THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kebahagiaan Anggota Keluarga



Setelah dirawat selama lima hari di rumah sakit akibat insiden dijegat dan berakhir ditembak. Kini Kimberly sudah berada di rumahnya. Kimberly begitu bahagia ketika dirinya sampai di rumah.


Kini Kimberly bersama anggota keluarganya serta  kekasihnya Tommy dan para sahabatnya dan sahabat-sahabat dari ketiga sepupunya berada di ruang tengah. Mereka semua berkumpul disana sembari mengobrol dan bercerita.


"Senang deh anak kelinci kita sudah lepas dari kandangnya," sahut Rere yang seenak jidat. Rere berbicara sambil membuka ciki potatoes di tangannya.


Mendengar perkataan anarkis dari Rere membuat mereka tersenyum sambil melirik kearah Kimberly. Sementara Kimberly memberikan pelototan yang begitu tajam kearah Rere.


"Siapa yang kau bilang anak kelinci yang sudah lepas dari kandangnya kecebong bunting, marmut, muka pas-pasan, hah?!" tanya Kimberly.


Mendengar pertanyaan Kimberly lagi-lagi membuat mereka tersenyum. Baik Kimberly maupun Rere sama-sama memiliki lidah yang tajam.


"Hei, siapa yang kamu bilang kecebong bunting  marmut dan muka pas-pasan, hah?!" tanya Rere yang menatap tak kalah tajam kearah Kimberly.


"Yah elu lah. Siapa lagi. Diiantara kita berlima. Elu yang paling jelek. Aku heran sama Henry. Kenapa Henry suka sama lu?" Kimberly berucap.


Kimberly melihat kearah Henry. "Kak Henry. Kenapa kakak suka sama Rere? Rere itukan jelek."


Baik Henry maupun yang lainnya hanya bisa tersenyum mendengar perkataan dan pertanyaan dari Kimberly. Tapi tidak dengan Rere. Rere sudah mengeluarkan beribu macam umpatan dan sumpah serapahnya untuk Kimberly.


"Eeemm. Kenapa ya? Suka aja," jawab Henry.


"Suka aja." Kimberly mengulangi perkataan Henry. "Hanya itu doang alasannya? Apa gak ada alasan yang lebih masuk akal untuk seorang Henry Emeric menyukai seorang Rere Pratista yang bar-bar?"


"Ada sih satu alasan kenapa gue suka sama Rere," ucap Henry.


Mereka semua melihat kearah Henry, termasuk Rere yang saat ini duduk di sampingnya.


"Katakan Henry. Apa alasan kamu suka sama cewek bar-bar seperti Rere," sahut Catharine.


"Catharine!" teriak Rere.


"Upps! Sorry, Re... Hehehehe."


"Aku suka sama Rere karena... Karena..." Henry melirik kearah Rere yang ada di sampingnya yang sudah memperlihatkan wajah seramnya. "Aku suka karena Rere baik, penyayang dan pengertian."


Mendengar perkataan dari Henry membuat Rere tersenyum. Kemudian Rere menyenderkan kepalanya di bahu Henry.


Mereka yang melihat Rere yang tersenyum bahagia sembari menyenderkan kepalanya ikut merasakan kebahagiaan. Namun detik kemudian, senyuman kebahagiaan itu hilang dari bibir Rere ketika mendengar perkataan dari Henry dan tawa keras dari Kimberly.


"Tapi bohong."


"Hahahahaha."


Rere menatap kesal Henry, lalu Rere mencubit pinggang Henry tak main-main sehingga membuat Henry memekik.


"Aakkhhh! Re, kenapa mencubit pinggangku?"


"Kenapa? Mau lagi?" Rere menatap horor Henry.


"Hehehehe. Aku mau kamu cubit aku lagi. Tapi cubit disini ya." Henry membawa tangan Rere dan meletakkan di dada kirinya.


Mendapatkan perlakuan romantis dari Henry membuat Rere tersipu malu.


"Jangan pamer kemesraan disini. Rumah gue bukan tempat orang memamerkan kemesraan!" seru Kimberly.


Mendengar perkataan dari Kimberly mereka semua hanya geleng-geleng kepala.


"Lo kenapa Kim?" tanya Santy.


"Gue? Gue baik. Emangnya kenapa?" ucap dan tanya Kimberly.


"Sikap lo aneh. Sejak keluar dari rumah sakit. Lo jadi sensi gini," ucap Sinthia.


"Gue kayak gini tu gara nenek lampir yang lagi mesra-mesraan sama kakek lampir," jawab Kimberly sambil nunjuk kearah Rere dan Henry dengan dagunya.


"Jadi kamu cemburu karena lihat Rere sama Kak Henry mesra-mesraan, hum!" Catherine berbicara sambil menggoda Kimberly.


"Yeey! Siapa juga yang iri dan juga cemburu. Gak ada dalam kamus seorang Kimberly Aldama yang cemburu melihat kebahagiaan orang lain," jawab Kimberly yang seketika wajahnya memerah.


Mereka semua termasuk kedua orang tuanya, keempat kakaknya tersenyum bahagia ketika melihat interaksi kesayangannya dengan sahabat-sahabatnya.


"Terus kenapa wajah kamu merah gitu kalau gak cemburu?" tanya Catherine.


"Apaan sih kamu Catharine," kesal Kimberly.


Setelah itu, Kimberly beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan mereka semua. Melihat kepergian Kimberly hanya bisa tersenyum.


"Payah kamu Tommy. Gitu saja lamu tidak mengerti," ucap Satya.


"Iya, nih! Tidak peka dan tidak romantis juga. Kalah dengan kita-kita," ucap Mirza.


"Yak! Kenapa kalian pada membully gue? Tadi sahabat-sahabatnya Kimberly yang membully Kimberly. Sekarang kalian yang membully gue. Apa..." perkataan Tommy terpotong.


"Udah. Gak usah banyak bacot. Pergi sana kejar Kimberly. Ntar lepas lo nangis-nangis. Apa lo niat balik ama si kuntilanak itu?" Andhika berbicara sambil menjahili Tommy.


"Amit-amit gue."


Tommy mengetukkan tangannya di meja dan di keningnya tiga kali. "Jika gue balik sama sikuntilanak itu bisa-bisa gue mati berdiri mendengar permintaan mereka yang gak pernah habisnya. Setiap hari ada aja yang mereka minta dariku," jawab Tommy.


"Kalau gitu. Buruan susul Kimberly," sahut Andry.


Setelah itu, Tommy berdiri dari duduknya. Melihat Tommy yang sudah berdiri. Nashita bersuara.


"Kimberly ada di paviliun belakang. Biasa dia disana jika jam segini."


"Terima kasih Tante."


"Woi. Jaga jarak aman. Ingat!" Teriak Nathan.


"Hahahahaha."


Merek tertawa mendengar perkataan dari Nathan.


***


Tommy dan Kimberly saat ini berada di kolam berenang yang ada di paviliun. Paviliun itu dibuat memang khusus untuk Kimberly. Jika Kimberly kesepian dan juga bosan. Kimberly akan pergi ke paviliun miliknya dan bermain seharian disana.


Keduanya duduk dengan kaki berendam di dalam kolam renang. Kimberly menyenderkan kepalanya di bahu Tommy. Dan Tommy sesekali mengecup sayang kepala Kimberly.


"Tommy."


"Iya."


"Kamu beneran sayang dan cinta sama aku?"


"Kenapa? Kamu tidak percaya, hum?"


"Jawab aja kenapa sih."


Mendengar nada kesal Kimberly membuat Tommy tersenyum, lalu tangannya bermain-main di kepala Kimberly.


"Aku Tommy Alexander bersumpah bahwa sangat... Sangat mencintai Kimberly. Kimberly adalah satu-satunya wanita yang akan selalu ada di hatiku. Apapun yang terjadi. Sekali pun suatu saat kami bertengkar hebat. Tidak akan ada wanita lain yang akan masuk ke dalam kehidupan seorang Tommy. Kimberly akan menjadi wanita pertama dan terakhir dalam kehidupan seorang Tommy."


Mendengar perkataan dan ucapan dari Tommy membuat hati Kimberly bahagia. Dirinya benar-benar bahagia ketika mendengar janji dan sumpah dari Tommy.


Mendengar sumpah dan janji Tommy kepadanya. Kimberly pun berjanji dan bersumpah pada dirinya sendiri. Janji dan sumpahnya Kimberly sama seperti janji dan sumpahnya Tommy untuknya. Hanya Tommy yang akan selalu ada di hatinya.


"Sekarang katakan padaku. Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Tommy yang tangannya masih bermain-main di kepala Kimberly.


"Aku takut kamu bakal ninggalin aku suatu saat nanti. Secara kamu sudah tahu siapa aku. Kamu sudah tahu bahwa aku memiliki Altar Ego. Sosok yang ada di dalam diri aku ini sangat mengerikan jika sudah marah. Itulah alasannya kenapa aku begitu takut jika kelak kamu ninggalin aku."


Mendengar jawaban dari Kimberly membuat hati Tommy sesak. Segitunya ketakutan Kimberly akan kehilangan dirinya. Padahal dirinya tidak akan pernah pergi meninggalkannya.


Tommy menarik tubuh Kimberly ke dalam pelukannya dan memeluk erat tubuh Kimberly.


"Dengarkan aku. Apapun yang terjadi nantinya. Apapun kondisi kamu saat ini dan kedepannya. Aku tidak peduli. Aku akan selalu ada untuk kamu. Aku tidak akan pernah ninggalin kamu. Papi pernah bilang padaku. Jadilah laki-laki yang dewasa dan bertanggung jawab. Jangan menyerah hanya karena sebuah masalah yang datang menimpa kita. Baik masalah dalam pekerjaan, masalah dalam hubungan percintaan, masalah hubungan persahabatan dan juga hubungan suami istri. Justru masalah yang datang itu harus kita hadapi agar bisa membuat kita menjadi lebih kuat dan sabar. Jadi aku akan selalu ada untuk kamu baik kamu sedang sedih maupun kamu sedang bahagia. Kita akan melewatinya bersama-sama. Kamu maukan?"


Mendengar penuturan dari Tommy membuat hati Kimberly menghangat. Dirinya benar-benar bahagia.


"Aku mau menghadapi masalah bersama-sama dengan kamu."


Tommy tersenyum ketika mendengar jawaban dari Kimberly.


"Aku mencintaimu, Kimberly Aldama."


"Aku juga mencintaimu, Tommy Alexander."


Tanpa mereka sadari, kedua orang tuanya, keempat kakaknya, para anggota keluarganya dan para sahabatnya tersenyum bahagia mendengar apa yang dibicarakan oleh Kimberly dan Tommy. Mereka semua tampak bahagia melihat Kimberly dan Tommy.


Nashita meneteskan air matanya kala mendengar perkataan demi perkataan Tommy untuk putri satu-satunya. Dirinya benar-benar berharap jika putrinya menikah dengan Tommy yang tak lain putra sahabatnya dan juga sahabat suaminya.


"Tuhan. Lindungi putriku dan calon menantuku. Jangan pisahkan mereka. Biarkan mereka tetap bersama sampai mereka menikah kelak," batin Nashita berdoa.