
Riyan saat ini berada di sebuah cafe. Dirinya tidak sendirian melainkan bersama tiga rekan kerjanya. Baik Riyan maupun tiga rekan kerjanya itu tengah makan siang bersama karena proyek yang mereka kerjakan berhasil dikerjakan tanpa hambatan.
Proyek pembangunan yang mereka kerjakan bersama adalah jaringan telekomunikasi dan informatika yang mana ada lima desa yang berbatasan dengan kota Hamburg tidak memiliki jaringan telekomunikasi dan informatika sama sekali.
Jadi dengan kata lain, Riyan dan ketiga rekan kerjanya itu tengah merayakan keberhasilan akan proyek pembangunan telekomunikasi dan informatika untuk lima desa tersebut.
"Saya tidak menyangka jika proyek pembangunan yang kita kerjakan berhasil tanpa hambatan," sahut CEO perusahaan Arta Corp.
"Saya juga. Saya benar-benar bahagia. Proyek yang kita kerjakan tidak ada hambatan sama sekali. Apalagi proyek yang kita kerjakan ini sangat berguna untuk para para warga di sana," ucap CEO perusahaan Md'Rs Corp.
"Setidaknya dengan apa yang kita kerjakan bermanfaat untuk para warga-warga itu," ujar CEO perusahaan WTR'Flow.
Sedangkan Riyan hanya tersenyum mendengar perkataan dari tiga rekan kerjanya tentang keberhasilan proyek tersebut.
"Ini semua tak lepas dari kepintaran dan kecerdikan CEO Riyan. Kalau bukan karena teori-teori yang diberikan oleh CEO Riyan. Mungkin proyek pembangunan telekomunikasi dan informatika itu belum tentu berhasil didirikan," ucap Arta Corp.
Mendengar perkataan sekaligus pujian dari CEO perusahaan Arta Corp membuat Riyan hanya tersenyum.
"Keberhasilan proyek ini adalah keberhasilan kita bersama. Jangan terlalu memuji saya. Kalau anda terlalu memuji saya. Bisa-bisa saya terbang keatas dan nggak akan pernah turun lagi," ucap Riyan disertai senyuman manisnya.
Mendengar perkataan merendah dari Riyan membuat CEO perusahaan Arta Corp, CEO perusahaan Md'Rs Corp Dan CEO perusahaan WTR'Flow tersenyum bangga. Mereka benar-benar beruntung bisa bekerja sama dengan perusahaan RYN'Aldm milik Riyan.
CEO perusahaan Md'Rs melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Setelah itu, CEO tersebut kembali menatap tiga rekan kerjanya bergantian.
"Dikarenakan waktu sudah pukul 11 siang. Saya meminta izin untuk kembali ke perusahaan. Dua jam lagi saya akan mengadakan rapat bersama beberapa rekan kerja yang bekerja sama dengan perusahaan saya."
"Kalau begitu kami juga ingin kembali ke perusahaan!" seru CEO perusahaan WTR'Flow dan Arta Corp secara bersamaan.
Baik Riyan maupun ketiga rekan kerjanya sudah dalam posisi berdiri. Mereka kemudian saling berjabat tangan sebagai tanda untuk mengakhiri obrolan kecil mereka.
Setelah selesai, ketiga rekan kerjanya Riyan pergi meninggalkan cafe itu. Sementara Riyan masih berada disana.
Kini tinggallah Riyan sendirian. Dirinya saat ini benar-benar bahagia karena proyeknya berhasil dan berjalan lancar. Ini adalah proyek yang kesekian kalinya untuk Riyan.
Ketika Riyan sedang sendirian dengan menikmati sisa minumannya, tiba-tiba Riyan dikejutkan dengan suara keributan. Bukan hanya Riyan saja yang terkejut, namun semua pengunjung cafe itu juga terkejut.
Riyan melihat keasal suara keributan itu. Dan dapat Riyan lihat sosok wanita cantik yang amat sangat familiar baginya sedang diganggu oleh tiga wanita.
"Vina," ucap Riyan setelah mengingat sosok wanita itu.
Sosok wanita yang dilihat oleh Riyan adalah Vina, sahabat perempuannya, sahabat terbaik sejak duduk SMP, SMA sampai kuliah. Selesai kuliah, keduanya putus kontak.
***
Suasana sekolah masih terlihat hening dimana semua murid-murid masih dalam proses belajar mengajar. Beberapa menit yang lalu semua murid-murid baru selesai menikmati jam istirahatnya. Dan sekarang mereka kembali bertarung dengan mata pelajaran berikutnya.
Ketika kelas Kimberly tengah fokus mengikuti pelajaran matematika, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Tok.. Tok.. Tok..
Cklek..
Pintu dibuka oleh seorang guru perempuan. Baik guru yang mengajar maupun para murid-murid yang ada di dalam kelas langsung melihat kearah guru perempuan yang berdiri di depan pintu.
"Ada apa ya ini Wirda?" tanya guru yang mengajar di kelas Kimberly.
"Ach, begini ibu Dila. Saya kesini hanya ingin memanggil siswi yang bernama Kimberly. Kepala sekolah menyuruhnya untuk datang ke kantor."
Ibu Dila langsung melihat kearah Kimberly yang saat ini melihat kearah ibu guru Wirda.
"Silahkan Kimberly," ucap ibu guru Dila.
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat ibu guru Wirda tersenyum. Begitu juga dengan ibu guru Dila. Tidak perlu diberitahu, mereka juga tahu bahwa Kimberly murid yang baik dan ramah. Kimberly tidak pernah mengusik teman-temannya.
"Memangnya jika kepala sekolah memanggil muridnya untuk datang ke kantor harus melakukan kesalahan dulu, hum?" tanya ibu guru Wirda tersenyum.
Mendengar pertanyaan dari ibu guru Wirda membuat Ibu guru Dila tersenyum. Begitu juga dengan keempat sahabatnya dan teman-teman sekelasnya, kecuali Syafina, keempat teman-temannya dan keempat teman-temannya Talitha.
Sementara Kimberly seketika menjadi malu akan pertanyaan tersebut.
"Ya, sudah! Temuilah kepala sekolah sekarang. Jangan buat beliau terlalu lama menunggu. Jika itu terjadi, berarti kamu telah melakukan satu kesalahan!" Ibu guru Dila berucap sembari menggoda Kimberly.
Kimberly langsung berdiri dari duduknya. "Ah, iya! Saya akan langsung menemui kepala sekolah di ruangannya!"
Setelah itu, Kimberly langsung pergi meninggalkan kelas dengan buru-buru sehingga membuat ibu guru Wirda, ibu guru Dila, keempat sahabatnya dan teman-teman sekelasnya seketika tertawa melihat tingkah Kimberly yang menurut mereka lucu.
"Hahahahaha."
^^^
Kini Kimberly sudah berada di ruang kepala sekolah. Setibanya disana, Kimberly disambut dengan sangat baik oleh kepala sekolah.
"Ada apa ya Pak? Kenapa menyuruh saya kesini?" tanya Kimberly sembari menatap wajah kepala sekolah dan juga menatap wajah dua pasangan laki-laki dan perempuan yang duduk di hadapannya.
"Begini Kimberly," ucap kepala sekolah itu.
"Jadi gadis ini yang bernama Kimberly," batin sepasang suami istri itu.
"Mereka ini adalah kedua orang tuanya Arlo Fernandes, pemilik sekolah ini."
Deg...
Seketika Kimberly terkejut ketika mendengar ucapan dari kepala sekolah yang mengatakan bahwa sepasang suami istri yang ada di hadapannya ini adalah kedua orang tuanya Arlo.
"Salam kenal nak Kimberly. Kenalkan Tante adalah ibunya Arlo. Dan ini ayahnya Arlo."
"Sa-saya Kimberly," jawab Kimberly gugup.
Mendengar nada gugup Kimberly membuat kepala sekolah dan kedua orang tuanya Arlo tersenyum.
^^^
Di kelas 1 IPA 1 tampak heboh. Bukan heboh karena ada yang ribut, melainkan heboh karena mereka penasaran Kimberly yang dipanggil oleh kepala sekolah.
"Re, kira-kira apa alasan kepala sekolah memanggil Kimberly?" tanya Sinthia yang duduk di sampingnya.
"Mana aku tahu. Kita kan semuanya disini," jawab Rere.
"Aish! Setidaknya lo kan bisa mikir alasan kepala sekolah memanggil Kimberly.
"Males. Mendingan gue mikirin yayang gue," jawab Rere.
Mendengar jawaban yang tak mengenakkan dari Rere membuat Sinthia mempoutkan bibirnya kesal.
Sementara Santy dan Catherine tersenyum mendengar jawaban dari Rere dan melihat wajah kesal Sinthia. Begitu juga dengan Sisil yang saat ini duduk bersama Santy.
Yah! Kimberly memiliki empat sahabat. Berarti jumlah mereka ada lima. Dan dengan kata lain, satu orang yang tidak berpasangan. Sisil yang menjadi pelengkapnya di kelas.
Baik Kimberly maupun keempat sahabatnya akan bergantian duduk di sebelah Sisil. Bahkan selama di dalam kelas, Kimberly dan keempat sahabatnya selalu mengikut sertakan Sisil dalam obrolan kecil mereka.