
Plak!
"Aakkhh!
Terdengar suara tamparan yang begitu keras dan suara teriakan kesakitan menggema di sebuah ruangan.
Korban tamparan tersebut adalah Aruna. Dan sebagai pelakunya adalah Riyan Aldama. Riyan tidak sendirian melainkan bersama kakak tertuanya yaitu Jason.
Jason ada disana karena perempuan yang bernama Aruna sudah berani bersikap tak sopan terhadap Rica kekasihnya. Bahkan Aruna berani menghancurkan ponsel milik Rica yang mana ponsel tersebut adalah hadiah ulang tahun Rica satu tahun lalu. Ditambah lagi Rica yang selama menggunakan ponsel tersebut selalu berhati-hati dan selalu menjaganya dengan sangat baik.
"Kau benar-benar menjijikkan Aruna! Kurang baik apalagi aku padamu dan keluargamu! Aku banyak membantu keluargamu, terutama ketika keluarga dalam masalah keuangan!" bentak Riyan.
"Aku mencintaimu dengan tulus. Tapi kau membalasnya dengan sebuah pengkhianatan. Lebih tepatnya kau dan keluarga busukmu itu memang sudah merencanakan semuanya ini!" bentak Riyan lagi.
Plak!
"Aakkhhh!"
Aruna kembali merasakan sakit di pipinya akibat tamparan yang begitu keras. Dan kali ini tamparan yang didapat oleh Aruna bukan dari Riyan melainkan dari Jason.
"Kau juga berani bersikap tidak sopan terhadap Rica. Padahal Rica lebih tua darimu. Bahkan kau dengan keji merusak ponsel milik Rica. Apa kau pikir ponsel itu dibeli tidak menggunakan uang! Apa kau pikir ponsel didapat dengan cara meminta kepada orang lain! Asal kau tahu Aruna. Ponsel milik kekasihku itu aku beli dengan menggunakan uangku. Ponsel milik Rica itu hadiah ulang tahun dariku satu tahun lalu. Rica selama menggunakan ponsel itu selalu menjaganya dengan baik. Namun kau dengan keji merusaknya!"
Jason berucap dengan suara kerasnya sembari tatapan matanya menatap tajam kearah Aruna. Jason benar-benar marah akan sikap buruk Aruna.
"Dan satu lagi kesalahan terbesarmu yang tidak akan pernah kami maafkan. Kekasih brengsekmu itu dengan beraninya menyakiti adik perempuanku!" bentak Jason.
Srek!
"Aakkhhh!" teriak Aruna ketika merasakan sakit di kepalanya.
Riyan tiba-tiba saja menarik kuat rambut Aruna sehingga membuat Aruna mendongakkan kepalanya keatas. Aruna sudah menangis saat ini. Dirinya tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan kasar dari Riyan dan kakak tertuanya.
"Kau perempuan menjijikkan. Demi ambisimu. Kau rela melakukan apapun untuk mendapatkannya. Kau dan dia keluarga besarmu sama-sama menjijikkan."
"Kau tahu Aruna. Ketika adik perempuanku mengatakan tentang ketidaksukaannya padamu. Aku masih tetap mencintaimu. Ketika adikku mengatakan bahwa kau perempuan iblis. Aku masih tetap mempercayaimu dan mencintaimu."
Riyan makin menguatkan tarikan di rambut Aruna sehingga membuat Aruna kembali berteriak kesakitan.
"Aku tidak akan pernah mengampuni semua kebohonganmu. Ditambah lagi kau dan kekasih bejatmu itu telah menyakiti calon kakak iparku dan adik perempuan kesayanganku. Kau akan aku lepaskan setelah semua anggota keluargamu, baik itu dari keluarga ayahmu maupun dari keluarga ibumu hancur tanpa berbekas. Dan mereka datang menemuiku untuk memohon ampun serta membuat perjanjian untuk tidak mencari masalah denganku dan juga keluargaku. Begitu juga dengan kekasih bejatmu beserta keluarganya."
Setelah mengatakan itu, Riyan melepaskan tarikan di rambut Aruna dengan kasar sehingga membuat kepala Aruna sakit.
"Ayo, kak!"
Riyan langsung mengajak kakaknya untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut. Keduanya hendak pergi ke rumah sakit menjenguk adik perempuan kesayangannya.
Sementara Aruna hanya bisa menangis dan merutuki semua kebodohannya selama ini. Di dalam hatinya berkata 'Seharusnya dia bersyukur mendapatkan laki-laki sebaik Riyan. Namun justru dia melakukan kesalahan fatal dengan menipu laki-laki itu'.
***
Plak!
"Ayah!
"Kakek!"
"Diam kalian!" bentak seorang laki-laki tua yang berstatus ayah dan juga kakek.
Di kediaman Ramendra tampak heboh dimana pria yang berstatus sebagai ayah dan juga berstatus kakek tengah marah besar akibat ulah dari salah satu cucunya. Cucunya itu adalah Bethran Ramendra, putra kedua dari Sanjaya Ramendra dan Riska Ramendra.
Sanjaya Ramendra adalah putra pertama dari pria paruh baya tersebut. Pria paruh baya itu memiliki tiga anak. Dua anak laki-laki dan satu anak perempuan.
Pria paruh baya itu marah karena mendapatkan kabar dari dua tangan kanannya mengenai perbuatan buruk cucu kedua dari putra pertamanya. Akibat perbuatan dari cucunya itu membuat semua usaha termasuk 2 perusahaan besar yang dirinya bangun selama bertahun-tahun hancur seketika tanpa sisa. Hanya menyisakan rumah mewah yang mereka tempati sekarang.
Bukan hanya 2 perusahaan utama saja yang telah hancur. Enam perusahaan cabang yang ada di enam negara juga ikut hancur. Pria tersebut mengalami kerugian besar-besaran.
"Pa, tenanglah! Papa ada apa, katakan padaku. Kalau Papa terus menerus memukul dan menampar Bethran. Masalah tidak akan terselesaikan. Dan kami semua tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi," ucap Sanjaya Ramendra menatap wajah ayahnya memohon.
Pria itu menatap wajah ketiga anak-anak secara bergantian. Dan kini tatapan matanya terkunci pada putra sulungnya.
"Apa kau yakin ingin tahu kenapa aku semarah ini terhadap putra keduamu itu?"
"Iya. Sekarang katakan kepadaku, Pa!" sahut Sanjaya.
"Sebelum Papa memberitahumu. Papa mau bertanya kepadamu. Dan juga kalian semua!"
"Silahkan Papa!"
"Silahkan kakek!"
Para anak, menantu dan cucu berucap bersamaan, kecuali Bethran yang saat ini tengah kesakitan akibat pukulan dan tamparan dari kakeknya.
"Apa kalian kenal dengan keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo?"
"Katakan. Siapa mereka?" tanya pria paruh baya itu lagi dengan menatap satu persatu wajah anak, menantu dan cucu-cucunya.
"Keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo itu keluarga yang dikenal kejam dan tanpa ampun terhadap orang-orang yang sudah berani mengusik keluarganya. Tidak ada kata maaf dan juga perdamaian dari dua keluarga tersebut."
Putra kedua dari pria paruh baya itu menjawab dengan lantangnya menjelaskan siapa itu keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo.
"Mereka akan lebih kejam lagi jika salah satu anggota keluarganya sampai koma dan meninggal dunia akibat ulah dari musuh-musuhnya. Dengan kata lain, darah dibayar darah dan nyawa dibayar nyawa."
Anak perempuan dari pria paruh baya itu juga ikut menambahkan dengan menjelaskan sifat-sifat para anggota keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo.
"Bukan hanya keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo saja yang memiliki sifat kejam. Keluarga Ravindra dan keluarga Sheehan juga sama kejamnya dengan dua keluarga itu. Yang aku tahu keluarga Ravindra itu adalah keluarga suami dari Clarita Fidelyo. Sementara keluarga Sheehan adalah keluarga dari istri Ardian Aldama dan Nirvan Fidelyo."
Menantu laki-laki dari pria paruh baya itu menjelaskan tentang dua keluarga lainnya yang memiliki sifat kejam terhadap musuh-musuhnya.
Mendengar perkataan sekaligus penjelasan tentang empat keluarga tersebut membuat semua anggota keluarga Ramendra terdiam. Mereka memang sudah tahu tentang 4 keluarga itu. Maka dari itulah kenapa selama ini mereka semua tidak ingin mencari masalah dengan keempat keluarga tersebut. Bahkan untuk mengusik atau bermain curang, mereka berpikir seribu kali terutama laki-laki yang berstatus menantu di keluarga Ramendra.
Laki-laki itu sudah melihat bukti nyata akan kekejaman empat keluarga itu beberapa tahun yang lalu dimana ada tiga perusahaan yang bermain licik di belakang keempat keluarga itu.
Dengan kepintaran dan kelicikan dari empat keluarga tersebut. Hanya butuh satu minggu keempat keluarga itu berhasil mendapatkan banyak bukti tentang tindak kecurangan dari tiga perusahaan tersebut.
Dengan sekali balasan telak. Tiga perusahaan itu hancur tanpa sisa. Pemilik dari tiga perusahaan itu kehilangan semua kekayaannya.
Kabar terakhir yang didapat oleh laki-laki itu adalah ketiga perusahaan tersebut membuka usaha kecil-kecilan dan memiliki rumah yang kecil. Hanya bisa menampung beberapa orang.
Jika dulu mereka tinggal satu rumah. Kini mereka tinggal di rumah sendiri-sendiri dengan hasil yang pas-pasan. Mereka hanya bisa saling bantu dengan usaha yang mereka kelola bersama.
"Sekarang kalian semua sudah tahu siapa itu keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo?" tanya pria paruh baya itu.
"Sudah, Pa!"
"Sudah, kek!"
"Baiklah kalau begitu. Sekarang aku akan katakan kepada kalian apa yang sudah dilakukan oleh Bethran sehingga aku semarah ini kepadanya."
Pria paruh baya itu menatap tajam kearah Bethran. Dirinya benar-benar sudah tidak menganggap Bethran sebagai cucunya lagi.
"Dia!" tunjuk pria paruh baya itu kearah Bethran. "Selama satu tahun ini putramu dan kekasihnya itu telah melakukan kejahatan dengan menipu orang lain."
Pria paruh baya itu menatap putra sulungnya, Sanjaya!
"Apa kau ingin tahu rencana apa yang sudah putra keduamu itu lakukan bersama kekasihnya, Sanjaya?" tanya pria paruh baya itu.
"Apa itu Pa? Katakan padaku," ucap Sanjaya.
"Putramu itu meminta kekasihnya untuk menjalin hubungan dengan salah satu anggota keluarga Aldama. Kau mau tahu siapa korban yang akan menjadi kekasih baru untuk kekasih dari putra keduamu itu?"
"Si-siapa pa?"
"Dia adalah Riyan Aldama, putra ketiga dari Fathir Aldama."
Deg!
Mendengar jawaban dari ayah dan kakeknya membuat semua anggota Ramendra terkejut. Mereka semua tidak menyangka jika Bethran melakukan hal serendah itu bersama kekasihnya Aruna.
"Putramu itu meminta kekasihnya Aruna untuk menjalin hubungan asmara dengan Riyan Aldama dengan tujuan agar status keluarga kita, terutama status keluarga besar Aruna naik sehingga semua orang menatap segan dan hormat kepada kita."
"Bukan itu saja. Kebusukan putramu dan kekasihnya itu telah diketahui oleh adik perempuan dari Riyan Aldama. Dialah orang yang pertama kali mengetahui hal tersebut. Dikarenakan rasa sayangnya yang begitu besar terhadap kakak laki-lakinya, dia tidak membongkar kebusukan dari calon kakak iparnya itu di depan kakak laki-lakinya."
"Orang kedua yang memergoki putramu dan kekasihnya itu berduaan dan bermesraan di sebuah mall adalah kakak sepupu Riyan yang tak lain adalah putri kedua dari Clarita Fidelyo dan Ammar Ravindra. Di hadapan kakak sepupu Riyan, putramu dengan lantangnya membeberkan hubungannya dengan Aruna. Bahkan putramu mengatakan bahwa Aruna adalah calon istrinya, walau kenyataannya mereka memang akan segera menikah."
Sanjaya, Riska dan anggota keluarga Ramendra benar-benar terkejut ketika mendengar cerita dari ayah dan kakeknya.
"Dan kalian tahu apa penyebab putra kalian sampai dilarikan ke rumah sakit dan tak sadarkan diri dua hari? Itu dikarenakan putramu Bethran dan Aruna telah berani bersikap kurang ajar terhadap calon istri dari Jason Aldama yang mana calon istri dari Jason Aldama memergoki kemesraan putramu dan Aruna di sebuah toko yang ada di mall itu. Ketika Aruna hendak menampar wajah dari calon istri dari Jason Aldama. Kimberly datang dan langsung menyerang Aruna. Ketika Kimberly dan calon kakak iparnya hendak pergi, putramu dengan jahatnya menyerang Kimberly dari belakang."
"Namun ntah apa yang terjadi Kimberly tidak merasakan apa-apa ketika mendapatkan pukulan tersebut. Justru Kimberly membalikkan badannya dan menatap tajam putramu. Dan terjadilah hal yang tak diinginkan dimana Kimberly mencekik leher putramu dan melempar tubuh putramu dengan kuat sehingga menghantam sebuah tiang. Dan berakhir tak sadarkan diri."
"Jika bukan berkat ucapan dan bujukan dari calon kakak iparnya. Aruna juga akan merasakan hal yang sama seperti Bethran. Dan setelah mendengar suara dari calon kakak iparnya, seketika tubuh Kimberly jatuh tak sadarkan diri."
Mendengar cerita dari ayah dan kakeknya membuat mereka semua bergidik ngeri. Mereka tidak menyangka jika Kimberly akan berubah menyeramkan ketika marah.
"Dan gara-gara ulah putramu itu, Sanjaya. Papa harus kehilangan dua perusahaan utama yang sudah Papa bangun selama ini. Dan bukan itu saja, enam perusahaan cabang Papa yang ada di beberapa negara juga ikut hancur. Papa kehilangan semua. Dan hanya menyisakan rumah mewah ini!"
Pria paruh baya itu menangis ketika menceritakan tentang apa yang telah dilakukan oleh cucunya kepada dua keturunan Aldama sehingga berakhir dirinya kehilangan perusahaannya.
"Papa hanya memberikan waktu satu minggu untuk putramu itu tinggal di rumah ini. Setelah waktu satu minggu itu habis. Papa ingin putramu itu pergi dari rumah ini. Papa tidak izinkan lagi putramu itu untuk tetap tinggal di rumah ini. Jika kau dan istrimu tidak tega. Kalian boleh pergi meninggalkan rumah ini. Yang boleh tinggal di rumah ini hanya orang-orang yang memiliki hati bersih dan tulus. Sert berkelakuan baik."
Setelah mengatakan itu, pria paruh baya itu pergi meninggalkan semuanya untuk menuju kamarnya.
Sementara untuk anggota keluarga Ramendra menatap sedih punggung ayahnya dan kakeknya terutama Sanjaya. Dirinya gagal menjadi seorang anak untuk ayahnya itu.
"Papa," ucap Sanjaya pelan dan lirih.