
Kimberly sudah berada di meja makan bersama keempat kakak laki-lakinya. Sementara kedua orang tuanya berada di luar negeri.
"Bagaimana tidurmu, Kim?" tanya Jason sembari memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Nyenyak, kak Jason!" jawab Kimberly lalu meneguk susu pisangnya.
"Kamu sekolahnya mau diantar atau pergi sendiri?" tanya Riyan.
Kimberly menghentikan acara makannya lalu tatapan matanya menatap satu persatu wajah keempat kakak laki-lakinya.
"Nggak dua-duanya," jawab Kimberly. Setelah itu, Kimberly menatap makanannya.
Mendengar jawaban dari adik perempuannya membuat Riyan menatap terkejut. Begitu juga dengan Jason, Uggy dan Enda. Mereka menatap wajah adik perempuannya dengan tatapan bingung.
Kimberly yang menyadari bahwa keempat kakak laki-lakinya tengah menatap dirinya seketika langsung melihat kearah keempat kakak laki-lakinya itu. Kimberly tersenyum menatap wajah bingung kakak-kakaknya itu.
Ketika Kimberly hendak menjelaskan maksud dari jawabannya tersebut, tiba-tiba terdengar bunyi klason mobil di luar.
Tin... Tin..
Detik kemudian datang seorang security memberikan laporan kepada Kimberly.
"Permisi nona muda, tuan muda!"
"Iya, Paman!" Jason menjawabnya.
"Itu diluar ada tuan muda Tommy. Katanya mau menjemput nona Kimberly."
Seketika Kimberly tersenyum mendengar jawaban dari security tersebut.
"Baik, Paman! Terima kasih."
"Sama-sama nona!"
Setelah itu, security tersebut langsung pergi meninggalkan ketiga majikannya untuk kembali menemui Tommy.
Seketika Jason, Uggy, Enda dan Riyan tersenyum setelah mengetahui jawaban dari adik perempuannya.
Kimberly seketika berdiri dari duduknya sembari meraih tasnya yang ada di belakang punggungnya.
"Kak, aku langsung berangkat ya!"
Kimberly berjalan menghampiri satu persatu keempat kakak laki-lakinya lalu memberikan ciuman di pipi masing-masing.
Mendapatkan ciuman di pipinya membuat Jason, Uggy, Enda dan Riyan tersenyum.
"Hati-hati!"
"Iya!"
***
Kimberly dan Tommy dalam perjalanan menuju sekolah. Dan selama dalam perjalanan, keduanya banyak bercerita. Yang paling bersemangat bercerita adalah Kimberly. Sementara Tommy tersenyum melihat Kimberly yang begitu antusias bercerita. Apalagi bercerita tentang jalan-jalan ke kota Berlin kemarin.
"Kamu bahagia, hum?" tanya Tommy.
"Sangat. Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata," jawab Kimberly tersenyum.
"Nanti ketika kita liburan sekolah. Aku akan ajak kamu lagi kesana. Kamu mau?"
Mendengar perkataan dari Tommy seketika Kimberly langsung menolehkan wajahnya melihat kearah Tommy.
"Benarkah?" tanya Kimberly.
Tommy melihat sekilas kearah Kimberly lalu kembali menatap ke depan.
"Iya. Bagaimana? Mau?"
"Aku mau."
"Nanti disana aku akan ajak kamu berkeliling kota Berlin dan juga berbelanja."
"Kamu yang bayar ya?"
"Siap tuan putri."
Kimberly tersenyum ketika mendengar jawaban dari Tommy. Dirinya benar-benar bahagia dua hari ini termasuk tiga hari yang lalu Tommy selalu menuruti keinginannya.
Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam, akhirnya Kimberly dan Tommy sampai di sekolah.
***
Sesampainya di sekolah Tommy langsung memarkirkan mobilnya. Sementara Kimberly sudah turun duluan ketika melihat keempat sahabatnya berdiri dekat lobi. Dirinya langsung menghampiri keempat sahabatnya itu yang memang tengah menunggu dirinya.
"Sudah lama?" tanya Kimberly.
"Lima menit yang lalu!" jawab Rere, Santy, Sinthia dan Catherine bersamaan.
"Ke kantin dulu, apa langsung ke kelas?" tanya Santy.
"Ke kelas aja deh. Lagian aku dah kenyang," jawab Catherine.
"Baik!" Kimberly, Rere, Santy dan Sinthia langsung mengiyakan keinginan Catherine.
Setelah itu, mereka berjalan menyusuri luasnya sekolah untuk menuju kelasnya.
Dan tanpa disadari oleh Kimberly dan keempat sahabatnya, ada sepasang mata menatap tak suka.
"Brengsek! Kenapa perempuan itu masih dalam keadaan baik-baik saja? Apa laki-laki bodoh itu melakukan apa yang aku perintahkan?" batin orang itu.
***
Bugh... Duagh...
"Aakkhhh!" teriak seorang pemuda di sebuah ruangan karena mendapatkan pukulan dan tendangan dari seorang pemuda di hadapannya.
Pemuda yang menjadi korban pemukulan dan tendangan tersebut adalah pemuda yang mendapatkan tugas dari seseorang perempuan.
Sementara pemuda yang menjadi tersangka pemukulan dan tendangan itu adalah pemuda yang berstatus kakak laki-laki yang mana adik perempuannya menjadi sasaran dari pemuda itu.
Pemuda itu adalah Uggy Aldama. Putra kedua pasangan Fathir Aldama dan Nashita Fidelyo kakak laki-laki kedua Kimberly.
"Aku tanya sekali lagi. Siapa yang menyuruhmu untuk mencelakai adik perempuanku, hah?!" bentak Uggy untuk kesekian kalinya.
Flashback On
Uggy benar-benar sibuk saat ini. Kemungkinan besar hari ini Uggy akan pulang sekitar pukul 9 malam dari pada biasanya.
Ketika Uggy tengah sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk.
Uggy langsung meraih ponselnya yang ada di samping kanannya. Setelah itu, Uggy melihat nama 'Deryl' di layar ponselnya.
Tanpa membuang waktu lagi, Uggy pun langsung menjawab panggilan dari tangan kanannya itu.
"Hallo, Deryl!"
"Hallo, Bos! Apa saya mengganggu?"
"Tidak! Ada apa?"
"Saya ingin memberikan laporan Bos mengenai nona Kimberly ketika berada di kota Berlin."
"Katakan."
"Begini Bos. Ada seseorang yang sejak nona keberadaan nona di kota Berlin selalu mengawasi nona. Orang itu selalu memantau nona."
"Jadi maksud kamu orang itu sudah menargetkan adik perempuanku. Begitu?"
"Benar Bos!"
"Apa kau sudah tahu siapa orangnya?"
"Sudah, Bos! Sekarang orangnya sudah berada di markas dalam penjara. Anak buah saya berhasil menangkapnya ketika nona dan keempat sahabatnya sedang keluar membeli beberapa cemilan."
Mendengar jawaban dari Deryl membuat Uggy seketika tersenyum. Dirinya benar-benar beruntung memiliki Deryl dan mempercayakan Deryl untuk menjaga adik perempuannya selama berada di luar rumah.
"Bagus, Deryl! Aku suka cara kerjanya. Kau selalu cepat tanggap dan cepat dalam mengambil tindakan ketika melihat adik perempuanku dalam bahaya."
"Terima kasih, Bos! Apa yang akan saya dan yang lainnya lakukan kepada bajingan itu Bos?"
"Kurung saja dulu dia sampai aku kesana."
"Baik, Bos!"
Setelah mengatakan itu, Uggy mematikan panggilannya.
"Siapa lagi yang berani mengusik adik perempuanku?" batin Uggy.
Flashback Off
Uggy menatap nyalang kearah pemuda yang terikat di hadapannya. Pemuda masih bungkam, walau sudah beberapa kali mendapatkan pukulan dan tendangan dari Uggy.
"Jadi kau lebih memilih diam, hum! Baiklah kalau itu maumu."
Uggy melihat kearah dimana anak buahnya yang saat ini berdiri berjajar di belakang pemuda itu.
"Kalian! Siksa terus bajingan ini sampai dia buka mulut. Jika dia masih bungkam, maka kalian cari tahu latar belakang keluarganya. Mengerti!"
"Baik, Bos!"
Setelah mengatakan itu, Uggy pergi meninggalkan ruangan tersebut untuk menuju perusahaannya. Dirinya tidak ingin berlama-lama berada di ruang itu, takut tidak mengendalikan emosi terhadap pemuda tersebut.
***
Kimberly keempat sahabatnya kini berada di kantin. Setelah dua jam mengikuti pelajaran di kelas. Mereka memutuskan untuk mengisi perutnya karena sudah sejak tadi minta diisi.
Tiba-tiba Rere berdiri dari duduknya sehingga membuat Kimberly, Santy, Sinthia dan Catherine langsung melihat kearahnya.
"Mau kemana lo?" tanya Sinthia.
"Melapor sebentar," jawab Rere.
Mendengar jawaban dari Rere. Kimberly, Santy, Sinthia dan Catherine langsung paham.
" Ya, sudah! Buruan sana. Ngapain masih disini?" usir Catherine.
"Sialan lo," umpat Rere kesal.
Setelah itu, Rere langsung pergi meninggalkan kantin untuk menuju ke toilet.
^^^
Rere sudah berada di toilet. Dirinya seketika merasakan kelegaan ketika selesai menuntaskan hajadnya.
"Ach, leg!"
Setelah selesai dengan urusannya, Rere keluar dari dalam toilet dan hendak mencuci tangan di wastafel.
Namun seketika langkahnya terhenti ketika mendengar suara langkah kaki seseorang sembari berbicara. Rere bisa pastikan bahwa orang itu baru keluar dari dalam toilet.
Rere mengintip di balik pintu toilet. Dirinya ingin melihat wajah orang yang berbicara itu.
"Sial. Kemana laki-laki itu? Kenapa susah sekali menghubunginya? Apa dia sudah menjalankan apa yang aku perintahkan? Atau dia tidak melakukan pekerjaannya itu?"
Rere mengernyitkan dahinya ketika mendengar ucapan dari orang itu yang tak lain temannya sendiri. Bahkan Rere tidak bisa melihat wajahnya karena temannya itu membelakangi dirinya.
Seketika orang itu membalikkan badannya dan bersandar di dinding wastafel.
"Gracia," ucap Rere pelan.
Orang yang dilihat oleh Rere adalah Gracia. Dan saat ini Rere masih melihat kearah Gracia. Dirinya penasaran akan perkataan Gracia barusan.
"Dimana dia sekarang?"
"Kimberly dalam keadaan baik-baik saja ketika datang ke sekolah? Berarti dia tidak melakukan apa yang aku suruh? Aku sudah bayar dia dengan harga yang mahal. Sialan!" ucap Gracia dengan wajah marahnya.
Seketika Rere membelalakkan matanya dengan tangannya menutup mulutnya terkejut ketika mendengar ucapan dari Gracia.
"Kimberly. Kau boleh selamat ketika berada di kota Berlin kemarin. Tapi untuk yang kedua kalinya aku pastikan. Kau benar-benar mati. Atau setidaknya koma di rumah sakit," ucap Gracia.
Setelah mengatakan itu, Gracia pergi meninggalkan toilet. Dan tanpa disadari oleh Gracia, dirinya dalam masalah besar.
Melihat kepergian Gracia. Rere yang berada di dalam toilet langsung keluar.
"Ja-jadi orang yang saat itu terus menatap kearah dimana aku dan yang lainnya duduk tengah mengincar Kimberly. Dan orang itu suruhan dari Gracia?"
"Gila! Gracia benar-benar gila. Aku nggak akan biarkan Gracia melakukan hal buruk terhadap Kimberly. Aku harus segera memberitahu Kimberly. Setidaknya salah satu dari sepupu Kimberly."
Setelah mengatakan itu, Rere pergi meninggalkan toilet. Dirinya ingin segera menyampaikan kepada Kimberly dan yang lainnya apa yang di dengar.