THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Berpamitan



Masih suasana di Kantin. Dan masih dalam suasana tegang dimana Tommy yang bersikap posesiv terhadap Kimberly dan menatap tajam Arlo.


Tommy menarik pinggang ramping Kimberly dan membawanya ke pelukannya. Melihat apa yang dilakukan oleh Tommy membuat keempat sahabatnya Kimberly, Billy, Triny, Aryan, Andhika dan para sahabatnya tersenyum geli. Begitu juga dengan Arlo dan ketiga sahabatnya.


"Kimberly milik gue. Kimberly kekasih gue. Dan Kimberly calon istri gue. Jadi gue peringatkan kepada lo, tuan Arlo! Jangan mengganggu gadis gue," ucap Tommy dengan menatap tajam Arlo.


"Aish! Apaan sih Tommy. Aku bukan milik kamu. Aku bukan kekasih kamu. Dan aku bukan calon istri kamu. Kamu adalah mantan aku dan berada diurutan kedua. Dan siapa juga yang mau menikah dengan laki-laki seperti kamu. Ogah!" Kimberly berbicara dengan wajah super masamnya.


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat keempat sahabatnya Kimberly, Billy, Andhika, Triny, Aryan dan para sahabatnya tersenyum gemas. Dan tersenyum mengejek kearah Tommy.


Sementara Tommy menatap wajah Kimberly dengan memperlihatkan wajah sedihnya.


Kimberly yang melihat wajah sedih Tommy sama sekali tidak berpengaruh. "Gak usah sok sedih gitu. Gak mempan,"


"Hahahahaha." seketika tawa para sahabat-sahabatnya pun pecah.


"Kasihan sekali nasibmu, Nak!" ejek Andry.


"Sialan lo," kesal Tommy.


Arlo mendekatkan wajahnya ke telinga Kimberly, lalu membisikkan sesuatu disana sehingga membuat Kimberly tersenyum lebar.


"Ternyata pacar kamu itu posesiv juga ya. Kamu harus perbanyak sabar jika sifat posesivnya kambuh."


Setelah membisikkan kata-kata itu. Arlo menjauhkan tubuhnya dari Kimberly. Dirinya tidak mau dimakan hidup-hidup oleh Tommy.


Melihat Kimberly tersenyum akibat ulahnya Arlo membuat Tommy menatap tak suka Arlo. Tapi Tommy bukanlah tipe orang yang suka memukul orang lain jika sedang cemburu. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya.


Tommy menyentuh wajah Kimberly, lalu memutarnya agar melihat wajahnya.


"Kamu hanya boleh melihat wajahku. Dan hanya boleh tersenyum karena ulahku. Bukan orang lain," ucap Tommy


Mendengar perkataan dari Tommy membuat Kimberly melotot. Sementara yang lainnya tersenyum.


"Yeeey! Mana bisa begitu. Kalau kedua orang tuaku, keempat kakak-kakakku, Billy, Aryan, dan Triny yang jadi tersangkanya. Apa aku juga dilarang tersenyum dan dilarang melihat wajah mereka?" tanya Kimberly dengan melototkan matanya.


"Tidak begitu juga sayangku. Maksudku itu orang-orang yang tidak ada hubungannya denganmu," jawab Tommy dengan membelai lembut wajah Kimberly.


"Terus sahabat-sahabatnya kamu yang juga sahabat-sahabatnya Billy, sahabat-sahabatnya Aryan, sahabat-sahabatnya Triny dan sahabat-sahabat aku, bagaimana?" tanya Kimberly dengan wajah menantangnya.


Mendengar pertanyaan dari Kimberly yang ditujukan untuk Tommy membuat mereka yang ada di kantin tersenyum.


"SKAK MAT!" seru para sahabatnya.


"Bagaimana Tommy? tanya Mirza sembari tersenyum jahil.


"Elu gak bakal bisa menang melawan adek gua, Tommy!" seru Triny.


"Hahahaha." mereka semua tertawa.


Mendengar ledekan dari sahabat-sahabatnya membuat Tommy mendengus kesal.


"Kimberly," panggil Arlo.


Kimberly langsung menolehkan wajahnya melihat kearah Arlo. Dan dapat dilihat oleh Kimberly bahwa Arlo ingin berbicara dengannya.


"Iya, Kak!"


"Bisa ikut Kakak sebentar. Ada sesuatu yang ingin Kakak sampaikan dan juga sesuatu yang sudah lama ingin Kakak berikan padamu."


"Baiklah," jawab Kimberly.


Mendengar jawaban dari Kimberly. Arlo langsung menarik pelan tangan Kimberly lalu membawanya ke taman tempat biasanya Kimberly menenangkan diri.


Melihat kepergian Kimberly dan Arlo. Tommy mengikuti keduanya. Tommy tidak ingin jika Kimberly gampang dipengaruhi oleh Arlo. Apalagi kalau sampai Kimberly menerima lamaran dari Arlo. Jika hal itu benaran terjadi. Tommy bisa gila. Tommy tidak akan membiarkan Arlo merebut Kimberly.


Melihat Tommy yang pergi menyusul Kimberly dan Arlo membuat Billy, Aryan, Triny dan yang lainnya menjadi takut. Mereka takut jika Tommy nekat menghajar Arlo.


Kini Kimberly dan Arlo sudah berada di sebuah taman yang ada beberapa meter dari sekolah. Kimberly dan Arlo duduk disana.


"Sebenarnya kak Arlo mau ngomong apa? Jangan ngomong macam-macam. Hanya boleh satu macam saja," ucap Kimberly.


Arlo seketika tertawa ketika mendengar perkataan dari Kimberly yang mengatakan bahwa dia hanya diperbolehkan berbicara satu macam saja.


"Kamu ini gak pernah berubah ternyata. Kamu selalu saja memberikan peringatan dan ancaman kepada lawan bicara kamu." Arlo berbicara sambil tersenyum.


"Kalau gak gitu. Orang yang menjadi lawan bicaraku itu akan bicara seenaknya saja tanpa memikirkan perasaanku," jawab Kimberly.


Arlo terkekeh mendengar jawaban dari Kimberly, lalu tangannya mengacak-acak rambutnya.


"Kakak langsung saja ya. Begini, kakak mau minta izin sama kamu untuk pergi ke Amerika selama 2 bulan. Ada pekerjaan yang harus kakak selesaikan disana. Setelah semuanya selesai. Kakak akan balik lagi ke negara ini."


Kimberly langsung membelalakkan kedua matanya ketika mendengar Arlo yang mengatakan bahwa dirinya akan pergi ke Amerika selama dua bulan.


"Dua bulan itu lama kak! Gak bisa dikurangi," tawar Kimberly.


Arlo tersenyum. "Mana bisa Kimberly. Kakak sudah buat janji sama orang disana."


"Kenapa sih kakak hobi banget datang dan pergi sesuka hati kakak," ucap Kimberly dengan mempoutkan bibirnya.


"Hahahaha."


Arlo seketika tertawa keras ketika mendengar perkataan dari Kimberly. Begitu juga dengan keempat sahabatnya, Billy, Aryan, Triny, Tommy, Andhika dan yang lainnya. Mereka semua tertawa mendengar perkataan Kimberly.


"Kayak lirik lagu aja," ucap Danela.


"Yak! Kenapa Kak Arlo tertawa? Gak lucu tahu." Kimberly merengut kesal.


"Oke... Oke! Kakak minta maaf. Ketika kita di SMP dulu kakak memang pergi tanpa pamit. Bahkan kakak menghilang tanpa jejak sehingga gak ada satupun yang tahu dimana kakak berada. Dan tiba-tiba kakak kembali dan langsung mendatangi kamu."


"Iya. Kakak itu tak jauh beda sama jelangkung. Kalau jelangkung itu datang tak dijemput. Pulang tak diantar. Sementara kakak adeknya jelangkung."


"Enak aja ngatain kakak adeknya jelangkung." Arlo pura-pura kesal akan ucapan Kimberly.


Hening beberapa saat. Dan tidak ada yang bersuara.


Kimberly melirik ke samping dan melihat kearah wajah Arlo. Sementara Arlo yang sadar dilirik oleh Kimberly masih memperlihatkan wajah sedihnya. Arlo ingin menjahili Kimberly.


"Kak Arlo," panggil Kimberly.


Dikarenakan tidak mendapatkan jawaban dari Arlo membuat Kimberly mendengus kesal. Kimberly menolehkan wajahnya melihat kearah Arlo yang sedang menatap ke depan.


"Saudara Arlo Fernandes yang terhormat. Apakah anda mendengarkan panggilan dari saya!" seru Kimberly dengan menatap masam Arlo.


Billy, Tommy dan yang lainnya sudah tertawa melihat Kimberly yang dikacangin oleh Arlo. Saat ini wajah Kimberly benar lucu, imut dan menggemaskan.


"Aish! Kakak Arlo,"


Mendengar suara lirih Kimberly membuat Arlo tak tega. Dan pada akhirnya, Arlo memalingkan wajahnya ke samping dan melihat wajah sedih, kesal dan lucu Kimberly. Arlo tersenyum gemas melihatnya.


"Dek. Kakak rindu kamu sayang. Jika kamu masih ada di dunia ini, lalu kakak pertemukan kamu dengan Kimberly. Mungkin kalian berdua layaknya saudari kembar. Dan seandainya jika itu terjadi. Kakak lah orang yang paling bahagia karena memiliki dua adik perempuan yang cantik, lucu, pintar, periang dan baik hati. Namun takdir berkata lain. Sebelum niat kakak tersampaikan. Tuhan terlebih dahulu mengambil kamu dari sisi kakak," batin Arlo.


Arlo mengelus lembut rambut Kimberly. "Kakak sayang kamu Kimberly. Terima kasih sudah hadir dalam kehidupan Kakak. Kakak bahagia bertemu kamu."


"Kakak," lirih Kimberly ketika melihat Arlo yang sudah menangis.


"Kakak gak perlu berterima kasih padaku. Aku juga bahagia dipertemukan dengan Kakak. Aku juga bahagia jadi adiknya kakak. Ketika masih di SMP dulu. Kakak selalu jagain aku dan juga ngelindungi aku. Kakak selalu ada untuk aku. Sifat kakak itu sama seperti ketiga kakak sepupu aku. Terima kasih kak!"


Arlo tersenyum hangat ketika mendengar perkataan tulus dari Kimberly.


Mendengar pembicaraan Kimberly dan Arlo. Tommy pun akhirnya menjadi paham dan mengerti akan hubungan Kimberly dan Arlo.


"Billy. Aku paham sekarang akan hubungan Kimberly dan Arlo," ucap Tommy dengan tatapan matanya menatap kearah Kimberly dan Arlo.


"Syukurlah akhirnya kamu menyadarinya Tommy. Arlo dekat dengan Kimberly bukan karena Arlo berniat ingin merebut Kimberly dari kamu. Arlo sayang dan perhatian dengan Kimberly layaknya dengan adeknya sendiri. Arlo sudah menganggap Kimberly sebagai adeknya sendiri. Aku, Aryan, Triny dan anggota keluarga sudah tahu hal itu." Billy berbicara sambil menatap kearah Kimberly dan Arlo.


"Beberapa hari ini Arlo memang sengaja menjahili kamu dengan kata-kata romantisnya untuk Kimberly. Bahkan Arlo juga menunjukkan sikapnya sebagai layaknya seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta dengan wanita idamannya. Arlo melakukan semua itu hanya untuk membuat kamu cemburu dan juga ingin mengetes kamu." Triny ikut berbicara tentang kedekatan Kimberly dan Arlo.


"Ditambah lagi hubungan kak Tommy dan Kimberly sedang bermasalah gara-gara Kak Tommy mutusin Kimberly gitu aja. Jadi kak Arlo memanfaatkan situasi tersebut dengan sebaik-baiknya untuk membuat Kak Tommy kesal dan marah. Dan rencana Kak Arlo berjalan sangat sempurna." Aryan menambahkan.


Mereka terus melihat dan mendengar pembicaraan Kimberly dan Arlo. Bahkan sesekali mereka tersenyum geli ketika mendengar ucapan demi ucapan yang diucapkan oleh Arlo.


"Bagaimana? Diizinkan gak?" tanya Arlo.


"Kenapa nanya sama aku? Sekali pun kau jawab gak. Kakak tetap kekeh untuk pergi. Jadi gak ada gunanya juga aku menjawab pertanyaan kakak gak bermutu itu," sungut Kimberly.


"Hahahaha." Arlo tertawa. Tangannya mengacak-acak rambut Kimberly. "Gadis pintar. Ternyata kamu memang sudah merasa kalau kakak akan tetap akan pergi."


"Kak."


"Ada apa, hum?"


"Harus ya?"


"Iya, Kim! Hanya kakak yang bisa ngerjain pekerjaan itu. Itu semua juga untuk kepentingan bersama. Termasuk kakak sendiri. Suatu saat nanti kamu akan tahu."


"Baiklah. Aku izinkan kakak pergi. Tapi kakak harus janji. Setelah dua bulan. Kakak harus balik lagi kesini. Jangan sampai kakak bohongi aku."


"Pasti. Kakak akan balik sesuai janji kakak. Percayalah!"


"Aku percaya."


Arlo tersenyum dan tangannya kembali membelai rambut Kimberly dan tak lupa memberikan kecupan sayang di kening Kimberly.


"Oh iya! Kakak hampir lupa!" seru Arlo sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


Arlo mengeluarkan sebuah kotak merah. Kemudian Arlo memberikan kotak itu kepada Kimberly.


"Ini."


"Apa ini Kak?"


"Buka saja. Nanti kamu tahu isinya apa."


Kimberly langsung membuka kotak merah itu. Setelah kotak itu terbuka. Seketika Kimberly membelalakkan kedua matanya.


"Kak. Inikan kalung aku. Jadi...,"


"Iya. Itu memang kalung kamu. Kakak mendapatkannya dari teman yang suka cari masalah dengan kamu ketika di SMP dulu."


"Kok bisa?"


"Kamu masih ingat ketika kamu bertengkar dan ribut dengan musuh bebuyutan kamu itu? Ketika itu kamu gak sadar bahwa musuh bebuyutan kamu itu berhasil merebut kalung kamu itu."


Kimberly berusaha mengingat kejadian ketika di SMP dulu. Dan detik kemudian, Kimberly pun mengingat akan kejadian itu.


"Kakak, terima kasih. Kalung ini sangat berharga bagiku. Aku seperti orang gila ketika sadar kalung ini udah gak ada di leher aku!"


"Sama-sama cantik. Sini Kakak pakaikan."


Kimberly memberikan kalung itu kepada Arlo. Setelah itu, Arlo pun memasangkan kalung itu ke leher Kimberly.


"Cantik," puji Arlo ketika kalung itu sudah terpasang di leher Kimberly.


"Terima kasih Kak Arlo."


"Sama-sama sayang."


GREP!


Arlo memeluk tubuh Kimberly. "Selama kakak berada di Amerika. Jaga diri baik-baik. Jangan sakit lagi. Hiduplah dengan baik. Berbaikanlah dengan Tommy. Jangan lama-lama marahnya. Kamu mau Tommy berpaling dengan perempuan lain? Kamu mau Tommy digoda sama perempuan lain?"


"Gak mau... Gak mau! Gak ada yang boleh ngerebut Tommy aku. Tommy hanya milik Kimberly Aldama."


Arlo tersenyum mendengar jawaban dari Kimberly. Begitu juga Tommy dan yang lainnya yang saat ini masih setia melihat dan mendengar pembicaraan Kimberly dan Arlo.


Setelah puas memeluk Kimberly. Arlo pun melepaskan pelukannya. Arlo menatap wajah cantik Kimberly, lalu memberikan kecupan sayang di keningnya.


"Ya, sudah! Kalau begitu kakak pergi sekarang. Takutnya teman kakak sudah menunggu."


Arlo pun langsung pergi meninggalkan Kimberly. Seketika air matanya jatuh membasahi wajah cantiknya.


Tommy, Billy, Aryan, Triny, keempat sahabatnya dan para sahabat dari Billy, Aryan dan Triny juga ikut menangis ketika melihat Kimberly yang harus berpisah lagi dengan Arlo.


Baik Billy, Aryan dan Triny sudah menceritakan soal kedekatan Kimberly dan Arlo. Ketika mendengar cerita dari ketiganya. Mereka turut bahagia akan hubungan Kimberly dan Arlo.