
[Perusahaan Js'nAld]
Jason berada di ruangan miliknya. Sama seperti Uggy sang adik, Jason juga tampak lagi sibuk dengan pekerjaannya. Beberapa detik yang lalu Jason baru saja menyelesaikan pekerjaannya yaitu mengecek data keuangan perusahaan dan menandatangani berkas yang akan dimasukkan kedalam laporan bukan ini.
Ketika Jason tengah sibuk dengan pekerjaannya, seseorang membuka pintu ruang kerjanya setelah mengetuk pintu itu tiga kali.
Cklek..
Pintu itu terbuka dan menampilkan seorang pemuda tampan yang tak lain asisten sekaligus kepercayaannya di perusahaan.
"Selamat siang Bos!"
"Siang, Joe! Bagaimana? Apa kau sudah menyiapkan berkas-berkas yang aku minta?"
"Sudah Bos. Ini Bos!"
Joe langsung menyerahkan berkas-berkas yang diminta kemarin oleh atasannya.
Jason langsung mengambil berkas-berkas itu yang sudah diletakkan oleh Joe diatas meja. Kemudian Jason membuka satu demi satu kertas-kertas putih di dalam map tersebut.
Beberapa detik kemudian..
Terukir senyuman manis di bibirnya ketika melihat dan membaca setiap isi dari dalam map tersebut.
"Kapan kita akan menemui bajingan itu Bos?"
Mendengar pertanyaan dari asistennya itu membuat Jason tersenyum.
"Kenapa? Apa kau tidak sabar untuk melihat kehancuran dua bajingan itu, hum?"
"Itu salah satunya Bos!"
"Kita akan menemui kedua bajingan itu setelah saya menyelesaikan beberapa tugas ini."
"Baik, Bos! Kalau begitu saya permisi dulu Bos untuk menyiapkan semuanya."
"Baiklah."
Setelah itu, Joe pun pergi meninggalkan ruang kerja atasannya untuk kembali ke ruangan pribadinya untuk menyiapkan sesuatu yang akan dia bawa ketika menemui dua bajingan itu.
***
[Berlin]
Kimberly sedang menikmati keindahan desa Mitte, Berlin dengan berjalan kaki menyusuri setiap jalan yang terlihat. Kimberly tampak bahagia ketika melihat sekelilingnya.
Kimberly terus berjalan menyusuri jalan demi jalan sembari bersenandung ria mendengarkan musik dengan earphone terpasang sebelah kirinya.
Ketika Kimberly fokus menyusuri jalan, tatapan matanya menatap beberapa orang berkerumun dan sesekali terdengar suara teriakan dan pukulan.
"Tuan, saya mohon jangan bawa putri saya."
"Jika anda tidak ingin saya membawa putri anda. Bayar sekarang uang itu!" bentak pria itu dengan garangnya.
"Tapi saya tidak punya uang sebanyak itu. Lagian saya disini dijebak dan saya tidak mengambil uang itu," jawab pria yang menjadi korban pukulan dan korban yang anak perempuannya akan dibawa.
Bugh..
"Pak!"
"Masih berani kau mengatakan bahwa kau dijebak, hah?!"
Kimberly yang sejak tadi memperhatikan dari jauh menjadi penasaran. Di dalam hatinya dia berpikir ada apa? Apa ada masalah dengan warga-warga disini?
Dengan penuh rasa penasarannya dan juga rasa kepeduliannya akan sekitarnya, Kimberly kemudian mempercepat langkahnya menghampiri keributan tersebut. Disana terlihat beberapa warga yang rata-rata para orang tua dan beberapa anak-anak remaja, baik laki-laki maupun perempuan.
Setibanya Kimberly tiba disana, matanya melihat seorang pria sedikit berisi dan berotot. Tubuhnya yang tinggi yang akan melayangkan pukulannya kepada pria yang lebih tua darinya membuat Kimberly membelalakkan matanya.
Kimberly kemudian langsung berjalan menghampiri pria itu. Dan detik kemudian, tangannya menahan tangan kekar pria itu sehingga membuat semua orang yang ada disana terkejut. Begitu juga dengan pria itu dan beberapa anak buahnya. Ada sekitar 10 laki-laki bertubuh tegap dan berotot. Hanya sedikit alias tidak terlalu berotot.
"Jangan membuat keributan disini. Tempat ini adalah tempat anti kekerasan." Kimberly berucap bersamaan dengan tangannya menghempas kuat tangan pria itu.
"Jangan ikut campur kau. Pergi dari sini. Lagian kau itu hanya pendatang disini!" bentak pria itu.
"Hahahaha." Kimberly seketika tertawa ketika mendengar ucapan dari pria itu. "Hei, tuan! Anda bicara apa, hum? Anda mengatakan bahwa saya hanya pendatang disini. Perkataan anda itu salah besar. Saya bukanlah pendatang disini melainkan penduduk asli di Mitte ini, walau nyatanya saya tidak tinggal disini."
"Itu sama saja, bodoh!" ucap pria itu dengan kejamnya.
"Beda tolol. Kalau pendatang itu orang itu bukan penduduk asli disini. Seperti kau dan para antek-antek busuk lo itu," sahut Kimberly sembari menunjuk kearah anak buah pria itu.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly dan pria itu membuat beberapa warga tersenyum dan geleng-geleng kepala. Mereka tidak menyangka jika Kimberly memiliki keberanian melawan pria itu yang notabene nya sangat ditakuti oleh warga desa Mitte. Mereka semua menatap kagum kearah Kimberly.
Para pria itu hanya berani dengan warga desa yang lemah dan memiliki mental tempe. Sementara pria-pria itu tidak berani berurusan dengan anggota keluarga Fidelyo karena mereka tahu siapa itu keluarga Fidelyo di desa Mitte.
"Brengsek!" pria itu benar-benar marah akan sikap berani gadis remaja yang ada di hadapannya itu. Baginya baru kali ini dia mendapatkan perlawanan dari seorang gadis remaja.
"Memangnya situ siapa sehingga gue harus takut sama orang kayak lo," jawab Kimberly.
"Sialan!"
Pria itu kemudian mengangkat tangannya hendak menyerang Kimberly, namun siapa disangka gerakan Kimberly yang begitu lincah dan cepat langsung memberikan pukulan kuat di perut pria itu.
Bugh..
Mendapatkan pukulan yang begitu kuat dari gadis di hadapannya itu membuat pria tersebut seketika mematung ditempatnya dengan tangan mengarah ke udara. Dan jangan lupa kedua mata dan mulutnya membulat sempurna menahan sakit.
Sementara warga-warga yang melihat kejadian tersebut juga ikut terkejut dan syok ketika melihat Kimberly yang tiba-tiba memberikan pukulan di perut pria itu.
Melihat sang Bos yang kesakitan akibat ulah gadis remaja itu membuat para anak buahnya kemudian menyerang Kimberly.
Seketika warga-warga tersebut termasuk sepasang suami istri yang dibela oleh Kimberly berteriak ketika melihat sepuluh anak buah dari pria itu menyerang Kimberly. Mereka takut jika Kimberly terluka.
Bugh.. Bugh..
Duagh..
Duagh..
Sreeekkk.. Sreeekkk..
Kreekkk.. Kreekkk..
Bugh.. Duagh..
Bruukkk.. Bruukkk..
Bruukkk..
Tak butuh waktu lama kesepuluh anak buah dari pria itu terkapar tak berdaya di tanah dengan luka keban di wajah dan rasa sakit di bagian perut dan punggung akibat tendangan tak main-main dari Kimberly.
"Selesai!" Kimberly berucap dengan senyuman manisnya melihat semua musuhnya tumbang.
Melihat gerakan lincah dan kehebatan bela diri Kimberly membuat warga-warga tersebut tertegun dan juga kagum. Mereka tidak menyangka jika Kimberly begitu jago menghajar sepuluh anak buah dari pria itu.
Kimberly mendorong tubuh pria yang saat ini masih dalam keadaan tak baik-baik saja setelah mendapatkan pukulan keras dari Kimberly sehingga membuat pria itu tersadar.
"Tuh lihat! Para antek-antek lo udah K.O. Lo sendirian sekarang. Mending lo pergi dari sini. Dan jangan coba-coba lo gangguin warga-warga disini jika lo masih ingin hidup di dunia ini."
Pria itu langsung melihat tunjuk Kimberly. Seketika dia terkejut melihat anak buahnya terkapar tak berdaya di tanah.
"Sudah, pergi sana!" usir para warga.
Setelah itu, pria dan kesepuluh anak buahnya tersebut langsung pergi meninggalkan desa Mitte untuk menemui sang Bos.
Kimberly melihat kearah sepasang suami istri terutama kearah pria itu.
"Apa Paman baik-baik saja? Apa mereka menyakiti Paman?" tanya Kimberly.
"Tidak, nona! Saya baik-baik saja. Hanya saja mereka tadi sempat ingin membawa anak perempuan saya," jawab pria itu.
"Siapa mereka? Apa didesa ini sudah sering terjadi hal semacam ini?"
"Iya, nona. Ini kesekian kalinya. Kami para laki-laki baik suami maupun anak laki-laki rata-ratanya bekerja di pabrik. Namun beberapa bulan ini pabrik tempat kami bekerja tidak seperti dulu," jawab pria itu.
"Maksud Paman?" Kimberly benar-benar tidak mengerti.
"Dulu kami sebagai karyawan pabrik baik-baik saja bekerja disana. Dengan kata lain Direktur begitu bijaksana kepada semua karyawannya. Namun sekarang tidak lagi sementara pergantian Direktur baru." seorang laki-laki yang sepantaran kakak ketiganya juga ikut bersuara.
"Saya sebagai penanggung jawab bagian gudang dituduh telah mencuri uang padahal saya tidak melakukan hal itu. Bahkan mereka menunjukkan bukti ntah itu bukti asli atau bukti palsu. Tapi saya berani bersumpah kalau saya tidak melakukan hal itu, nona!" ucap pria yang hampir dipukul oleh pria tersebut.
"Jadi sejak pergantian Direktur baru, permasalahan sering timbul?"
"Benar, nona!"
"Apa kalian menceritakan masalah ini kepada kepada Oma Hilda atau kepada Nyonya Tantri dan Nyonya Indira. Bagaimana pun pabrik tempat kalian bekerja itu milik keluarga Fidelyo."
"Kami tidak berani nona."
"Kenapa?" tanya Kimberly bingung.
"Mereka mengancam kami dengan menculik kami secara acak. Kemudian mereka akan menyiksa kami dan mengurung kami selama tiga hari. Setelah itu, baru kami dilepaskan di hari keempat dalam kondisi tubuh kami yang tak baik-baik saja."
Kimberly membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari salah satu warga laki-laki yang bekerja sebagai karyawan pabrik milik keluarganya. Dia tidak menyangka jika orang-orang yang ada di pabrik tersebut akan melakukan hal serendah itu.
"Baiklah. Sekarang dengarkan aku. Untuk beberapa hari ini kalian tidak usah ke pabrik. Biarkan saja untuk beberapa hari ini pabrik kekurangan karyawan. Aku mau melihat apa yang dilakukan oleh mereka."
"Baik, nona!"
Setelah mengatakan itu, Kimberly memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Dia akan membahas masalah ini kepada keluarganya.