
Keesokan harinya di kediaman Fathir Aldama terlihat ramai dimana Kimberly saat ini bersama dengan ketiga sepupunya yaitu Billy, Syahputra dan Aryan di ruang tengah. Mereka saat ini tengah mengobrol sembari menikmati cemilan yang sudah tergeletak rapi di atas meja.
"Kim," panggil Billy.
"Hm!" Kimberly menjawab dengan deheman dengan mulutnya yang tengah mengunyah keripik.
"Apa kamu bersedia membantu ibu kandungnya kak Rica?" tanya Billy.
Billy menatap kearah Kimberly. Begitu juga dengan Aryan dan Triny. Mereka penasaran akan jawaban yang diberikan oleh Kimberly.
"Nggak tahu," jawab Kimberly dua kata.
"Nggak tahu. Maksudnya?" Kini Aryan yang bertanya.
"Iya, nggak tahu. Apalagi?"
"Jadi kamu tidak ingin membantu ibu kandungnya kak Rica?" tanya Triny.
"Aku kan bilang nggak tahu. Ya, berarti nggak tahu!" Kimberly menjawab pertanyaan dari Triny dengan wajah cemberutnya.
Mendapatkan jawaban yang tak memuaskan dan melihat wajah tak mengenakkan yang diberikan oleh Kimberly membuat Billy, Triny dan Aryan memutuskan untuk tidak bertanya lagi.
"Aku bukan tidak mau bantuin ibunya kakak Rica, tapi aku takut." Kimberly tiba-tiba bersuara.
Mendengar penuturan dari Kimberly membuat Billy, Triny dan Aryan langsung melihat kearah Kimberly. Dan dapat mereka lihat ada sedikit kekhawatiran dan ketakutan.
"Takut kenapa?" tanya Triny lembut.
"Aku takut kalau ibunya kak Rica kembali berulah. Dulu dia ninggalin kak Rica dan Om Raditya. Siapa tahu dia kembali ingin merebut Om Raditya dari Tante Emma dan menjadikan kak Rica sebagai tempat dia kembali dengan alasan mau meminta maaf."
Mendengar penuturan dari Kimberly apalagi ketika mendengar suara lirih dan tatapan ketakutannya membuat Billy, Triny dan Aryan mengerti akan perasaan yang dirasakan Kimberly saat pertama kali bertemu dengan ibunya Rica. Mereka sangat tahu bagaimana sensitifnya Kimberly terhadap orang-orang yang dia sayangi. Kimberly tidak ingin terjadi sesuatu terhadap orang-orang yang dia sayangi.
Grep..
Triny yang kebetulan duduk di samping Kimberly langsung menarik tubuh Kimberly dan membawanya ke dalam pelukannya. Dan seketika isak tangis Kimberly pecah.
"Aku nggak mau jadi pihak yang disalahkan, kak! Aku nggak mau kebaikanku justru jadi bumerang buat aku. Aku bantuin ibunya kak Rica untuk berdamai dengan kak Rica, tapi justru terjadi berdampak terhadap rumah tangganya Om Raditya dan Tante Emma. Kita kan nggak tahu isi hati seseorang. Begitu juga dengan ibunya kak Rica. Kita nggak tahu apakah dia benar-benar tulus minta maaf sama kak Rica atau justru ada maksud lain."
Mendengar ucapan demi ucapan, penjelasan dan alasan dari Kimberly membuat Billy, Triny dan Aryan seketika langsung paham. Mereka pun membenarkan apa yang dikatakan oleh Kimberly tentang Salima ibu kandungnya Rica.
Triny kemudian melepaskan pelukannya lalu dia menatap wajah basah Kimberly. Kemudian tangannya menghapus air mata Kimberly.
"Semua keputusannya ada ditangan kamu. Mana yang terbaik menurut kamu, lakukan! Aku, Billy dan Aryan akan selalu mendukung kamu." Triny berucap tulus dan lembut.
"Hm!" Billy dan Aryan berdehem menyetujui perkataan Triny sembari menganggukkan kepalanya antusias.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly ketika mendengar ucapan tulus dari Triny dan jawaban balasan dari Billy dan Aryan.
Ketika Kimberly, Triny, Aryan dan Billy sedang mengobrol di ruang tengah. Seorang pelayan datang untuk memberitahu bahwa ada seorang tamu.
"Kenapa, Bi?"
"Itu di depan ada tamu, Nona!"
"Tamu untuk siapa?" tanya Kimberly.
"Tuan muda Uggy."
Deg..
Seketika Kimberly terkejut ketika pelayannya itu menyebut tamu tersebut itu untuk kakak keduanya.
"Apa orang itu yang datang?" batin Kimberly.
Melihat Kimberly yang tiba-tiba mematung membuat Billy, Triny dan Aryan khawatir. Kemudian Billy menepuk bahu Kimberly pelan.
Puk..
"Hei!"
Seketika Kimberly terkejut ketika mendapatkan tepukan dan sapaan dari Billy.
"Kenapa malah melamun?" tanya Billy.
Kimberly langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari Billy. Lalu Kimberly kembali menatap kearah pelayan itu.
"Sekarang tamunya dimana Bi?"
"Nunggu di ruang tamu, Non!"
"Ya, sudah! Bibi langsung saja panggil kakak Uggy. Kakak Uggy ada di ruang kerjanya."
"Baik, nona!"
Setelah itu, pelayan itu pun pergi menuju ruang kerja Uggy untuk memberitahu tentang tamunya tersebut.
"Aku harus menemui tamunya kak Uggy. Dan aku juga harus ada disana saat kak Uggy ingin menandatangani berkas yang diberikan oleh orang itu. Jika tamunya benar-benar orang itu," batin Kimberly.
"Aku akan temui tamu itu," ucap Kimberly.
Setelah mengatakan itu, Kimberly pun langsung pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju ruang tamu. Dan diikuti oleh Billy, Triny dan Aryan di belakang.
^^^
Kimberly, Aryan, Triny dan Billy sudah berada di ruang tengah. Dan mereka sudah duduk di sofa bersama seorang laki-laki. Kimberly menatap laki-laki itu dengan tatapan dinginnya. Tidak ada senyum-senyumnya sama sekali.
Sementara laki-laki itu hanya bersikap acuh akan tatapan dingin dari gadis di hadapannya itu.
Tak lama kemudian, Uggy datang bersama seorang pelayan di belakangnya dengan membawa minuman untuk sang tamu.
"Lama menunggu ya?" tanya Uggy kepada tamunya.
"Tidak kok. Baru aja," jawab laki-laki itu dengan tersenyum.
Uggy melihat kearah adik perempuannya yang duduk di sampingnya dan kedua adik sepupunya.
"Terima kasih ya sudah temani tamunya kakak," ucap Uggy bersamaan tangannya mengusap lembut kepala belakang adiknya itu.
Uggy melihat kearah temannya itu untuk menunjukkan berkas yang dia minta beberapa hari yang lalu ketika bertemu untuk pertama kalinya di sebuah Cafe dan untuk yang keduanya di perusahaan miliknya.
"Boleh aku lihat berkas tentang pengajuan kerjasama kamu tempo lalu?" tanya Uggy.
"Oh, tentu!" laki-laki itu langsung mengeluarkan berkas yang dimaksud dari dalam tasnya.
Sementara Kimberly masih terus memperhatikan gerak-gerik dari laki-laki tersebut apalagi ketika laki-laki itu mengeluarkan berkas yang diminta oleh kakaknya.
"Ini berkasnya Uggy!" laki-laki itu menyerahkan berkas tersebut kepada Uggy.
Uggy menerima berkas tersebut. Setelah itu, Uggy membuka berkas itu berlahan. Dia terlebih dahulu membaca isi dari tulisan-tulisan yang ada di dalam berkas tersebut.
Bukan hanya Uggy yang membaca isi berkas tersebut, Kimberly yang duduk di samping kakaknya juga ikut membaca satu persatu isi tulisan di dalam berkas itu. Kimberly tidak menemukan kejanggalan apapun disana. Hanya saja kecurangan yang dilakukan oleh teman kakaknya itu bukan dari isi tulisan tersebut, melainkan dari tinta yang digunakan untuk menulis kata di dalam berkas itu.
Jadi, dengan begitu jika kakaknya menandatangani berkas tersebut secara otomatis dan tanpa sadar kakaknya itu telah menyerahkan semua miliknya menjadi milik laki-laki itu. Dan bisa saja laki-laki tersebut juga mengincar milik semua anggota keluarganya melalui kakak keduanya ini.
"Waw! Ini benar-benar luar biasa, Ragil! Aku suka dengan semua ide yang kau tuangkan disini," puji Uggy.
Nama laki-laki yang berstatus teman satu sekolah Uggy dulu adalah Ragil Prasetyo.
"Terima kasih atas pujianmu. Aku berharap kita bisa kerjasama dan saling memberikan keuntungan," ucap Ragil.
Setelah itu, Uggy mengambil pena miliknya yang memang kebetulan dia bawa dari ruang kerjanya untuk menandatangani berkas tersebut sebagai langkah awal kerjasama perusahaan miliknya dengan perusahaan milik temannya itu.
Ketika Uggy hendak membubuhi tanda tangannya dikertas itu, tiba-tiba Kimberly menahan pergelangan tangan kakaknya sehingga membuat Uggy terkejut. Begitu juga dengan Billy, Triny, Aryan dan laki-laki tersebut.
Uggy melihat tepat ke wajah adiknya. Dapat Uggy lihat adik perempuannya itu langsung menggelengkan kepalanya. Dan jangan lupa tatapan memohonnya.
"Sayang!"
"Aku mohon kak. Jangan tanda tangan berkas itu. Percayalah padaku," ucap Kimberly.
Uggy melihat kearah berkas tersebut. Kemudian Uggy melihat kearah Ragil temannya. Setelah itu, Uggy kembali melihat wajah adiknya yang masih menatap dirinya.
"Tapi kenapa? Apa alasan kamu melarang kakak menandatangani berkas ini?"
Sementara laki-laki yang bernama Ragil Prasetyo menggeram marah di dalam hatinya. Dirinya menyumpah serapah Kimberly yang mencoba menggagalkan Uggy untuk menandatangani berkas miliknya itu.
Kimberly melihat kearah laki-laki itu yang mana laki-laki itu juga menatap dirinya dengan tajam. Seketika tatapan matanya berubah normal ketika Uggy, Billy, Triny dan Aryan ikut menatap dirinya.
"Uggy, kalau kau merasa tak enak atau kau ingin menyenangkan hati adikmu. Tak apa. Lain kali saja kita membahas kontrak kerjasama ini," ucap Ragil yang hanya sekedar pengalihan.
Uggy kembali menatap kearah adiknya. Dirinya akan memberikan keyakinan bahwa tidak akan terjadi apapun.
"Sayang, dengarkan kakak. Kakak mengerti ketakutan kamu. Tapi percayalah. Semuanya akan baik-baik saja. Lagian isi berkasnya juga bagus. Sayangkan jika dilewatkan calon rekan kerja seperti teman kakak ini."
Setelah mengatakan itu, Uggy kembali melihat kearah berkas tersebut. Sementara Ragil tersenyum kemenangan di dalam hatinya.
Ketika Uggy hendak menandatangani berkas tersebut, Kimberly tiba-tiba langsung menarik berkas itu. Setelah itu, Kimberly langsung berdiri dan menjauh dari kakaknya.
Melihat apa yang dilakukan oleh Kimberly membuat Uggy terkejut. Begitu juga dengan Billy, Aryan dan Triny. Bahkan yang paling terkejut disini adalah Ragil Prasetyo. Dia tidak menyangka jika adik perempuan dari teman satu sekolahnya itu akan melakukan hal tersebut.
"Kimberly!"
"Aku nggak akan biarkan kakak menandatangani berkas ini. Aku nggak mau kakak menjalin kerjasama sama dengan dia!" teriak Kimberly sembari menunjuk kearah Ragil.
"Tapi Kimberly. Kamu tidak bisa melakukan hal itu. Jangan permalukan kakak. Sekarang serahkan berkas itu pada kakak. Jangan sampai kakak marah sama kamu."
"Nggak! Aku nggak peduli kakak mau marah atau bahkan kakak mau nampar aku. Pokoknya aku nggak akan biarkan kakak menandatangani berkas ini!" teriak Kimberly.
Sreekkk...
Sreekkk..
Kimberly seketika langsung merobek-robek berkas tersebut lalu melemparinya ke udara sehingga kertas-kertas itu berserakan di lantai.
Seketika semuanya terkejut ketika melihat apa yang dilakukan oleh Kimberly. Mereka tidak menyangka jika Kimberly akan melakukan hal itu.
"Kimberly!" bentak Uggy dengan menatap marah adik perempuannya.
Ini adalah untuk pertama kalinya bagi Uggy membentak adik perempuannya. Selama ini dia tidak pernah bersikap kasar apalagi membentak adiknya sekali pun adiknya melakukan kesalahan.
Deg..
Seketika tubuh Kimberly membeku di tempat ketika mendapatkan bentakan dari kakaknya itu untuk pertama kalinya.
"Kamu benar-benar keterlaluan Kimberly. Kenapa kamu lakukan itu? Kakak sudah bicara baik-baik dan kakak juga sudah minta secara lembut, tapi kamu masih saja keras kepala. Dan lihatlah apa yang kamu lakukan! Kamu justru merobek berkas itu!" bentak Uggy.
Seketika air mata Kimberly jatuh membasahi pipinya ketika mendapatkan dua bentakan dari kakaknya itu.
"Aku memang salah disini. Tapi aku melakukan hal itu untuk menyelamatkan kakak. Aku melakukan hal itu bukan untuk mempermalukan kakak didepan teman kakak itu. Aku melakukan hal itu demi kakak. Tapi... Hiks..." Kimberly berbicara sembari terisak.
"Demi dia kakak rela bentak aku. Dan ini adalah untuk pertama kalinya kakak bentak aku. Ketika aku melarang kakak untuk menandatangani berkas itu, seharusnya kakak langsung mengiyakannya dulu. Lalu kakak bicara baik-baik sama teman kakak itu. Setidaknya disini kakak menjaga perasaanku dan juga perasaan teman kakak itu. Setelah itu kakak bisa bertanya padaku apa alasan aku melarang kakak. Tapi apa yang kakak lakukan! Kakak justru memarahi aku bahkan membentak aku hanya demi menjaga perasaan teman kakak itu!" teriak Kimberly dengan berlinang air mata.
"Sekarang dengarkan aku. Silahkan kakak minta teman kakak itu untuk membuat kembali berkas yang baru. Dan setelah itu, silahkan kakak tanda tangan. Kali ini aku tidak akan ikut campur. Tapi ingat satu hal kak! Jika nanti kakak tahu alasan dibalik aku melarang kakak untuk menandatangani berkas itu. Dan seketika kakak menyesal. Itu semua sudah terlambat. Aku tidak akan memberikan maaf untuk kakak. Nggak akan pernah. Bahkan aku nggak akan mau bicara lagi sama kakak. Mulai detik ini, aku membenci kakak. Aku membenci kakak!" teriak Kimberly dengan lantangnya.
Setelah mengatakan semua itu di hadapan Uggy kakak keduanya sembari menangis histeris. Kimberly langsung berlari menuju kamarnya di lantai dua. Dan disusul oleh Triny.
Sementara Uggy, tubuhnya seketika membeku ditempat ketika mendengar ucapan demi ucapan dari adik perempuannya. Dan tanpa diminta, air matanya jatuh membasahi pipinya.
Billy dan Aryan mengusap-usap lembut punggung kakak sepupunya. Kedua tampak sedih dan iba melihat tatapan bersalah Uggy atas sikapnya terhadap Kimberly.
Billy melihat kearah Ragil Prasetyo. Dirinya berbicara dan meyakinkan Ragil akan pertengkaran kakak adik tersebut.
"Maaf ketidaknyamanan anda. Mungkin anda bisa datang lagi atau bisa membuat janji lagi dengan kakak sepupu saya.
Ragil menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, walau di dalam hatinya begitu marah atas apa yang dilakukan oleh adik perempuannya Uggy.
"Baiklah. Saya mengerti. Kalau begitu saya permisi."
"Sekali lagi saya mewakili kakak dan adik sepupu saya meminta maaf atas kejadian ini."
"Tak masalah."
Setelah itu, Ragil pun pergi meninggalkan kediaman Aldama untuk kembali pulang ke rumahnya. Dia akan melakukan rencana kedua untuk mendapatkan tanda tangan Uggy.