THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Perlawanan Dari Kimberly



Keesokkan harinya dimana semuanya anggota keluarga sudah bangun dari tidurnya. Saat ini mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing.


Jika Fathir dan adik iparnya yaitu Rafassya berada di ruang tengah yang sudah lengkap dengan setelan jas kantornya, para anak-anaknya yang berada di dalam kamar.


Sementara para ibu yaitu Nashita dan adik iparnya yaitu Helena berada di dapur. Keduanya tengah menyiapkan sarapan pagi untuk suami, anak-anaknya dan keponakannya.


Setelah beberapa menit berperang di dapur, akhirnya Nashita dan Helena selesai menghidangkan menu sarapan pagi di atas meja. Dibantu oleh tiga orang pelayan.


Dan kemudian Nashita dan Helena berteriak sedikit memanggil suami, anak-anaknya dan keponakannya.


"Yuhuuii! Sarapan pagi sudah siap!" teriak Nashita.


"Mari segera ke ruang makan!" teriak Helena tak mau kalah.


Mendengar teriak dari istri/ibu/Bibinya membuat Fathir, Rafassya dan anak-anaknya hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala.


Setelah itu, Fathir dan Rafassya yang berada di ruang tengah langsung beranjak dari duduknya, para anak-anaknya dan para keponakan yang berada di dalam kamarnya langsung keluar dari dalam kamar untuk segera menuju ruang makan.


^^^


Kini semua sudah berada di meja makan. Mereka menikmati sarapan pagi bersama dengan penuh suka cita.


"Kak Kim," panggil Valen sembari mengunyah makanannya yang ada di dalam mulutnya.


"Astaga, sayang! Itu makanannya ditelan dulu," tegur Helena kepada putrinya.


"Satu spesies dengan keponakan kelinci Mami tuh," ledek Aryan sembari melirik kearah Kimberly.


Mendengar ledekan dari Aryan membuat Kimberly mendengus kesal. Sementara yang lainnya tersenyum gemas melihat wajah kesal Kimberly terhadap perkataan Aryan.


"Maaf, Mi!" Valen menjawab perkataan dari ibunya lalu matanya menatap kearah Kimberly. "Kak Kim."


"Iya, ada apa?" balas dan tanya Kimberly dengan balik menatap wajah adik sepupunya.


"Kak Kim pergi sekolah hari ini, perginya sendiri atau diantar?"


"Pergi sendiri. Kenapa? Mau nebeng, hum?"


Seketika terukir senyuman manis di bibir Valen ketika mendengar ucapan terakhir Kimberly.


"Boleh?"


"Tentu!"


"Apa nggak apa-apa?"


"Maksudnya?" tanya Kimberly bingung. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.


"Sekolahnya aku dengan sekolahnya kak Kim dan kak Aryan jauh sekolahnya aku. Berarti kak Kim harus antar aku dulu. Setelah itu, kak Kim balik lagi ke sekolahnya kak Kim. Apa nanti kak Kim nggak takut telat ke sekolahnya?"


Mendengar ucapan dan pertanyaan dari Valen seketika membuat Kimberly langsung paham akan kekhawatiran Valen terhadap dirinya. Begitu juga dengan kedua orang tuanya, kedua orang tua Kimberly dan para kakak-kakaknya.


"Kalau telat tinggal putar balik lagi pulang ke rumah. Kenapa harus dibikin pusing?" Kimberly menjawab pertanyaan dari adik sepupunya.


Mendengar jawaban dari kakak sepupunya seketika Valen membelalakkan matanya. Dirinya tidak habis pikir dengan jawaban yang diberikan oleh kakak sepupunya itu.


"Enak banget jawabnya seperti itu," sahut Valen dengan mempoutkan bibirnya.


Mereka tersenyum gemas melihat wajah tak percaya Valen dan mendengar perkataan Valen akan jawaban yang diberikan oleh Kimberly kepadanya.


"Lah terus kakak mau ngapain di sekolah kalau misalnya telat datangnya? Mending pulang, tidur!"


"Iyain aja deh," balas Valen.


Seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly ketika mendengar ucapan dari Valen dan wajah kesalnya.


"Bagaimana? Jadi tidak nebengnya?" tanya Kimberly


"Auh ach!" jawab Valen.


"Oh, jadi nggak jadi nih. Ya, sudah! Nggak masalah."


"Ih, kak Kim nyebelin."


"Hahahaha!"


Seketika tawa Kimberly pecah karena sudah berhasil menjahili Valen. Sedangkan anggota keluarganya yang melihat hanya geleng-geleng kepala.


Kimberly sudah berada di sekolahnya. Setelah mengantar adik sepupunya ke sekolahnya, Kimberly langsung putar balik untuk menuju ke sekolahnya.


Setelah memarkirkan mobilnya, Kimberly langsung keluar dari dalam mobil.


Ketika Kimberly melangkahkan kakinya di lapangan luas, semua mata tertuju padanya. Dan seperti biasa, Kimberly kembali mendengar ucapan demi ucapan yang tak mengenakkan dari murid-murid yang tak menyukai dirinya. Dan seperti biasanya juga, Kimberly tak ambil pusing dengan ucapan-ucapan dari murid-murid yang tidak menyukainya.


Kimberly terus melangkah menyusuri lapangan luas untuk menuju kelasnya sehingga terlihat keempat sahabatnya yang berjalan mengarah kearahnya.


"Baru datang?" tanya Rere.


"Iya," jawab Kimberly.


"Tumben telat. Biasanya datangnya paling lama lima menit. Ini hampir mendekati dua puluh menit," sahut Sinthia.


"Habis anterin Valen dulu," jawab Kimberly.


"Kok bisa?" tanya Santy.


"Mami, Papi, kak Pasha, kak Fathan, Aryan dan Valen menginap di rumah. Ketika sarapan pagi, Valen minta dianterin ke sekolah sama aku. Bosen kali dianya diantar mulu sama kakak kurusnya," jawab Kimberly sembari menghina saudara sepupunya itu.


Mendengar jawaban dari Kimberly apalagi yang terakhir membuat Santy, Rere, Sinthia dan Catherine tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Udah, ach! Ke kelas yuk," ajak Sinthia.


"Ayuklah!" seru Kimberly, Catherine, Santy dan Rere bersamaan.


Setelah itu, mereka pun melangkahkan kakinya untuk menuju ke kelas.


Namun seketika langkah kaki mereka terhenti karena ada beberapa orang yang menghadang jalannya.


"Ngapain lagi sih mereka?" tanya Catherine.


"Apa mereka nggak punya kerjaan lain ya selain gangguin kita?" tanya Santy.


"Namanya juga manusia yang sok berkuasa dan sok paling kaya disini. Jadi wajar saja. Mereka kan ingin dipandang dan ditakuti oleh semua murid-murid disini," sahut Rere.


"Belum lagi tuh si nenek lampir dua yang masih punya dendam apa terhadap Kimberly. Coba saja lihat tatapan matanya yang mengarah kepada Kimberly. Tatapan matanya seakan-akan ingin memakan Kimberly hidup-hidup," ucap Sinthia.


Orang-orang yang menghadang Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine adalah Gracia dan keenam teman-temannya.


"Kita masih punya urusan yang belum diselesaikan, sialan!" Gracia berucap dengan kejamnya sembari menatap tajam Kimberly.


Kimberly tersenyum di sudut bibirnya. "Kita? Lo aja kali. Gue nggak kenal sama lo, gue nggak pernah mengusik kehidupan lo, gue nggak pernah mencari masalah sama lo. Dan gue anak lama. Sementara lo anak baru di sekolah ini. So... Menyingkirkan dari hadapan gue dan sahabat-sahabat gue. Kita mau lewat."


Kimberly berbicara dengan penuh penekanan disetiap kata dan dengan tatapan mata yang tak kalah tajam menatap wajah Gracia.


Disisi lain, tanpa diketahui oleh Kimberly dan sahabat-sahabatnya. Billy, Triny, Aryan, Tommy beserta sahabat-sahabatnya saat ini tengah memperhatikan. Mereka memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Gracia dan keenam teman-temannya terhadap Kimberly dan keempat sahabatnya.


"Jauhi Tommy. Tommy milik gue. Lo jangan menjadi wanita murahan dengan merebut kekasih gue!" bentak Gracia.


"Hahahaha!"


Kimberly tertawa keras ketika mendengar ucapan dari Gracia. Begitu juga dengan Rere, Santy, Sinthia dan Catherine. Mereka menatap remeh kearah Gracia.


"Hei, nona Gracia Aditya! Apa anda tidak salah berbicara, hum? Yang murahan disini siapa? Saya atau anda?" tanya Kimberly dengan intonasi merendahkan.


"Murahan teriak murahan... Hahahaha." Rere berbicara dengan disertai gelak tawanya yang keras.


"Diam lo!" bentak Gracia.


"Opst!" Rere langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


Namun detik kemudian, Rere kembali tertawa. Dan tawanya kali ini begitu keras.


"Hahahaha."


Baik Gracia maupun keenam teman-temannya mengepalkan kuat kedua tangannya dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Kimberly dan keempat sahabatnya.


"Aku tidak peduli. Yang gue mau lo harus menjauh dari Tommy. Tommy hanya milik gue. Mengerti!" bentak Gracia.


"Gue juga nggak peduli dengan perkataan lo itu. Tommy cintanya sama gue bukan sama perempuan kayak lo. Yang ada di hatinya Tommy hanya nama gue bukan nama lo. Jadi, sorry-sorry aja gue matuhi perintah lo buat ninggalin cowok yang super kaya, super tampan dan super perhatian seperti Tommy. Rugi dong gue kalau sampai gue ninggalin dia demi perempuan kayak lo."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly membuat Tommy dan yang lainnya yang sejak tadi mendengar dan menyaksikan drama antara Kimberly vs Gracia tersenyum. Mereka tidak habis pikir dengan cara Kimberly menghadapi Gracia dan kelompoknya.