
"Ini!" Kimberly memberikan sebuah flashdisk kepada Aryan.
"Flashdisk?" tanya Aryan bingung dengan tatapan matanya menatap benda yang ada di hadapannya.
"Iya," jawab Kimberly.
"Untuk apa?" tanya Aryan yang masih bingung.
"Lihat. Dan nanti kau akan tahu sendiri," jawab Kimberly.
Aryan seketika berdiri dari duduknya hendak menuju kamarnya. Dirinya hendak mengambil sesuatu.
"Mau kemana?" tanya Kimberly.
"Ke kamar mau ambil sesuatu," jawab Aryan tanpa menoleh melihat kearah Kimberly.
"Ambil sesuatu?" ucap Kimberly pelan. "Aryan, mau ambil apa sih?" tanya Kimberly. Kini dirinya yang dibuat bingung oleh Aryan.
"Pikir saja sendiri. Flashdisk itu dibuka pake apa?!" teriak Aryan.
Setelah itu, Aryan sudah berada di dalam kamarnya. Sedangkan Kimberly seketika mengetahui maksud dari perkataan dari Aryan.
Kimberly saat ini berada di rumah sang Paman dan Bibinya yaitu Rafassya dan Helena. Dan saat ini Kimberly dan Aryan tengah mengobrol berdua sembari membahas sesuatu di ruang tengah.
Beberapa menit kemudian, Aryan datang menghampiri Kimberly membawa sesuatu di tangannya. Benda yang dibawa oleh Aryan adalah sebuah laptop.
Aryan meletakkan laptop itu di atas meja lalu membuka penutup laptop tersebut. Kemudian Aryan menghidupkan laptop miliknya itu. Keduanya duduk berdampingan di lantai beralaskan karpet bulu.
Setelah laptopnya dalam keadaan menyala, Aryan kemudian memasang flashdisk yang diberikan oleh Kimberly kepadanya.
Aryan membuka file yang ada di dalam flashdisk itu. Dan tak butuh lama semua yang ada di dalam flashdisk itu sudah terlihat dengan jelas karena Kimberly sengaja membuatnya dalam satu file.
Seketika raut wajah Aryan berubah tak mengenakkan. Kimberly yang melihat hal itu paham. Dan dirinya hanya diam sembari melihat Aryan yang menonton adegan demi adegan yang ada di dalam flashdisk tersebut.
"Brengsek! Dasar perempuan tak tahu diri," umpat Aryan penuh amarah.
Aryan menatap wajah Kimberly. Banyak pertanyaan di kepalanya yang akan ditujukan kepada sepupunya itu. Dalam hatinya berkata 'dari mana Kimberly mendapatkan semua tentang kebusukan Vanny dan anggota keluarganya?'.
"Dari mana kamu mendapatkan semua ini, Kim? Padahal aku baru saja memulai untuk mencari semua tentang Vanny dan keluarganya. Dengan aku mendapatkan semua itu. Aku bisa benar-benar terbebas dari perempuan busuk itu tanpa terus dikejar-kejar oleh mereka," ucap dan tanya Aryan.
"Kau tahu siapa aku kan? Aku tidak akan tinggal diam jika mataku melihat dan menyaksikan orang-orang yang begitu dicintai oleh kakak-kakakku bermain di belakang. Dan aku akan langsung mencari tahu tentang mereka. Setelah aku mendapatkan semua itu, barulah aku bertindak atau aku akan memperlihatkan semua itu kepada kakak-kakakku termasuk kau."
Mendengar perkataan sekaligus penjelasan dari Kimberly membuat Aryan menyadari akan hal itu. Aryan memang sangat tahu bagaimana sifat dan karakter Kimberly. Aryan tahu bahwa Kimberly tidak akan tinggal diam jika adalah salah satu kakak-kakaknya baik kakak-kakak kandungnya maupun kakak-kakak sepupunya. Bahkan adik sepupunya, maka Kimberly akan langsung bertindak untuk mencari tahu latar belakang orang tersebut.
"Sekarang apa yang rencanakan?" tanya Aryan.
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu. Rencana apa yang sudah kau lakukan sejak mengetahui kebusukan Vanny?" tanya Kimberly.
"Aku berencana akan mengundang Vanny dan seluruh anggota keluarganya baik keluarga dari ayahnya maupun keluarga dari ibunya. Dari situlah aku akan langsung mengatakan bahwa hubungan kita berakhir. Bahkan aku akan mengatakan kalau aku tidak suka dengan perempuan yang bermain di belakangku."
"Jika mereka tidak terima dengan alasan kau telah menuduh Vanny, bagaimana?"
"Jika Vanny masih mengelak dan tidak mau mengaku kesalahannya. Jika anggota keluarganya menyerangku karena tidak terima aku memutusi Vanny, barulah aku akan memperlihatkan semua bukti-bukti yang aku dapatkan itu kepada mereka. Dengan begitu mereka tidak akan lagi bisa berkutik."
Mendengar jawaban dari Aryan membuat Kimberly tersenyum bangga akan rencana yang sudah dipersiapkan oleh sepupunya itu.
"Maaf karena aku sudah menuduhmu karena tidak tegas sebagai laki-laki," sahut Kimberly.
Mendengar perkataan dari Kimberly serta ucapan maaf yang keluar dari bibirnya membuat Aryan mengerti dan paham atas apa yang dilakukan oleh Kimberly terhadap dirinya beberapa hari yang lalu.
"Kamu nggak salah Kim. Justru aku bahagia karena memiliki saudari sepupu seperti kamu. Terima kasih ya," balas Aryan tersenyum menatap wajah cantik Kimberly.
Tanpa disadari oleh keduanya. Rafassya, Helena, Pasya, Fathan dan Valen yang niat awalnya ingin menghampiri Kimberly dan Aryan di ruang tengah seketika menghentikan langkahnya karena mendengar perbincangan hangat antara Kimberly dan Aryan.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly dan Aryan membuat Rafassya dan Helena tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Pasya, Fathan dan Valen.
Rafassya dan Helena sangat bersyukur memiliki anak-anak dan keponakan-keponakan yang saling menyayangi dan peduli satu sama lainnya. Setiap ada masalah baik anak-anaknya maupun keponakan-keponakannya. Mereka langsung bertindak untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi saudara dan saudarinya itu.
Setelah puas memperhatikan dan mendengar perbincangan Kimberly dan Aryan. Rafassya, Helena, Pasya, Fathan dan Valen memutuskan untuk menghampiri keduanya di ruang tengah.
"Kapan rencana itu akan kamu laksanakan?" tanya Kimberly.
Ketika Aryan ingin menjawab pertanyaan dari Kimberly, tiba-tiba terdengar suara sang ayah/sang Paman.
"Serius amat sih ngobrolnya!"
Baik Aryan maupun Kimberly sama-sama mengalihkan perhatiannya menatap keasal suara.
"Papa!" seru Aryan dan Kimberly bersamaan.
Rafassya tersenyum mendengar sapaan dari putra ketiganya dan keponakannya. Begitu juga dengan Helena, Pasya, Fathan dan Valen.
Kini mereka telah duduk di sofa. Tatapan mata mereka menatap kearah laptop yang ada di atas meja.
"Ngobrol apa sih?" tanya Pasya yang pura-pura tidak mengetahuinya.
Aryan dan Kimberly saling memberikan tatapan masing-masing lalu keduanya secara bersamaan menatap satu persatu anggota keluarganya.
"Aku dan Aryan sedang merencanakan untuk menghancurkan Vanny dan keluarganya, kak Pasya!" Kimberly yang menjawab pertanyaan dari Pasya.
"Kimberly sudah memiliki banyak bukti tentang kebusukan Vanny dan seluruh anggota keluarganya," sahut Aryan.
Mendengar perkataan dari Aryan membuat Rafassya, Helena, Pasya, Fathan dan Valen menatap wajah Kimberly. Terutama Rafassya dan Pasya.
"Apa itu benar sayang?" tanya Rafassya.
"Iya, Pa!" Kimberly langsung menjawab pertanyaan dari pamannya.
Rafassya langsung mengambil laptop milik putranya itu untuk melihat apa yang diperlihatkan oleh putra dan keponakannya itu kepadanya.
Pasya yang kebetulan duduk di samping ayahnya bergeser mendekat agar bisa ikut melihat apa yang ada di laptop adiknya.
Sama halnya seperti Aryan ketika melihat adegan demi adegan di laptopnya. Rafassya dan Pasya menatap dengan tatapan penuh amarah menyaksikan adegan demi adegan di laptop tersebut.
"Keterlaluan sekali si Vanny. Selama ini dia hanya mengincar kekayaan kita dengan cara berpacaran dengan Aryan," ucap Rafassya penuh emosi.
"Kak Pasya. Berikan laptop itu padaku. Aku ingin melihatnya kepadaku!" seru Fathan.
Mendengar seruan dari Fathan. Rafassya langsung memberikan laptop milik Aryan kepada Fathan.
Mendapatkan laptop adiknya, Fathan langsung melihat apa yang dilihat oleh ayah dan kakaknya.
"Apa-apaan ini!"
Seketika Fathan berteriak ketika melihat dan mendengar adegan demi adegan di laptop adiknya.
"Wah! Benar-benar nih cewek. Berani sekali dia," ucap emosi Fathan.
Fathan meletakkan laptop itu di atas meja. Kemudian tatapan matanya menatap wajah adiknya dan adik sepupunya secara bergantian. Begitu juga dengan Rafassya, Helena dan Pasya.
"Kim, tadi kakak dengar kamu bertanya kepada Aryan tentang kapan Aryan akan melakukan rencananya itu?" tanya Fathan.
"Iya, kak! Tadi aku nanya itu," sahut Kimberly.
"Kapan?" tanya Pasya kepada adik laki-lakinya.
"Tiga hari lagi kak. Kebetulan tiga hari lagi itu adalah hari ulang tahun perempuan itu sialan. Aku akan buat di hari ulang tahunnya itu menjadi kenangan terburuk untuknya dan juga keluarganya," jawab Aryan.
"Apa yang akan kamu berikan sebagai kejutan ulang tahun untuk perempuan itu?" tanya Helena.
"Eeemm! Pertama, aku akan meminta putus. Kedua, aku akan memperlihatkan sebuah kenang-kenangan dimana kenang-kenangan itu berisi perselingkuhan Vanny dengan banyak laki-laki. Ketiga, aku akan memperlihatkan semua kebusukan anggota keluarganya. Baik keluarga dari pihak ayahnya maupun dari pihak ibunya."
"Jadi dengan begitu, perempuan itu tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk tetap terus melanjutkan hubungannya dengan kamu," sela Rafassya.
"Iya, Pa! Begitulah rencanaku. Kalau tidak seperti itu, Vanny tidak akan mau berpisah denganku. Apapun alasannya. Dia akan tetap terus mengejarku," jawab Aryan.
"Papa setuju dengan rencana kamu. Siapa saja nanti yang ikut dengan kamu. Papa tidak izinkan kamu melakukannya sendiri. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah kamu membongkar kebusukan mereka. Bisa saja salah satu dari keluarga Vanny menyerang kamu." Rafassya menatap khawatir putranya.
"Masalah itu Papa tidak perlu khawatir. Aku sudah meminta beberapa orang-orang untuk Stanbay di lokasi. Bahkan orang-orangku akan selalu mengawasi pergerakan dari dua keluarga Vanny termasuk ketika mereka akan menyerangku."
Mendengar jawaban dari Aryan membuat Rafassya, Helena, Pasya dan Fathan tersenyum lega.
"Kakak akan mengirimkan beberapa anggota kepolisian untuk berjaga-jaga disana. Bagaimana pun kamu butuh itu," ucap Pasya.
"Baik, kak!"
Ketika mereka tengah membahas perencanaan untuk menghancurkan Vanny beserta anggota keluarganya. Ponsel milik Kimberly berbunyi.
Mendengar itu, Kimberly langsung melihat kearah ponselnya yang ada di atas meja. Kimberly melihat nama kakak keduanya yaitu Uggy di layar ponselnya.
Setelah itu, Kimberly langsung menjawab panggilan dari kakak keduanya itu.
"Hallo, kakak Uggy!"
"Hallo, sayang! Apa masih lama di rumah Papa Rafassya dan Mama Helena?"
"Memangnya kenapa?"
"Kakak akan jemput kamu."
"Memangnya kakak ada dimana sekarang? Kok terlihat berisik," ucap dan tanya Kimberly.
"Kakak lagi diluar bersama seseorang."
Uggy sengaja tidak menyebutkan nama seseorang itu karena Uggy ingin memberikan kejutan untuk adiknya.
"Bersama seseorang? Siapa?"
"Adalah. Kamu nggak perlu tahu siapa."
Mendengar jawaban tak memuaskan dari kakaknya itu membuat Kimberly merengut kesal.
"Bagaimana?"
"Terserah kakak aja deh."
Uggy seketika tersenyum di seberang telepon ketika mendengar jawaban pasrah dari adik perempuannya. Begitu juga dengan Rafassya, Helena, Pasya, Fathan, Aryan dan Valen.
"Ya, sudah! Sepuluh menit lagi kakak sampai."
Setelah mengatakan itu, Uggy langsung mematikan panggilannya.
"Apa kata kakak kamu itu?" tanya Helena.
"Dia katanya mau jemput aku," jawab Kimberly.
"Lah. Bukan sudah sepakat ya kalau kakak yang akan antar kamu pulang," protes Fathan.
"Yeeeyy! Kenapa kak Fathan protesnya sama aku? Langsung aja protes sama orang yang bersangkutan," balas Kimberly dengan mempoutkan bibirnya kesal.
Mendengar jawaban serta melihat wajah kesal Kimberly membuat Fathan tersenyum. Begitu juga dengan Rafassya, Helena, Pasya, Aryan dan Valen.