THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Tujuh Laki-Laki Berpakaian Hitam



Di negara Amerika terlihat seorang pemuda tengah duduk di sofa yang ada di ruang tengah Apartemen miliknya. Pemuda itu adalah Arlo Fernandes.


Saat ini Arlo tampak begitu marah. Bagaimana tidak marah? Beberapa menit yang lalu Arlo mendapatkan panggilan dari orang yang sudah lama dilupakan. Dengan kata lain, Arlo tidak ingin mengingat orang yang sudah membuat dirinya kehilangan adik perempuannya selamanya.


"Brengsek! Mau apa lagi mereka menggangguku? Dan dari mana mereka mendapatkan nomor ponselku?" tanya Arlo kepada dirinya sendiri.


Ketika Arlo sedang dalam keadaan hati yang panas, tiba-tiba seorang pelayan datang menghampirinya.


"Maaf tuan."


Arlo langsung melihat kearah pelayan tersebut. "Ada apa Paman?"


"Di depan ada yang ingin bertemu dengan tuan."


"Mencari saya? Siapa?"


"Mereka sepasang suami istri. Dan mereka baru pertama kali kesini."


Mendengar jawaban dari pelayannya membuat Arlo berpikir bahwa tamu yang dimaksud oleh pelayannya adalah kedua orang tua kandungnya.


Namun detik kemudian, Arlo menepisnya. Dirinya berharap jika tamu itu bukan kedua orang tua kandungnya.


"Sekarang dimana mereka?"


"Masih diluar tuan. Saya tidak berani membawanya masuk ke dalam."


"Baiklah. Sekarang Paman kembali saja ke kamar. Tamunya biar saya yang temui."


"Baik tuan."


Setelah itu, pelayan itu pergi meninggalkan Arlo sendirian di ruang tengah.


"Semoga saja bukan mereka," batin Arlo.


Setelah mengatakan itu, Arlo beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju pintu utama Apartemen miliknya.


Cklek!


Pintu dibuka oleh Arlo. Dan seketika Arlo terdiam di tempat ketika melihat sepasang sosok yang begitu dibenci selama 5 tahun ini.


"Arlo," sapa sepasang suami istri itu dengan tatapan kerinduan dan penyesalan.


***


Kimberly, Tommy dan yang lainnya sedang dalam perjalanan menuju kota Berlin. Mereka berjalan beriringan dengan mobil yang dibawa Tommy di posisi depan. Di belakang mobil Tommy ada mobil Billy, disusul mobil Henry, mobil Lionel, mobil Satya, mobil Mirza, mobil Andry, mobil Lian, mobil Dylan dan mobil Jerry.


Jika para cowok sebagai sopirnya. Sementara bagian cewek-ceweknya saat ini tengah melakukan video call. Mereka memutuskan untuk berkomunikasi satu sama lainnya agar perjalanan mereka makin seru


Baik Kimberly, keempat sahabatnya maupun kedua sahabatnya Triny yaitu Dania dan Danela saling mengobrol dan bersenda gurau. Bahkan saling mengejek satu sama lain.


Sementara para cowok yang mendengar obrolan dan ejekan dari para gadis hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala. Mereka tidak berniat untuk masuk ke dalamnya. Mereka hanya fokus menyetir saja.


Setelah beberapa jam melakukan video call. Pada akhirnya Kimberly dan yang lainnya tepar alias tidur.


Melihat Kimberly, Rere, Santy, Sinthia, Catherine, Dania dan Danela tertidur membuat Tommy, Billy, Henry, Lionel, Satya, Mirza dan Andry tersenyum.


Satu jam perjalanan membuatmu Tommy menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah restoran yang mana restoran itu adalah restoran yang disinggahi oleh Andhika dan Triny, Nathan dan Lisa serta Ivan dan Alisha beberapa jam yang lalu.


Melihat mobil Tommy yang berhenti. Otomotif mobil Billy yang ada di belakang serta mobil-mobil para sahabatnya yang ada di belakang ikut berhenti.


Tommy keluar sebentar dari dalam mobil untuk memberitahu kepadanya yang lainnya untuk makan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanannya.


Baik Billy maupun yang lainnya mengeluarkan kepalanya untuk melihat kearah depan sembari berteriak.


"Ada apa?!"


"Kita makan dulu. Setelah itu, baru kita lanjutkan perjalanannya!"


Mendengar perkataan disertai teriakan dari Tommy mereka pun dengan kompak menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, mereka kembali memasukkan kepalanya ke dalam mobil lalu menatap kekasihnya yang masih tertidur.


Di mobil yang berbeda. Tommy, Billy, Henry, Lionel, Satya, Mirza dan Andry langsung membangunkan kekasihnya dengan lembut.


Tak butuh lama, para kekasihnya pun terbangun dari tidurnya.


"Sudah sampai ya?"


Pertanyaan tersebut keluar dari mulut Kimberly, Rere, Santy, Sinthia, Catherine, Dania dan Danela walau mereka berada di dalam mobil yang berbeda.


Mendengar pertanyaan dari kekasihnya membuat Tommy, Billy, Henry, Lionel, Satya, Mirza dan Andry tersenyum gemas.


"Belum."


"Kita makan dulu."


Itulah jawaban yang diberikan oleh Tommy, Billy, Henry, Lionel, Satya, Mirza dan Andry kepada kekasihnya sembari tersenyum.


Setelah itu, mereka semua dengan kompak keluar dari dalam mobil. Setiba diluar, mereka langsung melangkahkan kakinya menuju restoran yang ada di hadapannya.


^^^


Mereka semua sudah berada di dalam restoran. Sesampainya di dalam restoran, Tommy langsung memesan makanan dan minuman untuk kekasihnya dan juga untuk yang lainnya.


Kini semua pesanan sudah tertata rapi diatas meja. Dan mereka pun mulai menikmati makanan dan minuman tersebut.


"Kira kak Triny, kak Andhika sama yang lainnya sudah sampai belum ya?" tanya Santy disela makannya.


"Belum kayaknya. Mereka berangkat pukul 11. Dan kemungkinan mereka pasti berhenti dulu untuk mengisi perut. Paling lambat mereka sampai pukul 4 sore," sahut Tommy.


"Jika mereka sampainya pukul 4 sore. Kira-kira kita sampai pukul berapa Tommy?" tanya Danela.


"Hanya beda satu jam. Kalau Andhika dan yang lainnya sampai pukul 4 sore. Kita kemungkinan sampai pukul 5 sore," jawab Tommy.


Mereka semua dengan kompak menatap kearah jam tangan mereka masing-masing.


Mendengar seruan dari Kimberly dan keempat sahabatnya. Billy, Tommy dan yang lainnya tersenyum.


***


Selesai mereka makan. Mereka semua pun melanjutkan lagi perjalanan. Menurut perkiraan Tommy dan yang lainnya, perjalanan mereka membutuhkan sekitar 2 jam lagi untuk sampai ke kota Berlin.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti beberapa menit untuk mengisi perut dan beristirahat sejenak.


Tepat pukul 5 sore akhirnya Tommy, Kimberly dan yang lainnya sampai di sebuah Villa yang mana Villa itu milik adik perempuan ibunya Andhika.


Villa milik adik perempuan ibunya Andhika terlihat begitu besar dan luas. Apalagi halamannya. Ditambah lagi, Villa tersebut berlokasikan tak jauh dari pantai yang dimaksud oleh Andhika.


Kimberly, Rere, Santy, Sinthia, Catherine, Dania dan Danela langsung keluar dari dalam mobil masing-masing dengan menatap takjub pemandangan di sekitarnya.


"Wah!" seru mereka secara bersamaan.


"Indah sekali," sahut Kimberly.


Posisi mereka masih berada di luar Villa. Mereka belum memasuki area Villa sama sekali karena mereka sepakat untuk mengerjai Andhika dan Triny terlebih dahulu.


Baik Kimberly, Billy dan Aryan sudah dari awal ingin membuat kejutan untuk Triny. Kejutan pertama mereka berhasil dengan mengatakan bahwa mereka tidak ikut ke kota Berlin. Begitu juga dengan keempat sahabatnya, kedua sahabat Triny yaitu Dania dan Danela.


Setelah puas memandangi pemandangan indah di sekitar Villa. Tommy mengajak Kimberly dan yang lainnya ke penginapan yang ada di samping Villa. Penginapan tersebut juga milik adik perempuan ibunya Andhika.


Mereka beristirahat beberapa menit disana. Setelah selesai membuat kejutan untuk Triny, Andhika dan yang lainnya. Barulah mereka akan pindah ke villa tersebut.


^^^


Tepat pukul 7 malam. Tommy bersama dengan Billy, Henry, Lionel, Satya, Mirza dan Andry langsung melangkah mendekati pintu utama Villa dengan wajah yang ditutupi penutup wajah serta topi hitam.


Sementara Kimberly, Rere, Santy, Sinthia, Catherine, Dania, Danela, Aryan dan kelima sahabatnya menunggu diluar. Dengan kata lain bersembunyi. Mereka akan masuk ketika mendapatkan kode dari salah satunya.


Sementara di dalam Villa. Triny saat ini sedang menonton televisi bersama Lisa dan Alisha. Sekitar pukul 8 malam nanti, mereka akan keluar jalan-jalan sembari menyaksikan pemandangan indah kita Berlin.


Ting!


Tong!


Tiba-tiba Triny, Lisa dan Alisha dikejutkan dengan suara bunyi bell. Mendengar bunyi bell. Triny melihat kearah dua sahabatnya yaitu Lisa dan Alisha. Triny memberikan kode kepada kedua sahabatnya itu untuk membukakan pintu.


Namun kedua sahabatnya itu tidak kunjung beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu.


Melihat hal itu membuat Triny mendengus kesal akan ulah kedua sahabatnya itu. Sementara Lisa dan juga Alisha seketika tersenyum tanpa rasa bersalah melihat wajah kesal Triny.


Setelah itu, Triny berdiri dari duduknya dan melangkah menuju pintu utama Villa.


Setibanya di depan pintu utama Villa, Triny meraih gagang pintu lalu berlahan membuka pintu tersebut.


Setelah pintu terbuka, seketika Triny terkejut dan berubah menjadi takut. Di hadapannya berdiri sekitar 7 orang laki-laki berpakaian hitam memakai penutup wajah dan topi.


Ketika Triny hendak melangkah masuk, salah satunya sudah mencegahnya dengan meletakkan tangannya di leher Triny. Dengan kata lain, orang itu memeluk tubuh Triny dari belakang.


Seketika tubuh Triny bergetar ketika tubuh di peluk oleh orang yang tak dikenal. Dan tanpa sadar air matanya mengalir membasahi wajah cantiknya.


Orang yang memeluknya dari belakang berusaha untuk tidak tersenyum apalagi sampai terkekeh. Justru orang itu berusaha menahan tawanya.


"Ayo masuk!" seru orang itu sembari mendorong tubuh Triny untuk masuk ke dalam. Dan diikuti oleh enam laki-laki lainnya di belakang.


^^^


Kini Triny sudah berada di ruang tengah. Lisa dan Alisha seketika berteriak histeris ketika melihat Triny yang disandera oleh salah satu laki-laki berpakaian hitam.


Mendengar teriakkan dari Lisa dan Alisha membuat Andhika, Nathan dan Ivan langsung keluar dari dalam kamarnya. Mereka baru saja selesai mandi.


"Triny!" teriak Andhika ketika melihat kekasihnya yang disandera oleh laki-laki berpakaian hitam.


"An-andhika. Tolongin gue," lirih Triny dengan berlinang air mata.


"Siapa kalian?! Lepaskan Triny!" bentak Andhika yang berlari untuk menyelamatkan Triny.


"Berani mendekat, maka pisau ini akan menyentuh leher putihnya," ucap orang itu di balik penutup wajahnya.


Seketika Andhika berhenti. Dirinya juga tidak ingin jika laki-laki itu sampai melukai kekasihnya.


Salah satu dari laki-laki berpakaian hitam itu melangkah menuju sofa. Setelah itu, laki-laki itu menduduki pantatnya disana.


"Sediakan kami makanan enak. Kami semua lapar."


Mendengar permintaan dari salah satu laki-laki berpakaian hitam itu membuat Andhika, Nathan, Ivan, Lisa dan Alisha terkejut. Bahkan mereka menatap dengan tatapan bingung kearah laki-laki itu.


"Hei, kenapa kalian diam saja? Apa kalian ingin teman perempuan kalian itu mati di tangan teman kami?!"


"Ayo, buruan! Siapkan kami makanan enak!"


Seketika Andhika, Nathan, Ivan, Lisa dan Alisha tersadar dari aksi mereka yang bingung. Setelah itu, kedua sahabatnya Triny langsung pergi menuju dapur untuk mengambil makanan yang beberapa menit yang lalu diantar oleh tantenya Andhika.


Tak butuh lama, Lisa dan Alisha datang membawa beberapa makanan dan minuman di tangannya dengan menggunakan nampan.


Lisa dan Alisha meletakkan makanan dan minuman itu di atas meja. Setelah itu, keduanya menjauh. Mereka saat ini benar-benar takut.


Laki-laki yang sudah duduk di sofa itu memulai untuk mencicipi makanan yang ada di atas meja itu.


Namun siapa sangka, seketika penyamaran laki-laki itu ketahuan oleh Nathan.


Nathan seketika fokus pada tangan laki-laki berpakaian hitam itu. Di tangan laki-laki itu terlihat ada tato berhuruf 't' kecil.


Kemudian Nathan melangkah hati-hati mendekati Andhika. Setelah itu, Nathan berbisik ke telinga Andhika.


Andhika yang mendapatkan bisikan dari Andhika langsung menatap kearah tangan kanan dari laki-laki berpakaian hitam itu.


Seketika terukir senyuman manis di sudut bibir Andhika ketika mengetahui wajah orang yang ada di balik penutup wajah tersebut.


"Sudah cukup bermain-mainnya Tommy Alexander!" seru Andhika.