
Kini Fathir, Nashita dan anggota keluarga lainnya sudah berada di ruang tengah. Fathir saat ini berusaha menenangkan istrinya yang masih memikirkan dan mengkhawatirkan putrinya bungsunya.
"Sayang, tenanglah! Semoga putri bungsu kita baik-baik saja," ucap Fathir memeluk istrinya.
"Iya, kak Nashita! Kita berdoa kepada Tuhan dan meminta pada-Nya agar Kimberly baik-baik saja. Jason, Uggy, Enda dan Riyan sudah dalam perjalanan ke sekolah. Ditambah lagi di sekolah ada Billy, Aryan, Triny, Risma serta yang lainnya yang menjaga Kimberly. Kimberly tidak sendirian kak."
Clarita berucap sembari menatap khawatir kakak perempuannya. Dirinya menangis ketika melihat wajah takut kakak perempuannya itu.
Clarita sangat tahu bagaimana besarnya kasih sayang kakak perempuannya itu terhadap semua anak-anaknya, terutama terhadap Kimberly.
Ketika Fathir sedang menenangkan istrinya dan anggota keluarga yang menatap khawatir kakak dan kakak iparnya, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara ponsel milik Fathir yang berdering.
Fathir yang mendengar ponselnya berbunyi langsung tangannya meraih ponselnya yang saat ini berada di saku celananya.
Sementara Clarita sudah mengambil alih tubuh kakak perempuannya dan memeluknya agar sang kakak iparnya bisa mengambil ponselnya dan berbicara dengan orang tersebut.
Kini ponselnya sudah berada di tangannya. Fathir melihat nama 'Andrean' sahabatnya di layar ponselnya. Tanpa membuang waktu lagi, Fathir menjawab panggilan dari sahabatnya itu.
"Hallo, Andrean."
"Hallo, Fathir. Kamu dimana?"
"Aku di rumah. Kenapa?"
"Mereka bermain licik Fathir!"
"Bermain licik? Apa kamu Andrean?"
Mendengar perkataan dari Fathir membuat anggota keluarganya menatap khawatir wajah Fathir. Begitu juga dengan Nashita yang dalam pelukan Clarita.
"Kita sudah jauh ketinggalan. Dengan kata lain, sampai detik ini kita belum mengetahui siapa mereka dan latar belakang keluarga mereka. Sementara mereka sudah jauh bertindak. Mereka sudah mengetahui wajah Kimberly dan Catherine. Mereka juga sudah tahu dimana Kimberly dan Catherine sekolah. Kau mau tahu apa yang sudah mereka rencanakan hari ini?"
"Apa mereka lakukan?"
"Mereka mendatangi sekolah Kimberly dengan mengaku sebagai suruhan dari Riyan. Orang itu mengatakan kepada tangan kanannya Riyan bahwa Riyan memerintahkan mereka untuk menjemput Kimberly dan membawa Kimberly pulang."
"Apa?!"
Fathir benar-benar terkejut ketika mendengar penuturan dari Andrean yang mengatakan bahwa ada beberapa orang yang mengaku sebagai suruhan dari putra keempatnya.
"Lalu apa yang terjadi, Andrean? Apa mereka berhasil membawa putri pergi putriku?"
Deg...
Nashita terkejut ketika mendengar ucapan dari suaminya. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lain.
"Kau mengenal putrimu bukan? Dan kau tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh putrimu itu!"
Mendengar perkataan dari Andrean seketika Fathir menyadari akan sifat dan watak putrinya itu. Salah satunya adalah putrinya itu tidak akan semudah itu mempercayai orang lain.
"Iya, Andrean! Aku tahu siapa putriku itu. Aku sangat yakin jika putriku berhasil lolos dari orang-orang yang mengaku sebagai suruhan kakaknya. Putriku selalu mengingat wajah-wajah dari para tangan kanan dan para anggota-anggota yang bekerja dengan keempat kakaknya."
"Dan satu hal yang membuat putriku dengan mudah mengenali para anak buah kakak-kakaknya yaitu dari pakaian yang mereka kenakan dan panggilan mereka untuk keempat kakak laki-lakinya."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Fathir. Andrean yang di seberang telepon seketika tersenyum.
"Kau benar sekali Fathir. Seperti itulah yang disampaikan oleh tangan kananku ketika melaporkan informasi tersebut kepadaku. Putrimu sangat cerdas. Dia bisa dengan mudah membaca hal-hal yang tak mengenakkan di sekitarnya."
"Fathir."
"Iya, Andrean!"
"Kita tidak bisa hanya menunggu orang-orang kita mendapatkan informasi tentang kedua pria itu dan latar belakang keluarganya. Kita harus bergerak cepat. Kita lawan kedua pria itu melalui para tangan kanannya dan para anggota-anggotanya. Jika kedua pria itu kehilangan para tangan kanannya dan semua anggota-anggotanya, maka kedua pria itu adalah lagi yang membantunya. Dengan begitu kita akan lebih mudah mendapatkan keduanya!"
Mendengar perkataan dari Andrean seketika terukir senyuman manis di sudut bibirnya. Fathir menyetujui ide dari sahabatnya itu.
"Kau benar sekali Andrean. Baiklah! Kau dan orang-orangmu lakukan dengan caramu. Aku disini juga akan melakukan dengan caraku bersama keluargaku."
"Baiklah."
Fathir menatap satu persatu wajah anggota keluarganya yang juga menatap dirinya.
"Kita tidak bisa hanya menunggu informasi dari para anggota kita. Kita harus bergerak sekarang!"
"Apa rencana Daddy sekarang?" tanya Fathan yang melihat gurat ketakutan di wajah dan di tatapan matanya.
"Kita habisi semua tangan kanan dan para anggota dari kedua pria itu. Habisi tanpa tersisa satu orang pun sehingga kedua pria itu tidak memiliki pengikut atau anak buah lagi." Fathir berucap dengan penuh amarah dan dendam.
Mendengar ide dan rencana dari Fathir membuat mereka semua menganggukkan kepalanya tanda setuju. Bahkan mereka semua memikirkan hal yang sama untuk menghabisi semua pengikut dari kedua pria itu.
"Baiklah, kak Fathir. Aku akan mengerahkan semua anak buahku untuk mencari tahu siapa saja yang bekerja dengan kedua pria brengsek itu," sahut Ammar.
"Kita juga akan melakukan hal yang sama seperti Ayah!" seru Pasya dan para sepupunya.
"Aku dan Ricky akan terus menggali tentang kedua pria itu," sela Pasya.
"Masalah latar belakang dari kedua pria itu Daddy serahkan padamu dan Ricky," sahut Fathir.
"Baik, Dad!"
***
"Kalian ngapain saja sih? Kenapa kalian membiarkan Kimberly pergi sendirian?!" bentak Billy dengan menatap wajah Triny, Risma beserta para sahabatnya. Termasuk keempat sahabat Kimberly.
Mendengar perkataan dan bentakan dari Billy membuat Triny dan yang lainnya hanya diam. Mereka semua tahu apa yang dirasakan oleh Billy saat ini. Billy begitu mengkhawatirkan Kimberly.
Apa yang dirasakan oleh Billy. Itu juga yang mereka rasakan. Mereka juga takut jika terjadi sesuatu terhadap Kimberly, terutama Tommy.
"Kita semua tidak ada yang tahu dimana Kimberly sekarang. Kita juga tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang," ucap Billy.
Billy menatap tajam orang-orang yang ditugaskan oleh Enda dan Riyan untuk menjaga Kimberly.
"Dan kalian juga. Apa saja kerja kalian disini. Kalian diberikan tugas oleh kedua kakak sepupuku untuk selalu mengawasi Kimberly. Tapi justru kalian kecolongan hingga orang-orang itu berhasil masuk dan bertemu dengan Kimberly ketika sedang dalam proses belajar mengajar!" bentak Billy.
"Sekarang lihatlah hasilnya. Kita kehilangan jejak Kimberly!" bentak Billy lagi.
Para anggota dari Enda dan Riyan hanya bisa menundukkan kepalanya. Berulang kali mereka meminta maaf, namun berulang kali mereka mendapatkan bentakan dari Billy.
Ketika Billy hendak menyerang kembali para anggota dari Enda dan Riyan dengan kata-kata kejamnya, Triny akhirnya bertindak. Dirinya sejak tadi tidak tahan akan sikap egois Billy.
"Cukup Billy!" bentak Triny dengan menatap wajah Billy.
"Gue tahu lo begitu mengkhawatirkan Kimberly. Disini bukan lo saja yang mengkhawatirkan Kimberly. Gue, Aryan, Risma, Rere, Santy, Sinthia, Catherine dan sahabat-sahabat gue juga sama seperti lo. Kita juga mengkhawatirkan Kimberly. Bahkan kita semua yang ada disini sangat mengkhawatirkan Kimberly. Termasuk orang-orang yang ditugaskan untuk menjaga Kimberly!"
"Dan gue yakin jika mereka lebih mengkhawatirkan Kimberly karena mereka tidak tahu dimana Kimberly sekarang. Seharusnya lo paham itu."
"Dan satu lagi. Disini yang paling sedih, yang paling mengkhawatirkan Kimberly dan yang paling merasa bersalah akan hilangnya Kimberly adalah Tommy. Lo seharusnya pikirkan Tommy juga. Lo lihat dia! Bagaimana hancurnya dia ketika tidak mengetahui keberadaan Kimberly!" bentak Triny.
Triny seketika menangis ketika mengucapkan kata itu di hadapan Billy. Bahkan hatinya sakit telah membentak Billy.
"Gue tahu kekhawatiran dan ketakutan lo terhadap Kimberly. Apa yang lo khawatirkan dan apa yang lo takutkan. Itu juga yang gue rasakan. Kita berdoa aja semoga Kimberly baik-baik saja."
Tes...
Seketika air mata Billy jatuh membasahi wajah tampannya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Triny. Dirinya membenarkan perkataan dari Triny. Seharusnya dirinya tidak bersikap seperti ini terhadap orang-orang yang sudah bekerja keras untuk menjaga dan melindungi Kimberly dan juga Catherine.
"Maaf," lirih Billy.
Grep..
Andry seketika memeluk tubuh Billy. Dirinya tahu bahwa sahabatnya ini butuh pelukan dan usapan yang bisa menenangkannya.
"Lo nggak salah. Lo ngelakuin ini hanya karena rasa khawatir lo terhadap Kimberly. Jika gue diposisi lo. Mungkin gue bakal ngelakuin hal yang sama," ucap Andry berusaha menenangkan Billy.
Sementara Andhika saat ini tengah menenangkan Tommy yang tampak kacau karena sejak tadi berusaha terus menghubungi ponsel Kimberly, namun sang pemilik ponsel tidak memberikan jawaban apapun.
"Kim," ucap Tommy dengan suara lirihnya.