THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kejahilan Cathrine Dan Rere



Kimberly sudah sampai di rumahnya. Setelah pelajaran terakhir selesai. Kimberly dan yang lain memutuskan untuk pulang. Kimberly pulang bersama Billy dan Catherine. Untuk yang lainnya juga ikut mengantarkan Kimberly sekalian mereka juga ingin bermain di rumah Kimberly. Sekitar pukul 8 malam barulah mereka akan pulang ke rumah masing-masing. Mereka juga tidak lupa menghubungi anggota keluarga masing-masing dan memberi kabar keluarga mereka.


Kini semua berada di ruang tengah. Lengkap dengan kedua orang tua Kimberly dan keempat kakak-kakaknya. Mereka kini tengah membahas masalah Kimberly yang pulang dalam keadaan menangis sembari mengumandangkan nama Arlo.


"Sekarang ceritakan sama Mommy. Apa yang terjadi? Kenapa Kimberly pulang-pulang menangis? Dan ada apa dengan Arlo?"


"Apa Kimberly dan Arlo bertengkar?" tanya Fathir.


"Tidak, Dad!" Billy menjawabnya.


"Arlo pamit sama Kimberly untuk pergi ke Amerika Dad, Mom!" seru Aryan.


"Apa?"


Baik Fathir, Nashita maupun keempat putranya terkejut mendengar perkataan dari Aryan.


"Ada masalah apa sehingga membuat Arlo harus pergi ke Amerika?" tanya Uggy.


"Kalau yang kita dengar sih. Arlo pergi ke Amerika karena ingin mengurus pekerjaannya disana," jawab Triny.


"Berapa lama Arlo disana?" tanya Jason.


"Dua bulan," jawab Aryan.


"Kasihan Kimberly. Dia baru bertemu dengan Arlo setelah berpisah selama dua tahun lebih. Belum ada satu minggu. Kimberly kembali berpisah dengan Arlo," ucap Riyan.


Fathir melihat kearah Tommy.


"Tommy," panggil Fathir.


"Iya, om!" Tommy melihat kearah Fathir, ayahnya Kimberly.


"Kamu pasti sudah tahukan hubungan Kimberly dan Arlo?" tanya Fathir.


"Sudah, om! Aku diberitahu oleh Billy. Tapi terlambat," jawab Tommy.


"Yeey! Udah untung gue kasih tahu lo masalah hubungan Kimberly dan Arlo. Awalnya gue tidak berniat untuk memberitahu lo masalah hubungan Kimberly dan Arlo. Gue sengaja biar lo itu marah, dongkol dan cemburu melihat kedekatan Kimberly dengan Arlo. Ditambah lagi sikap perhatian dan kasih sayang Arlo terhadap Kimberly udah kayak perhatian dan sayang sama kekasih sendiri." Billy berbicara sambil memberikan pelototan kepada Tommy.


Sementara mereka semua sudah tersenyum mendengar perkataan dari Billy, termasuk Tommy.


"Jadi beneran kalau Tommy cemburu melihat kedekatan Kimberly dengan Arlo?" tanya Enda yang tersenyum melihat wajah Tommy.


"Bukan cemburu lagi Kak Enda. Tatapan matanya udah kayak mau makan orang hidup-hidup. Kalau Tommy mau tu si Arlo udah kena tonjokan dari Tommy karena sudah dekat-dekat dengan Kimberly," sahut Triny.


Mendengar perkataan dari Triny membuat Tommy mendengus kesal. Mereka yang melihat wajah kesal Tommy hanya tersenyum.


"Cemburu itu tandanya cinta. Bukankah begitu Tommy?" ucap dan tanya Fathir menggoda Tommy.


"Iya, om! Hehehehe." Tommy menjawab disertia kekehannya.


Mereka yang sedari tadi asyik membahas masalah hubungan Kimberly dan Arlo, tiba-tiba dikejutkan dengan suara langkah kaki.


TAP!


TAP!


TAP!


Mendengar suara langkah kaki tersebut. Mereka semua dengan kompak melihat kearah anak tangga. Dapat mereka lihat Kimberly yang melangkah menuruni anak tangga.


Mereka melihat Kimberly yang langsung melangkah menuju arah dapur.


Dan beberapa detik kemudian, mereka melihat Kimberly melangkahkan kakinya menuju ruang tengah dengan memegang sebotol susu pisang di tangan kanannya.


Mereka yang melihat hal itu tersenyum gemas, terutama kedua orang tuanya dan keempat kakak-kakaknya.


Setibanya di ruang tengah. Kimberly langsung menjatuhkan tubuhnya di samping kakak kesayangannya yaitu Jason Aldama. Kimberly meletakkan susunya di atas meja. Setelah itu, Kimberly menyenderkan kepalanya di bahu sang kakak.


Jason yang melihat adiknya yang tiba-tiba menyenderkan kepalanya di bahunya langsung paham. Adiknya saat ini pasti masih bersedih akan kepergian Arlo ke Amerika.


Melihat Kimberly yang menyenderkan kepalanya di bahu Jason. Fathir, Nashita, Billy, Aryan dan Triny tersenyum. Mereka mengerti dan paham akan sikap Kimberly. Kimberly akan mencari bahu kakak tertuanya jika hatinya lagi buruk.


"Ada apa, hum?" tanya Jason sembari membelai lembut rambut adiknya.


"Kakak... Hiks. Kak Arlo pergi lagi," jawab Kimberly disela isakannya.


Mendengar jawaban dan isakan dari Kimberly membuat mereka menjadi tidak tega.


"Kak! Kenapa Kak Arlo harus pergi? Kenapa Kak Arlo gak di negara ini aja? Kenapa Kak Arlo hobi banget datang dan pergi pergi ninggalin aku gitu aja." ucap dan tanya Kimberly.


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat mereka semua terkekeh geli. Dari nada yang diucapkan Kimberly sudah seperti sebuah lirih lagu.


"Kan Kak Arlo nya sudah minta izin sama kamu buat dia pergi ke Amerika. Dan dia juga sudah mengatakannya pada kamu jika dia hanya dua bulan disana." Jason berbicara lembut sembari tangannya masih bermain-main di kepala adiknya.


"Iya. Aku tahu kak. Tapi ini terlalu cepat. Hanya tiga hari aku bersama Kak Arlo. Ditambah lagi aku belum ngajak Kak Arlo menemui kakak, Kak Uggy, Kak Enda, Kak Iyan, Mommy dan Daddy."


"Tidak masalah jika Arlo gak sempat main kesini sayang. Pulang dari Amerika. Kan Arlo nya bisa main kesini," sahut Nashita.


"Siapa tahu ada hal yang sangat mendesak sehingga Arlo gak bisa batalin. Kamu harusnya paham itu sayang." Fathir juga ikut menghibur putrinya.


"Iya. Aku ngerti. Maaf!"


"Tidak! Kamu tidak salah. Hanya saja kamu itu terlalu takut jika terjadi sesuatu sama Arlo. Daddy tahu perasaan kamu saat ini."


Fathir memang sangat tahu apa yang dirasakan oleh putrinya akan Arlo yang tiba-tiba pergi ke Amerika. Ditambah lagi kepergian Arlo yang sangat mendadak.


"Kamu gak usah sedih lagi akan Arlo. Jika Arlo gak ada. Kan Tommy ada. Bukannya Tommy kekasih kamu, hum!" Nashita berbicara sembari menggoda putrinya.


"Aku sudah gak punya kekasih untuk saat ini. Statusku beberapa hari ini menjomblo. Ketika ada kak Arlo. Statusku sempat berubah untuk sesaat. Tapi sekarang kembali lagi menjomblo," sahut Kimberly dengan bibir dimanyunkan.


Mendengar perkataan dari Kimberly mereka hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"Lah. Bukannya kamu dan Tommy pacaran ya sayang?" tanya Fathir.


"Iya," jawab Kimberly.


Mendengar jawaban dari Kimberly mereka semua tersenyum lebar. Begitu juga dengan Tommy.


"Tapi itu beberapa hari yang lalu. Sekarang aku dan Tommy hanya berstatus mantan," ucap Kimberly melanjutkan perkataannya yang sempat terhenti.


"Hahahahaha."


Semuanya tertawa keras ketika mendengar perkataan kejam dari Kimberly yang mengatakan bahwa hubungan mereka hanya mantan.


Sementara Fathir, Nashita dan keempat kakak-kakaknya Kimberly hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan dari Kimberly. Mereka tahu jika Kimberly hanya bercanda dan sengaja mengerjai Tommy.


"Hei, saudara Kimberly Aldama! Aku ini berstatus kekasihmu. Dan kamu berstatus kekasihku. Jangan pernah kamu lupakan itu," ucap Tommy.


"Hei, saudara Tommy Alexander! Kamu sudah mutusin aku dan memilih perempuan comberan itu. Jangan pernah anda lupakan itu," balas Kimberly.


"Hahahahaha."


Mereka kembali tertawa ketika mendengar balasan dari Kimberly. Dan yang lebih keras tertawanya adalah Rere dan Cathrine. Rere dan Cathrine sangat senang dan bahagia ketika melihat wajah marah, wajah kesal dan wajah cemburu Tommy ketika melihat Kimberly bersama laki-laki lain.


"Sudahlah Tommy. Kamu nyerah aja. Kamu gak bakal bisa membalas setiap perkataan dari sahabat terbaik aku," sahut Rere.


"Kim. Kamu yang terbaik!" seru Cathrine dan Rere bersamaan.


"Yak! Sialan kalian berdua. Bukannya bantuin buat balikan sama Kimberly. Ini malah jadi kompor meleduk." Tommy berbicara kesal sambil menatap horor Rere dan Cathrine


"Memangnya situ siapa nya kita-kita?" tanya Rere meledek Tommy.


"Kalau mau minta bantuan. Minta noh bantuan dari Billy dan sahabat-sahabat kamu yang lainnya. Kamukan punya delapan sahabat dan satu sepupu." Cathrine berucap sembari meledek Tommy.


"Aku dan Rere kan sahabatnya Kimberly. Berarti kita ada di pihak nya Kimberly," ucap Cathrine lagi.


Lagi-lagi Fathir, Nashita dan keempat putranya geleng-geleng kepala mendengar dan melihat kelakuan dari keempat sahabat putrinya/adiknya dalam menyerang Tommy. Sementara Tommy sudah benar-benar kesal akan ulah dari kedua sahabat Kimberly.