
Di sebuah rumah mewah terlihat seorang pria paruh baya tengah duduk di mini bar miliknya sembari meneguk wine yang ada di dalam gelasnya. Pria itu tengah bahagia saat ini.
Bagaimana tidak bahagia? Beberapa menu yang lalu, pria itu baru saja menerima panggilan dari salah satu tangan kanannya. Tangan kanannya itu mengatakan bahwa dia sudah mendapatkan nama serta wajah dari kekasihnya Tommy Alexander
Tangan kanannya juga mengatakan bahwa Kimberly adalah sosok perempuan yang ada di cafe tersebut. Perempuan yang sudah mendengar semua pembicaraannya dengan rekan bisnisnya sekaligus sahabatnya. Serta perempuan yang sudah menggagalkan rencananya.
Tangan kanannya itu memang sudah mengetahui wajah dan nama perempuan yang dicintai oleh Tommy. Hanya saja tangan kanannya itu tidak latar belakang dari Kimberly yang sebenarnya.
Dengan kata lain, tangan kanannya itu belum mengetahui berasal dari keluarga mana Kimberly berasal.
Ketika berbicara dengan tangan kanannya itu, pria tersebut meminta untuk langsung mendatangi tempat Kimberly bersekolah lalu membawa Kimberly secara paksa. Pria itu mengatakan kepada tangan kanannya untuk tidak melukai Kimberly. Dengan kata lain, hanya pria itu dan sahabatnya yang akan memberikan penyiksaan terhadap Kimberly.
Pria itu juga mengatakan kepada tangan kanannya, jika Kimberly melawan atau memberontak ketika dibawa. Tangan kanannya itu boleh menyakiti Kimberly dengan cara membuat Kimberly pingsan.
"Kimberly. Sebentar lagi aku akan mendapatkanmu. Aku akan membuat perhitungan denganmu karena sudah menggagalkan rencanaku,"ucap pria itu lalu meneguk sisa wine di dalam gelas.
***
Billy, Andhika dan Tommy saat ini bersama dengan para sahabatnya di ruang komputer. Mereka kini tengah memikirkan rencana untuk melindungi Kimberly dan Catherine.
"Disini Kimberly yang paling diincar," sahut Tommy.
"Tangan kanan Papi mengatakan bahwa jika tidak mendapatkan Catherine tak masalah. Asal mendapatkan Kimberly itu sudah satu poin untuk dua pria itu," sahut Andhika.
"Berarti mereka benar-benar mengincar Kimberly," ucap Andry.
Tommy saat ini dalam keadaan marah. Dirinya bersumpah jika kedua pria itu sampai menyakiti Kimberly, maka kedua laki-laki itu akan mati ditangannya.
"Jika kedua bajingan itu berani menyentuh Kimberly. Aku bersumpah akan membunuh mereka. Bahkan aku juga akan buat perhitungan dengan kedua perempuan busuk itu," ucap Tommy.
Mendengar perkataan dan ancaman dari Tommy, Billy dan yang lainnya langsung menatap wajah Tommy. Dapat mereka lihat bahwa Tommy saat ini benar-benar marah.
Puk..
Billy menepuk pelan bahu Tommy hanya untuk sekedar menenangkan emosi Tommy.
"Kita akan melindungi Kimberly. Percayalah! Kimberly akan baik-baik saja," ucap Billy sembari mengusap-usap lembut bahu Tommy.
Andhika yang duduk di samping kanan Tommy juga ikut menghibur dan menenangkan Tommy sepupunya itu. Dirinya tahu bahwa saat ini sepupunya itu benar-benar takut jika terjadi sesuatu terhadap Kimberly.
"Apa yang dikatakan oleh Billy benar. Kita akan menjaga dan melindungi Kimberly. Begitu juga dengan Catherine. Tidak akan terjadi apa-apa terhadap mereka berdua," ucap Andhika.
Andhika menatap satu persatu wajah sahabat-sahabatnya. Dirinya saat ini bersama Billy mengambil alih tugas untuk membuat rencana selama berada di dalam lingkungan sekolah.
"Kita bagi tugas. Henry, Lionel dan Satya. Kalian bertiga melindungi Kimberly. Kemana pun Kimberly pergi, kalian harus ikuti."
"Baik, Dhik!" jawab Henry, Lionel dan Satya bersamaan.
"Nathan, Ivan, Mirza. Kalian bertugas melindungi Catherine. Sama seperti Kimberly. Ikuti kemana pun Catherine pergi," ucap Andhika.
"Baik, Dhik!" jawab Nathan, Ivan dan Mirza bersamaan.
"Sementara aku, Billy, Tommy dan Andry akan berjaga di sekeliling sekolah."
"Sementara untuk Aryan, Triny dan sahabat-sahabatnya bersikap biasa saja. Apalagi ketika bersama dengan Kimberly. Bagaimana pun Kimberly tidak boleh tahu bahwa dirinya dalam bahaya. Jika Kimberly tahu, takutnya itu akan memancing traumanya keluar." Billy berucap sembari mengingat trauma Kimberly.
^^^
Di luar sekolah terlihat dua mobil Van berwarna hitam terparkir disana. Tatapan mata orang-orang yang ada di dalam mobil tersebut mengarah kearah sekolah.
"Coba lihat. Siapa orang-orang yang berpakaian hitam itu?"
"Mereka banyak sekali. Bahkan mereka berjaga-jaga di dua tempat. Bagian dalam dan juga bagian luar!"
"Kalau seperti ini. Bagaimana caranya kita masuk ke sekolah itu dan membawa pergi gadis yang bernama Kimberly dan Catherine."
"Bos, bagaimana ini?"
Pria yang berstatus sebagai pimpinan seketika langsung memikirkan cara agar bisa masuk ke dalam sekolah itu.
"Kalian tunggu disini. Aku akan keluar dan mencari informasi siapa Bos mereka."
"Baik, Bos!"
Setelah mengatakan itu, sang pemimpin keluar dari dalam mobil Van tersebut. Setibanya diluar, pria itu melangkahkan kakinya mendekati orang-orang yang berjaga di bagian luar sekolah.
Pria itu mengendap-endap agar bisa mendengar pembicaraan orang-orang yang berpakaian hitam tersebut.
"Bagaimana? Apa semuanya aman?" tanya Darian.
"Aman Bos," jawab salah satu anggotanya.
"Bagus. Pastikan semuanya baik-baik saja. Jangan sampai kita kecolongan. Jika hal itu terjadi, maka Bos Riyan akan marah kepada kita."
"Baik Bos!"
Pria yang bersembunyi dan tengah menguping tersebut seketika tersenyum ketika mengetahui nama dari Bos dari orang-orang berpakaian hitam itu.
Setelah mengetahui nama Bos dari orang-orang berpakaian hitam itu, pria itu pergi meninggalkan tempat tersebut untuk kembali ke mobil Van nya.
Pria itu membuka pintu mobil Van nya setelah tiba di depan mobil tersebut. Setelah itu, pria itu masuk ke dalam mobil tersebut.
"Aku sudah mengetahui nama dari pimpinan mereka. Namanya adalah Riyan. Sekarang kalian keluar dan temui mereka. Katakan bahwa kalian diperintahkan oleh Bos Riyan untuk membawa pulang Kimberly."
"Baik, Bos!"
"Berhati-hatilah ketika menjalankan tugas. Jangan sampai salah. Dan jangan sampai ketahuan."
"Baik, Bos!"
Setelah itu, keluarlah sekitar sepuluh orang yang kebetulan mereka juga memakai pakaian hitam. Hanya beda model saja.
Jika anggota dari Riyan dan anggota Enda memakai kemeja hitam polos tanpa saku. Sementara orang-orang yang mengincar Kimberly memakai kemeja hitam yang ada saku kiri dan kanan.
^^^
Di kelas Kimberly saat ini tengah mengikuti pelajaran matematika. Semuanya murid-murid termasuk Kimberly dan keempat sahabatnya fokus menatap ke depan. Tidak ada yang bersuara. Semuanya fokus mendengarkan penjelasan dari guru matematika itu.
Ketika kelas Kimberly tengah fokus mengikuti pelajaran matematika, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok.. Tok.. Tok..
Mendengar suara ketukan pintu dari luar membuat guru matematika dan para murid-murid itu langsung menghentikan kegiatannya. Dengan kompak mereka semua melihat keluar.
Mereka semua melihat seorang pria berpakaian hitam berdiri di depan pintu sembari tersenyum.
"Iya, tuan! Ada apa?" tanya guru matematika itu.
"Maaf nyonya. Saya adalah anggota dari tuan Riyan. Saya datang kesini untuk membawa pulang nona Kimberly."
"Kimberly," panggil guru matematika itu.
Sementara Kimberly menatap lekat wajah laki-laki yang berdiri di depan pintu.
Kimberly berdiri dari duduknya dan diikuti oleh keempat sahabatnya. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya.
Kimberly kemudian melangkahkan kakinya maju ke depan dengan tatapan matanya masih menatap kearah laki-laki itu. Tatapan mata Kimberly menatap laki-laki itu dari atas sampai bawah. Bahkan Kimberly juga menatap pakaian yang dikenakan oleh laki-laki tersebut.
Kimberly kini telah sampai di depan dan berhadapan dengan laki-laki itu dengan tatapan matanya tak lepas menatap kearah laki-laki itu.
"Nona, mari ikut saya pulang. Tuan Riyan memberikan perintah kepada saya untuk membawa nona pulang."
Kimberly seketika tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar ucapan dari laki-laki di hadapannya itu.
Dan detik kemudian, Kimberly melangkah mundur dengan tatapan matanya masih menatap wajah laki-laki itu.
"Apa kau pikir aku ini bocah SD yang langsung mempercayai perkataanmu, hum?"
Deg..
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat laki-laki itu seketika terkejut. Bukan hanya laki-laki itu saja yang terkejut. Guru matematika itu, keempat sahabatnya dan teman-teman sekelasnya juga terkejut.
"Apa maksud nona? Saya benar-benar tidak mengerti," ucap laki-laki itu.
"Aku katakan kepadamu, tuan! Pertama, kakakku Riyan tidak pernah memberikan perintah kepada anggotanya untuk menjemputku. Kedua, jika pun kakakku Riyan memberikan perintah untuk menjemputku, maka yang datang kesini adalah salah satu tangan kanannya. Ketiga, aku kenal dengan semua tangan kanannya kakakku walau aku tidak tahu nama-nama mereka. Keempat, barusan kau menyebut kata 'tuan Riyan'. Asal kau tahu, baik tangan kanannya maupun semua anggotanya. Mereka memanggil kakakku dengan sebutan Bos Riyan. Dan yang kelima, pakaian yang kau pakai itu jauh berbeda dengan pakaian yang dipakai oleh anggota-anggota kakakku."
Kimberly berbicara sembari menyebutkan secara detail tentang kakaknya dan para anggota kakaknya dengan tatapan matanya menatap wajah laki-laki itu.
Sementara untuk laki-laki tersebut seketika terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly gadis yang menjadi target Bos nya.
"Lebih baik kau pergi dari sini. Dan bawa para kawanan busukmu itu."
Mendengar perkataan kejam dari Kimberly membuat laki-laki itu seketika marah.
"Hahahaha."
Seketika laki-laki itu tertawa keras ketika mendengar ucapan dari Kimberly sehingga membuat seisi kelas ketakutan.
"Saya salut akan kepintaran anda, nona! Anda dengan gampang mengenali saya. Tapi apapun itu, anda tetap harus ikut dengan saya."
"Tidak semudah itu kau membawaku dari sini. Banyak yang melindungiku," sahut Kimberly.
"Orang-orang yang melindungi anda terlalu bodoh. Buktinya mereka percaya begitu saja padaku dan orang-orangku sehingga aku bisa sampai masuk kesini dan bertemu dengan anda," jawab laki-laki itu.
Kimberly tersenyum di sudut bibirnya. "Bukan mereka yang bodoh, tapi kau dan orang-orangmu yang terlalu licik sehingga bisa masuk kesini. Kau bisa masuk kesini karena menggunakan nama kakakku Riyan."
Laki-laki itu menatap penuh amarah kearah Kimberly. Dirinya benar-benar sudah tidak tahan untuk menyeret Kimberly dan membawanya pergi dari sekolah.
"Jangan membuatku menyakiti anda, nona! Sekarang ikut dengan saya!" bentak laki-laki itu.
"Jika kau berani. Mari maju," ucap Kimberly sembari menantang laki-laki itu.
Mendengar perkataan dan tantangan dari Kimberly membuat Rere, Santy, Sinthia dan Catherine ketakutan. Begitu juga dengan guru matematika dan teman-teman sekelasnya. Mereka menatap khawatir Kimberly.
"Brengsek!" teriak laki-laki itu.
Laki-laki itu kemudian mendekati Kimberly dan hendak membawa Kimberly secara paksa.
Dan detik kemudian...
Duagh..
"Aakkhhh!"
Brukk..
Kimberly langsung memberikan tendangan keras tepat di perut laki-laki itu sehingga membuat laki-laki itu tersungkur di lantai dengan posisi perut yang terlebih dahulu menghantam lantai.
"Tidak semudah itu kau menyentuhku. Aku bukan anak perempuan yang lemah yang gampang ditindas. Apalagi diculik," ucap Kimberly dengan tatapan matanya menatap tajam kearah laki-laki itu.
Rere, Santy, Sinthia dan Catherine mendekati Kimberly. Mereka takut jika sosok itu yang muncul.
Puk..
Rere menyentuh bahu Kimberly hanya sekedar untuk menyadarkan Kimberly.
Merasakan tepukan di bahunya, Kimberly langsung melihat ke samping. Seketika Kimberly tersenyum menatap wajah khawatir keempat sahabatnya.
"Aku Kimberly. Bukan Kimmy."
Mendengar perkataan dari Kimberly seketika Rere, Santy, Sinthia dan Catherine tersenyum.
"Nona!" seru seseorang yang datang memasuki kelas Kimberly.
Kimberly dan keempat sahabatnya langsung melihat kearah orang itu.
"Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya Darian.
Orang yang datang itu adalah tangan kanannya Riyan yang bernama Darian.
"Aku baik-baik saja. Kak Darian tidak perlu khawatir," jawab Kimberly.
"Apa laki-laki itu sempat menyentuh nona?" tanya Darian.
"Tidak," jawab Kimberly.
"Ach, syukurlah! Maafkan saya nona karena sempat kecolongan sehingga membuat laki-laki itu dan beberapa orang-orangnya berhasil memasuki perkarangan sekolah. Dia berhasil mengecoh saya dengan mengatakan bahwa Bos Riyan yang telah memberikan perintah."
"Kapan kakak sadar bahwa kak Iyan tidak memberikan perintah sama sekali?" tanya Kimberly.
"Sepuluh menit setelah mereka pergi menuju kelasnya nona, Bos Riyan menghubungi saya hanya untuk menanyakan kabar nona! Dari situlah saya seketika sadar."
"Apa kak Iyan tahu masalah ini?"
"Belum nona."
"Jangan beritahu kak Iyan dan juga kak Enda."
"Baik, nona!"
"Bagaimana dengan anggota dari laki-laki itu?"
"Sudah beres nona. Mereka sudah saya amankan."
"Baiklah."
Setelah itu, Darian dan beberapa anggotanya membawa laki-laki itu pergi meninggalkan kelas Kimberly.