
Hari ini cuacanya sangat mendukung, langit begitu cerah, menambah semangat Triny dan Andhika yang akan melewati perjalanan jauh. Begitu juga dengan mobil yang dibawa oleh Nathan dan Lisa, Ivan dan Alisha yang berada di belakang mobil Andhika.
Andhika, Nathan, Ivan bersama pasangan masing-masing berangkat dari jam sebelas siang dan harus menempuh perjalanan selama kurang lebih lima jam menuju Berlin.
Perjalanannya sangat menyenangkan. Waktu demi waktu mereka lewati dengan canda tawa, saling ngeledek satu sama lain, bercerita pengalaman masing-masing tentang kebersamaan mereka beberapa bulan ini.
"Laper, Dhik! Mampir dulu makan yuk," pinta Triny kepada Andhika.
Mendengar keluhan dari Triny. Andhika langsung menghentikan mobilnya sejenak. Lalu Andhika menatap wajah cantik Triny.
"Udah lapar benar ya?"
"Em!" Triny manggut-manggut sembari tersenyum.
Seketika Andhika tersenyum melihat reaksi dari Triny. Kemudian Andhika mencubit pelan hidung mancung Triny.
"Kita berhenti di depan. Sekitar 15 menit lagi ada sebuah restoran," ucap Andhika.
"Baiklah."
Tin! Tin!
Terdengar bunyi klason dari belakang. Seketika Andhika dan Triny langsung melihat kearah belakang. Dapat keduanya lihat bahwa Nathan dan Ivan telah berada di luar.
Andhika mengeluarkan kepala sembari berteriak. "Kita akan berhenti dulu untuk makan. Lima belas menit lagi menuju restoran di depan!"
Mendengar perkataan disertai teriakan dari Andhika. Nathan dan Ivan langsung mengacungkan ibu jarinya.
Setelah itu, keduanya kembali masuk ke dalam mobil masing-masing. Dan melanjutkan perjalanan.
***
Di sekolah Kimberly, Tommy dan yang lainnya bersiap-siap untuk berangkat ke Berlin. Mereka memutuskan untuk menunggu beberapa menit kepergian Triny, Andhika, Nathan, Lisa, Ivan dan Alisha pergi. Setelah itu, barulah mereka pergi menyusul sepupunya dan sahabat-sahabatnya.
Ketika mereka semua telah siap dan hendak masuk ke dalam mobil, tiba Gracia datang dengan wajah yang terlihat marah. Tatapan matanya terkunci kearah Kimberly yang saat ini tengah berjalan menuju pintu mobil sebelah kiri.
Gracia tetap pada pendiriannya untuk membuat perhitungan dengan Kimberly. Setelah mendapatkan pesan dari Syafina. Gracia buru-buru datang ke sekolah untuk menggagalkan keberangkatan Kimberly dan yang lainnya ke Berlin sekaligus ingin memberikan pelajaran kepada Kimberly.
Gracia menarik paksa tangan Kimberly ketika Kimberly hendak masuk ke dalam mobil.
Dan detik kemudian...
Plak!
"Aakkhh!" Kimberly meringis kesakitan di pipinya.
Gracia seketika memberikan tamparan keras di pipi Kimberly sehingga menimbulkan jejak di sana.
"Kim!" teriak Rere, Santy, Sinthia dan Catherine bersamaan.
"Kimberly!" teriak Billy, Aryan dan Tommy.
Mereka semua berlari menghampiri Kimberly dan menatap Kimberly khawatir, terutama Billy dan Aryan.
"Kim," panggil Billy, Aryan bersamaan.
"Sayang." Tommy mengusap lembut kepala belakang Kimberly.
Sementara Kimberly saat ini tengah menatap tajam kearah Gracia. Dirinya tidak terima wajahnya disentuh oleh tangan kotor Gracia.
"Brengsek lo ya! Gara-gara lo. Gue dan ibu gue diusir dari keluarga Aditya! Puas lo sekarang, hah?!" bentak Gracia.
Mendengar perkataan dari Gracia membuat Billy, Aryan, Tommy dan para sahabatnya serta dua sahabat Triny terkejut. Kemudian mereka menatap wajah Kimberly.
"Yang brengsek itu lo bukan gue! Lo yang sejak masuk ke sekolah ini selalu mencari masalah dengan gue. Lo buat Tommy mutusin gue, lo ngancam Tommy untuk nyakitin gue jika Tommy tidak mau menjadi pacar lo. Dan lo juga yang selalu memaki dan menghina gue. Lo juga yang sering nyebut gue sebagai wanita murahan. Tapi semua itu, gue berusaha nggak ambil pusing. Gue berusaha untuk sabar, walau pada akhirnya gue kelepasan sehingga membuat lo terbaring di rumah sakit beberapa hari."
"Gue pikir dengan kejadian tersebut hingga lo masuk rumah sakit buat lo sadar. Tapi ternyata kelakuan lo makin menjadi-jadi. Lo bergabung bersama kelompok Syafina dan bersama dengan mereka, lo nyerang gue dan keempat sahabat gue. Tapi gue masih dalam mode sabar. Gue ngelawan lo dengan memberikan ancaman bahwa gue tahu siapa ibu. Dan gue juga bilang ke lo kalau gue akan buat lo dan ibu lo diusir dari keluarga Aditya jika lo masih cari masalah dengan gue. Tapi ternyata lagi-lagi lo tidak takut dengan ancaman gue. Justru lo makin melakukan apa yang menurut lo baik."
Kimberly menatap tajam kearah Gracia. Begitu juga dengan Billy, Aryan, Tommy dan yang lainnya. Bahkan saat ini Tommy menggenggam tangan Kimberly untuk sekedar menenangkan Kimberly agar sosok dalam tubuh Kimberly tidak keluar.
"Apa lo pikir gue nggak tahu apa yang lo lakuin di belakang gue, hum? Lo ingin menghancurkan hubungan gue dan Tommy dengan memfitnah gue. Lo memperlihatkan kepada Tommy sebuah foto dimana di dalam foto itu ada gue dan dua laki-laki yang sedang tersenyum. Dan lo juga membayar seorang murid perempuan untuk mendekati Tommy agar gue cemburu. Jika rencana lo gagal, maka lo beralih rencana kedua yaitu memfitnah Tommy dengan tuduhan bahwa Tommy sudah melecehkan seorang murid perempuan."
Deg!
Gracia terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly. Dirinya tidak menyangka jika rencananya diketahui oleh Kimberly.
"Dikarenakan lo masih saja mengusik gue dan mencari masalah dengan gue, maka dari itulah gue menjalankan ancaman gue itu yang mana kalau gue bakal buat lo dan ibu lo terusir dari keluarga Aditya."
Kimberly tersenyum di sudut bibirnya dengan tatapan matanya tetap sama yaitu tatapan tajam.
"Jika lo dengarin perkataan gue. Jika lo takut dengan ancaman gue. Bisa gue jamin lo bakal selamanya menjadi bagian keluarga Aditya. Dan semua rahasia busuk ibu lo nggak akan bakal ketahuan oleh keluarga Aditya."
"Seharusnya lo sadar akan kesalahan lo. Tapi justru lo malah menyalahkan gue!" bentak Kimberly dengan mendorong bahu Gracia kuat dengan menggunakan tangan kirinya.
"Kalau gue mau, hari itu juga gue bisa saja perlihatkan semua kebusukan ibu lo dan kelakuan buruk lo selama ini di depan semua anggota keluarga Ameera. Jika gue lakuin itu, maka lo dan ibu lo nggak akan berada di keluarga Ameera, melainkan berada di jalanan!"
"Gue tahu siapa itu keluarga Ameera. Keluarga Ameera itu keluarga yang dikenal bersih dan tidak ada catatan kejahatan dalam keluarga tersebut. Jika keluarga Ameera mengetahui salah satu anggota keluarganya melakukan kejahatan apalagi sampai menyakiti orang-orang yang tidak bersalah, maka mereka tidak akan segan-segan untuk mengusirnya dan membuangnya ke jalanan. Keluarga Ameera tidak sudi memiliki keluarga penjahat. Seperti itulah yang dilakukan oleh para pendahulu mereka terhadap anggota keluarga yang berbuat jahat."
"Seharusnya lo berterima kasih sama gue karena gue masih berbaik hati sehingga membuat lo dan ibu lo tetap tinggal di keluarga Ameera yang tak lain keluarga kakek lo. Namun nyatanya lo kembali mencari masalah dengan gue. Bahkan lo berani nampar gue."
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Gracia makin menatap penuh amarah Kimberly. Dirinya saat ini benar-benar membenci Kimberly. Dan tetap berniat untuk membalasnya.
Gracia tidak terima kalah begitu saja dari Kimberly. Jika dirinya tidak bisa mengalahkan Kimberly secara langsung. Setidaknya dirinya tidak akan pernah membiarkan hidup Kimberly tenang.
"Lo pikir gue takut sama lo, ha?! Jawabannya adalah tidak. Gue nggak pernah takut sama perempuan murahan seperti lo!" bentak Gracia sembari menunjuk kearah Kimberly.
Mendengar perkataan dan perlawanan dari Gracia membuat Kimberly tersenyum di sudut bibirnya. Dirinya sudah menduga bahwa seorang Gracia tidak akan pernah berubah.
"Baiklah kalau itu mau lo. Gue terima perlawanan dari lo. Gue mau lihat, sampai dimana nyali dan keberanian lo buat lawan gue."
Kimberly mengambil ponselnya. Setelah itu, Kimberly menekan nomor kontak Deryl. Dan beberapa detik kemudian, terdengar sapaan dari seberang telepon.
"Hallo, nona!"
"Hallo, kak Deryl. Aku mau kak Deryl melakukan sesuatu untukku hari ini."
"Apa itu nona? Katakan."
"Sebarkan berita tentang nyonya Lindaweni di hadapan semua anggota keluarga Ameera. Begitu juga tentang video tentang kelakuan buruk putrinya Gracia. Aku ingin keluarga Ameera mengetahui seperti apa seorang Lindaweni dan Gracia selama ini. Dan pastikan juga keluarga Ameera membuang kedua perempuan busuk itu dari keluarga Ameera."
"Baik, nona!"
"Setelah kedua perempuan busuk itu diusir dari keluarga Ameera. Buat keduanya luntang lantung di jalanan karena tidak memiliki tempat tinggal. Buat semua orang yang memiliki penginapan atau rumah sewa tidak mau menerima kedua perempuan itu."
"Dan satu lagi. Aku tahu jika keluarga Ameera sudah merubah satu peraturan dimana peraturan itu adalah keluarga Ameera akan membelikan rumah berukuran kecil yang hanya bisa menampung dua orang untuk anggota keluarganya yang diusir dan dibuang dari keluarga. Pastikan tidak ada satu depeloper perumahan yang menjual rumah kepada keluarga Ameera jika rumah itu diberikan untuk kedua perempuan busuk itu."
"Baik, nona! Saya akan melakukan semua yang nona perintahkan. Setelah semuanya selesai. Saya akan memberikan bukti-buktinya kepada nona."
"Terima kasih kakak Deryl. Senang bekerja sama dengan kakak Deryl."
"Sama-sama nona. Saya turut senang jika nona senang."
Setelah selesai berbicara dengan Deryl. Kimberly langsung mematikan panggilannya. Dan tatapan matanya kembali menatap tajam kearah Gracia.
"Aku menerima tantangan darimu, nona Gracia! Dan maaf, aku mencuri start duluan. Bersiaplah!"
Setelah itu, Kimberly pergi menuju mobil Tommy dan langsung masuk ke dalam mobil itu. Dan disusul oleh Tommy, Billy, Aryan, keempat sahabatnya dan yang lainnya.