THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Memberikan Tantangan



Kimberly dan Tommy saat ini berada di sebuah mall yang terbesar di Berlin, Jerman. Sejak kedua memasuki area mall. Banyak pasang mata yang menatap kagum, menatap suka dan juga iri dengan keromantisan mereka berdua.


Sejak memasuki area mall. Tommy tidak pernah sedikit pun melepaskan tangan Kimberly. Tommy senantiasa selalu menggandeng tangan Kimberly. Dirinya tidak ingin terjadi sesuatu terhadap perempuan yang begitu dicintainya.


"Tommy, kita kesana yuk," ajak Kimberly sambil menunjuk kearah toko tas branded dan mahal.


Tommy melihat kearah tunjuk Kimberly, lalu seketika terukir senyuman di bibirnya.


"Baiklah. Kita kesana."


Tommy dan Kimberly pun melangkahkan kakinya menuju tempat itu. Kini kedua sudah berada di toko tas tersebut. Dan si pelayan toko itu pun langsung melayani Kimberly dan Tommy.


"Selagi kamu milih-milih tas. Aku mau kesana sebentar ya. Ada sesuatu yang ingin aku beli," ucap Tommy.


"Baiklah," jawab Kimberly. Tommy pun pergi meninggalkan Kimberly.


Setelah kepergian Tommy. Kimberly menatap kearah beberapa tas yang sudah ditandainya. Kimberly berniat membeli beberapa tas.


"Mbak mau tas yang mana?" tanya si pelayan toko itu.


"Boleh lihat tas yang itu. " ucap Kimberly sambil menunjuk kearah tas berwarna hijau corak.


"Tentu." pelayan toko itu langsung mengambilkan tas yang tunjuk oleh Kimberly.


Setelah mendapatkan tas itu, penjaga toko itu pun memberikannya kepada Kimberly.


"Ini mbak tas nya. Ini tak merek Louis Vuitton Tribute Patchwork."


Kimberly tersenyum sembari memegang tas tersebut. "Berapa?"


"Harganya 100 juta, mbak."


"Eemm. Baiklah. Aku mau yang ini. Aku mau tiga tas lagi."


"Oh, boleh mbak. Tas yang mana aja mbak?"


Itu yang warna putih, merah sama hitam corak," jawab Kimberly sambil nunjuk tiga tas yang ada di atas etalase.


Penjaga toko itu langsung mengambil tas yang disebutkan oleh Kimberly. Tiga tas itu adalah mereka Hermes, Gucci dan Channel.


"Ini mbak." pelayan toko itu memberikan tiga tas itu kepada Kimberly."


"Berapa harga tiga tas ini Kak?"


"Yang Hermes harganya 80 juta, Gucci harganya 130 juta dan untuk yang Channel harganya 75 juta."


"Baiklah. Hitung semuanya Kak," sahut Kimberly.


Mendengar perkataan Kimberly membuat pelayan toko itu terkejut. Sedari tadi pelayan toko itu mamandang Kimberly tak suka. Pelayan itu berpikir jika Kimberly banya ingin melihat-lihatnya saja tanpa ada niat membeli.


"Baik, Mbak."


Pelayan itu pun mulai menghitung keempat tas yang dipilih oleh Kimberly. Ketika si pelayan sedang menghitung total jumlah harga tas tersebut, tiba-tiba datang dua orang gadis membuat heboh sehingga membuat para pengunjung mall lain mendengar dan berakhir jadi tontonan.


"Wah, Kimberly!" seru salah satu dari gadis itu. Kedua gadis itu mendekati Kimberly.


Kedua gadis itu adalah teman SMP Kimberly dulu. Keduanya termasuk Clara pernah membullynya dengan mengejek dan menghina Kimberly. Mereka menghina Kimberly karena Kimberly itu berasal dari keluarga miskin. Level mereka dengan Kimberly sangat jauh berbeda.


Sampai detik ini kedua mantan teman satu sekolah dengannya itu belum mengetahui status aslinya. Hanya Clara lah yang tahu. Namun Clara tidak pernah membeberkan status asli Kimberly sejak dulu kepada teman-teman SMP nya.


Sementara Kimberly hanya menatap dengan wajah sedikit kusut. Bagaimana tidak kusut? Harus hari ini adalah hari kebahagiaannya. Namun kebahagiaannya harus musnah saat melihat duo iblis mengganggunya.


"Buruan mbak dihitung. Aku gak mau lama-lama disini. Aku takut dibunuh sama duo iblis itu," sahut Kimberly sambil tangannya menunjuk kearah dua mantan teman SMP nya.


Mendengar perkataan Kimberly membuat Sisil dan Kiki mengepalkan kedua tangannya dan menatap tajam Kimberly. Sementara Kimberly hanya acuh dan tidak mempedulikan kedua mantan teman SMP nya itu.


Kiki melihat kearah pelayan toko yang sedang menghitung barang. "Maaf, mbak. Ini tas punya siapa?"


"Oh, ini tas milik mbak itu."


Sisil dan Kiki melihat kearah Kimberly. "Keempat tas ini pesanan dia?" tanya Sisil kepada pelayan toko itu.


Sisil dan Kiki melihat kearah Kimberly dengan tatapan jijik dan juga mengejeknya.


"Hei, Kimberly! Kamu dapat duit dari mana, hah?! Memangnya kamu mampu buat beli empat tas ini," ucap Sisil yang memandang hina Kimberly.


"Ngaku aja deh Kimberly. Kamu gak usah sok ngaku jadi orang kaya dengan membeli 4 tas sekaligus yang harganya lumayan buat makan satu tahun." Kiki berbicara dengan menatap mengejek Kimberly.


"Kamu gak kasihan sama ibu kamu, hah!" Sisil tersenyum di sudut bibirnya.


Kimberly hanya diam dan tidak berkomentar apa-apa ketika kedua mantan teman SMP nya berusaha untuk mempermalukannya di depan semua para pengunjung mall yang saat ini tengah menonton dirinya. Tapi Kimberly sudah menyiapkan hadiah kejutan untuk kedua mantan teman SMP itu bahkan bisa juga untuk pelayan toko itu jika pelayan toko itu lebih memilih percaya kedua duo iblis tersebut.


Sisil melihat kearah pelayan itu."Mbak dengar ya. Saya dan teman saya ini kenal dengan dia," ucap Sisil sambil nunjuk kearah Kimberly. "Dia itu teman satu SMP kita dulu. Dia itu berasal dari keluarga miskin. Jangan untuk beli tas sebanyak ini. Untuk makan saja mereka harus ngutang kesana kemari. Bahkan ketika masuk sekolah saja. Teman kami Clara yang banyak membantunya, terutama masalah uang." Sisil berbicara sesuai apa yang diceritakan oleh Clara selama ini.


Clara mengatakan bahwa Kimberly dan keluarganya tinggal bersama dengan keluarganya. Keluarganya sudah banyak membantu kehidupan dan perekonomian keluarga Kimberly.


"Apa mbak yakin jika keempat tas ini akan dijual kepada mantan teman SMP kami itu?" tanya Kiki.


Mendengar perkataan Kiki dan Sisil membuat pelayan toko menatap jijik Kimberly.


"Ternyata dugaan saya dari awal benar ya terhadap mbak. Mbak hanya pura-pura melihat-lihat, menanyakan harga tasnya. Dan ujung-ujungnya mbak akan bilang gak jadi!" seru pelayan toko itu.


"Atau jangan-jangan cowok yang tadi itu juga sama kayak mbak ya," ucap pelayan toko itu menuduh Tommy.


Semua pengunjung menatap Kimberly jijik. Mereka semua tak percaya atas apa yang dilakukan oleh Kimberly.


[Cantik-cantik nipu]


[Wajah cantik tapi hati busuk]


[Malu kali ya]


[Udah sana pulang]


[Memalukan]


[Menjijikkan]


Mendengar perkataan dari pelayan itu, dari kedua mantan teman SMP nya dan hinaan dari beberapa pengunjung mall membuat kesabaran Kimberly habis.


Kimberly berdiri dari duduknya lalu matanya menatap nyalang kedua mantan teman SMP nya, pelayan toko dan para pengunjung mall tersebut.


"Bagaimana kalau kita taruhan?" tanya Kimberly dengan menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya.


"Alah. Jangan mencari alasan lagi deh mbak. Kalau mbak gak punya uang. Dah, pulang sana." ucap salah satu pengunjung perempuan.


"Apa kau takut?" tanya Kimberly dengan matanya yang menajam.


"Siapa juga yang takut. Baiklah. Aku terima tantangan dari kamu," jawab perempuan itu.


"Bagaimana dengan kalian semua!" teriak Kimberly.


"Baik. Kami juga terima tantangan dari kamu," jawab seorang laki-laki mewakili para pengunjung lainnya.


Kimberly tersenyum di sudut bibirnya. Kimberly melihat kearah kedua mantan teman SMP nya dan juga pelayan toko itu.


"Jika aku mampu membayar keempat tas tersebut hari ini. Apa yang akan aku dapatkan dari kalian semua? Jika aku membuktikan siapa aku dan siapa keluargaku yang sebenarnya. Apa yang harus aku berikan kepada kalian sebagai hukumannya?" tanya Kimberly dengan menatap tajam orang-orang yang ada di hadapannya.


Mendengar perkataan dan pertanyaan dari Kimberly membuat mereka semua terkejut. Begitu juga pelayan toko, Sisil dan Kiki.


"Mana bisa begitu," protes Kiki tak terima.


"Tentu saja bisa. Bukan kau dan teman iblismu itu bahkan kalian semua tidak mempercayaiku kalau aku mampus membayar tas yang sudah aku pesan itu. Setidaknya apa yang barusan aku katakan hanya sebagai pembuktian bahwa seorang Kimberly sanggup membayar semua tas yang telah dipesannya. Kalau aku mau semua tas yang ada di toko ini bisa aku beli."


"Sudah. Jangan banyak omong. Buktikan sekarang juga!" teriak seorang pengunjung laki-laki.


"Baiklah. Ingat! Jika aku bisa membuktikannya. Maka kalian semua bersiap-siaplah menerima hukuman dariku. Bahkan hukuman yang akan aku berikan akan berdampak kepada seluruh anggota keluarga kalian. Kalian semua sudah masuk ke dalam daftar hitam dan target keluargaku."


Kimberly berbicara dengan menatap nyalang semua orang. Tidak ada rasa kasihan dalam dirinya saat ini.