
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Di sebuah kamar di kediaman Nirvan Fidelyo terlihat seorang gadis cantik tengah sibuk mengerjakan sesuatu. Gadis itu adalah Triny Fidelyo.
Malam ini Triny merasa senang sekali karena kemarin Andhika menjanjikan akan mengajaknya ke pantai yang berada di luar kota.
Yang membuat Triny lebih senang lagi bukan hanya acara ke pantai, tapi Triny akan menghabiskan harinya bersama Andhika, satu-satunya laki-laki yang sangat dia cintai saat ini dan selamanya.
Triny sudah mempersiapkan semua yang dibutuhkan dari semalam. Mulai dari baju renang, sunblock, dan beberapa keperluan lainnya karena Andhika mengatakan akan menginap di Villa yang ada disana. Villa tersebut milik adik perempuan ibunya Andhika.
Saat ini Triny berada di kamarnya. Dirinya tengah mengerjakan tugas-tugas sekolahnya yang belum diselesaikan olehnya.
Ketika Triny tengah fokus mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, tiba-tiba terdengar suara pintu kamarnya dibuka.
Cklek!
Mendengar suara pintu kamarnya dibuka, Triny langsung melihat kearah pintu tersebut. Dan Triny melihat ibunya yang melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Anak Mama sedang belajar ya. Tumben rajin," ledek Liana kepada putri bungsunya.
Mendengar perkataan dari ibunya membuat Triny langsung mempoutkan bibirnya kesal.
"Aish, Mama! Giliran anaknya malas-malasan disuruh belajar. Giliran anaknya belajar dikatakan dibilang tumben," ucap Triny kesal.
Liana tersenyum ketika mendengar dan melihat wajah manyun putrinya lalu tangannya mengacak-acak rambut putrinya itu gemas.
Liana menduduki pantatnya di sofa sebelah putrinya. Triny saat ini duduk di bawah beralaskan karpet bulu.
"Bagaimana? Sudah siap?"
"Apanya?" tanya Triny yang fokus mengerjakan soal-soal yang ada di hadapannya.
"Katanya mau ke pantai bersama Andhika di luar kota? Apa semua sudah dipersiapkan?"
Mendengar pertanyaan dari ibunya seketika Triny menghentikan kegiatan menulisnya. Lalu tatapan matanya menatap wajah cantik ibunya.
"Semuanya sudah aku persiapkan. Pulang sekolah besok langsung berangkat," sahut Triny.
"Siapa saja yang ikut?" tanya Liana.
"Eeemm. Aku belum tahu siapa saja yang ikut. Aku dengar kemarin yang ikut Nathan dan Ivan bersama kekasih mereka."
"Bagaimana dengan Billy, Aryan dan Kimberly? Apa mereka juga ikut?"
"Aku nggak tahu Ma. Sepertinya nggak. Tapi aku nggak tahu juga. Aku dan Andhika belum dapat informasi dari Billy, Aryan, Kimberly dan yang lainnya."
"Kamu sudah tanya langsung sama Billy, Kimberly dan Aryan?"
"Nanya langsung sih belum. Tapi aku sudah nanya lewat grup para sepupu. Jawaban dari mereka katanya nggak ikut. Alasan mereka nggak ikut karena sudah punya acara masing-masing di tempat masing-masing."
"Ingat pesan mama ketika kamu berada di kota orang. Jaga diri. Ketika kamu berduaan bersama Andhika, ingat jangan lakukan yang tidak sepantasnya. Kamu itu perempuan."
Mendengar perkataan sekaligus nasehat ibunya. Triny langsung memeluk tubuh ibunya erat.
"Mama tidak perlu khawatir. Dimana pun aku berada, aku akan selalu ingat pesan Mama. Aku tidak akan membuat Mama kecewa. Cukup Mama doakan aku dan percaya padaku."
Liana tersenyum ketika mendengar ucapan dari putri bungsunya. Tanpa diminta pun dirinya akan selalu mendoakan semua anak-anaknya. Dan juga Liana selalu menaruh kepercayaan besar kepada semua anak-anaknya.
"Ya, sudah! Lanjutkan belajarmu. Jangan tidur malam-malam."
"Baik, Ma!"
Setelah itu, Liana pun pergi meninggalkan kamar putri bungsunya.
***
Di kediaman Judika Alexander terlihat beberapa orang masih terjaga. Orang-orang itu adalah Judika sang kepala keluarga bersama istri dan anak-anaknya.
Mereka saat ini berada di ruang tengah tengah mengobrol dan berbincang-bincang kecil sambil menunggu mata mengantuk.
"Bagaimana persiapan untuk berangkat ke Berlin, Andhika?" tanya Belinda kepada putra bungsunya.
"Sudah siap semuanya Mi," jawab Andhika.
"Yakin sudah dipersiapkan semuanya?" tanya Vonny kakak perempuannya.
"Yakin, kak."
"Jam berapa berangkatnya?" tanya Carly sang kakak tertua.
"Pulang sekolah langsung berangkat kak Carly," jawab Andhika.
"Jadi kamu nggak pulang dulu?" tanya Fazio kakak ketiganya.
"Kalau pulang dulu takutnya kemaleman di jalan kak. Aku dan yang lainnya mengejar sampai di Berlin pukul 5 sore," ucap Andhika.
"Siapa saja yang ikut selain kamu dan Triny?" tanya Judika kepada putra bungsunya.
"Yang jelas saat ini yang sudah pasti ikut yaitu aku, Triny, Nathan, Ivan Lisa dan Alisha," jawab Andhika.
"Lah jadi Tommy nggak ikut?" tanya Carly.
"Tommy nggak ikut karena Kimberly juga nggak ikut. Sementara kabar yang aku dengar dari Triny yang mengatakan bahwa Kimberly nggak ikut karena mendengar Tommy juga nggak ikut," sahut Andhika.
"Andhika," panggil Judika dengan menatap wajah tampan putra bungsunya itu.
Andhika langsung melihat kearah ayahnya yang kini menatap wajahnya.
"Iya, Pi!"
"Ingat pesan Papi ketika kamu sampai disana. Jangan berbuat macam-macam, apalagi melakukan hal buruk terhadap Triny. Kedua orang tuanya telah mempercayai putrinya kepadamu. Maka kamu sebagai laki-laki harus bertanggung jawab dengan menjaga dan melindungi Triny selama disana."
Mendengar perkataan sekaligus nasehat ayahnya membuat Andhika seketika tersenyum.
"Seperti yang pernah aku katakan kepada Papi bahwa aku ingin menjadi laki-laki seperti Papi dimana Papi selalu menjaga dan melindungi Mami ketika masih pacaran dulu. Apa yang Papi lakukan dulu kepada Mami. Itu juga yang akan aku lakukan terhadap Triny. Aku cinta sama Triny, Pi! Dan hanya Triny yang akan menjadi istri aku kelak."
Mendengar perkataan dari Andhika membuat Judika tersenyum bahagia dan juga bangga. Begitu juga dengan Belinda, Carly, Vonny dan Fazio.
***
Keesokan paginya suasana di kediaman Fathir Aldama tampak ramai dimana semua anggota keluarga sudah bangun dari tidurnya dan juga sudah dalam keadaan rapi dan wangi.
Dan kini semuanya sudah berkumpul di meja makan dengan menu makanan dan minuman yang sudah tertata rapi di atas meja.
"Ini susu pisang kamu sayang!"
"Terima kasih Mom."
Kimberly langsung menyeruput susu pisang kesukaannya itu hingga tersisa setengahnya.
Melihat bagaimana antusias Kimberly yang meminum susu kesukaannya membuat Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan tersenyum gemas.
Ketika mereka sedang menikmati sarapan paginya, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara dering ponsel. Ponsel tersebut milik Kimberly.
Kimberly langsung mengambil ponselnya yang ada di saku Almamater miliknya. Ketika ponselnya sudah berada di tangannya, matanya melihat nama 'Kak Deryl' di layar ponselnya.
Kimberly mentautkan kedua alisnya ketika membaca nama salah satu tangan kanan kakak keduanya.
Kimberly melihat kearah kakak keduanya itu lalu berucap. "Kak Uggy. Kenapa kak Deryl menghubungiku? Bukankah dia tangan kanannya kakak? Apa mungkin dia amnesia kali ya sehingga menghubungiku?" tanya Kimberly.
Mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari adik perempuannya membuat Uggy tersenyum. Begitu juga dengan kedua orang tuanya dan ketiga kakaknya yang lain.
"Mana kakak tahu. Dia kan bodyguard kamu," jawab Uggy seenaknya. Padahal dirinya yang menugaskan tangan kanannya itu untuk menjaga dan mengawasi Kimberly.
Mendengar jawaban tak mengenakkan dari kakaknya itu membuat Kimberly mendengus.
"Enak banget jawabnya. Dia bisa jadi bodyguard aku juga atas perintah kakak." Kimberly berucap dengan mulut yang bergerak ke kiri dan ke kanan.
Lagi-lagi mereka semua tersenyum gemas ketika mendengar perkataan dan melihat wajah kesal Kimberly.
"Dari pada kamu ngomel-ngomel nggak jelas seperti itu. Lebih baik kamu angkat tuh panggilan dari bodyguard kamu. Apa nggak kasihan sama bodyguard kamu yang sudah seribu kali menghubungi kamu dan kamu nya nggak jawab?" ucap Enda yang menjahili adik perempuannya.
"Aish!" kesal Kimberly lalu Kimberly menjawab panggilan dari Deryl.
"Hallo, kak Deryl!"
"Hallo, nona! Maafkan saya kalau saya lancang menghubungi nona."
"Ach, tidak apa-apa! Kenapa kak Deryl?"
"Saya ada kabar gembira untuk nona. Dan saya yakin nona pasti akan sangat bahagia mendengarnya."
"Buruan katakan kak!"
"Begini nona. Murid yang bernama Gracia Aditya beserta ibunya sudah diusir dari keluarga Aditya. Berita yang nona posting di internet sudah dilihat oleh anggota keluarga Aditya, terutama oleh Gustavo Chena Aditya."
Mendengar penuturan dari Deryl seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly. Dan tanpa sadar, Kimberly mengatakan hal yang beberapa hari ini tidak diketahui oleh anggota keluarganya.
"Maafkan aku Gracia karena aku sudah membeberkan kelakuan busuk ibumu di internet sehingga membuatmu dan ibumu terusir dari keluarga Aditya. Aku terpaksa melakukannya karena kau selalu saja mencari masalah denganku. Bahkan ibumu juga."
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan seketika terkejut. Mereka menatap lekat wajah Kimberly.
"Hallo, nona! Apa nona masih mendengarkan saya?"
"Ach, maaf kak Deryl! Iya, aku masih mendengarkan kakak. Sekarang katakan kepadaku. Setelah mereka diusir dari keluarga Aditya. Dimana mereka tinggal sekarang?"
"Anak buah dari tuan Gustavo mengantarkan langsung ke kediaman keluarga Ameera. Keluarga Ameera itu keluarga dari pihak nyonya Lindaweni. Dan kemungkinan besar, sebagian keluarga Ameera tidak tahu kelakuan menjijikan nyonya Lindaweni. Apalagi saudara tertua."
"Apa yang terjadi jika saudara tertua dari keluarga itu mengetahui kelakuan menjijikkan wanita itu?"
"Sama seperti keluarga Aditya, nona! Saudara tertua dari keluarga Ameera akan mengusir Nyonya Lindaweni dan nona Gracia jika sampai mengetahui kelakuan menjijikkan mereka selama ini."
Kimberly kembali tersenyum ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Deryl. Kimberly begitu sangat bahagia ketika mendengar berita bahagia ini.
"Terima kasih informasinya kak Deryl. Aku sangat puas mendengarnya. Kak Deryl pantau terus mereka. Ini bisa aku jadikan hukuman berikutnya untuk mereka jika mereka masih mengusikku. Apalagi Gracia. Aku sangat yakin dia pasti akan membalasku jika dia tahu aku yang sudah menyebabkan dia dan ibunya terusir dari keluarga Aditya."
"Baik, nona!"
Setelah mengatakan itu, baik Kimberly maupun Deryl sama-sama mematikan panggilannya.
Kimberly tak henti-hentinya tersenyum ketika mendengar dua musuhnya terusir dari keluarga Aditya. Bahkan saat ini Kimberly membayangkan wajah sedih, wajah sengsara dan wajah gembel Gracia dan ibunya ketika diusir dari kediaman keluarga Aditya.
Melihat Kimberly yang masih tersenyum setelah mendapatkan kabar bahagia dari Deryl membuat Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala. Mereka tahu bagaimana sifat kesayangannya itu jika sedang bahagia seketika lupa akan sekitarnya.