
Di sebuah markas terlihat seorang pria yang tengah marah besar. Pria itu marah karena mendapatkan kabar dari dua anggotanya.
Pria itu mengutus lima anggotanya salah satunya perempuan. Dan perempuan itu yang menyamar sebagai perawat. Setelah berhasil menipu Enda. Perawat itu menyuruh dua rekan laki-lakinya untuk masuk ke ruang rawat Kimberly. Sementara duanya menunggu di luar.
Dua rekannya yang menunggu diluar melihat dan menyaksikan bagaimana Kimberly yang membunuh ketiga rekannya dengan sangat sadis.
Ketika mereka mendengar suara teriakan dari dalam ruang rawat Kimberly membuat kedua rekannya yang menunggu diluar langsung membuka pintu ruang rawat Kimberly. Mereka terkejut melihat Kimberly yang membunuh dua rekannya dan satu pingsan.
Setelah melihat hal itu. Keduanya langsung pergi meninggalkan rumah sakit. Mereka tidak ingin menjadi korban seperti ketiga rekannya.
"Apa kalian benar-benar yakin jika gadis itu membunuh mereka bertiga?"
"Benar bos. Bahkan gerakannya begitu lihai."
"Padahal gadis itu sedang sakit dan aku sangat yakin jika luka di perut gadis itu belum sembuh."
"Bukan itu saja Bos. Aku baru dapat kabar dari temanku. Katanya gadis itu berasal dari keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo."
Mendengar keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo dari salah satu mulut anak buahnya membuat pria itu terkejut. Pria itu tahu siapa itu keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo.
"Apa? Kau yakin kalau gadis itu berasal dari dua keluarga itu?"
"Benar Bos. Seperti itulah informasi yang diberikan oleh teman saya itu. Justru teman saya itu langsung terkejut ketika saya menunjukkan foto gadis itu. Setelah teman saya melihat foto gadis itu. Teman saya itu langsung menyarankan untuk tidak mengganggu gadis itu lagi."
Mendengar apa yang disampaikan oleh anak buahnya membuat pria itu terdiam. Pria itu tahu bagaimana sepak terjang dua keluarga itu. Bukan itu saja. Pria itu juga tahu hubungan keluarga Aldama, keluarga Fidelyo dengan keluarga Ravindra dan keluarga Sheehan.
"Baiklah. Mulai sekarang aku perintahkan kepada kalian untuk tidak mengganggu gadis itu lagi. Aku tidak mau mendapatkan masalah dari keluarganya. Katakan kepada yang lainnya untuk tidak mengusik gadis itu."
"Baik, Bos."
"Terus bagaimana dengan perempuan yang setiap hari menelponmu Bos? Bukankah perempuan itu yang meminta Bos untuk melakukan pekerjaan itu!"
"Itu biar menjadi urusanku. Yang penting kalian dan yang lainnya. Berhenti sampai disini. Jika ada yang melanggar. Bunuh saja."
"Baik Bos."
Ketika pria itu sedang berbicara, tiba-tiba masuklah dua orang anak buahnya yang lainnya dengan wajah panik.
"Bos!" seru mereka.
Baik pria itu maupun dua anak buahnya yang menjadi tangan kanannya melihat kearah dua anak buahnya/rekannya yang baru masuk.
"Ada apa?"
"Gawat Bos. Ada dua kabar yang ingin kami sampaikan."
"Katakan!"
"Pertama, perempuan yang menelpon bos itu dan meminta bos untuk menculik gadis yang bernama Kimberly itu ternyata adalah mantan sahabat dari gadis yang akan kita culik itu Bos. Perempuan itu selama ini iri dan juga cemburu melihat keberuntungan sahabatnya. Apa yang perempuan itu inginkan dan perempuan itu idam-idamkan selama ini semuanya ada pada sahabatnya. Dan perempuan itu ingin merebut semua itu dari sahabatnya. Dan aku dengar selama ini sahabatnya itu dan juga keluarga dari sahabatnya itu sangat baik padanya."
"Bos tahukan dengan laki-laki bernama Antoni?"
"Iya. Kenapa?"
"Antoni itu dulunya kekasih dari gadis yang akan kita culik itu. Tapi dengan kejinya perempuan itu menjebak sahabatnya dengan tidur bersama laki-laki lain sehingga membuat hubungan sahabatnya itu dengan kekaksih putus. Dengan begitu perempuan itu mendekati Antoni setelah menyingkirkan sahabatnya. Bukan itu saja Bos. Setelah enam bulan berlalu. Perempuan itu bertemu kembali dengan mantan sahabatnya. Untuk lebih jelasnya. Bos lihat video ini."
Anak buahnya itu memberikan ponselnya yang ada video dimana Kimberly dihina oleh ibunya Antoni kepada Bos nya.
Pria itu mengambil ponsel milik anak buahnya itu dan langsung melihat sebuah video yang ada di layar ponsel tersebut.
Beberapa menit kemudian, tersirat amarah di wajah pria itu. Pria itu tahunya perempuan itu meminta bantuan padanya karena keluarga telah ditipu oleh rekan kerja ayah dan pamannya. Perempuan itu juga mengatakan padanya dengan menculik Kimberly maka rekan kerja Ayah dan Pamannya itu akan meminta maaf kepadanya dan keluarganya, lalu mengembalikan semua yang telah mereka ambil.
"Brengsek. Ternyata perempuan sialan itu sudah membohongiku." pria itu benar-benar marah terhadap perempuan yang telah meminta bantuan kepadanya.
"Perempuan itu ingin membalaskan dendamnya kepada sahabatnya karena Antoni tetap tidak kembali padanya dan Antoni masih mengejar-ngejar cinta dari mantan sahabatnya itu."
"Lalu kabar kedua apa?"
"Kabar kedua adalah salah satu anak buah kita berada di tangan Kakak tertua dari gadis itu!"
Mendengar jawaban dari anak buahnya. Baik pria itu maupun rekannya yang masih ada di dalam ruangan itu terkejut.
"Apa maksudmu?"
"Anak buah kita yang satunya tidak mati. Dia hanya pingsan akibat tendangan di perutnya. Kini dia berada di markas milik kakak pertama dari gadis itu. Markas milik kakaknya itu adalah LION."
Pria itu benar-benar marah mendengar laporan dari para anak buahnya.
"Sialan. Perempuan itu sudah membawaku masuk ke dalam kandang macam dan juga kandang buaya."
"Apa yang akan kita lakukan Bos?"
"Tapi Bos..."
"Percayalah. Tidak akan terjadi sesuatu pada kita. Aku tahu bagaimana sifat dan watak dari dua keluarga itu. Mereka tidak akan langsung melukai atau pun membunuh musuh-musuhnya. Bagaimana pun kedua keluarga itu masih memiliki sisi kemanusiaannya."
"Baiklah, Bos!"
"Oh iya. Bos tahu siapa nama perempuan yang telah menyuruh Bos untuk menculik gadis itu?"
"Iya. Nama perempuan itu Clara."
"Sebagai saran saja Bos. Jika Bos berhasil meminta maaf kepada keluarga gadis itu. Dan keluarga gadis itu tidak marah. Bos segeralah urus perempuan yang bernama Clara itu."
Mendengar saran dari anak buahnya. Pria itu tersenyum. "Itu sudah ada di dalam otakku. Kau tidak perlu khawatir."
"Baiklah kalau begitu. Aku senang mendengarnya Bos."
"Kami juga Bos!" seru dua anak buahnya yang lain.
Setelah itu, keempat anak buahnya itu pun pergi meninggalkan ruangan Bos nya untuk menjalankan perintah yang sudah diberikan oleh Bos nya itu.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Kimberly saat ini berada di dalam kamarnya.
Sejam yang lalu Kimberly mendapatkan pesan dari Tommy yang mengatakan bahwa dirinya malam ini akan diajak berkencan.
Ketika membaca pesan dari Tommy membuat Kimberly sangat-sangat bahagia. Ini adalah kencan ketiganya dengan Tommy.
Saat ini Kimberly tengah sibuk memilih-milih dan mengobrak-abrik lemari pakaian demi memaksimalkan penampilannya. Sebegitu pentingkah? Yap! Ini adalah kencan ketiganya dengan kekasihnya. Kimberly selalu berpenampilan berbeda setiap kencan dengan Tommy. Kimberly ingin setiap kencannya dengan Tommy meninggalkan bekas yang indah.
Kimberly mengamati dirinya di depan cermin yang hanya menampakan wajah dan setengah badannya. Kimberly tampaknya sangat percaya diri dengan penampilan dress berwarna cream dan sweater coklat yang membalut tubuhnya. Kimberly nampak tersenyum pikirannya melayang membayangkan kencan ketiganya kali ini dan…
Lamunannya terhenti ketika mendengar suara seseorang yang begitu lembut masuk ke indera pendengarannya.
"Putri Mommy sudah cantik."
Kimberly yang mendengar ucapan manis dan lembut dari ibunya tersenyum malu.
"Mommy."
Nashita tersenyum ketika melihat wajah malu dan wajah merah putrinya. Tangannya terangkat untuk mengelus wajah cantiknya. Dan tak lupa memberikan kecupan sayang di kening putrinya itu.
"Lebih baik kita keluar sekarang. Apa kamu mau membuat Tommy menunggu sampai jamuran di ruang tengah?" goda Nashita.
"Iih, Mommy. Apaan sih."
Setelah itu, keduanya pun pergi meninggalkan kamar Kimberly untuk menuju lantai bawah.
Kimberly dan ibunya sudah berada di bawah. Ketika keduanya turun. Para lelaki menatap kagum pada satu sosok. Sosok itu adalah Kimberly. Para lelaki yang menatap kagum Kimberly adalah sang ayah, keempat kakaknya dan Tommy.
"Princess nya Daddy/Princess nya Kakak cantik sekali malam ini."
Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan berucap secara bersamaan. Mereka menatap Kimberly dengan senyuman kebahagiaan. Di dalam hati mereka masing-masing. Mereka berterima kasih kepada Tuhan karena telah diberikan putri/adik yang cantik seperti Kimberly.
"Daddy, Kakak." Kimberly total malu ketika mendapatkan pujian dari ayah dan keempat kakaknya.
"Yang dikatakan Daddy dan keempat kakak kamu benar. Kamu cantik sekali malam ini Kimberly." Tommy berbicara sembari tangannya menyentuh lembut pipi Kimberly.
Mendengar pujian dan kata manis dari Tommy membuat Kimberly tersenyum. Sementara kedua orang tuanya dan keempat kakaknya tersenyum bahagia melihat interaksi Tommy dan Kimberly.
"Sudah siap kencan ketiga kita, hum?" tanya Tommy sambil menggoda Kimberly.
"Aku siap," jawab Kimberly.
"Om, Tante, Kak. Aku pinjam Kimberly sebentar ya." Tommy meminta izin kepada kedua orang tua dan keempat kakaknya Kimberly.
"Silahkan," jawab mereka kompak.
"Mom, Dad, Kak. Aku pergi ya."
"Hati-hati di jalan."
"Jangan ngebut bawa mobilnya."
"Iya, Mom, Dad."
"Siap, Om."
Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan rumah keluarga Aldama untuk menikmati kencan ketiga mereka.