THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Aku Bukan Anak Haram



Sudah dua jam lebih Kimberly dan Tommy berada diluar. Selama dua jam itu, Kimberly dan Tommy sudah mengunjungi empat pertokoan untuk membeli baju dan yang lainnya, dua cafe untuk mengisi perutnya, lima arena bermain.


Terakhir mereka akan menuju Mall yang terkenal dan besar di kota Hamburg, Jerman.


Disinilah Kimberly dan Tommy berada, di sebuah Mall terkenal di Jerman. Keduanya menghabiskan waktu bersama sembari berkencan.


Kimberly dan Tommy berjalan bergandengan tangan sehingga membuat yang melihatnya dengan tatapan cemburu, iri dan jijik. Sedangkan Kimberly dan Tommy tak peduli tatapan para pengunjung.


"Mau beli apa, hum?" tanya Tommy.


"Aku mau ke toko itu." Kimberly menunjuk kearah toko yang menjual berbagai macam perhiasan, handphone, laptop dan jam tangan bermerek.


Toko itu satu, tapi menjual beberapa barang-barang mewah dan mahal. Dan Kimberly adalah langganan disana. Pemilik toko itu sudah kenal dan tahu dengan Kimberly.


"Baiklah. Kamu tunggu aku disana. Jangan kemana-mana kalau sudah selesai."


"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Kimberly kepada Tommy.


"Aku mau mencari sesuatu. Nanti kamu akan tahu apa sesuatu itu."


"Baiklah. Jangan lama-lama."


"Siap, tuan putri!"


Setelah itu, Kimberly dan Tommy pergi ke tempat masing-masing untuk membeli sesuatu yang diinginkan olehnya.


***


Di kediaman Fathir Aldama semua anggota keluarga telah berkumpul termasuk Fathir, Nashita beserta adiknya Nashita.


Semuanya pulang ke rumah karena dihubungi oleh Jason, Alfan, Pasya dan Zivan. Mereka meminta para orang tua pulang karena ada sesuatu hal yang akan mereka perlihatkan.


Nashita tak henti-hentinya menangis sembari mengusap pipi putih Jacob. Bahkan Nashita berulang kali memberikan ciuman di seluruh wajah keponakannya itu.


"Mommy benar-benar bahagia bisa bertemu lagi dengan kamu, Nak! Mommy yang hanya berstatus sebagai Bibi kamu sudah seperti ini rindunya. Apalagi ibu kandung kamu."


Bukan hanya Nashita yang menangis karena bertemu dengan putra sulung dari Indira. Clarita, Rafassya dan Nirvan juga menangis. Mereka benar-benar bahagia bisa bertemu lagi dengan keponakannya yang sudah lama terpisah dari ibu kandungnya.


Clarita melihat kearah Risma yang sejak tadi hanya diam sembari tatapan matanya menatap semua anggota keluarganya. Clarita meyakini bahwa keponakannya itu bingung akan sikapnya, sikap kakak dan sikap adiknya terhadap Jacob.


"Risma," panggil Clarita.


Risma seketika terkejut ketika mendengar panggilan dari Bibinya.


"Iya, Bun!"


"Kemarilah. Duduk disini dekat Bunda," jawab Clarita sambil menepuk pelan sofa di sampingnya.


Risma langsung berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati sang Bibi. Setelah tiba di dekat bibinya, Risma langsung duduk di samping sang Bibi.


Semua anggota keluarga melihat kearah Clarita dan Risma termasuk Jacob.


"Kamu pasti bingung kenapa Bunda, Mommy, Papi dan Papa yang menangis sembari memeluk Jacob?"


Risma langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya. Dia memang bingung melihat sifat aneh keluarganya. Bahkan untuk yang lainnya juga. Nashita dan adik-adiknya belum membeberkan siapa Jacob kepada anak-anaknya dan keponakan-keponakannya yang lain.


"Risma, sudah saatnya kamu tahu sesuatu sayang."


"Maksud Bunda?"


"Ya, Tuhan! Bagaimana aku menyampaikannya. Aku tidak ingin membuat Risma ingat tentang kejadian itu. Saat ini Risma hanya tahu bahwa dia adalah putri sulungnya Indira. Dan dia hanya tahu kalau dia hanya memiliki satu orang adik perempuan." Clarita berbicara di dalam hatinya.


Clarita melihat kearah kakak perempuannya. Begitu juga dengan Nashita yang juga menatap adik perempuannya.


Nashita kemudian menganggukkan kepalanya bertanda bahwa Clarita harus menceritakan semuanya. Nanti dia dan kedua adik laki-lakinya akan ikut membantu menjelaskan kepada Risma.


Clarita kembali menatap wajah cantik keponakannya itu. Tangannya kemudian mengusap lembut pipi putih Risma.


"Sayang, pemuda yang ada di hadapan kamu yang saat ini duduk di samping Mommy Nashita itu adalah... Adalah kakak kandung kamu."


Deg..


Risma seketika terkejut ketika mendengar ucapan terakhir sang Bibi yang mengatakan bahwa pemuda yang bernama Jacob itu adalah kakak kandungnya.


Bukan hanya Risma saja yang terkejut. Triny, Aryan, Billy serta saudara-saudarinya yang lain juga terkejut.


"Bu... Bu... Bun-da..." Risma berucap gugup dan terbata-bata.


Clarita menganggukkan kepalanya dengan disertai air matanya mengalir membasahi wajahnya.


"Dia kakak kandung kamu sayang. Namanya adalah Jacob Liam Rowan. Sama seperti nama kamu yaitu Risma Liam Fidelyo. Hanya marga yang berbeda. Kamu menggunakan Marga ibu kamu, marga keluarga kita."


"Tapi Ma-mami... Mami..." Risma sudah menangis ketika mendengar cerita dari Clarita.


"Kamu sedang sakit. Ingatan kamu tentang keluarga Rowan yang tak lain adalah keluarga dari ayah kandung kamu hilang. Kamu tidak mengingatnya. Bahkan kamu juga melupakan bahwa kamu memiliki satu kakak laki-laki."


Deg..


Jacob seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari Bundanya yang mengatakan bahwa adik perempuannya hilang ingatan tentang keluarga Rowan dan juga dirinya.


Jacob langsung melihat kearah Nashita. Dirinya ingin mendapatkan jawaban pasti dari Nashita.


"Mom," lirih Jacob.


"Iya, itu benar! Risma hanya ingat kita sebagai keluarganya. Dia sama sekali tidak mengingat tentang keluarga Rowan. Bahkan kamu, kakaknya. Maka dari itulah kenapa Risma memakai marga Fidelyo bukan marga Rowan."


"Apa yang terjadi Mom? Katakan padaku," mohon Jacob dengan berlinang air mata.


"Bukan itu saja, Mami kamu juga mengatakan pada Papa, pada Mommy kamu dan pada Papi kamu bahwa Risma juga mendengar ucapan kejam yang dilontarkan oleh ayah kandungnya yaitu Sebastian Liam Rowan." Nirvan berucap dengan penuh penekanan.


"Apa? Laki-laki brengsek itu bicara apa kepada adik perempuanku?" tanya Jacob yang saat ini benar-benar marah.


Mendengar perkataan dari Jacob membuat mereka semua paham akan kehidupan yang dijalani oleh Jacob selama ini di keluarga Rowan. Jacob tidak merasakan kebahagiaan selama hidup di keluarga Rowan.


"Papi kamu menyebut Risma anak haram Mami kamu dengan laki-laki lain. Papi kamu menatap jijik Risma yang berstatus putri kandungnya. Bukan itu saja Papi kamu juga tidak mempercayai bayi yang dikandung Mami kamu. Papi kamu menyebut kalau bayi itu adalah hasil hubungan gelap Mami kamu dengan laki-laki itu. Laki-laki yang sudah dibayar oleh kedua perempuan itu." kini Rafassya yang menceritakan kebejatan keluarga Rowan.


Jacob mengepal kuat tangannya ketika mendengar ucapan dan cerita dari Rafassya.


"Mendapatkan hinaan dan makian dari keluarga Rowan terutama dari ayah kandungnya membuat Risma marah. Risma sangat dendam saat itu. Setelah Risma mengeluarkan semua amarahnya, Risma mengajak ibunya pergi meninggalkan kediaman keluarga Rowan. Mami kamu menghubungi Papa untuk minta dijemput di terminal. Dan Papa datang bersama Papi Rafassya untuk menjemput Mami kamu dan Risma."


Air mata Jacob tidak bisa dibendung lagi. Jacob menangis. Hatinya benar-benar hancur dan sakit ketika mendengar cerita dari Paman dan Bibinya tentang perlakuan kejam keluarga Rowan terhadap ibu dan adik perempuannya.


"Kalian benar-benar brengsek! Kalian tidak pantas disebut manusia!"


Grep..


Nashita menarik tubuh keponakannya itu ke dalam pelukannya. Dia tidak tega melihat wajah sedih dan hancur keponakannya itu. Sementara Fathir yang duduk di samping kanan Jacob mengusap lembut punggungnya Jacob.


Bagaimana dengan Risma? Risma sejak tadi hanya diam sembari telinganya terus mendengarkan apa yang dikatakan oleh Paman dan Bibinya.


Detik kemudian...


"Aakkhhh!"


Tiba-tiba Risma merasakan sakit di kepalanya. Tangannya meremat kuat rambutnya.


"Risma!" teriak semua anggota keluarganya, termasuk Jacob.


[Dasar penipu. Berani sekali kau mengaku-ngaku sebagai putri kandungku!]


[Kau bukan putri kandungku. Kau adalah anak haram ibumu dan laki-laki itu]


[Jangan lagi kau memanggilku dengan sebutan Papi. Aku tidak sudi memiliki putri sepertimu!]


"Aakkhhh!" Risma makin berteriak kencang ketika bayangan-bayangan masa lalu serta ucapan demi ucapan dari seseorang berputar-putar di kepalanya.


"Risma, sayang! Hei! Lepaskan rambut kamu. Jangan ditarik," panik Clarita.


Triny dan Billy ikut membantu sang Bunda untuk melepaskan tangan Risma yang saat ini tengah menarik rambutnya.


"Risma, sayang! Kamu dengar Mommy, nak?! Lepaskan ya!"


"Lepaskan Risma!" mohon Triny.


[Kau hanya anak haram dari ibumu]


[Kau bukan putri kandungku]


"Arrgghh! teriak Risma. "Aku bukan anak haram! Aku bukan anak haram! Mami!" teriak Risma dengan disertai air matanya yang mengalir membasahi wajahnya.


Mereka semua menangis ketika mendengar ucapan serta teriakan dari Risma.


Jacob langsung berdiri dari duduknya. Kakinya melangkah menuju dimana adik perempuannya duduk.


Melihat Jacob yang ingin mendekati Risma. Clarita, Billy dan Triny memberikan ruang untuk Jacob.


Kini Jacob sudah duduk di samping kanan adik perempuannya. Tanpa berpikir dua kali, Jacob langsung menarik tubuh adiknya dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Ima, ini kakak Koko. Apa kamu masih bisa dengar dan kenal dengan suara kakak, hum?"


Berlahan Risma melepaskan tangannya dari rambutnya ketika mendengar ucapan dan juga merasakan pelukan seseorang.


[Ini untuk Ima ya kak. Kakak beli aja lagi]


[Baiklah. Apa yang nggak untuk Ima, adiknya kakak yang cantik]


[Terima kasih kakak Koko]


Setelah beberapa detik memeluk tubuh adiknya, Jacob pun melepaskannya. Jacob tersenyum menatap wajah cantik adiknya sembari tangannya menghapus air mata adiknya itu.


"Ka-kakak Jacob."


Seketika Jacob tersenyum ketika mendengar sapaan pertama dari adiknya.


"Iya. Ini kakak. Kakak Jacob. Maafkan kakak yang tidak ada saat kamu dan Mami disakiti oleh keluarga iblis itu."


"Mami sama Mila pasti bahagia bertemu kakak."


"Mila? Siapa Mila?" tanya Jacob.


"Kakak nggak lupakan kalau saat kejadian itu Mami sedang hamil tua?"


"Jadi... Jadi, Mila itu....?"


"Iya, kak! Kakak punya dua adik perempuan."


Ketika mereka semua tengah menangis bahagia menyaksikan pertemuan kakak dan adik yang terpisah lama, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara seseorang memasuki ruang tengah dengan menenteng banyak paper bag di tangan kanan dan tangan kirinya.


"Mommy! Daddy! Kakak! Princess pulang!" teriak Kimberly.


Sementara Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar teriakkan dari kesayangannya. Begitu juga dengan anggota keluarganya yang lain.