
Di hari minggu yang cerah dimana para adik-adik dari Fathir dan adik-adik dari Nashita berada di kediaman Fathir Aldama. Semuanya berkumpul di ruang tengah. Kecuali satu keluarga yaitu keluarga Ardian Aldama
Setiap hari Minggu para adik-adik dari Fathir dan Nashita akan datang berkunjung ke kediaman mereka. Sementara di hari Sabtu mereka habis untuk keluarga masing-masing.
"Kak Fathir, aku ingin memberitahu sesuatu kepada kakak!" seru Helena.
Fathir seketika melihat kearah adik perempuannya. "Apa itu Helena?"
"Ini masalah yang menimpa Valen," jawab Helena.
"Kenapa? Apakah....?" Perkataan Fathir terpotong karena Helena dan Rafassya langsung menganggukkan kepalanya secara bersamaan. Disertai dengan senyuman manis di bibir masing-masing.
Melihat senyuman disertai anggukkan dari adik dan adik iparnya membuat Fathir ikut tersenyum. Begitu juga dengan Nashita
"Masalah Valen selesai, kak!" seru Helena dengan menatap wajah tampan kakak laki-lakinya.
"Jadi kalian sudah mengetahui dalangnya?" tanya Fathir menatap wajah adik perempuannya dan adik iparnya.
"Sudah Dad. Lebih tepatnya salah satu tangan kanannya Fathan yang berhasil mengetahui dalang tersebut," sahut Pasya.
Fathir langsung menatap kearah keponakannya itu. Begitu juga dengan Nashita, Jason, Uggy Enda dan Riyan.
"Siapa dia Fathan? Kasih tahu Daddy."
"Dia sahabat aku sendiri Dad," jawab Fathan.
"Yang mana? Kamu memiliki lebih dari satu sahabat," ucap dan tanya Jason kepada adik sepupunya itu.
"Morris, kak Jason!" Fathan langsung memberitahu nama sahabatnya yang menjadi dalang penculikan Valen.
"Apa?!"
Mereka semua terkejut ketika mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Fathan, kecuali Rafassya, Helena, Pasya, Aryan dan Valen.
"Daddy tidak menyangka jika dia pelakunya."
"Jangankan Daddy. Aku saja yang sudah lama bersahabat dengannya juga tidak menyangka jika dia menjadi dalang dalam aksi itu," sahut Fathan.
"Terus dimana bajingan itu sekarang?" tanya Uggy.
"Ada di markasku kak Uggy," jawab Fathan.
"Baguslah kalau begitu. Biarkan saja dia disana. Dan jangan pernah lepaskan."
"Sudah pasti itu kak Uggy."
Seketika mereka semua dibuat terkejut dengan suara teriakan tiba-tiba dari Kimberly.
"Aarrgghh!"
Kimberly berteriak sambil menghempaskan punggungnya di punggung sofa.
Mereka semua langsung melihat kearah Kimberly yang kini bersandar di punggung sofa.
"Pasti kalah lagi tuh," ucap Triny.
"Sudah pasti. Apalagi yang membuat anak kelinci itu berteriak kalau bukan karena game," sahut Aryan.
Kimberly menegakkan kembali tubuhnya lalu tatapan matanya tertuju pada satu orang. Siapa lagi kalau bukan Riyan Aldama.
"Kak Iyan," panggil Kimberly.
"Ada apa, hum?" jawab dan tanya Riyan.
"Eemm. Apa kakak nggak nanya kemarin aku bertemu dengan siapa?"
"Memangnya kamu bertemu dengan siapa kemarin? Bukannya kamu pergi bersama Aryan, Triny, Billy dan yang lainnya. Termasuk pujaan hati kamu itu," ucap Riyan.
"Iya. Tapi apa kakak nggak penasaran sama orang yang aku temui itu?" tanya Kimberly.
"Billy, Triny dan Aryan juga ketemu sama orang itu loh," ucap Kimberly.
Riyan melihat kearah Billy, Triny dan Aryan. Dirinya benar-benar penasaran akan orang yang dimaksud oleh adik perempuannya.
Billy, Triny dan Aryan yang merasa ditatap oleh Riyan hanya tersenyum. Mereka tidak berniat untuk memberitahu Riyan. Menurut mereka yang berhak memberitahu hal itu kepada Riyan adalah Kimberly. Dan mereka tahu niat Kimberly yang ingin menjodohkan keduanya.
"Billy, Triny, Aryan. Siapa sih orang yang kalian temui kemarin?" tanya Riyan.
Mendengar pertanyaan dari Riyan. Dengan kompak Billy, Triny dan Aryan langsung mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.
Mendapatkan jawaban yang tak memuaskan dari ketiga adik sepupunya membuat Riyan mendengus. Sementara anggota keluarga yang melihatnya tersenyum.
Riyan kembali menatap wajah cantik adik perempuannya itu. Dirinya berharap jika adik perempuannya itu akan langsung memberitahu orang yang ditemuinya itu.
"Sekarang katakan kepada kakak. Siapa orang yang kamu temui kemarin?" tanya Riyan.
Mendengar pertanyaan serta wajah penasaran dari kakak keempatnya itu membuat Kimberly tersenyum.
"Kak Vina," jawab Kimberly.
"Vi-vina," ucap Riyan gugup.
Mendengar perkataan serta nada gugup kakaknya itu seketika timbul ide jahil di kepala Kimberly.
"Kenapa gugup begitu ketika menyebut nama kak Vina? Kangen ya? Kan bukan pacar! Kak Iyan sama kak Vina kan cuma sahabat doang," ucap dan tanya Kimberly sembari tersenyum menggoda menatap wajah Riyan.
Mendengar perkataan dari adik perempuannya itu membuat Riyan mendengus kesal. Bisa-bisanya adiknya berbicara seperti itu. Apalagi di depan semua anggota keluarga.
Kimberly tiba-tiba berdiri dari duduknya. Setelah itu, kakinya melangkah mendekati kakak keempatnya itu.
Setibanya di dekat kakaknya, Kimberly langsung menduduki pantatnya di samping sang kakak.
Sementara anggota keluarga hanya menjadi penonton dan pendengar setia. Mereka penasaran apa yang akan dibahas oleh Kimberly kepada Riyan.
"Kakak," panggil Kimberly.
"Hm." Riyan hanya menjawab dengan deheman.
"Boleh nanya nggak?"
"Kamu mau nanya apa?"
"Masalah hubungan kakak dengan kak Vina."
Riyan seketika melihat kearah Kimberly. Begitu juga dengan Kimberly. Riyan dapat melihat di manik coklat adiknya itu rasa penasaran akan hubungan persahabatan dirinya dengan sahabat perempuannya itu.
"Eemm... Nggak banyak-banyak kok. Hanya dikit doang."
"Banyak juga nggak apa-apa."
Seketika Kimberly membulatkan matanya ketika mendengar ucapan dari kakaknya itu.
"Benarkah?"
"Hm."
"Kak."
"Hm."
"Kakak sama kak Vina kan sudah lama tuh bersahabat."
"Iya. Sudah 8 tahun kakak dan Vina bersahabat. Kita putus kontak ketika selesai wisuda."
"Selama 8 tahun bersahabat dengan kak Vina. Apa kakak nggak memiliki perasaan lain gitu selain sahabat?"
"Maksud kamu?"
"Perasaan cinta gitu."
Deg!
Seketika Riyan terkejut ketika mendengar perkataan dari adik perempuannya. Riyan mengalihkan perhatiannya menatap ke depan.
"Kak, selama 8 tahun kalian berdua bersahabat. Pasti sudah saling mengenal satu sama lainnya bukan! Dan pasti juga sudah mengenal baik buruknya."
"Apa kakak nggak memiliki rasa suka layak sebagai seorang kekasih bukan sebagai sahabat?"
Riyan masih diam. Dirinya tidak tahu harus menjawab apa akan ucapan-ucapan yang diberikan oleh adik perempuannya.
"Kak Vina itu perempuan baik. Jika Kak Iyan pacaran dengan kak Vina. Aku orang yang paling bahagia."
Riyan seketika melihat kearah adik perempuannya. Tatapan matanya menatap lekat di manik coklat adiknya itu. Dan terlihat sirat kebahagiaan disana.
"Kakak belum mau......" Perkataan Riyan terpotong karena Kimberly sudah terlebih dulu memotongnya.
"Kakak takut jika kakak pacaran lagi, maka pacar kakak itu akan menyakiti kakak lagi. Begitu?"
Riyan tidak langsung menjawab perkataan dari adik perempuannya. Namun tatapan matanya menatap wajah cantik adik perempuannya itu.
Grep!
Kimberly seketika memeluk tubuh kakak laki-lakinya dengan erat. Dirinya tahu bahwa kakaknya itu masih trauma akan sebuah hubungan.
Mendapatkan pelukan tiba-tiba dari adik perempuannya membuat Riyan tersenyum. Hatinya menghangat.
"Kakak kan belum mencobanya. Dan aku yakin seratus persen bahwa kak Vina itu jauh lebih baik dari perempuan ular itu."
"Kenapa kamu ingin sekali kakak pacaran sama Vina?"
"Karena aku ingin memiliki kakak ipar kak Vina. Nggak mau yang lain. Jika kakak pacaran sama kak Vina. Berarti aku sudah memiliki dua kakak perempuan. Yang pertama kak Rica dan yang kedua kak Vina."
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Uggy dan Enda sontak terkejut. Bagaimana bisa adik perempuannya melupakan para kekasihnya.
"Hei, Kim! Bagaimana bisa begitu!" seru Enda.
Kimberly melihat kearah kakak ketiganya yang juga melihat kearah dirinya. Begitu juga dengan kakak keduanya.
"Kenapa?" tanya Kimberly yang memang tidak mengetahui apapun.
"Kamu tadi bilang jika Riyan pacaran sama Vina, maka kamu memiliki dua kakak perempuan!" sahut Uggy.
"Lah, kan benar?"
"Terus mau kamu kemana kan dua calon kakak ipar kamu yang lainnya?" tanya Uggy menatap kesal adik perempuannya itu.
"Kamu tidak melupakan Zaskiya pacar kakak dan kak Ziva pacarnya kak Uggy kan?" tanya Enda yang juga menatap wajah cantik adik perempuannya itu.
Mendengar perkataan dari kakak laki-lakinya seketika Kimberly tersadar akan kelupaannya.
Dan detik kemudian...
"Hehehehe."
Mendengar kekehan yang keluar dari mulut Kimberly membuat Uggy dan Enda hanya bisa menghela nafas pasrahnya. Sementara anggota keluarga lainnya tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Setelah itu, Kimberly kembali fokus kepada kakak keempatnya.
"Bagaimana kak Iyan? Apa kakak menaruh perasaan cinta untuk kak Vina?"
"Kalau kakak menaruh rasa cinta terhadap Vina. Lalu bagaimana dengan Vina? Apa dia juga menaruh perasaan yang sama kepada kakak?"
Mendengar pertanyaan dari kakak keempatnya itu, seketika Kimberly melepaskan pelukannya. Kimberly melihat kearah Billy, Triny dan Aryan. Begitu juga dengan ketiganya. Mereka juga melihat kearah Kimberly.
Detik kemudian, baik Kimberly maupun ketiga sepupunya itu tersenyum penuh arti.
Melihat ketiga adik-adiknya tersenyum membuat Riyan penasaran. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
Kimberly menatap wajah tampan kakaknya yang saat ini juga menatap wajah penuh penasaran.
Kimberly seketika tersenyum menatap wajah kakaknya itu. "Bagaimana kalau misalkan kak Vina juga menaruh perasaan yang sama terhadap kak Iyan?"
"Maksud kamu?"
"Maksud aku itu adalah kalau seandainya kak Vina itu cinta sama Kaka Iyan. Apa yang akan kak Iyan lakukan? Apa kak Iyan akan diam saja atau justru kak Iyan akan membalas cintanya kak Vina?"
Mendapatkan banyak pertanyaan dari adik perempuannya membuat Riyan seketika bungkam. Riyan benar-benar bingung saat ini. Tapi kalau boleh jujur, Riyan memang sangat merindukan Vina. Dirinya juga berharap dipertemukan dengan Vina.
Melihat keterdiaman kakaknya membuat Kimberly mendengus kesal. Kimberly seketika menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa.
"Jangan terlalu lama mikirnya. Ntar keburu diambil sama laki-laki lain. Aku dengar-dengar banyak laki-laki diluar sana yang mengejar-ngejar cintanya kak Vina!" ucap Kimberly dengan tatapan matanya menatap ke depan.
Setelah mengatakan itu, Kimberly langsung berdiri dari duduknya. Dirinya hendak pergi menuju kamarnya.
Namun sebelum itu, Kimberly kembali berucap sehingga membuat semua orang melongo termasuk Riyan.
Riyan lebih melongo bahkan terkejut akan perkataan dari adik perempuannya itu.
"Pokoknya aku nggak mau tahu bagaimana cara kak Iyan untuk mengutarakan perasaan kak Iyan kepada kak Vina. Yang aku mau kak Vina harus menjadi kakak ipar aku. Jika kakak Iyan gagal mendapatkan kak Vina. Aku nggak bakal mau bicara sama kak Iyan selama setengah tahun."