
Keesokkan harinya Tommy para sahabatnya sudah berada di sekolah termasuk Billy, Triny, Aryan, Risma beserta para sahabatnya dan keempat sahabatnya Kimberly.
Seperti biasa saat ini mereka tengah berada di kantin. Mereka mengisi perut terlebih dahulu sebelum masuk ke kelas. Padahal sebelum berangkat ke sekolah, mereka sudah sarapan terlebih dahulu di rumah.
"Nanti kita bawakan apa untuk Kimberly?" tanya Lisa kepada Triny dan semuanya yang ada di hadapannya.
"Jika kalian ingin membawakan sesuatu untuk Kimberly. Bawakan saja cemilan kesukaannya. Kimberly sudah senang tuh," sahut Aryan sembari menyeruput teh manisnya.
"Iya, Aryan benar tuh! Kimberly orangnya nggak milih-milih soal makanan dan minuman. Dan dia juga orangnya nggak ribet," sela Triny.
"Ingat! Belinya jangan banyak-banyak," sahut Risma tiba-tiba.
Mendengar perkataan dari Risma. Semua mata menatap kearah Risma. Mereka bingung dan juga penasaran akan perkataan Risma tersebut.
"Kenapa memangnya?" tanya Dania.
"Kamu nggak senang jika kita-kita bawakan banyak makanan untuk Kimberly?" tanya Danela.
Mendengar pertanyaan dari dua sahabat Triny yaitu Dania dan Danela membuat Risma langsung menatap keduanya.
Tanpa mau menjelaskan maksud dari perkataannya. Ditambah lagi Risma yang tidak ingin repot-repot untuk menjelaskan. Risma langsung menunjuk kearah Rere yang sedang menyeruput jus pokatnya dengan dagunya.
"Noh, orang yang sedang menikmati jus pokatnya!" seru Risma.
Baik Triny dan keempat sahabatnya, Aryan dan kelima sahabatnya, Billy, Tommy, Andhika dan sahabat-sahabatnya serta Santy, Sinthia dan Catherine menatap kearah Rere.
Seketika Rere menghentikan menyeruput jus pokatnya lalu matanya menatap satu persatu orang-orang yang ada di samping dan di hadapannya kini tengah menatap dirinya.
"Kenapa pada lihatin gue?" tanya Rere.
Semuanya kembali menatap kearah Risma. Mereka saat ini butuh kejelasan.
"Kan lo yang dapat tugas dari si anak kelinci itu untuk membawakan banyak makanan dan minuman ketika mengunjungi Kimberly," sahut Risma.
"Terus apa masalahnya?" tanya Rere kesal.
"Nggak ada. Gue cuma ingatin mereka kalau mau beli makanan atau minuman jangan banyak-banyak. Keenakan kamunya nanti," balas Risma.
Setelah mengatakan itu, Risma kembali fokus pada nasi gorengnya. Dirinya tidak peduli tatapan kesal dari Rere. Di dalam hati Risma sudah tersenyum karena sudah berhasil menjahili Rere di hari yang masih pagi ini.
Sementara Triny dan keempat sahabatnya, Aryan dan kelima sahabatnya, Billy, Andhika dan sahabat-sahabatnya termasuk Henry, Santy Sinthia dan Catherine tersenyum ketika mendengar jawaban dari Risma yang seenaknya. Dan melihat wajah syok Rere akan jawaban dari Risma.
Lalu bagaimana dengan Rere? Rere menatap kesal Risma bersamaan dengan bibirnya yang bergerak menggeluarkan sumpah serapah dan mengabsen semua nama-nama kebun binatang untuk Risma.
Ketika mereka semua tengah menikmati sarapan paginya sembari bercerita, mengobrol dan bercanda. Seketika mereka semua terkejut ketika mendengar dan melihat kedatangan dua murid perempuan.
"Tommy!"
"Andhika!
Grep..
Mereka semua terkejut ketika melihat apa yang dilakukan oleh kedua murid perempuan itu. Kedua murid perempuan itu tanpa ada rasa malunya sama sekali langsung memeluk tubuh Tommy dan Andhika.
"Aku kangen kamu," ucap kedua murid perempuan itu bersamaan.
Tommy dan Andhika sudah mengepalkan kuat kedua tangannya ketika mendengar panggilan serta pelukan yang diberikan oleh dua murid perempuan itu.
"Lepas!"
Tommy dan Andhika berusaha berbicara lembut terhadap dua murid perempuan itu dengan tangannya menyingkirkan tangan gadis itu dari lehernya.
"Kok gitu sih," ucap murid perempuan itu kepada Andhika.
"Aku masih kangen sama kamu, Tommy!" ucap murid perempuan satunya kepada Tommy.
Tommy dan Andhika seketika menarik paksa tangan murid perempuan itu dan sedikit merematnya sehingga membuat dua murid perempuan itu meringis kesakitan.
Tommy dan Andhika berdiri sambil masih memegang tangan murid perempuan itu. Kemudian Tommy dan Andhika membalikkan badannya dan menatap wajah murid perempuan tersebut.
Dan detik kemudian..
Tommy dan Andhika langsung menyentak kuat tangan murid perempuan itu sehingga membuat kedua murid perempuan itu terkejut.
"Tommy!"
Kedua murid perempuan itu menatap sedih dan tak percaya kearah Tommy dan Andhika.
"Jangan sembarang memeluk orang. Kita nggak saling kenal," ucap Andhika dengan wajah dinginnya.
"Jadi perempuan itu harus bisa jaga harga diri. Jangan terlalu murahan. Itu tidak baik. Ditambah lagi kita tidak memiliki hubungan apa-apa," sahut Tommy ketus dan dingin.
Setelah mengatakan itu, Tommy dan Andhika kembali menduduki pantatnya dan kembali melanjutkan sarapannya.
Sementara dua murid perempuan itu seketika syok akan perkataan dari Tommy dan Andhika.
"Kalian berdua sejak kapan menjadi murid sekolah ini. Aku dan kita semua disini baru hari melihat kalian," ucap dan tanya Triny sembari tatapan matanya menatap tak suka kearah dua murid perempuan itu.
"Baru hari ini kamu menjadi murid sekolah ini," siswi pertama.
"Kami berada di kelas 3 IPA 6," jawab siswi kedua.
"Terus kenapa kalian tiba-tiba datang kesini?" tanya Billy.
"Bahkan kalian dengan lancangnya berani memeluk kedua sahabat kami," ucap Andry dengan tatapan tak sukanya.
Bukan hanya Billy dan yang lainnya yang memberikan tatapan tak suka kepada dua murid perempuan itu. Semua penghuni kantin juga memberikan tatapan tak sukanya terhadap kedua murid perempuan itu.
"Aku adalah kekasihnya Tommy. Namaku adalah Molly Malachy."
"Aku juga kekasihnya Andhika. Namaku Sheela Shanley."
Mendengar perkataan sekaligus pengakuan dari dua murid perempuan tersebut membuat mereka semua terkejut. Dan yang lebih terkejut diantara mereka adalah Tommy, Andhika dan Triny.
Tommy dan Andhika tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar ucapan dari Molly dan Sheela. Mereka tidak habis pikir akan ucapan dari dua murid perempuan yang menurutnya gila.
Tommy seketika berdiri dari duduknya lalu menatap wajah Molly yang juga tengah menatap dirinya.
"Jangan asal menyebarkan berita. Kalau apa yang kamu ucapkan itu tidak benar, maka habislah hidup kamu!"
Setelah mengatakan itu, Tommy langsung pergi meninggalkan kantin dan meninggalkan Molly.
Detik kemudian, Andhika berdiri dari duduknya dan menatap wajah Sheela.
"Aku sama kamu tidak memiliki hubungan apapun. Aku bukan kekasih kamu. Dan kamu bukan kekasihku. Jadi, aku minta padamu untuk tidak menyebarkan fitnah di sekolah ini."
Sama halnya dengan Tommy. Andhika pergi meninggalkan Sheela dan semuanya setelah mengatakan hal itu kepada Sheela. Jika terlalu lama melihat wajah Sheela, bisa-bisa masuk rumah sakit anak perempuan orang.
Melihat kepergian Tommy dan Andhika membuat semua secara bersamaan berdiri dari duduknya. Mereka semua menatap jijik kearah Molly dan Sheela terutama Billy, Triny dan Aryan.
Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan kantin. Mereka tidak ingin berlama-lama melihat wajah dua gadis perusak hubungan orang.
Setelah kepergian Tommy, Andhika dan kelompoknya. Seketika terdengar suara ejekan dari penghuni kantin.
"Huuu!"
"Dasar nggak tahu malu!"
"Malu tuh ngaku-ngaku pacarnya Tommy dan Andhika!"
"Ngaca dong!"
"Mereka itu sudah punya pacar tahu!"
"Jangan jadi gadis jahat. Nggak enak tahu!"
"Jangan menghayal deh!"
Mendengar ucapan demi ucapan dan ejekan dari para penghuni kantin membuat Molly dan Sheela mengepalkan kuat kedua tangannya. Mereka menatap tajam kearah para penghuni kantin yang saat ini masih membicarakan mereka berdua.
Karena sudah tidak tahan akan ucapan dari para penghuni kantin. Molly dan Sheela memutuskan pergi meninggalkan kantin.
Baik Molly maupun Sheela bersumpah akan membalas orang-orang yang sudah menghinanya dan mempermalukan dirinya.