THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Telepon Dari Deryl



Billy, Henry, Lionel, Satya dan Nathan sudah sampai di depan kelas Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.


Baik Billy, Henry maupun Satya, Lionel dan Nathan mendengar suara bentakan disertai teriakan dari Rere, Santy, Sinthia dan Catherine. Bukan hanya suara Rere, Santy, Sinthia dan Catherine saja yang didengar oleh Billy, Henry, Satya, Lionel dan Nathan. Melainkan mereka juga mendengar suara laki-laki yang berbicara kasar dan membentak lawan bicaranya.


Lionel melirik di sekitarnya dan matanya melihat potongan kayu yang tergeletak di samping tempat sampah. Lionel melangkah lalu mengambilnya.


Setelah mendapatkan potongan kayu itu, Lionel langsung masuk dengan amarah yang meluap. Bagaimana tidak emosi. Di depan matanya dan ditambah lagi telinganya mendengar begitu juga perempuan yang dicintainya diperlakukan buruk oleh seorang anak baru.


"Lepasin cewek gue!" Lionel berucap dengan suara keras dan jangan lupa tatapan amarahnya.


Mendengar teriakan dari Lionel. Semua murid-murid di kelas tersebut langsung melihat kearah Lionel. Begitu juga dengan Rere, Santy, Sinthia, Catherine, Sean, Aaron, Danny dan Elan. Mereka semua melihat kedatangan Billy, Henry, Lionel, Satya dan Nathan.


Baik Rere, Santy, Sinthia, Catherine maupun para murid-murid dapat melihat tatapan yang mengerikan yang diberikan oleh Billy, Henry, Lionel, Satya dan Nathan untuk Sean, Aaron, Danny dan Elan.


Sedangkan Sean, Aaron, Danny dan Elan melihat kedatangan Billy, Henry, Lionel, Satya dan Nathan juga tak kalah menatap kearah Billy, Henry, Lionel, Satya dan Nathan. Mereka menatap tajam kearah lima pemuda yang ada di hadapannya.


"Siapa lo?! Berani sekali lo datang dan mencampuri urusan gue dan teman-teman gue!" bentak Elan.


Mendengar perkataan sekaligus bentakan dari Elan membuat Lionel tersenyum di sudut bibirnya. Begitu juga dengan Billy, Henry, Satya dan Nathan.


"Sekali lagi gue katakan sama lo dan para sampah lo itu. Lepasin cewek gue dan juga teman-temannya," ucap Lionel menunjuk kearah Elan dengan menggunakan kayu di tangannya.


Elan seketika tersenyum di sudut bibirnya ketika melihat wajah marah dan mendengar ucapan dari Lionel.


"Kenapa? Nggak senang kalau gue main-main sama cewek cantik ini," ucap dan tanya Elan dengan wajah menantangnya.


Srek!


Elan seketika merobek baju seragam Santy sehingga membuat dalaman yang dikenakan Santy terlihat jelas.


"Santy!" teriak Rere, Sinthia dan Catherine.


Catherine langsung memeluk tubuh Santy dan menutup tubuh sahabatnya itu dengan tubuhnya. Sedangkan Santy seketika menangis di dalam pelukan Catherine disertai dengan tubuhnya yang bergetar.


Melihat apa yang dilakukan oleh Elan terhadap Santy membuat Lionel, Billy, Henry,  Satya dan Nathan menatap penuh amarah kearah Elan.


Sementara Elan, Sean, Aaron dan Danny tersenyum mengejek kearah Billy, Henry, Lionel, Satya dan Nathan.


"Brengsek!"


Lionel langsung menyerang Elan dengan langsung memukul kepala Elan dengan menggunakan kayu yang sejak tadi dipegang olehnya.


Bugh!


"Aakkhh!" Elan berteriak kencang ketika mendapatkan pukulan yang begitu kuat di kepalanya.


Lionel memukul kepala Elan dengan kuat sehingga membuat kepala Elan mengeluarkan banyak darah.


Duagh!


Lionel memberikan tendangan kuat di perut Elan sehingga membuat tubuh Elan tersungkur ke belakang dan terhempas ke sudut meja sehingga membuat Elan seketika tak sadarkan diri.


Melihat apa yang dilakukan oleh Lionel terhadap Elan membuat Aaron, Danny dan Sean seketika terkejut.


Tak jauh beda dengan Aaron, Danny dan Sean yang terkejut dan syok yang melihat tindakan tiba-tiba dari Lionel. Murid-murid di kelas tersebut juga terkejut. Bagi mereka semua, ini adalah untuk pertama kalinya mereka melihat salah satu sahabat dari Billy bertindak dengan sangat kejam.


Sementara untuk Rere, Sinthia dan Catherine. Mereka sudah pergi meninggalkan kelas untuk menuju ruang ganti dengan membawa Santy yang masih syok akan kejadian yang dialaminya.


Kebetulan Nathan memakai jaket lalu jaketnya itu dipakaikan ke tubuh Santy.


Billy menatap tajam kearah Aaron, Danny dan Sean. Begitu juga dengan Satya, Henry dan Nathan. Tatapan mata Billy makin menajam ketika matanya tidak melihat keberadaan Kimberly dan Anshell.


Billy mendekati Aaron. Lalu menatap tajam wajah laki-laki itu. Detik kemudian, Billy menarik kuat kerah seragam Aaron.


"Kemana teman lo membawa Kimberly?" tanya Billy menatap dengan tatapan amarahnya.


Mendengar perkataan sekaligus pertanyaan dari Billy. Aaron bukannya takut. Justru Aaron menantang Billy dengan menatap tajam Billy.


"Gue tanya sekali lagi. Kemana teman lo itu membawa adek gue?!" bentak Billy.


Mendengar perkataan dari Billy membuat Aaron terkejut. Begitu juga dengan Danny dan Sean.


Tidak mendapatkan jawaban dari Aaron membuat Billy makin menatap penuh amarah kearah Aaron.


Sementara Henry, Nathan dan Satya yang melihat Aaron dan kedua temannya yang hanya diam seketika menatap marah kearah Danny dan Sean. Sejak tadi ketiganya berusaha untuk menahan emosi agar nanti mereka bisa menenangkan jika salah satu sahabatnya menjadi kalap.


Namun hal itu tidak bisa dicegah karena salah satu sahabatnya kelepasan dan langsung memukul kepala laki-laki yang sudah bersikap kurang ajar terhadap gadisnya.


"Untuk kalian berdua. Katakan pada kami. Kemana teman kalian itu membawa Kimberly?" tanya Satya yang berusaha untuk tidak kelepasan seperti Lionel dan Billy.


"Kami tidak tahu," jawab Danny dan Sean bersamaan.


"Jangan main-main sama kita-kita! Apa kalian berdua ingin seperti teman kalian itu, hah?!" bentak Henry sembari menunjuk kearah Elan yang tergeletak di lantai dengan kepala berdarah.


Mendengar perkataan dan bentakan dari Henry. Danny dan Sean langsung melihat kearah Elan yang tergeletak di lantai dengan kepala berdarah.


"Jawab pertanyaan kami. Kemana teman lo membawa Kimberly?" tanya Nathan.


Bruk!


Billy menghempaskan kuat tubuh Aaron ke dinding. Dan detik kemudian, Billy langsung mencekik leher Aaron dengan sangat kuat.


"Kemana teman lo membawa adek gue?! Jawab! Atau gue akan bunuh lo hari ini juga!"


Ketika Billy menguatkan cekikikan di leher Aaron, Sean seketika bersuara.


"Kami benar-benar tidak tahu kemana Anshell membawa Kimberly. Yang kami tahu adalah bahwa Anshell merencanakan sesuatu yang buruk terhadap Kimberly," sahut Sean.


"Dari pada kalian marah-marah disini. Lebih baik kalian pergi mencari Kimberly," ucap Danny.


Mendengar perkataan dari Danny membuat Billy seketika sadar. Lalu kemudian Billy melepaskan tangannya dari leher Aaron.


Billy langsung pergi meninggalkan kelas Kimberly dan diikuti oleh Henry, Lionel, Satya dan Nathan.


***


Tommy dan Andhika saat ini berada di perjalanan. Sementara Ivan, Mirza dan Andry berada di mobil lain yang tak lain berada di belakang mobil Tommy dan Andhika.


Baik Tommy, Andhika maupun Ivan, Mirza dan Andry masih terus mencari keberadaan Kimberly yang dibawa pergi oleh Anshell.


"Brengsek! Kemana bajingan itu membawa Kimberly?"


Andhika melirik kearah Tommy yang ada di sampingnya lalu kembali menatap ke depan karena dirinya saat ini tengah mengemudi.


"Kita berdoa saja untuk Kimberly. Semoga Kimberly baik-baik saja," ucap Andhika.


Ketika Tommy dan Andhika sedang memikirkan kondisi Kimberly yang saat ini bersama Anshell, tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan suara ponsel milik Tommy.


Tommy yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


Setelah ponselnya di tangannya. Tommy melihat nomor yang tak dikenal tertera di layar ponselnya.


Andhika yang melihat Tommy yang tidak berniat untuk menjawab panggilan tersebut seketika bersuara.


"Kenapa tidak diangkat?" tanya Andhika


"Nomor tidak dikenal," jawab Tommy.


"Angkat saja. Siapa tahu penting," ujar Andhika.


Mendengar perkataan dari Andhika. Tommy pun langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo."


"Hallo, tuan Tommy!"


Seketika Tommy terkejut mendengar orang di seberang telepon memanggilnya dengan sebutan 'tuan'.


"Ini siapa ya?"


"Maafkan saya kalau sudah membuat tuan bingung. Saya Deryl, orang yang selalu mengawasi nona."


Mendengar jawaban dari orang di seberang telepon membuat Tommy berpikir sejenak. Tommy berusaha mengingat nama yang barusan dirinya dengar. Menurut Tommy, nama orang itu tidak asing di telinganya.


"Hallo, tuan!"


"Ach, iya! Maafkan saya. Ada hal apa anda menghubungi saya?"


"Panggil saya kak Deryl karena nona memanggil saya seperti itu."


"Ach, baiklah! Ada apa kak Deryl?"


"Saya sudah mendapatkan lokasi dimana nona Kimberly berada. Laki-laki yang bernama Anshell itu membawa nona ke sebuah Villa kecil yang berada di jalan Coachella di pinggiran kota. Hanya butuh satu jam menuju kesana."


Mendengar perkataan dari lawan bicaranya seketika terukir senyuman manis di bibir Tommy. Dirinya berucap syukur karena telah mengetahui keberadaan Kimberly, kekasihnya.


"Benarkah, kak Deryl?"


"Benar, tuan! Sekarang buruan tuan kesana. Saya dan beberapa anggota saya saat ini tengah dalam perjalanan menuju kesana."


"Baiklah. Terima kasih atas informasinya kak Deryl."


"Sama-sama, tuan! Itu sudah tugas saya."


"Oh iya! Apakah keluarga Kimberly sudah tahu masalah ini?"


"Sudah, tuan! Kemungkinan Bos Uggy akan pergi ke lokasi itu juga untuk memberikan pelajaran kepada orang yang sudah berbuat buruk terhadap nona."


"Baiklah, kak Deryl."


Setelah mengatakan itu, Tommy pun langsung mematikan panggilannya. Begitu juga dengan Deryl.


"Kimberly! Tunggu aku, sayang!"