THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kekesalan Kimberly Terhadap Rere



Di sebuah rumah mewah terlihat seorang pria paruh yang tengah marah besar setelah mendapatkan laporan dari asistennya di perusahaannya.


Asistennya itu mengatakan kepada dirinya bahwa ada beberapa orang yang datang menyerang perusahaan Oka'Yama dan menghancurkan perusahaan itu tanpa sisa.


Brak..


Pria itu menggebrak meja begitu kuat sehingga membuat sang istri yang melangkah ke dapur seketika terkejut.


Mendengar gebrakan di ruang tengah, sang istri pun memutuskan melangkah menuju ruang tengah.


Sesampainya di sana, istrinya terkejut ketika melihat pecah kaca berserakan di lantai termasuk vas bunga kesayangannya.


"Sayang. Ada apa? Kenapa kamu marah-marah dan menghancurkan semua barang?"


Pria itu melihat kearah istrinya lalu berkata, "Ada orang yang menyerang perusahaanku. Orang-orang itu menghancurkan perusahaan tanpa sisa sedikit pun."


Mendengar jawaban dari suaminya membuat wanita itu terkejut. Dirinya menatap mata suaminya. Dirinya berpikir bahwa suaminya sedang bercanda.


"Sayang, kamu serius?"


"Kalau kamu tidak percaya. Ini lihatlah sendiri!" pria itu kemudian memperlihatkan video kiriman dari asistennya kepada istrinya.


Wanita itu kemudian mengambil ponsel suaminya lalu melihat kearah layar ponsel tersebut.


Deg...


"Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa orang-orang itu melakukan hal sekeji itu terhadap perusahaan Oka'Yama Invertising," ucap wanita itu.


Drtt.. Drtt..


Tiba-tiba ponsel suami berbunyi menandakan panggilan masuk. Wanita itu kemudian memberikan ponsel tersebut kepada suaminya.


Pria itu menerima ponselnya kembali dan langsung menjawab panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


"Hallo, tuan Arthur Mandosa. Apa kabar, hum?" sapa seseorang di seberang telepon.


Yah! Nama pria paruh baya tersebut adalah Arthur Mandosa, orang yang sudah mengusik keluarga Alexander dan keluarga Aldama.


Mendengar sapaan dari orang di seberang telepon membuat Arthur terkejut. Dirinya tidak menyangka jika identitasnya sudah diketahui.


"Siapa kau? Dan mau apa kau menghubungiku, hah?!"


"Hei, tenanglah tuan. Jangan teriak-teriak. Jika anda terkena mati akibat serangan jantung, bagaimana? Jika anda sampai mati, saya bakal sedih. Sedih karena tidak bisa bermain-main dengan nyawa anda dan seluruh keluarga besar anda."


Deg..


Arthur seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari orang tersebut. Dirinya tidak menyangka jika orang tersebut akan mengucapkan kata itu.


"Tapi aku tidak punya urusan denganmu! Jangan ganggu aku dan juga keluargaku!"


"Tapi sayangnya kau sudah tidak bisa mundur lagi tuan. Kau yang sudah terlebih dulu mencari masalah denganku dengan mengusik salah satu anakku. Maka dengan sangat terpaksa, saya yang akan menyelesaikannya dengan cara menyakiti anakmu."


"Hahahaha."


Seketika Arthur tertawa keras ketika mendengar ucapan dari orang di seberang telepon. Arthur berpikir jika orang tersebut hanya sekedar main-main saja.


"Jangan terlalu mengkhayal kau. Sampai kapan pun kau tidak akan tahu seperti apa wajah anakku."


"Oh, begitukah? Bagaimana jika aku sudah tahu tentang jati diri anakmu. Bahkan aku mengetahui namamu dan margamu itu dari anakmu sendiri. Dia yang memberitahuku tentang kau dan seluruh keluarga besarmu."


Deg..


Arthur kembali terkejut. Dan kali ini dirinya terkejut berkali-kali lipat. Dirinya tidak menyangka jika putrinya membocorkan tentang identitas dirinya dan keluarga besarnya.


"Bukan itu saja tuan Arthur. Saya juga mengetahui nama dari sahabat anda itu dan juga anak perempuannya. Apa kau ingin saya menyebutkan nama mereka, hum?"


Arthur hanya diam. Dirinya saat ini antara marah dan juga takut. Takut akan hal buruk menimpa keluarganya.


"Jika kau diam, berarti kau ingin aku menyebutkan nama mereka. Baiklah kalau begitu. Nama anak perempuanmu adalah Linka Mandosa, nama sahabatmu adalah Ditmar Horlando dan nama anak perempuannya adalah Winda Horlando."


Arthur kembali terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan dari orang di seberang telepon ketika menyebutkan satu persatu nama orang terdekatnya.


"Dan satu lagi tuan Arthur. Anak perempuanmu bersama temannya Winda ada di markasku. Jika kau sayang dan peduli pada anak perempuanmu. Temui saya di sebuah cafe ternama di kota ini. Saya tunggu puku 3 sore. Oh iya! Ajaklah sahabatmu itu bersamamu."


"Sebagai bukti bahwa aku tidak berbohong. Saya akan kirim sebuah video. Video tentang penyekapan anak perempuanmu."


Setelah mengatakan itu, orang tersebut langsung mematikan panggilannya. Dan detik kemudian, terdengar notifikasi masuk ke ponsel Arthur.


Ting..


Arthur langsung membuka notifikasi itu dan melihatnya. Sebuah video tertera di layar ponselnya.


Arthur kemudian menekan tanda segitiga putih yang tertera di layar ponselnya. Seketika video itu pun berputar.


"Linka!" teriak istrinya ketika melihat putrinya dalam keadaan terikat di sebuah ruangan dengan beberapa laki-laki berpakaian hitam.


"Itu... Itu Winda!" seru wanita itu sembari matanya melihat kearah Winda yang duduknya tak jauh dari putrinya.


"Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia menyuruh orang-orang itu untuk menculik putriku dan Winda?" batin Arthur.


***


Di kediaman Fathir Aldama tampak ramai dimana semua anggota keluarga, baik keluarga dari pihak Nashita maupun keluarga dari pihak Fathir berkumpul di ruang tengah. Termasuk seluruh anggota keluarga Alexander, keluarga dari pihak Andrean.


Untuk keadaan Kimberly sudah membaik hanya menunggu pemulihan di bahu kanannya. Awalnya Kimberly akan dirawat selama satu minggu di rumah sakit.


Dikarenakan desakan dan sedikit drama dari Kimberly sehingga membuat seluruh anggota keluarganya mengizinkan dirinya pulang.


Kini Kimberly ditemani keempat sahabatnya yaitu Rere, Santy, Sinthia dan Catherine. Para sepupu perempuannya yaitu Risma, Triny, Valen dan Athaya.


"Bagaimana Dad?" tanya Zivan ketika melihat Pamannya selesai berbicara dengan ayahnya Linka Mandosa.


"Dari suaranya. Sepertinya dia ketakutan. Apalagi ketika Daddy mengatakan bahwa dia telah berani mengusik salah satu anak Daddy," jawab Fathir.


"Apa om Fathir tidak menghubungi ayah dari Winda?" tanya Tommy.


"Tidak perlu. Mereka itu satu paket. Dia pasti akan memperlihatkan video itu kepada sahabatnya itu. Dan mereka akan datang."


"Untuk cafe itu, aku dan Tommy sudah membookingnya. Jadi dari mulai pukul 1 siang sampai pukul 5 sore itu waktu untuk kita," ucap Andhika.


"Dari kami yang akan menemui kedua pria busuk itu adalah Daddy, aku, Enda dan Pasya!" sahut Jason.


"Dari kami yang akan akan pergi kesana adalah aku, Papi, Tommy, Fazio, om Judika dan om Jordy!" tutur Arka.


"Baiklah!" seru mereka bersamaan.


Judika dan Jordy sudah memberitahu anggota keluarga bahwa mereka telah menghancurkan perusahaan Oka'Yama Invertising dan AV'Sn Corp sehancur-hancurnya. Dua perusahaan itu sudah hangus menjadi abu.


Bukan itu saja, setelah membakar perusahaan Oka'Yama Invertising dan perusahaan AV'Sn Corp. Judika dan Jordy mempublikasikan ke internet dan ke media televisi agar semua orang terutama para pebisnis mengetahui apa yang terjadi kepada dua perusahaan tersebut.


Mendapatkan berita tersebut membuat dunia gempar sehingga membuat para pebisnis menjadi ketakutan.


"Kimberly!" teriak para sepupunya dan keempat sahabatnya.


Seketika mereka semua dikejutkan dengan suara teriakan yang begitu nyaring di dalam kamar Kimberly sembari menyebut nama Kimberly.


Mendengar suara teriakan dari kamar Kimberly membuat semua yang ada di ruang tengah langsung berlari menuju kamar Kimberly dengan wajah tegang dan panik


"Aakkhhh!"


"Kimberly!" teriak para sepupu dan keempat sahabatnya.


"Kimberly, kamu kenapa?!" Athaya langsung berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju pintu kamar mandi Kimberly.


Cklek..


Athaya membuka pintu kamar mandi Kimberly. Setelah itu, Athaya melangkah masuk ke dalam kamar mandi Kimberly.


"Astaga, Kim!" teriak Athaya melihat Kimberly yang terduduk di lantai dengan bersandar di dinding.


Triny, Risma dan yang lainnya seketika berlari memasuki kamar mandi Kimberly.


"Kim!" teriak mereka.


"Kak, Kimberly kenapa?" tanya Risma.


"Kakak juga nggak tahu. Ketika kakak masuk, Kimberly sudah seperti ini," jawab Athaya.


"Kim, kamu kenapa?" tanya Triny yang tak sengaja menyentuh bahu kanan Kimberly sehingga membuat Kimberly berteriak.


"Aakkhhh! Triny sa-sakit," ucap Kimberly terbata.


"Oh, Tuhan! Maaf Kim. Aku lupa kalau bahu kamu lagi sakit. Apa aku tadi megangnya terlalu kencang ya?" tanya Triny yang menatap khawatir dan bersalah Kimberly.


Mendengar pertanyaan dari Triny dan melihat wajah khawatir dan rasa bersalahnya membuat Kimberly menjadi tidak tega.


"Nggak. Kamu nggak terlalu kencang megangnya. Bahu aku aja yang belum benar-benar sembuh."


"Apa yang terjadi? Kenapa kamu sampai duduk di lantai kamar mandi?" tanya Athaya.


"Tadi aku mau cuci muka. Aku nggak sadar jika bahu kanan aku sedang cedera. Jadi aku...."


"Kamu berpikir bahwa kamu lagi nggak sakit, makanya kamu nyuci mukanya dengan kedua tangan kamu," sambung Risma.


"I-iya!" jawab Kimberly.


Puk..


Mendengar jawaban dari Kimberly sontak membuat mereka semua secara bersamaan menepuk jidat masing-masing.


"Bodoh lo," ejek Rere.


"Masih muda tapi sudah lupa," ucap Santy.


"Dasar dodol," ejek Sinthia.


Ketika Catherine hendak mengeluarkan kata-kata manisnya untuk Kimberly. Kimberly sudah terlebih dulu memberikan pelototan kepada Catherine sehingga membuat Catatan mengatub bibirnya rapat-rapat sembari tetap tersenyum.


Sementara Triny, Risma, Valen dan Athaya hanya tersenyum melihat Kimberly dan keempat sahabatnya.


Athaya dan Triny membantu Kimberly untuk berdiri dengan hati-hati.


Setelah Kimberly dalam posisi berdiri, Athaya dan Triny membawa Kimberly kembali ke tempat tidur.


Ketika mereka berjalan menuju tempat tidur Kimberly. Baik Kimberly, Athaya, Triny dan yang lainnya terkejut ketika melihat semua anggota keluarga memasuki kamar Kimberly termasuk Tommy dan anggota keluarga Alexander.


"Sayang!"


"Kim!'


Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan langsung menghampiri Kimberly yang saat ini masih dipapah oleh Athaya dan Triny menuju tempat tidur.


Kini Kimberly sudah berada di atas tempat tidur dalam keadaan duduk. Semua mata menatap khawatir kearah Kimberly terutama Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan.


"Athaya! Apa yang terjadi pada adikmu?" tanya Clarita.


"Kimberly sedikit ceroboh," jawab Athaya.


"Bukan ceroboh kakak. Tapi lupa kalau bahu aku sedang sakit," ralat Kimberly. Dirinya tidak terima dikatakan ceroboh.


"Sama saja dodol," sahut Rere.


Kimberly seketika mendengus ketika mendengar ucapan sadis dari Rere.


"Re, lo tuh nyari ribut mulu ya sama gue. Sejak di rumah sakit lo habis-habisan nyari masalah mulu. Sekarang di rumah gue, lo kembali mencari masalah. Apa lo udah bosan hidup, hah?!" ucap Kimberly sembari menatap kesal Rere.


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Rere langsung menatap wajah sahabatnya itu yang kini menatap dirinya dengan mata besarnya.


Sementara anggota keluarga Kimberly dan anggota keluarga Alexander hanya tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala melihatnya.


"Kenapa? Lo mau marahin gue? Lo benaran ingin bunuh gue? Apa lo tega, Kim?" tanya Rere dengan memperlihatkan wajah sedihnya.


"Gue ini adalah sahabat yang paling cantik yang lo punya. Jika lo bunuh gue. Lo bakal rugi besar."


"Rugi kenapa?" tanya Kimberly dengan mimik wajah yang masih kesal.


"Lo kan punya empat sahabat. Diantara gue, Santy, Sinthia dan Catherine. Hanya gue yang paling cantik. Nah, sementara....."


"Apa?" tanya Santy dengan pelototannya.


"Coba ngomong kalau berani," sahut Sinthia sembari mengarahkan tinjunya ke udara.


"Bonyok hari ini juga tuh bibir lo," ucap Catherine sembari memegang kamus tebal bahasa Inggris milik Kimberly karena Catherine langsung meraih kamus tersebut yang ada di atas meja belajar Kimberly. Secara Catherine berdiri tak jauh dari meja belajar Kimberly.


Seketika Rere menelan ludahnya secara kasar ketika mendengar ucapan demi ucapan sekaligus ancaman dari ketiga sahabatnya. Ditambah lagi ketiga sahabatnya itu sudah siap siaga untuk menyerangnya.


Sementara yang lainnya tersenyum gemas ketika melihat wajah ketakutan Rere ketika diserang oleh ketiga sahabatnya. Wajah Rere benar-benar lucu saat ini.


"Sekarang katakan pada Mommy. Ada apa?"


"Tadi aku lagi mau cuci muka. Aku nggak sadar bahwa bahu aku sedang sakit. Jadi pas aku mau mengangkat tanganku hendak membasuh muka, rasa ngilu di bahu aku seketika terasa. Sakitnya benar-benar luar biasa, Mom!" jawab Kimberly.


"Kalau sekarang bagaimana? Apa masih sakit?" tanya Uggy.


"Masih, kak!"


Mendengar jawaban dari Kimberly dan juga melihat wajah Kimberly membuat mereka semua menjadi tidak tega.


Riyan berjalan menuju meja belajar Kimberly. Disana terletak beberapa obat adiknya. Riyan mengambil obat untuk menghilangkan rasa sakit di bahu adiknya itu.


Setelah mendapatkan obat tersebut, Riyan langsung membukanya. Ketika obat tersebut sudah terbuka, Riyan meraih gelas yang berisi air minum dan memberikan kepada adiknya.


"Ini minumlah dulu."


Kimberly menerima obat tersebut dengan tangan kirinya lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Kemudian tangan kirinya itu juga mengambil gelas yang ada di tangan kakaknya itu lalu meminumnya.


Setelah selesai, Kimberly menyerahkan kembali gelas itu kepada kakaknya.


"Terima kasih kak."


"Sama-sama sayang. Jangan sampai lupa lagi. Dan jangan terlalu banyak gerak," ucap Riyan menasehati adiknya.


"Iya," jawab Kimberly.