
Di kediaman keluarga Alexander, keluarga dari Tommy Alexander terlihat ramai dimana semua adik-adik dari Andrean Alexander berada disana.
Semua adik-adik dari Andrean datang ke kediaman Andrean karena diminta langsung oleh sang tertua dari keluarga Andrean.
"Ada apa kak Andrean? Kenapa kakak meminta kita semua untuk datang?" tanya Judika selaku adik pertama Andrean.
"Apa ada masalah kak?" tanya Carla adik kedua sekaligus adik perempuan satu-satunya Andrean.
Andrean menatap satu persatu wajah adik-adiknya. Dan tak lupa senyuman manis di bibirnya.
"Ayo, Pi! Katakan kepada Papa Judika, Mama Carla dan Papa Jordy apa yang ingin Papi bicarakan! Begitu juga dengan Salsa dan Tommy," ucap Arka.
Seketika Salsa dan Tommy terkejut ketika mendengar ucapan dari kakaknya. Lalu Salsa dan Tommy menatap wajah kakaknya.
"Kita?" tanya Salsa dan Tommy.
"Nanti kalian akan tahu," jawab Arka.
Andrean menarik nafasnya secara berlahan-lahan lalu kemudian membuangnya secara pelan-pelan.
"Ada yang berusaha untuk masuk ke dalam perusahaan Utama keluarga Alexander! Bahkan orang itu berusaha untuk membobol sistim keamanan disana."
Deg..
Judika, Carla dan Jordy terkejut ketika mendengar penuturan dari Andrean. Begitu juga dengan Salsa, Tommy, Tama serta para saudara dan saudari sepupunya.
"Bagaimana bisa kak? Dan apa alasan orang itu melakukan hal tersebut kepada kita?" tanya Jordy.
"Salah satu tangan kanan kakak mengatakan bahwa ada salah satu perusahaan besar tapi belum tahu apa nama perusahaan itu marah dan tak terima atas sikap kasar Tommy sehingga orang itu dan orang-orang terdekatnya ingin membalas atas apa yang dilakukan oleh Tommy."
Mendengar penuturan dari Andrean membuat mereka semua terkejut. Tak terkecuali Tommy. Dirinya yang paling terkejut.
"Tunggu dulu! Maksud Papi apa? Aku telah melakukan hal buruk? Apa? Kapan? Dan siapa korbannya? Perasaan aku tidak pernah mengusik orang lain, kecuali aku yang selalu diusik selama ini!" Tommy berucap dengan wajah dingin.
Mendengar perkataan dan melihat wajah dingin Tommy membuat Andrean dan lain seketika paham bahwa saat ini Tommy sedang marah. Mereka juga tahu bahwa Tommy tak terima atas apa yang barusan dikatakan oleh ayahnya.
"Tenanglah dulu sayang. Mama tahu siapa kamu. Kamu laki-laki yang baik. Kamu tidak pernah menyakiti orang," ucap Carla yang berusaha menenangkan keponakannya.
Sovia yang duduk di samping adik laki-lakinya mengusap-usap lembut punggung tangan adiknya itu.
"Pi," panggil Salsa.
"Iya, sayang!" Andrean menjawab panggilan dari putri ketiganya sembari tersenyum menatap wajah cantik putrinya itu.
"Kalau aku boleh tahu. Kenapa tangan kanan Papi itu bisa menyampaikan informasi seperti itu hingga bawa-bawa nama Tommy?" tanya Salsa.
"Papi juga tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Tapi dari penjelasan tangan kanannya Papi. Dia mengatakan bahwa Tommy menyakiti seorang gadis di toko kue sehingga membuat gadis itu tersungkur di lantai," sahut Andrean.
Mendengar jawaban dari sang ayah membuat Salsa dan Tommy seketika teringat kejadian ketika di toko kue waktu itu.
"Yak! Apa-apa mereka? Yang salah itu mereka. Mereka tiba-tiba menyerang aku dengan kata-kata kasarnya. Ketika salah satu dari mereka hendak menamparku. Tommy datang dan menahan tangan orang yang hendak menamparku!" Salsa berbicara dengan wajah marah dan tak terima adiknya disalahkan.
Mendengar perkataan dari Salsa, akhirnya mereka semua tahu pokok permasalahan yang sebenarnya. Dan mereka semua juga tidak terima jika Tommy yang disalahkan.
Ketika mereka tengah membahas pelaku yang mengusik perusahaan Utama keluarga Alexander, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara ponsel milik Tommy.
Tommy langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Setelah ponselnya berada di tangannya, Tommy melihat nama kekasihnya di layar ponselnya. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya.
Melihat senyuman yang mengembang di bibir Tommy membuat semua anggota keluarga meyakini bahwa yang menghubungi Tommy adalah Kimberly. Mereka turut bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar di tatapan mata Tommy, terutama Andrean dan Lusiana.
"Hallo, Kim! Ada apa, hum?"
"Hallo, Tommy. Kamu dimana?"
"Aku ada di hatimu," jawab Tommy menggoda Kimberly.
Mendengar jawaban dari Tommy membuat anggota keluarganya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Namun tidak dengan Kimberly yang saat ini mengumpat kesal.
"Ini bukan saat untuk bercanda Tommy!"
"Siapa yang bercanda sih sayang. Aku serius."
"Tommy!"
Seketika Tommy menjauhkan ponselnya dari telinganya akibat teriakan tak main-main dari Kimberly. Sementara anggota keluarganya tersenyum. Mereka semua berpikir bahwa saat ini Kimberly tengah kesal padanya.
"Kenapa kamu teriak sih?"
"Apa? Mau lagi?"
"Oke, oke! Maafkan aku. Sekarang katakan padaku ada apa?"
"Kamu dimana?"
"Aku di rumah. Kenapa?"
"Aku boleh nanya nggak?"
"Tentu boleh sayang. Kamu mau nanya apa, hum?"
"Apa perusahaan Al'Xander Group itu perusahaan keluarga kamu?"
"Eeemm! Apa perusahaan itu membuka dua lowongan pekerjaan? Bagian Manager Keuangan dan Bagian Keamanan Perusahaan?"
"Iya, itu benar! Papi dan om Judika memang sedang mencari karyawan dan karyawati untuk dua lowongan itu."
"Tommy."
"Iya, Kim! Ada apa?"
"Ada baiknya jangan menerima karyawan dulu. Katakan pada om Andrean dan om Judika untuk menutup lowongan itu untuk sementara."
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Tommy memiliki perasaan yang tak enak. Apalagi ketika mendengar cara bicara Kimberly yang terdengar khawatir dan juga takut.
"Kalau aku boleh tahu apa alasan kamu meminta Papi dan om Judika untuk tidak menerima karyawan dulu dan menutup lowongan itu?
Mendengar perkataan dari Tommy membuat Andrean dan Judika terkejut. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
"Aku saat bersama Catherine di sebuah cafe. Di cafe yang sama aku dan Catherine tak sengaja mendengar obrolan-obrolan dari tiga laki-laki. Awalnya aku dan Catherine hanya bersikap biasa saja. Dan tidak perduli sekitarnya. Tapi makin aku dengar, pembicaraan ketiga laki-laki itu sudah keluar jalur. Bahkan mereka mengatakan akan mengirimkan beberapa orang untuk masuk ke perusahaan Al'Xander Group melalui lowongan pekerjaan yang terpampang di depan perusahaan. Mereka akan melakukan sesuatu agar orang-orang mereka yang diterima di perusahaan itu."
Deg..
Tommy seketika terkejut ketika mendengar cerita dari Kimberly. Dirinya tidak menyangka jika orang-orang itu sudah merencanakan dengan sangat rapi untuk bisa masuk ke perusahaan Al'Xander Group.
"Apa yang akan mereka lakukan jika orang-orang mereka berhasil masuk ke perusahaan Al'Xander Group, Kim?"
"Aku tidak terlalu jelas ketika pembicaraan terakhir mereka. Tapi intinya mereka ingin menguasai perusahaan Al'Xander Group dengan cara menghancurkan perusahaan itu terlebih dahulu. Setelah itu, barulah mereka akan mengambil alih."
"Brengsek!"
Tommy mengepalkan kuat tangannya. Dirinya tidak terima jika orang-orang itu mengambil perusahaan Utama keluarga Alexander.
"Tommy," panggil Andrean dan Lusiana khawatir.
"Baiklah sayang. Terima kasih informasinya ya. Aku akan sampai kepada Papi dan anggota keluargaku yang lainnya seperti yang kamu sampaikan padaku. Lebih baik kamu dan Catherine pulang sekarang. Jangan terlalu lama disana. Aku takut mereka mencurigai kamu dan Catherine sehingga berimbas mereka nyakitin kamu dan Catherine."
"Baiklah. Aku dan Catherine akan langsung pulang setelah ini."
"Hati-hati di jalan. Dan jangan ngebut."
"Iya."
Setelah itu, baik Tommy maupun Kimberly sama-sama mematikan panggilannya.
"Tommy ada apa?" tanya Arka.
"Kimberly bicara apa saja sama kamu, nak?" tanya Lusiana yang menatap Tommy khawatir.
Tommy menatap wajah ayah lalu menatap wajah pamannya Judika. Dan kemudian menatap semua orang yang ada di hadapannya.
"Pi," panggil Tommy.
"Iya, nak!"
"Kimberly bilang padaku agar Papi dan om Judika untuk tidak menerima karyawan dulu. Dan Kimberly juga bilang untuk menutup lowongan pekerjaan itu."
"Kenapa sayang?" tanya Judika.
"Kimberly berada di sebuah cafe. Dan di cafe itu ada tiga laki-laki yang sedang membahas sesuatu. Baik Kimberly maupun Catherine mendengar apa yang dibicarakan oleh ketiga laki-laki itu."
"Mereka bicara apa?" tanya Jordy.
"Kimberly mengatakan bahwa ketiga orang itu akan memasukkan beberapa orang ke perusahaan Utama keluarga Alexander melalui lowongan pekerjaan itu. Bahkan mereka akan melakukan hal licik agar orang-orang mereka yang diterima."
Mendengar jawaban dari Tommy membuat Andrean, Judika, Carla dan Jordy marah. Begitu juga para anak-anaknya.
"Lalu apa lagi yang dikatakan oleh Kimberly padamu, nak?" tanya Carla.
"Kimberly mengatakan jika orang-orang mereka berhasil menjadi karyawan di perusahaan kita, maka mereka akan menghancurkan perusahaan kita dari dalam. Setelah perusahaan kita diambang kehancuran, maka mereka yang akan menjadi menjadi dewa penyelamat hingga berakhir mereka menguasai perusahaan milik keluarga kita."
"Brengsek!" Andrean, Judika dan Jordy benar-benar marah ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Tommy.
"Baiklah. Papi akan menutup lowongan pekerjaan itu dan tidak akan menerima karyawan baru dulu," ucap Andrean.
"Untung saja Kimberly ada di sana dan mendengar semuanya," ucap Belinda ibunya Andhika.
"Tapi mereka tidak melihat kearah Kimberly dan Catherine kan sayang? Mami takut kalau sampai mereka berdua ketahuan," ucap dan tanya Lusiana.
"Maka dari itu aku langsung meminta Kimberly untuk segera pergi dari cafe itu. Jangan berlama-lama disana," ucap Tommy.
"Setelah lewat lima menit. Kamu hubungi Kimberly. Tanyakan dia dan Catherine dimana," sahut Sovia.
"Itu sudah pasti kak. Aku memang akan menghubunginya setelah lima menit aku bicara dengannya di telepon," ujar Tommy.
"Semoga orang-orang itu tidak melihat Kimberly dan Catherine," ucap Viana.
"Semoga saja. Kalau sampai terjadi sesuatu terhadap calon menantuku, maka aku akan sangat rasa bersalah," ucap Lusiana.
"Tuhan! Lindungilah calon menantu dan sahabatnya Catherine di perjalanan hingga sampai di rumahnya," batin Andrean dan Lusiana.
Tak jauh beda dengan Tommy dan yang lainnya. Mereka juga berdoa semoga Kimberly dan Catherine baik-baik saja.