THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Barry Dan Aiden



[KEDIAMAN MANDOVA]


Saat ini Ditmar ada di dalam kamarnya. Dirinya tampak bahagia setelah mendapatkan kabar dari Ramos yang mengatakan bahwa dia sudah berhasil mendapatkan tanda tangan Jason. Bahkan saat ini Ditmar membayangkan sedang duduk di kursi kebanggaan milik Jason.


"Jason. Sebentar lagi Perusahaanmu yang ada disini akan menjadi milikku. Kau telah merebut Perusahaan milikku. Jadi kali ini aku yang akan merebut Perusahaan milikmu," ucap Ditmar sembari tersenyum bahagia.


Ditmar mengambil ponselnya, lalu menghubungi musuhnya itu. Dan tak butuh lama, panggilannya tersebut langsung dijawab oleh musuhnya yang tak lain adalah Jason Aldama.


"Mau apa lagi?" Jason di seberang langsung keintinya. Karena Jason memang sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh Ditmar.


"Hallo, Jason. Lama tidak mendengar kabarmu dan juga suaramu."


"Tidak perlu basa-basi. Katakan saja apa maumu, pria tak tahu diri." Walau nada bicaranya lembut, namun ucapannya terdengar kasar.


"Jaga ucapanmu, Jason!" teriak Ditmar.


"Jika kau tidak ingin mendengar makian dan hinaan dariku. Jangan pernah menghubungiku atau menggangguku. Jika ada sesuatu yang ingin kau sampaikan, buruan katakan aku tidak punya waktu untuk melayanimu karena aku sudah mempersiapkan sesuatu untukmu dan keluargamu."


"Hahaha. Sombong sekali dirimu, Jason."


"Katakan saja apa maumu. Atau aku akan tutup teleponnya."


"Baiklah jika memang kau sudah tidak sabaran ingin mendengar apa yang ingin aku sampaikan padamu. Begini Jason Aldama. Mulai sekarang kau harus bisa menerima kenyataan jika Perusahaan cabangmu yaitu Js'nAld2 milikmu yang ada di Munich sudah resmi menjadi milikku. Jadi aku meminta padamu lupakan Perusahaan itu." Ditmar mengatakannya dengan semangat dan percaya diri.


"Hahahaha. Apa kau yakin jika Perusahaanku itu sudah resmi menjadi milikmu? Aku rasa kau hanya berhalusinasi saja tuan Ditmar. Sekarang begini saja. Kau hubungi rekanmu yang bernama Ramos. Tanyakan padanya apa rencananya berhasil?"


DEG..


Ditmar terkejut saat mendengar ucapan dari Jason.


"Sial. Dari mana Jason tahu jika aku bekerja sama dengan Ramos?


"Ditmar Mandova! Tunggu kejutan dariku."


Setelah mengatakan hal itu, Jason langsung mematikan panggilan tersebut.


"Brengsek, kau Jason!" teriak Ditmar.


Ditmar langsung menghubungi Ramos. Dirinya ingin bertanya langsung pada pria itu.


***


[PERUSAHAAN ARTHA COMPANY]


Ramos Alvaro kini tengah berada di ruang kerjanya. Saat ini dirinya tidak mengerjakan apapun selain duduk di kursi kebesarannya sembari memikirkan tentang kegagalannya untuk merebut Perusahaan JSn'Ald dan FTR'CORP.


"Bagaimana bisa pria itu mengetahui rencanaku? Bahkan saat di telepon, pria itu langsung mengatakan jika aku ingin merebut Perusahaan miliknya dan juga Perusahaan milik ayahnya?"


"Aku sudah salah menganggap remeh dirinya."


Disaat Ramos bergelut dalam pikirannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ketika Ramos melihat nama sipenelpon, seketika wajahnya berubah tak mengenakkan.


"Hallo." Ramos menjawabnya dengan suara tinggi.


"Yak! Kenapa kau menjawabnya dengan suara seperti itu? Ada apa denganmu?"


"Ada apa?" Ramos balik bertanya.


"Bagaimana? Apa kau berhasil mendapatkan kedua Perusahaan itu?"


"Tidak. Aku gagal," jawab Ramos langsung.


"Apa?!" teriak pria itu. "Kenapa bisa gagal? Bukankah kau sendiri yang mengatakan padaku jika rencanamu tidak akan pernah gagal. Kenapa sekarang kau mengatakan bahwa rencanamu telah gagal? Kau memang laki-laki bodoh dan tidak bisa diandalkan."


"Brengsek! Berani sekali kau berbicara seperti itu padaku, hah! Dasar laki-laki brengsek dan laki-laki tidak tahu diri. Sudah syukur aku mau membantumu. Kalau aku tidak memiliki niat untuk mendapatkan adik perempuan dari laki-laki itu, aku juga tidak sudi bekerja sama dengan bajingan sepertimu. Aku sudah mati-matian disini. Sedangkan kau seenaknya mengaturku. Jika kau pintar, kenapa bukan kau saja yang turun tangan untuk merebut Perusahaan itu!" bentak Ramos.


"Kau saja belum tentu bisa melakukan pekerjaan tersebut. Sekarang kau seenaknya mengatakan aku bodoh!"


Setelah mengatakan hal itu, Ramos langsung mematikan panggilan tersebut.


"Dasar laki-laki sialan. Awas saja. Akan aku balas kau," ucap Ramos.


***


Kimberly saat ini berkumpul dengan semua anggota keluarga Fidelyo di ruang tengah termasuk Oma Hilda. Kimberly berniat ingin menyelidiki masalah para pekerja di dalam pabrik tersebut.


"Sekarang katakan pada Oma. Kenapa kamu meminta kita semua berkumpul disini? Bahkan kamu menyuruh Oma dan Paman kamu untuk segera pulang. Bahkan Mami sama Tante kamu yang sedang membeli kebutuhan rumah untuk satu bulan kamu suruh buru-buru untuk pulang?" tanya Hilda lembut sembari tersenyum menatap wajah cantik cucu dari kakak perempuannya.


Semua menatap kearah Kimberly yang saat ini masih sibuk dengan laptopnya. Lebih tepatnya laptop milik Yuna sepupunya. Laptop yang dipinjam Kimberly itu laptop khusus untuk kerja bukan laptop untuk sekolah.


Beberapa detik kemudian..


"Selesai!" seru Kimberly.


Mendengar seruan Kimberly yang mengatakan kata 'selesai' membuat mereka semua menatap bingung kearah Kimberly. Mereka tidak tahu apa yang sedang dikerjakan oleh Kimberly dengan laptop milik Yuna.


Setelah selesai dengan urusannya, Kimberly pun menatap satu persatu anggota keluarga yang kini tengah menatap dirinya dengan tatapan bingung. Seketika Kimberly memperlihatkan senyuman termanis sehingga membuat semua anggota keluarganya hanya bisa menghela nafasnya.


"Hah!"


"Sekarang katakan pada Oma. Apa yang ingin kamu sampai pada Oma dan pada kita semua?"


"Ini masalah pabrik!"


Mendengar jawaban dari Kimberly dengan menyebut pabrik membuat semuanya saling memberikan tatapan. Kemudian mereka kembali menatap Kimberly.


"Kenapa kamu menanyakan soal pabrik? Apa kamu mau menjadi salah satu karyawan di pabrik keluarga kamu sendiri? Tidak.. Tidak! Mami tidak izinkan kamu bekerja disana. Bisa mati Mami dibunuh sama Mommy kamu itu," omel Indira.


"Yeeyy! Siapa juga yang mau kerja disana. Jika aku kerja disana, bisa-bisa kuku-kuku aku yang cantik ini bisa rusak," jawab Kimberly sembari memperlihatkan kukunya.


Mereka seketika tersenyum ketika mendengar jawaban dari Kimberly.


"Kamu itu sekolahnya tujuannya buat apa? Buat belajar apa buat pamer kuku," ejek Risma.


"Dua-duanya. Pepatah mengatakan sekali menyelam minum air," jawab Kimberly.


Mereka semua geleng-geleng kepala mendengar jawaban enteng dari Kimberly.


"Oke, lanjutkan!" seru Hilda. "Apa alasan kamu menanyakan masalah Pabrik?"


"Apa benar kalau di pabrik ada Direktur baru?" tanya Kimberly menatap wajah sang Oma.


"Iya, itu benar. Mommy kamu, Bunda kamu, Papi dan Papa kamu sudah tahu hal itu!" Hilda menjawab dengan jujur apa yang ditanyakan oleh cucunya itu.


"Sejak kapan?"


"Eemm... kalau Oma tidak salah pengangkatan Direktur baru itu dilakukan pada tanggal 20 February 2000," jawab Hilda.


[Anggap saja dalam cerita ini bercerita ditahun 2000-2004 sekarang]


"Berarti sudah empat tahun Direktur baru itu menjabat menjadi Direktur di pabrik?"


"Iya, sayang!"


"Kalau aku boleh tahu kenapa Direktur lama diganti? Apa ada masalah?" tanya Kimberly dengan menatap satu persatu anggota keluarganya.


"Direktur lama kedapatan korupsi besar-besaran sehingga membuat pabrik mengalami kerugian. Bahkan pabrik tidak beroperasi selama tiga bulan." itu Vicky yang menjawabnya.


Vicky dan Yuki sang putra sulungnya dipercayai untuk mengawasi setiap pekerja di pabrik.


"Yang bilang jika Direktur lama itu Korupsi, siapa?" tanya Kimberly.


"Aiden," jawab Yuki.


"Aiden?" tanya Kimberly mengulangi perkataan dari Yuki.


"Aiden menjabat sebagai wakil Direktur di Pabrik. Dia yang bertanggung jawab atas para pekerja Pabrik termasuk keselamatan para pekerja. Masa jabatan keduanya hanya beda dua tahun," sahut Yuki.


"Jika Barry bekerja selama 10 tahun menjadi Direktur, maka Aiden bekerja selama 8 tahun." Yuki menambahkan.


"Oh! Jadi Direktur lama itu bernama Barry?"


"Iya."


"Saat di Aiden itu mengatakan kepada kalian bahwa Barry sang Direktur telah korupsi. Kalian langsung percaya?" ucap dan tanya Kimberly.


"Tentu tidak, Kim!" Risma langsung menyela perkataan Kimberly.


"Terus?" tanya Kimberly.


"Aiden memberikan bukti tentang tindakan korupsi yang dilakukan oleh Barry. Semua bukti-bukti itu mengarah semua padanya," jawab Vicky.


"Terus dari Barry nya, bagaimana? Apa kalian memberikan kesempatan Barry untuk menjelaskan apa dia bersalah apa tidak, memberikan kesempatan padanya untuk menjelaskan bukti-bukti itu?" tanya Kimberly.


Mendengar ucapan serta pertanyaan dari Kimberly membuat mereka semua hanya diam. Tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaan dari Kimberly.