
Keesokan harinya di kediaman Fathir Aldama terlihat beberapa orang terlihat sibuk dengan urusan masing-masing. Termasuk sang nyonya rumah yaitu Nashita Aldama.
Nashita kini tengah berkutik dengan peralatan masaknya di dapur. Dirinya menyiapkan sarapan pagi untuk suami, keempat putranya dan putri kesayangannya.
Disisi lain dimana Kimberly yang sudah bangun dari tidurnya kini melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
"Mommy," panggil Kimberly.
Kimberly kini telah duduk di kursi meja makan dengan posisi kepala yang dia tidurkan di atas meja dengan tangan sebagai tumpuannya.
Nashita yang berada di dapur seketika terhenti dari kegiatannya karena mendengar panggilan dari putrinya.
Kemudian Nashita langsung menghampiri putrinya yang berada di meja makan.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Nashita ketika melihat yang tengah posisi kepala di tidurkan di atas meja dengan tangan sebagai alasnya. Kemudian tangannya membelai lembut kepala belakang putrinya.
Merasakan sentuhan di kepala belakangnya, Kimberly seketika menegakkan kepalanya dan melihat kearah seseorang yang menyentuh kepalanya.
Nashita tersenyum menatap wajah cantik putrinya lalu Nashita memberikan kecupan sayang di kening putrinya itu.
"Ada apa, hum?"
"Mommy sudah selesai belum masaknya?"
"Kenapa? Sudah lapar perutnya?" tanya Nashita menggoda putrinya.
"Hm!" Kimberly berdehem lalu menganggukkan kepalanya.
Nashita tersenyum sembari mengacak-ngacak rambut putrinya. Setelah itu Nashita pergi ke dapur untuk mengambil sesuatu.
Beberapa detik kemudian, Nashita kembali membawa sebotol susu pisang untuk putrinya.
"Kamu minum ini dulu ya."
Kimberly seketika tersenyum ketika melihat minuman kesukaannya. Tanpa berpikir dua kali dan tanpa penolakan sama sekali. Kimberly langsung mengambil susu pisang itu dan langsung meminumnya.
Nashita hanya tersenyum ketika melihat putrinya yang tidak pernah menolak yang namanya susu pisang.
"Mom, masih lama ya?"
"Sebentar lagi. Sabar ya. Kamu nunggunya di ruang tengah, oke!"
"Baiklah."
Setelah mengatakan itu, Kimberly beranjak dari duduknya dan melangkah menuju ruang tengah sembari membawa susu pisang di tangannya.
Melihat kepergian putrinya menuju ruang tengah. Nashita pun kembali menyelesaikan pekerjaannya di dapur. Dirinya harus segera menyelesaikan masakannya agar suami dan anak-anaknya bisa segera sarapan, terutama kesayangannya.
^^^
Kimberly kini sudah berada di ruang tengah. Dirinya kini tengah menyalakan televisi untuk menghibur dirinya agar tidak memikirkan perutnya yang sudah lapar.
Kimberly mencari-cari acara yang bagus dan menghibur agar dirinya tidak bosan.
Setelah memilih-milih dan melihat-lihat beberapa acara televisi. Akhirnya Kimberly mendapatkan satu acara yang menurutnya bagus.
Kimberly kemudian meletakkan remote televisi yang sejak tadi dipegangnya di sampingnya. Lalu fokus menonton acara televisi itu.
Ketika Kimberly fokus menatap televisi. Ayah dan keempat kakak laki-lakinya datang menghampiri dirinya yang asyik dengan dunianya sendiri.
"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Fathir yang langsung menduduki pantatnya di sofa. Dan diikuti oleh keempat putranya.
Kimberly melirik sekilas melihat kearah ayahnya. Kimberly tersenyum. Setelah itu, Kimberly kembali menatap layar televisi.
"Daddy jangan ganggu konsentrasiku. Kalau Daddy ganggu. Bisa-bisa nanti konsentrasiku pecah dan berakhir perutku menangis lagi minta diisi. Mommy belum selesai masak."
"Mommy ngasih ini buat ganjal perut aku biar perutnya berhenti nangis," ucap Kimberly yang tatapan matanya masih fokus menatap layar televisi.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly membuat Jason, Uggy, Enda dan Riyan seketika langsung tertawa.
"Hahahaha."
Sementara Fathir hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar perkataan dari putrinya.
"Dad," panggil Kimberly.
Fathir tidak langsung menjawab panggilan dari putrinya. Dirinya sengaja membuat putrinya kesal padanya.
"Daddy dengar nggak sih?"
Fathir masih tidak menjawab panggilan sekaligus pertanyaan dari putrinya. Dirinya masih terus menjahili putrinya sembari menahan tawanya.
Sementara Jason, Uggy, Enda dan Riyan sudah sejak tadi tersenyum ketika melihat kejahilan ayahnya dan kekesalan adiknya.
"Daddy, ih!"
Seketika Fathir tersenyum melihat wajah kesal putrinya lalu tangannya menarik tubuh putrinya dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Ada apa, hum?"
"Dad! Ini kan hari minggu?"
"Iya. Terus?"
"Bagaimana kalau nanti pukul 10 kita jalan-jalan. Hanya kita berdua aja," ucap Kimberly dengan kedua tangannya sudah melingkar di pinggang ayahnya.
"Hanya kita berdua saja?"
"Iya. Daddy mau nggak?"
"Memangnya kamu mau kemana?"
"Pertama, aku mau ajak Daddy ke mall. Disana kita akan makan enak. Setelah dari sana, aku mau ajak Daddy ke suatu tempat yang mana tempat itu tempat yang nantinya aku akan bangun sebuah perusahaan."
Mendengar jawaban sekaligus perkataan dari Kimberly membuat Fathir menatap intens putrinya. Begitu juga dengan Jason, Uggy, Enda dan Riyan.
"Bangun Perusahaan?" tanya Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan bersamaan.
"Iya. Aku kan pernah bilang sama Daddy. Begitu juga sama kak Jason, kak Uggy, kak Enda dan kak Iyan kalau aku juga ingin seperti kalian. Punya perusahaan sendiri."
Mendengar jawaban dari Kimberly membuat Fathir tersenyum bangga. Begitu juga dengan Jason, Uggy, Enda dan Riyan. Mereka tidak menyangka jika kesayangannya itu benar-benar bersungguh-sungguh ingin membangun sebuah perusahaan.
"Kalau kamu sudah berniat seperti itu. Daddy akan bantu kamu dengan memberikan satu buah gedung besar untuk kamu jadikan perusahaan."
Seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly ketika mendengar ucapan dari ayahnya. Kimberly menatap wajah ayahnya. Lebih tepatnya di manik hitam ayahnya.
"Benarkah Dad?"
"Hm."
"Terima kasih Dad. Daddy yang terbaik."
"Sama-sama sayang." Fathir mencium pucuk kepala putrinya.
"Kakak juga akan bantu kamu untuk mewujudkan itu semua!" seru Jason.
Mendengar perkataan dari kakak laki-laki tertuanya. Kimberly langsung melepaskan pelukannya dari ayahnya. Kimberly menatap satu persatu wajah keempat kakak laki-lakinya itu.
"Iya, harus itu. Kakak Jason harus bantu aku. Begitu juga dengan kak Uggy, kak Enda dan kak Iyan."
"Siap tuan putri!" jawab kompak Jason, Uggy, Enda dan Riyan.
Kimberly tersenyum mendengar jawaban kompak dari keempat kakak laki-lakinya.
Ketika Kimberly sedang mengobrol dengan ayah dan keenam kakak laki-lakinya, tiba-tiba Nashita datang menghampiri suami dan anak-anaknya.
"Yang lagi seru nih! Mommy nggak diajak. Nangis nih nangis!"
Mendengar perkataan dari istrinya/ibunya seketika Fathir dan kelima anaknya langsung melihat kearah Nashita.
Nashita berdiri di belakang diantara suami dan putrinya. Tangannya bermain-main di kepala putrinya lembut.
Kimberly membalikkan badannya lalu kemudian Kimberly memeluk tubuh ibunya dengan erat.
"Mommy nggak usah sedih ya. Kita tadi hanya bahas seputar aku yang ingin membangun sebuah perusahaan. Dan aku minta sama Daddy, kak Jason, kak Uggy, kak Enda dan kak Iyan untuk bantu aku."
Nashita tersenyum ketika mendengar perkataan dari putrinya. Dirinya tahu bahwa putrinya saat ini tengah menghibur dirinya agar tidak sedih karena tidak masuk ke dalam obrolan keluarga.
"Mom, jangan percaya sama Kimberly! Tadi Kimberly bujukin Daddy untuk ajak jalan-jalan. Sementara Mommy biar di rumah sendirian. Nggak usah diajak," sahut Riyan yang menjahili adik perempuannya.
Mendengar perkataan dari kakak keempatnya membuat Kimberly melotot tak percaya. Di dalam hatinya berkata, bisa-bisa kakaknya itu memfitnah dirinya di depan ibunya.
Kimberly mengangkat kepalanya ke atas guna untuk menatap wajah cantik ibunya.
"Mommy jangan percaya omongannya kak Iyan. Kak Iyan itu temannya jin. Coba aja lihat sama Mommy. Di kepalanya kak Iyan terlihat dua tanduk merah," ucap Kimberly.
Nashita tersenyum mendengar perkataan dari Kimberly. Begitu juga dengan Fathir, Jason, Uggy dan Enda.
Nashita membelai wajah putih putrinya lalu mencium keningnya. "Mommy percaya kamu. Kamu putri kesayangannya Mommy."
Seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly ketika mendengar ucapan dari ibunya.
"Aku sayang Mommy."
"Mommy juga sayang kamu."