THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kemarahan Arshyat Dan Kelvin



Lima gadis cantik dan lima pemuda tampan berjalan menyusuri luasnya Mall yang ada di Jerman. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Dan jangan lupakan senyuman mengembang di bibir para kelima gadis cantik itu.


Kelima gadis cantik dan kelima pemuda tampan itu adalah Kimberly dan Tommy, Billy dan Catherine, Rere dan Henry, Santy dan Lionel, Sinthia dan Satya.


Mereka bercerita dan tertawa sembari kaki-kaki jenjang mereka terus melangkah menyusuri luasnya Mall sehingga membuat mereka semua menjadi pusat perhatian. Beberapa para pengunjung Mall melihatnya.


"Bagaimana kalau kita cari makan dulu. Lapar nih," ucap Lionel.


Mereka semua saling memberikan tatapan masing-masing. Setelah itu, mereka dengan kompak menganggukkan kepalanya.


"Ayo!"


Setelah itu, mereka semua pergi ke sebuah cafe yang terkenal di Mall tersebut. Bukan hanya cafe nya saja terkenal. Semua jenis menu makanan dan minumannya juga terkenal enak.


^^^


Kimberly, Tommy, Billy dan para sahabatnya sudah berada di cafe. Dan mereka duduk paling pojokan. Seperti itulah mereka jika makan di restoran atau cafe. Mereka selalu cari yang pojokan.


Ketika mereka masuk dan menduduki pantatnya di kursi. Seorang pelayan wanita langsung datang untuk melayani mereka semua sembari memberikan masing-masing satu buku menu.


"Kalian mau pesan apa?" tanya Tommy.


Mereka semua pun sibuk dengan melihat-lihat jenis-jenis menu makanan dan minuman di buku menu yang mereka pegang.


"Aku, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine samain aja. Jadi kita pesan Falscher Hase, Apfelstrudel, Salmon with thai corn and bean salsa, salmon salad. Dan untuk minumannya Iced tiramisu latte, Nutello Chocolate, Iced matcha boba latte dan King manggo."


Pelayan wanita itu mencatat apa saja yang dipesan oleh Kimberly dengan sangat teliti dan jeli agar tidak ada kesalahan.


"Samakan saja semuanya," ucap Tommy.


"Baik, tuan. Apa ada tambahan lagi tuan, nona?" tanya pelayan wanita itu ramah.


"Tidak!" Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine langsung menjawab pertanyaan dari pelayanan wanita itu. Dan diangguki oleh Tommy, Billy, Henry, Lionel dan Satya.


"Baiklah. Mohon ditunggu pesanannya."


Setelah itu, pelayan wanita itu pergi menuju dapur untuk memberikan catatan pesanan kepada para koki.


"Kim," panggil Billy.


Kimberly melihat sekilas kearah Billy lalu kembali menatap layar ponselnya.


"Jika ingin bertanya, silahkan! Tapi diharapkan pertanyaannya tak keluar jalur." Kimberly langsung pada intinya karena Kimberly tahu bahwa kakak sepupunya itu akan bertanya soal Aryan.


Billy langsung menghembuskan nafasnya secara kasar ketika adik sepupunya langsung mematahkan niatnya untuk bertanya masalah Aryan.


Sementara Tommy, Henry, Lionel, Satya, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine tersenyum ketika melihat wajah prustasi Billy akan ulah Kimberly.


"Sabar sayang," ucap Catherine sembari mengusap lembut lengan kekasihnya.


"Sahabat kamu itu keras kepala sekali," ucap Billy pelan.


"Walaupun begitu. Si keras kepala itu adalah adik sepupu kamu, asal kau tahu!" balas Catherine tersenyum.


"Iya, aku tahu!" jawab Billy.


Beberapa menit menunggu. Akhirnya semua pesanan pun datang. Dan tiga pelayan wanita itu langsung menatanya di atas meja.


Setelah beberapa menu makanan dan minuman tertata rapi di atas meja. Billy, Kimberly, Tommy dan yang lainnya langsung memulai menikmati makanan-makanan itu.


***


Di kediaman keluarga Ameera terlihat aura-aura tak mengenakkan dimana semua anggota keluarga menatap tajam kearah satu orang. Dan orang itu adalah Lindaweni ibu dari Gracia.


Terdengar suara tamparan yang cukup keras di ruangan keluarga. Yang menjadi korban tamparan adalah Lindaweni. Dan yang menjadi tersangkanya adalah kakak sepupu Lindaweni yang nomor satu.


"Sampai kapan kau akan bungkam, Linda?! Apa kau masih tidak ingin memberitahu kami tentang apa yang sudah kau lakukan di belakang kami?!" bentak Kelvin Ameera.


"Dimana kau sembunyikan Gracia?! Kenapa satu minggu ini dia tidak menampakkan batang hidungnya di rumah ini?!"


Kali ini yang bertanya kepada Lindaweni adalah Arshyat sang Paman.


Arshyat adalah putra ketiga dari Raditya Ameera. Laki-laki itu adalah kakak kesayangan Fardes Ameera yang tak lain adalah ayahnya Lindaweni.


Sementara Kelvin Ameera adalah putra dari Kiano Ameera. Dan Kiano Ameera itu adalah putra pertama Raditya Ameera.


Mendengar perkataan dan pertanyaan dari Kelvin Arshyat membuat Lindaweni terkejut. Dirinya tidak tahu harus menjawab apa tentang putrinya dan juga perbuatannya selama ini.


"Kau benar-benar menjijikkan Linda," ucap Arshyat menatap penuh amarah kearah Lindaweni yang tak lain adalah keponakannya sendiri.


"Kau dan mendiang ibumu sama saja. Sama-sama menjijikkan. Tidak ada baik-baik dalam diri kalian berdua. Sifat kalian berdua sangat buruk. Tapi....!" Arshyat menghentikan perkataannya dengan tatapan matanya masih menatap tajam kearah Lindaweni.


"Tapi masih mending ibumu. Sejahat apapun ibumu, seburuk apapun dia. Dia masih menjaga kehormatannya. Dia tidak memberikan harta berharga itu kepada sembarang laki-laki. Sementara kau! Kau dengan gampangnya memberikan kehormatanmu itu kepada laki-laki yang bukan suamimu. Dan lebih parahnya lagi, ketika kau dinyatakan hamil. Kau menjadikan tuan Gustavo Chena Aditya sebagai pelakunya dengan cara menjebaknya."


Deg...


Lindaweni seketika terkejut dan syok ketika mendengar perkataan dari Arshyat. Dirinya tidak menyangka jika pamannya itu tahu kelakuan bejatnya yang telah dirinya sembunyikan selama ini.


Arshyat, Kelvin dan keluarga Ameera lainnya tersenyum mengejek kearah Lindaweni ketika melihat keterkejutan di wajahnya.


Arshyat dan Kelvin mengetahui kelakuan menjijikkan dari Lindaweni adalah dari salah satu orang kepercayaan Kelvin yang bernama Malik.


Malik memberikan laporan kepada Kelvin tentang apa yang dilakukan oleh Lindaweni selama ini termasuk menjebak Gustavo Chena Aditya.


Malik mendapatkan semua kebusukan Lindaweni dari video yang dikirim oleh Kimberly di internet dimana hanya orang-orang yang dipilih oleh Kimberly yang bisa melihat video itu.


Namun siapa sangka jika orang kepercayaan Kelvin berhasil membuka dan melihat video itu. Setelah itu, Malik memperlihatkan video kepada Kelvin. Dari Kelvin, video itu tersebar kepada anggota keluarga Ameera lainnya.


"Kenapa? Apa kau kaget jika Paman Arshyat mengetahui tentang kelakuan busukmu itu?" tanya Kelvin. "Bukan paman Arshyat saja yang tahu. Aku dan kita semua juga sudah tahu. Orang yang pertama yang tahu tentang kelakuan burukmu itu adalah aku, lalu aku memberitahu mereka semua," ucap Kelvin.


Mendengar perkataan dari Kelvin membuat Lindaweni kembali terkejut. Dirinya saat ini hanya bisa diam dan pasrah hukuman apa yang akan diberikan oleh keluarga Ameera. Dirinya tahu bahwa keluarga Ameera terkenal dengan kekejamannya ketika memberikan hukuman kepada anggota keluarganya.


"Aku heran denganmu, Linda! Sifatmu jauh melenceng dari kedua orang tuamu. Ayahmu pria yang baik dan sopan. Ibumu memiliki sifat yang buruk, tapi tidak sampai keluar jalur. Dengan kata lain, ibumu masih tahu batasannya, ibumu masih memiliki rasa takut terhadap ayahmu dan masih mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh ayahmu. Sementara kau! Kelakuanmu melebihi ibumu!"


Arshyat menatap keponakannya Kelvin. "Kau urusan dia. Paksa dia untuk mengatakan dimana Gracia. Setelah kita mendapatkannya. Bawa dia ke Amerika untuk sekolah Asrama disana. Paman sudah mendapatkan sekolah yang akan membuat Gracia berubah menjadi gadis baik-baik."


"Bagaimana kalau gagal. Dengan kata lain, dia makin menjadi-jadi."


"Selamanya dia akan di Amerika dan tidak akan pernah kembali lagi ke Jerman! Bahkan dia juga tidak akan merasakan kebebasan untuk menghirup udara segar. Dia akan selamanya berada di sekolah Asrama."


"So! Jika dia ingin keluar dari Asmara, maka dia harus berubah menjadi gadis baik-baik. Tidak melakukan hal buruk lagi."


"Baiklah. Aku setuju dengan ide Paman. Kita melakukan semua ini juga demi dia dan janji kita kepada Paman Fardes. Jika ibumu tidak bisa mendidik Gracia dengan baik, maka kita yang akan melakukannya."


"Jika bukan karena janji dengan Paman kesayanganmu itu. Sudah lama Paman usir dia dari rumah ini. Bahkan Paman memiliki niat untuk mengirim dia ke Belanda untuk belajar kedisiplinan. Tapi ditolak oleh keluarga Barayat. Mereka menolak dengan alasan tidak ingin berpisah dengan Lindaweni. Wajah Lindaweni mengingatkan keluarga Barayat dengan Katalina."


Arshyat menatap sekilas kearah Lindaweni yang saat ini ketakutan dan syok. Setelah itu, Arshyat kembali menatap keponakannya tertuanya.


"Kau urusi dia dan juga keponakanmu itu."


"Baik, Paman."


Setelah mengatakan itu, Arshyat pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju ruang kerjanya dan disusul istrinya. Wanita itu ingin menenangkan suaminya setelah meluapkan emosinya menghadapi kelakuan buruk dari keponakan.