
"Kak Rica. Kita mau kemana? Dari tadi mutar-mutar mulu," ucap dan tanya Kimberly.
Kimberly dan Rica saat ini berada di sebuah mall terkenal di kota Hamburg. Sejak menginjakan kaki di dalam mall. Rica sudah sepuluh toko yang dikunjunginya.
Namun dari sepuluh toko itu tidak ada barang yang cocok di matanya sehingga berakhir Rica kembali berkeliling mall untuk melihat toko yang berjejer di sekitarnya.
Melihat kelakuan calon kakak iparnya itu membuat Kimberly menghela nafas pasrahnya. Dengan wajah kesal, Kimberly tetap melangkah mengikuti Rica.
Sementara Rica yang melihat kekesalan dari Kimberly seketika tersenyum. Dirinya sengaja menjahili Kimberly karena memang sangat rindu dengan wajah kesal Kimberly. Beberapa hari ini Rica tidak bertemu Kimberly. Begitu juga dengan Jason dan keluarga Aldama.
Rica seketika menarik tubuh Kimberly lalu memeluknya. "Jangan cemberut gitu dong. Nanti setelah ini kita makan enak. Dan kamu bebas mau makan apa."
Seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly. Lalu Kimberly menatap wajah Rica. Begitu juga dengan Rica.
"Benarkah?"
"Hm!"
"Sepuasnya?"
"Iya, sepuasnya!"
"Aku boleh mesan apa aja?"
"Iya."
"Oke!"
Setelah melakukan kesepakatan, Kimberly dan Rica kembali mengelilingi luasnya mall dan memasuki satu persatu toko-toko yang ada di dalam mall tersebut.
^^^
Rica dan Kimberly memasuki sebuah toko yang menjual berbagai macam jam tangan dan dompet bermerek pria. Ketika keduanya melangkah masuk ke dalam toko itu, terukir senyuman manis di bibir keduanya.
"Kak Rica. Bagaimana kalau kakak belikan jam tangan dan dompet untuk kak Jason? Secara kan dua benda itu pasti akan selalu dibawa kemana pun kak Jason pergi. Ditambah lagi kak Jason memang suka sekali memakai jam tangan jika ingin berpergian."
Mendengar usulan dari Kimberly. Rica langsung menyetujuinya. Rica juga membenarkan apa yang dikatakan oleh Kimberly tentang Jason bahwa Jason memang suka memakai jam tangan jika berpergian.
"Ide yang bagus. Kenapa kakak nggak kepikiran kesitu ya!" ucap Rica sembari melihat-lihat koleksi jam tangan. Sementara Kimberly melihat koleksi dompet pria.
Mendengar perkataan dari calon kakak iparnya itu, Kimberly pun menjawabnya sembari membuat calon kakak iparnya itu kesal.
"Itu dikarenakan kakak Rica yang bodoh."
Mendengar perkataan kejam dari Kimberly, seketika Rica menatap horor kearah Kimberly. Dirinya memasang wajah garangnya di hadapan Kimberly.
"Beraninya kamu bilang kakak bodoh."
"Beranilah. Buktinya aja aku barusan bilang begitu untuk kak Rica." Kimberly memasang wajah tak bersalahnya di hadapan Rica.
Tak!
"Aww! Kimberly mengelus-elus keningnya akibat jitakkan dari Rica.
Rica memberikan satu jitakkan di kening Kimberly karena kesal akan jawabannya. Bahkan wajah Kimberly tidak terlihat rasa bersalah dan berdosa sama sekali ketika mengatakan kata itu untuknya.
Sementara beberapa pelayan yang ada di toko itu tersenyum melihat interaksi antara Kimberly dan Rica.
Setelah berhasil membalas kelakuan calon adik iparnya itu, Rica kembali melihat-lihat koleksi jam tangan pria. Sementara Kimberly pergi melihat-lihat koleksi yang lain.
Jadi saat ini Kimberly dan Rica berada di tempat yang berbeda. Hanya berjarak beberapa meter saja.
Rica saat ini tengah asyik melihat-lihat koleksi jam tangan. Semua jam tangannya terlihat bagus dan mewah.
Ketika Rica tengah fokus menatap satu jam tangan incarannya, tiba-tiba Rica mendengar suara seseorang yang berada tak jauh di sampingnya.
"Sayang, kamu suka nggak jam tangan ini?"
"Suka sekali sayang. Itulah alasanku mengajakmu kesini. Aku ingin membeli jam baru. Sudah sejak beberapa bulan yang lalu aku ingin membelinya, namun gagal mulu. Sekarang baru kesampaian."
Rica langsung menolehkan kepalanya untuk melihat kearah samping. Dan seketika matanya membelalak sempurna ketika melihat orang yang dikenalinya.
"Aruna," panggil Rica.
Ya! Orang yang dilihat oleh Rica adalah Aruna bersama dengan Bethran. Keduanya tampak sangat mesra dan bahagia.
Aruna yang dipanggil langsung melihat ke samping. Dan seketika Aruna terkejut ketika melihat Rica kekasih dari calon kakak iparnya tengah menatap dirinya.
"Kak Rica."
"Aruna, kamu...."
Aruna seketika ketakutan ketika Rica yang melihat kearah Bethran. Aruna kemudian melihat kearah Bethran lalu kembali menatap kearah Rica.
"Aruna, aku nggak nyangka kamu bermain di belakang Riyan. Kurang Riyan sama kamu. Riyan tulus mencintai kamu. Tapi kamu membalasnya dengan pengkhianatan," ucap Rica.
"Kak, dengar dulu. Ini nggak seperti yang kakak lihat."
"Apa kamu pikir kalau aku salah melihat? Jelas-jelas kamu bermesraan dengan pria itu. Bahkan pria itu memeluk pinggang kamu. Bukan itu saja. Pria itu bahkan mencium bibir kamu."
Ketika Aruna hendak membuka mulutnya hendak menjawab perkataan dari Rica. Rica sudah terlebih dulu bersuara.
"Aku akan beritahu Jason. Jason harus tahu bagaimana kelakuan bejat calon adik iparnya."
Di tempat lain di toko yang sama Kimberly sedang sibuk melihat koleksi-koleksi lain yang ada di toko itu. Salah satunya adalah kaos bermerek.
Kimberly seketika tersenyum ketika melihat beberapa kaos yang sesuai dengan pilihannya. Kimberly akan membelikan kaos-kaos itu untuk keempat kakak laki-lakinya dan juga untuk kekasihnya. Dan tak lupa juga Kimberly akan membelikan untuk Aryan dan Billy.
Ketika Kimberly tengah menatap kaos-kaos itu, tiba-tiba salah seorang pelayan wanita datang menghampirinya.
"Maaf, nona!"
Kimberly langsung melihat kearah pelayan wanita itu sembari tersenyum.
"Iya, kak! Ada apa?"
"Itu nona. Kakak perempuan nona dalam masalah."
"Dalam masalah? Maksud kakak apa ya?"
"Ada dua orang yang tengah mencari masalah dengan kakak perempuan nona di bagian etalase jam tangan."
Seketika Kimberly membulatkan matanya ketika mendengar perkataan dari pelayan itu.
"Kak Rica."
Kimberly langsung berlari menghampiri calon kakak iparnya itu. Dirinya tidak ingin terjadi sesuatu terhadap calon kakak iparnya itu.
"Kau tidak akan bisa melaporkanku dengan kekasihmu itu kak Rica. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
Aruna merebut paksa ponsel milik Rica. Setelah itu, Aruna langsung membanting ponsel tersebut sehingga hancur berkeping-keping di lantai.
Melihat kejadian itu membuat para pelanggan toko tersebut langsung ramai. Begitu juga pengunjung yang berada di luar toko itu. Semuanya melihat kearah tiga orang yang sedang bersitegang.
"Kau benar-benar wanita iblis, Aruna!" bentak Rica.
"Baru tahu ya. Jangan ikut campur urusanku. Urusi saja urusanmu. Dan jangan pernah kau melaporkan apa yang kau lihat hari ini kepada bajingan bodoh itu," ucap Aruna.
Rica tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar perkataan dari Aruna. Tatapan matanya menatap jijik kearah Aruna.
"Apa kau berpikir aku akan takut denganmu, hum? Jawaban tentu saja tidak. Jika hari ini aku tidak berhasil menghubungi Jason. Hari ini juga semua kebusukanmu sudah terbongkar, Aruna! Seseorang telah melihat dan mendengar semuanya." Rica berbicara dengan tatapan matanya menatap sinis dan juga jijik kearah Aruna.
"Alah! Palingan kamu hanya sekedar menakutiku saja kan? Sudahlah kak Rica. Lebih baik kak Rica nurut saja apa yang aku katakan."
"Jangan harap. Aku akan tetap memberitahu Jason dan juga keluarga Aldama tentang siapa kau sebenarnya." Rica membalas perkataan dari Aruna.
"Brengsek!"
Aruna kemudian mendekat kearah Rica dengan tatapan amarahnya menatap wajah Rica. Setelah berdiri di hadapan Rica. Aruna kemudian mengangkat tangannya bermaksud hendak menampar pipi Rica.
Ketika sedikit lagi tangan Aruna menyentuh pipi Rica. Seseorang datang langsung memberikan tendangan tepat di pinggang Aruna.
Duagh!
"Aakkhhh! Aruna berteriak kesakitan ketika mendapatkan tendangan tak main-main dari seseorang.
"Sayang."
Bethran langsung menghampiri Aruna dan membantunya berdiri. Dirinya benar-benar khawatir akan Aruna saat ini.
Sementara orang yang sudah memberikan tendangan kepada Aruna menatap penuh amarah kearah Aruna.
"Kim," panggil Rica.
Ya! Orang yang sudah memberikan tendangan kepada Aruna adalah Kimberly.
Kimberly melihat kearah calon kakak iparnya itu. Tatapan matanya mengisyaratkan kekhawatiran terhadap calon kakak iparnya itu.
"Kak Rica nggak apa-apa?"
"Kakak nggak apa-apa. Untung kamu cepat datang."
"Aku kesini juga karena diberitahu salah satu pelayan toko ini, kak! Jika salah satu dari pelayan toko ini tidak memberitahuku. Aku nggak akan tahu kak Rica dalam masalah."
"Kim, Aruna!"
"Kenapa dengan perempuan itu?" tanya Kimberly dengan tatapan matanya menatap kearah Aruna dan seorang pria yang tengah memeluknya.
"Aruna tidak benar-benar mencintai Riyan. Laki-laki bersama Aruna itu adalah kekasihnya. Aruna telah membohongi Riyan selama ini, Kim!"
Kimberly menatap kearah Aruna yang saat ini masih belum sadar akan kehadirannya. Saat ini Aruna masih merasakan kesakitan di bagian pinggangnya dengan dipeluk oleh seorang pria yang berstatus kekasihnya.
"Aku nggak nyangka perempuan seperti kamu berani bermain-main dengan salah satu anggota keluarga Aldama!"
Deg!
Aruna seketika terkejut ketika mendengar perkataan seseorang. Apalagi dengan suaranya. Aruna sangat mengenal suara itu.
"Suara itu suara Kimberly," batin Aruna.
Aruna seketika melihat keasal suara tersebut. Dirinya ingin memastikan, apakah suara itu benar-benar suara Kimberly atau justru hanya sekedar mirip.
Ketika Aruna mendongakkan kepalanya dan menatap ke depan. Seketika matanya membelalak sempurna. Dan detik itu juga, jantungnya berdegup kencang.
"Kim-kimberly," ucap Aruna gugup.