
Di sebuah ruangan yang besar terdengar suara teriakan seseorang akibat mendapatkan pukulan dan tendangan dari dua laki-laki di hadapannya. Seseorang yang menjadi korban pemukulan dan tendangan itu adalah Anshell Adrian. Sementara yang menjadi pelaku pemukulan dan tendangan tersebut adalah Jason Aldama dan Uggy Aldama. Kedua kakak laki-laki Kimberly Aldama.
Baik Jason maupun Uggy sama-sama memberikan pukulan dan tendangan kuat kepada Anshell, laki-laki yang sudah berani membawa kabur adik perempuannya dari sekolah serta melakukan hal yang menjijikkan terhadap adik perempuan kesayangannya itu.
"Berani sekali kau membawa pergi adik perempuan dari sekolahnya!"
Duagh!
Jason berbicara dengan berteriak sembari memberikan tendangan kuat di perut Anshell sehingga tubuh Anshell kembali terhempas ke dinding.
"Aakkhhh!" teriak Anshell.
Uggy melangkah mendekati Anshell yang saat ini dalam kondisi tak baik-baik saja lalu tangannya mencekik kuat leher Anshell sehingga membuat Anshell meringis kesakitan di bagian lehernya.
Uggy mencekik kuat leher Anshell sambil membawanya berdiri dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Anshell.
"Apa yang sudah kau berikan pada adikku sehingga adikku tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya, hah?!" bentak Uggy.
Uggy mendorong kuat tubuh Anshell dan membenturkan ke dinding sehingga Anshell kembali berteriak merasakan sakit di bagian punggungnya.
Jason mendekati adiknya dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Anshell. Tak jauh beda dengan Uggy sang adik. Jason benar-benar marah atas apa yang dilakukan oleh Anshell terhadap adik perempuan kesayangannya.
"Uggy, lepaskan!"
"Tapi kak...."
"Lepaskan! Kematian itu terlalu ringan untuknya. Hukuman yang lebih pantas untuk laki-laki brengsek seperti dia adalah dengan memberikan penyiksaan padanya. Dia harus membayar setiap ketakutan dan air mata adik perempuan kita. Ditambah lagi kita belum tahu kondisi adik perempuan kita seperti apa. Bisa saja adik perempuan kita mengalami trauma."
Mendengar ucapan demi ucapan dari kakaknya membuat Uggy seketika tersenyum menyeringai. Uggy membenarkan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu.
Setelah mengerti maksud dari perkataan dari kakaknya, Uggy pun langsung melepaskan cekikan dari leher Anshell. Seketika tubuh Anshell merosot ke lantai.
Jason dan Uggy menatap tajam kearah Anshell. Sebenarnya mereka ingin sekali menghabisi nyawa Anshell ketika mendengar aduan dari adik perempuannya yang mengatakan bahwa adik perempuannya itu tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya.
Namun Jason langsung merubah niatnya dengan memberikan hukuman berupa penyiksaan terhadap Anshell. Dengan begitu apa yang dirasakan oleh adik perempuannya itu juga yang dirasakan oleh Anshell.
"Berdoalah agar adik perempuanku baik-baik saja," ucap Uggy.
"Dan jika sampai adik perempuanku trauma akibat ulahmu, maka kau akan mendapatkan penyiksaan yang lebih kejam lagi dari pada ini. Kau akan mendapatkan penyiksaan selam tiga hari berturut-turut. Setelah kami puas, barulah kami akan membawamu ke kantor polisi. Dan kami menjamin kau akan membusuk di dalam penjara. Kau tidak akan menikmati dunia luar lagi. Cam kan itu!"
Setelah mengatakan itu, Jason pergi meninggalkan ruangan penyiksaan di markas milik Uggy.
"Kalian jaga bajingan ini. Ingat bajingan itu dengan rantai sehingga dia tidak bisa kabur," perintah Uggy.
"Baik, Bos!"
Setelah itu, Uggy pergi menyusul sang kakak yang saat ini sudah berada di luar.
***
Kimberly sudah berada di ruang rawat VVIP dan ditemani oleh semua anggota keluarga, anggota keluarga Tommy dan Andhika dan para sahabat.
Baik Nashita, Fathir, Enda, Riyan maupun anggota keluarga Aldama, anggota keluarga Fidelyo, anggota keluarga Tommy dan Andhika beserta para sahabat menatap sedih wajah Kimberly.
Kimberly saat ini memakai selang canula di hidung mancungnya dan infus di tangan kirinya.
"Sayang," ucap Nashita dengan nada lirihnya sembari tangannya mengusap-usap lembut kepala putrinya.
"Dek."
"Kim!"
Mereka berucap menyebut nama Kimberly secara bersamaan dengan nada lirih masing-masing.
"Aku tidak menyangka jika teman sekelasnya Kimberly itu tega melakukan hal ini kepada Kimberly sehingga membuat Kimberly tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya," ucap Ammar dengan tatapan matanya menatap wajah sedikit pucat Kimberly.
"Bajingan itu menyukai Kimberly. Dia ingin mendapatkan Kimberly dan ingin menjadikan Kimberly miliknya. Jika dia berhasil melakukan hal keji itu kepada Kimberly, maka Kimberly akan seutuhnya menjadi miliknya. Bajingan itu juga berharap kalau aku akan meninggalkan Kimberly jika hal itu terjadi." Tommy berbicara dengan penuh penekanan disetiap kata tanpa mengalihkan tatapan matanya dari Kimberly.
"Alasan bajingan itu memberikan sesuatu kepada Kimberly sehingga membuat tubuh Kimberly mati rasa adalah agar Kimberly tidak memberontak dan melawan ketika bajingan itu ingin melakukan hal menjijikkan itu terhadap Kimberly." Andhika berbicara sembari menjelaskan maksud dan tujuan Anshell nekat melakukan hal tersebut kepada Kimberly.
Mendengar penjelasan dari Tommy dan Andhika membuat Enda dan Riyan seketika marah.
"Brengsek! Berani sekali dia melakukan hal itu kepada adik perempuanku." Enda berbicara dengan kedua tangannya mengepal kuat.
Tak jauh beda dengan para saudara dan saudari sepupunya dari dua keluarga, terutama Billy, Triny dan Aryan. Mereka semua tampak marah akan kelakuan bejat yang dilakukan oleh Anshell.
Enda menatap wajah Billy lalu memanggilnya. Enda ingin tahu apa keempat teman dari Anshell juga ikut dalam rencana tersebut.
"Billy."
"Iya, kak Enda."
"Bagaimana dengan keempat sahabatnya itu? Apa mereka tahu rencana tersebut?"
"Setelah kami interogasi keempat sahabatnya Anshell. Mereka hanya tahu bahwa niat Anshell adalah untuk menjadikan Kimberly miliknya. Namun untuk rencana tersebut, mereka tidak tahu apa-apa."
"Apa kau yakin hal itu? Bukankah mereka juga mengincar Rere, Santy, Sinthia dan Catherine. Bahkan salah satunya sudah berani bersikap buruk terhadap Santy dengan merobek seragam sekolah Santy di depan teman-teman sekelasnya." Riyan berucap dengan menatap wajah Billy.
Mendengar perkataan dari Riyan membuat Nashita, Fathir dan semua yang ada di ruang rawat Kimberly terkejut, kecuali para sahabat Billy dan para sahabat Kimberly yang sudah tahu.
"Apa benar itu sayang?" tanya Fathir tak menyangka.
"Iya, Dad!" Riyan menjawab pertanyaan dari ayahnya.
"Kamu tahu dari mana? Mereka kan belum cerita apa-apa?" tanya Ricky dengan menatap wajah sepupunya.
"Kamu tidak lupa siapa aku kan? Kamu juga tidak lupakan kalau aku juga sama seperti kak Jason, kak Uggy dan kak Enda?" Riyan menjawab pertanyaan dari Ricky sepupunya itu dengan menaik-turunkan alisnya
Mendengar jawaban dan melihat mimik wajah Riyan. Seketika Ricky sadar siapa Riyan. Riyan tak jauh beda dengan ketiga kakak laki-lakinya.
"Maaf kalau aku melupakan hal itu, tuan Riyan Aldama!"
"Aku memaafkan anda, tuan Ricky Fidelyo!"
Mendengar perkataan dari Ricky dan balasan dari Riyan membuat mereka semua tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Seketika mereka semua dikejutkan dengan suara igauan dari Kimberly. Dan sontak mereka semua menatap kearah Kimberly.
"Mommy, Daddy!"
Nashita dan Fathir langsung mendekat ke ranjang Kimberly. Nashita menggenggam tangan kanan putrinya. Sementara Fathir mengusap lembut kepalanya.
"Mommy/Daddy disini sayang!" Nashita dan Fathir berucap bersamaan.
Berlahan Kimberly membuka kedua matanya. Melihat hal itu, mereka semua tersenyum bahagia.
"Mommy, Daddy!"
"Iya, sayang. Ada apa, hum?" Nashita dan Fathir menjawab bersamaan lagi.
"Hiks... Mom, Dad!"
Nashita dan Fathir langsung memeluk tubuh putrinya. Keduanya tahu bahwa putrinya saat ini masih memikirkan kejadian itu.
"Mommy disini. Kamu sudah aman sekarang. Dia tidak akan ganggu kamu lagi."
"Iya, sayang! Apa yang dikatakan Mommy kamu benar. Kamu sudah aman sekarang. Jadi jangan takut, oke!" Fathir mengusap lembut kepala putrinya lalu mengecupnya.