan perempuan, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang tak lain adalah waki sekaligus kepercayaan Fathir Aldama. Semua karyawan dan karyawati di perusahaan tersebut sangat mengenali laki-laki itu. Laki-laki itu bernama Nickholas
"Ada apa ini? Kenapa pada berkumpul disini?" tanya Nickholas.
"Bos," sapa semua karyawan dan karyawati tersebut.
Nickholas kemudian melihat kearah putri dari atasannya sembari memberikan hormat.
"Nona, kenapa nona disini? Kenapa nona tidak langsung ke ruangan tuan Fathir?" tanya Nickholas.
Mendengar perkataan dari Nickholas membuat semua karyawan dan karyawati itu menatap kearah Nickholas.
"Maaf Bos kalau saya lancang."
"Iya, ada apa?"
"Bos kenal dengan gadis ini?"
"Tentu saya kenal. Dia adalah nona Kimberly Aldama, putri bungsu dari tuan Fathir Aldama, pemilik perusahaan ini!"
Mendengar jawaban lantang dari Nickholas membuat semua karyawan dan karyawati tersebut seketika terkejut dan juga syok, terutama perempuan yang mengaku sebagai putri dari Fathir Aldama dan keenam karyawan perempuan itu.
Sementara Kimberly seketika wajah dan tatapan matanya berubah dingin dan tajam sehingga membuat semua yang ada di dalam ruangan tersebut ketakutan. Mereka semua menundukkan kepalanya.
"Bos, jika gadis ini adalah putri dari tuan Fathir. Lalu perempuan ini siapa? Dia barusan mengatakan bahwa dia adalah putri dari tuan Fathir Aldama."
Mendengar perkataan dari salah satu karyawannya membuat Nickholas terkejut. Seketika Nickholas menatap tajam kearah perempuan itu.
"Berani sekali kau mengaku-ngaku sebagai putri dari tuan Fathir! Dasar perempuan tidak tahu malu!"
"Paman," panggil Kimberly.
"Iya, nona! Ada apa nona?"
"Aku mau keenam perempuan itu," ucap Kimberly sembari menunjuk kearah enam karyawan perempuan yang saat ini masih tersungkur di lantai karena bagian tubuh dan kakinya benar-benar sakit luar biasa.
"Kenapa dengan mereka nona?"
"Mereka telah melakukan kesalahan besar di perusahaan Daddy. Mereka dengan keji menyakiti tiga rekannya. Bahkan mereka selama ini hanya ongkang-ongkang kaki di perusahaan ini tanpa melakukan pekerjaan. Semua pekerjaan mereka. Mereka limpahkan kepada tiga rekannya itu. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Mereka menyakini ketiga rekan mereka. Sementara para karyawan dan karyawati yang lainnya hanya diam tanpa memberikan pertolongan."
Mendengar penjelasan dari majikannya membuat Nickholas terkejut. Dia tidak menyangka jika ada kejadian tersebut di dalam perusahaan ini. Berarti selama ini dirinya dan tuannya sudah ditipu mentah-mentah oleh karyawan dan karyawatinya sendiri.
"Apa yang akan nona lakukan terhadap para sampah busuk itu nona?"
"Boleh aku memberikan hukuman kepada mereka, Paman?"
"Tentu boleh nona. Bukankah selama lima hari kedepannya nona menggantikan tuan Fathir memimpin perusahaan ini. Jadi nona bisa melakukan tugas-tugas nona disini. Salah satunya adalah nona bisa membasmi para hama yang kira-kira akan merugikan perusahaan."
Mendengar perkataan kejam dari Nickholas seketika membuat Kimberly tersenyum lebar.
"Baiklah kalau begitu. Tugasku yang pertama adalah aku mau mendata mereka semua. Jadi aku mau Paman memberikan semua data-data para karyawan dan karyawati disini padaku."
"Baik nona!"
"Lalu keenam karyawan perempuan itu, bagaimana? Serta perempuan yang sudah mengaku sebagai nona?"
"Aku sudah mempersiapkan kejutan untuk mereka. Paman tenang saja."
Setelah mengatakan itu, Kimberly mengambil ponselnya yang ada di dalam tas jinjingnya.
Setelah ponselnya berada di tangannya, Kimberly mencari nama kontak 'Kakak Deryl'.
Dan detik kemudian..
"Hallo nona."
"Apa harus kakak sendiri atau kakak membawa beberapa anggota."
"Eeemmm... Kakak bawa seketika 8 anggota saja."
"Baiklah."
PIP..
Kimberly langsung mematikan panggilannya setelah selesai berbicara dengan penjaganya.
"Kalian pasti penasaran kan kejutan apa yang sedang menanti kalian," ucap dan tanya Kimberly.
"Nona! Kami.... Kami minta maaf nona karena sudah bersikap tidak sopan terhadap nona."
"Jangan hukum kami nona. Kami mohon."
"Biarkan kami tetap bekerja disini nona. Jangan pecat kami."
Itulah kata-kata permohonan dari keenam karyawan perempuan tersebut.
"Nona!"
Kimberly langsung melihat kearah orang yang memanggilnya. Seketika Kimberly tersenyum ketika melihat kedatangan Deryl dan delapan anggotanya.
Semua karyawan dan karyawati terkejut ketika melihat sembilan laki-laki berpakaian hitam menghampiri Kimberly sembari membungkuk hormat.
"Tugas apa yang akan saya lakukan nona?" tanya Deryl.
"Kakak lihat perempuan ini," ucap Kimberly sembari menunjuk kearah perempuan yang mengaku sebagai putri dari ayahnya.
"Iya, nona! Kenapa dia? Apa yang sudah dia lakukan terhadap nona?"
"Dia tidak melakukan apa-apa. Hanya saja dia sudah berani mengaku sebagai putrinya Daddy."
Deryl seketika membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban dari Kimberly.
"Apa?! Dia mengaku sebagai putri dari tuan Fathir Aldama, nona?!"
"Ya, kakak Deryl."
"Terus apa yang akan nona lakukan?"
"Cari tahu latar belakang keluarganya. Setelah kakak Deryl berhasil mendapatkannya, aku mau kakak Deryl menghancurkannya."
"Siap, nona! Dengan senang hati saya akan melakukannya."
Seketika perempuan tersebut terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly. Dirinya tidak menyangka jika apa yang telah dia perbuat berimbas kepada keluarganya.
Bruk..
Perempuan itu seketika bersujud di hadapan Kimberly. Perempuan itu memohon maaf dan juga ampun terhadap Kimberly.
"Nona, tolong maafkan saya. Jika nona ingin menghukum saya atas apa yang telah saya lakukan. Hukum saya saja nona. Jangan libatkan keluarga saya."
"Kakak Deryl."
"Iya, nona."
"Jangan lupakan enam perempuan itu," ucap Kimberly dengan menunjuk kearah enam karyawan perempuan yang masih terduduk di lantai.
Deryl melihat kearah tunjuk Kimberly. Begitu juga dengan delapan anggota Deryl.
"Cari tahu juga tentang latar belakang keluarga mereka. Setelah berhasil, hancurkan keluarga mereka semua."
"Baik, nona."
"Tidak, nona! Jangan!" teriak histeris keenam karyawan perempuan itu.
"Seret mereka keluar dari perusahaan ini!"
"Baik, nona!"
Delapan anggota Deryl langsung menyeret paksa enam karyawan perempuan itu dan satu perempuan yang mengaku sebagai putri Fathir Aldama keluar dari perusahaan.
"Aku tunggu hasilnya kakak Deryl."
"Baik, nona!"
Setelah itu, Deryl pun pergi meninggalkan perusahaan untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Kimberly.