THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Sindiran Dan Ancaman Kimberly



Riyan saat ini berada di ruang kerjanya di perusahaan Ryn'Aldm. Dirinya saat ini tengah mengecek satu persatu berkas-berkas yang menumpuk di atas meja.


Beberapa hari ini Riyan memberikan kepercayaan penuh kepada dua tangan kanannya sekaligus kepercayaannya untuk memimpin perusahaan selama Riyan sibuk dengan projek barunya.


Projek yang dikerjakan oleh Riyan saat ini adalah pembangunan sekolah untuk anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu. Riyan tidak sendirian, melainkan bekerja sama dengan perusahaan AFN'CRny milik sahabatnya yaitu Alfian Carney.


Ketika Riyan tengah sibuk dengan berkas-berkas miliknya, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk.


Riyan langsung mengambil ponselnya. Dan melihat nama 'Aruna' di layar ponselnya.


Seketika terukir senyuman di bibirnya. Lebih tepatnya senyuman menyeringai.


Riyan mengusap keatas tombol hijau. Dan terdengar sapaan dari seberang telepon.


"Hallo, Yan! Kamu dimana?"


"Aku di kantor. Kenapa?"


"Kamu sibuk tidak?"


"Kalau sibuk, kenapa? Kalau tidak sibuk kenapa?"


"Kalau kamu sibuk. Aku nggak akan ganggu kamu. Tapi aku akan datang ke rumah kamu. Aku udah kangen sama tante Nashita dan juga Kimberly."


"Tapi jik kamu tidak sibuk. Aku mau datang ke kantor kamu."


Mendengar jawaban-jawaban dari Aruna membuat Riyan tersenyum di sudut bibirnya.


"Aku sibuk hari ini. Kalau kamu mau datang ke rumah. Datang aja. Tapi kamu datangnya pukul 2 siang. Pukul segitu semuanya sudah berada di rumah."


"Ach, begitu ya! Baiklah. Aku akan datang ke rumah kamu sekalian aku membawa oleh-oleh dari London untuk kedua orang tua kamu, ketiga kakak laki-laki kamu. Dan yang paling spesial untuk Kimberly."


"Baiklah. Terima kasih atas oleh-olehnya."


"Aku mencintaimu."


"Hm."


Setelah itu, Riyan mematikan panggilannya secara sepihak tanpa menunggu lawan bicaranya membalas atau mendengar jawaban darinya.


Riyan membuka aplikasi WhatsApp. Lalu Riyan membuka grup WA dan mengetik sesuatu disana.


Setelah selesai, Riyan meletakkan kembali ponselnya di tempat biasa dan melanjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda.


***


Di kediaman Mahendra terlihat seorang gadis cantik yang saat ini tengah tersenyum manis berdiri di depan cermin. Beberapa menit yang lalu dirinya habis menghubungi dan berbicara dengan kekasihnya sekaligus calon tunangannya.


Gadis itu adalah Aruna, kekasih sekaligus calon tunangan Riyan Aldama.


Flashback On


Aruna saat ini bersama dengan Bethran di sebuah cafe. Keduanya berjanji bertemu disana untuk membahas masalah Athaya yang memergoki hubungannya dengan kekasihnya Bethran.


Baik Aruna maupun Bethran telah membayar seseorang untuk menyusup ke dalam keluarga Ravindra dan mengancam perempuan yang telah memergoki mereka berduaan di mall beberapa hari yang lalu.


"Siapa kamu? Kenapa bukan Adit yang datang?" tanya Bethran yang melihat orang lain yang datang menemuinya dan Aruna.


"Maaf tuan. Justru saya datang kesini karena disuruh oleh bos Adit. Sementara Bos Adit sedang memata-matai keluarga Ravindra, terutama perempuan yang berstatus kakak sepupu tuan Riyan."


Mendengar jawaban dari laki-laki di hadapannya membuat Aruna dan Bethran seketika tersenyum.


"Baiklah kalau begitu. Sekarang katakan kepadaku. Informasi apa yang didapat oleh Adit?" tanya Bethran.


Laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan dari Bethran melainkan laki-laki itu mengambil sesuatu dari saku celananya.


Setelah mendapatkan apa yang ada di dalam saku celananya itu, laki-laki tersebut memberikannya kepada Bethran.


"Ini."


Bethran dan Aruna melihat kearah benda yang diberikan oleh laki-laki itu.


"Flashdisk!" Bethran dan Aruna berucap secara bersamaan.


"Anda bisa melihat isinya. Dan saya sangat yakin kalau anda dan kekasih anda akan sangat puas melihatnya. Itu adalah kerja keras dari Bos Adit."


Mendengar perkataan dari laki-laki di depannya seketika Bethran menatap wajah Aruna. Begitu juga dengan Aruna. Keduanya tersenyum.


Setelah itu, Aruna dan Bethran kembali menatap kearah Flashdisk tersebut.


"Baiklah." Bethran mengambil flashdisk itu. "Ucapkan terima kasih kepada Adit," ucap Bethran.


"Dan ini." Aruna memberikan amplop yang berisi uang kepada laki-laki itu. "Berikan ini kepada Adit."


Laki-laki itu langsung mendorong kembali amplop tersebut sehingga membuat Aruna dan Bethran terkejut.


"Kata Bos Adit. Dia akan menerima bayarannya jika semua pekerjaannya selesai. Bos Adit ingin bayaran full."


"Baiklah kalau begitu. Uang ini akan saya simpan dan akan saya gabungkan dengan bayaran untuk tugas selanjutnya," ucap Aruna dan kembali menyimpan uang tersebut.


"Kalau begitu saya permisi."


Setelah itu, laki-laki tersebut pun pergi meninggalkan Bethran dan Aruna di cafe itu untuk menemui seseorang dan melaporkan hasil tugasnya.


Setelah kepergian laki-laki yang mengaku sebagai anak buah dari Adit, laki-laki bayarannya. Bethran dan Aruna saling menatap Flashdisk tersebut.


"Aku penasaran dengan isinya, Bethran! Bagaimana kalau kita temui om kamu dan pinjam laptopnya," usul Aruna.


"Baiklah," jawab Bethran.


Setelah itu, Bethran dan Aruna pergi meninggalkan mejanya untuk menuju ruang kerja milik Pamannya.


^^^


Bethran dan Aruna sudah berada di ruang kerja sang Paman. Kini keduanya sedang duduk di sofa dengan menatap layar laptop.


Flashdisk yang diberikan oleh laki-laki yang mengaku sebagai anak buah dari Adit telah terpasang di samping laptop.


Beberapa detik kemudian, terlihat adegan demi adegan di dalam sebuah video. Melihat adegan demi adegan tersebut membuat Aruna dan Bethran tersenyum bahagia, terutama Aruna.


"Aku benar-benar puas dengan hasil kerja Adit," ucap Aruna tersenyum ketika melihat video tersebut.


"Apalagi aku sayang," balas Bethran.


Aruna tersenyum di sudut bibirnya. "Kau kalah Athaya. Dan aku pemenangnya," batin Aruna.


Di dalam video terlihat bahwa Athaya sedang ditodong dengan senjata oleh orang suruhan Bethran yaitu Adit. Athaya diminta bahkan diancam untuk tutup mulut dan tidak membongkar hubungan Bethran dan Aruna kepada Riyan, termasuk kepada keluarga besar Aldama.


Di dalam video tersebut terlihat Athaya yang sedang ketakutan akan perkataan dan ancaman dari Adit.


Flashback Off


Setelah mengingat pertemuannya dengan anak buahnya Adit dan setelah melihat video itu, Aruna tampak sangat bahagia.


Bagaimana tidak bahagia? Yang awalnya dirinya ketakutan jika kebohongannya terbongkar di depan Riyan dan keluarga besar Aldama. Sekarang berganti dengan sebuah kemenangan dimana perempuan yang berstatus kakak sepupu perempuan dari Riyan tidak berkutik saat ini. Dan itu semua berkat kerja keras dari Adit, orang suruhan Bethran sang kekasih.


"Athaya. Sekarang nikmati ketakutanmu. Kau tidak akan bisa membeberkan hubunganku dengan Bethran kepada Riyan. Sekali pun kau membeberkannya. Aku akan buat Riyan percaya hanya padaku." Aruna berbicara dengan penuh percaya diri.


***


Kediaman Fathir Aldama terlihat begitu ramai dimana Kimberly sedang bersama dengan para kakak-kakaknya. Baik keempat kakak kandungnya maupun kakak-kakak sepupunya.


Mereka semua mengobrol banyak hal. Seperti mengobrol tentang sekolah, tentang pekerjaan, tentang hubungan persahabatan dan hubungan percintaan jika dari mereka yang sudah memiliki pasangan.


Kimberly saat ini tengah bermanja-manja dengan Uggy, kakak keduanya dengan tiduran di paha sang kakak. Sesekali tangan Uggy mengusap-usap lembut kepalanya.


Ketika Kimberly dan para kakak-kakaknya sedang berkumpul dan mengobrol bersama, tiba-tiba seorang pelayan datang bersama seorang gadis di belakangnya.


"Maaf tuan muda, nona muda! Ini nona Aruna datang."


Mendengar seruan dari salah satu pelayan di kediaman Fathir Aldama. Semua yang ada di ruang tengah langsung menolehkan wajahnya melihat kearah pelayan itu. Dan dapat mereka lihat sosok Aruna yang berdiri di samping pelayan itu.


"Hai," sapa Aruna.


"Aruna."


Riyan langsung berdiri dan menghampiri Aruna. Dan setelah itu, Riyan menggandeng tangan Aruna dan membawanya ke ruang tengah untuk bergabung dengan kakak, adik dan sepupu-sepupunya.


"Masih berani aja kamu datang kesini," sindir Athaya.


Mendengar sindiran dari Athaya membuat Aruna mengumpat dalam hati. Sementara untuk yang lainnya berusaha bersikap biasa saja.


"Nggak tahu malu banget," ucap Athaya lagi.


"Kak, ada apa sih? Kenapa kakak bicara seperti itu kepada Aruna? Kasihan Aruna. Dia baru datang loh," ucap dan tanya Riyan seketika langsung menatap kearah Aruna.


"Maafkan atas perkataan kakak sepupuku ya," ucap Riyan lembut.


Aruna memperlihatkan senyuman manisnya di depan Riyan. "Nggak apa-apa, Yan! Aku nggak marah kok! Inikan pertemuan pertamaku dengan kak Athaya. Sejak kita pacaran. Aku belum pernah bertemu dengan kak Athaya."


Riyan tersenyum mendengar perkataan dari Aruna lalu tangannya mengusap lembut kepalanya.


Aruna seketika melihat kearah Kimberly yang saat ini tengah tidur-tidur di paha kakak keduanya. Kemudian Aruna memanggilnya.


"Kimberly," panggil Aruna.


Kimberly yang dipanggil oleh Aruna melirik sekilas menatap Aruna. Setelah itu, Kimberly kembali fokus menatap layar ponselnya.


Melihat reaksi dari Kimberly membuat Aruna mengumpat kesal di dalam hatinya.


"Sialan. Kenapa sikap Kimberly jadi berubah seperti itu padaku? Biasanya dia yang paling bersemangat ketika melihatku datang," batin Aruna.


"Kim, kakak kangen kamu. Kamu kangen kakak nggak?" tanya Aruna hanya sekedar basa-basi.


"Dulu kangen. Sekarang udah nggak," jawab Kimberly.


Mendengar jawaban dari Kimberly membuat para kakak-kakaknya tersenyum.


Aruna seketika langsung menyumpah serapah Kimberly di dalam hatinya ketika mendengar jawaban dari Kimberly.


Aruna hanya berani menyumpahi Kimberly di dalam hatinya. Dirinya tidak mungkin terang-terangan menyumpahi Kimberly. Bisa mati dirinya diamuk dengan keempat kakak laki-lakinya yang dikenal overprotektif terhadap Kimberly.


"Mampus," batin Billy.


"Makan tuh. Emang enak dijawab seperti itu sama calon adik ipar," batin Triny.


"Nyesek-nyesek lu situ. Biar tahu rasa lu," batin Aryan.


Riyan menatap kearah Kimberly. "Kim, jangan gitu dong. Baik-baik dong kalau jawabnya," tegur Riyan.


Kimberly seketika langsung melihat kearah kakak keempatnya itu dimana kakaknya itu juga menatap dirinya.


"Terus kakak maunya aku jawab apa?" tanya Kimberly.


"Ya, setidaknya jawaban kamu itu nyenengin pacarnya kakak." Riyan menjawab pertanyaan dari adik perempuannya itu.


"Lah berarti kakak ngajarin aku untuk menjadi seorang munafik dimana lain di hati dan lain ketika diucapkan," protes Kimberly.


"Nggak gitu juga sayang," ucap Riyan.


"Terserah kakak aja deh. Susah ngomongnya sama orang yang kalau sudah bucin," sahut Kimberly dengan memasang wajah cemberutnya.


"Hahahahaha."


Semuanya tertawa keras ketika mendengar ucapan kesal dari Kimberly. Ditambah lagi wajahnya yang super duper menggemaskan.


Setelah itu, Kimberly kembali fokus pada ponselnya. Kimberly saat ini tengah bermain games di ponselnya.


"Kimberly," panggil Ricky.


"Hm." Kimberly menjawab panggilan dari kakak sepupunya itu dengan deheman sembari matanya fokus menatap layar ponselnya.


"Bagaimana hubungan kamu dengan Tommy?" tanya Ricky.


"Hubunganku dengan Tommy baik-baik saja. Tommy begitu perhatian padaku," jawab Kimberly.


"Yakin Tommy benaran cinta sama kamu?" tanya Athaya.


"Yakin. Sangat yakin," jawab Kimberly.


"Bagaimana kalau Tommy main belakang dengan perempuan lain?" tanya Triny.


"Itu nggak mungkin. Aku percaya sama dia," jawab Kimberly.


"Kalau seandainya jika Tommy beneran selingkuh dan mengkhianati kamu. Apa yang akan kamu lakukan?"  Zivan.


Seketika Kimberly langsung bangun dari posisi tidurnya di paha Uggy. Lalu matanya menatap kearah Zivan.


"Yang jelas aku nggak akan kayak kak Zivan dan kak Iyan yang lembek sama perempuan. Apalagi menjadi budak cinta. Jika misalkan Tommy beneran selingkuh di belakang aku. Pertama yang akan aku lakukan adalah aku akan labrak tuh selingkuhannya. Setelah itu, aku bakal buat selingkuhannya itu malu di depan umum. Selesai dengan selingkuhannya itu, barulah aku urus yang akarnya."


Kimberly mengatakan kata-kata tersebut dengan penuh penekanan dan tatapan matanya yang sesekali melihat kearah Aruna. Dan sesekali juga menatap wajah tampan kedua kakak laki-lakinya.


Riyan dan Zivan seketika mendengus kesal akan perkataan Kimberly. Keduanya menatap horor kearah Kimberly.


"Yaelah, Kimberly! Nggak usah pake nyindir-nyindir segala kali," ucap Zivan kesal.


"Bukan nyindir kakakku sayang. Tapi fakta. Boleh cinta sama pasangan. Tapi jangan berlebihan. Bucin lah sama pasangan yang tepat. Jangan bucin sama iblis yang menyerupai manusia," sahut Kimberly.


"Teruntuk kakakku Riyan Aldama. Jangan sampai apa yang dialami kakak Zivan terjadi sama kakak Iyan. Dan untuk kak Aruna. Semoga kak Aruna benar-benar mencintai kak Iyan. Aku harap kak Aruna tidak menyakiti kak Iyan. Apalagi sampai mengkhianati kak Iyan. Jika sampai kak Aruna mengkhianati kak Iyan, maka aku akan buat hidup kak Aruna seperti di neraka dunia."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly membuat Aruna merasakan ketakutan di dalam hatinya. Dirinya tidak menyangka jika Kimberly akan berbicara seperti itu kepadanya.


Sementara para kakak-kakaknya tersenyum puas ketika mendengar ucapan dari Kimberly. Apalagi ketika melihat wajah Aruna. Mereka semua meyakini bahwa saat ini Aruna tengah ketakutan akan perkataan Kimberly.


Setelah mengatakan itu, Kimberly langsung berdiri dari duduknya. Kakinya kemudian melangkah menuju anak tangga.


"Mau kemana Kim?" tanya Enda.


"Tidur," jawab Kimberly dengan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.


Sementara semua kakak-kakaknya hanya menghela nafas pasrahnya ketika mendengar jawaban singkat dari Kimberly.


"Mati lo," batin Billy.


"Siap-siap aja lo melihat sifat asli calon adik ipar lo kalau lo sampai ketahuan menyakiti kakaknya, walau sebenarnya Kimberly sudah tahu kelakuan lo." Athaya berbicara di dalam hatinya dengan menatap jijik Aruna.


"Persiapkan saja mental lo di hadapan adek gue," batin Enda.


"Silahkan kalau lo mau lanjut untuk terus membohongi adek sepupu gue. Jangan salahkan kita-kita jika terjadi sesuatu sama lo dan keluarga lo," batin Zivan.


Sementara yang lainnya menatap intens kearah Aruna tanpa berminat untuk mengajak Aruna mengobrol.